
Tumpukan dari beberapa jenis kendaraan pada malam itu terlihat berdesak-desakan di atas aspal. Suara riuh dari klakson yang ditekan berulang kali terdengar bersahutan tatkala Reza melajukan mobilnya tanpa arah dengan kecepatan tinggi hingga nyaris menyenggol kendaraan lain.
“Woy! Punya mata nggak, lo!”
“Brengsek, lo! Punya nenek moyang lo apa ni jalanan?”
Tak peduli berapa banyak makian serta umpatan dari pengendara lain yang ditujukan padanya, Reza tak urung memperlambat laju kendaraanya. Rupanya, rasa cemburu melihat Andin berada di pangkuan pria lain saat di pesta, membuatnya terlihat egois bak penguasa jalanan. Sesaat kemudian, ia membanting setirnya ke arah kiri dan menghentikannya secara tiba-tiba.
“Arrgghhhh!” teriak Reza dengan kesal. Pria itu memukul keras setir mobilnya untuk melampiaskan emosi yang tertahan sejak tadi hingga tanpa sadar pukulan tersebut memberikan sebuah luka pada jari-jemarinya. Reza tak peduli. Karena rasa sakit di tangannya itu tak mampu menandingi rasa sakit di hatinya.
Reza menelusupkan wajahnya dikedua telapak tangannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya pria itu menyurai rambutnya ke belakang. Sejurus kemudian, sebuah laci dashboard menjadi perhatiannya kini. Ia mengulurkan tangannya untuk membuka dan meraih sesuatu yang sengaja ia letakkan di sana.
“Bagaimana caranya membuatmu jatuh hati kepadaku? Apa lagi yang harus kulakukan untuk membuktikan cintaku padamu, Andin? Masih kurangkah pengorbananku selama ini padamu? Tidak bisakah kamu melihatku sekali saja? Melihat cintaku yang begitu besar untukmu,” racau Reza dengan suara yang mulai bergetar sambil memandangi sebuah poto wanita yang sangat dicintainya itu. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Pria itu menangis!
“Aku tahu aku salah. Tak seharusnya aku meletakkan perasaan pada hubungan persahabatan kita.” Reza menjeda ucapannya untuk mengatur sesak di dada. “Aku sudah berusaha menepisnya namun rasa ini begitu kuat bersarang di sini.” Ia kembali mengerakkan tangannya untuk memukul-mukul dadanya seakan ingin memecahkan seonggok rasa yang ia bangun sendiri tanpa pernah terbalas. Sungguh lucu, pria yang selalu terlihat berwibawa di depan semua orang itu terlihat rapuh hanya karena masalah cinta. Ya, Andin adalah wanita yang mampu membuatnya menangis seperti saat ini.
Wah sepertinya mereka berdua cocok ini Pak Dwi. Bagaimana kalau mereka berdua kita jodohkan saja?
Ia memejamkan mata kala kalimat yang diucapkan Rudi masih menari-nari di benaknya. Sepertinya pria paruh baya itu terlihat serius dengan rencananya. Dan juga melihat dari sisi Andin, wanita itu memang tidak menolak ataupun mengiyakan. Namun senyum dan lirikannya pada pria itu mampu membuat Reza berasumsi ke arah sana.
Reza menghembuskan napas panjang melalui mulutnya kemudian menatap pantulan dirinya di kaca spion yang tergantung apik di tengah. Sejenak ia mengulas senyum di sana melihat tampilan dirinya yang terlihat sangat kacau dengan dasi yang sudah tak mengikat sempurna di leher jenjangnya
“Kau harus menyerah Reza. Kau harus tahu diri, siapa dirimu dan siapa dirinya. Kau tak sebanding dengan mereka. Dan takkan pernah sebanding. Camkan itu!”
Layaknya orang tak waras, ia meyakinkan dirinya untuk menyudahi perasaannya pada Andin. Pun dititik ini ia pasrah, ia menyerah. Pria itu menyadari betapa kerdil dirinya bila dibandingkan dengan keluarga Andin dan Angga yang menurutnya setara baik itu pendidikan maupun kekayaan.
__ADS_1
Memang benar, posisinya sekarang sudah bisa ia banggakan pada keluarganya. Namun tetap saja, ia hanyalah seorang bawahan di mata keluarga Andin. Seseorang yang tak bisa dan tak akan mungkin menyetarakan status di hadapan mereka. Bukan Reza tak mensyukuri keadaannya yang sekarang, hanya saja logikanya menuntutnya untuk berpikir realistis.
Puas bermain-main dengan pikirannya. Reza meletakkan poto Andin di tempat semula tanpa sedikit pun niat untuk membuang atau merobek poto tersebut sebelum akhirnya ia kembali menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya dengan kecepatan sedang menuju rumah. Ia harus segera pulang untuk mengistirahatkan tubuh dan hatinya, berharap semuanya akan baik-baik saja esok hari.
***
“Cha! Tanganmu kenapa?” Hesti buru-buru meletakkan piring di atas meja makan berisi lauk pauk yang ia bawa dari dapur sebelum kemudian ia menghampiri pria muda yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek dengan tangan kanan terbalut perban itu tengah berjalan menuju ruang keluarga.
“Hanya luka kecil, Bu. Jangan khawatir,” sahut Reza sembari merebahkan tubuhnya di atas karpet yang tergelar di depan tv.
“Apanya yang luka kecil? Ada darah segar merembes di sini.” Hesti meraih tangan Reza membuat putranya itu meringis kecil menahan perih. “Kamu habis berkelahi? Dengan siapa? Di mana?” Matanya berusaha menemui manik Reza yang menghindari tatapan penuh tuntutan darinya untuk mencari sebuah alasan yang tepat. Mustahil baginya untuk mengatakan yang sejujurnya mengenai asal luka tersebut.
“Fahreza Al Husein!”
Pemilik nama lengkap itu tersentak kemudian menarik tubuhnya dan duduk. Ia tahu, bila ibunya memanggilnya seperti itu, berarti wanita di depannya ini menuntut sebuah kejujuran darinya. Hal biasa terjadi sejak ia dan Rania masih usia belia bila mereka menutupi sesuatu yang janggal menurut sang bunda.
“Anu … itu—.”
“Anu itu apa? Yang jelas kalau bicara?"
“Semalam Echa habis nyelamatin ibu-ibu yang dirampok di pertigaan sana, Bu,” elak Reza cepat sambil menunjuk asal arah yang dimaksud.
Maaf bu, Echa membohongi ibu. Kalau Echa jujur, ibu pasti akan ikut-ikutan sedih. Biarlah Echa simpan sendiri luka dan kesakitan ini sampai waktu memulihkan semuanya.
“Hah! Beneran? Di mana lagi yang terluka?” Ia menelisik bagian-bagian tubuh putranya mencari beberapa luka yang mungkin tercipta karena perkelahian itu.
__ADS_1
“Hanya ini saja, Bu." Reza mengangkat tangannya. "Ibu lupa? Echa ini, ‘kan mantan karateka pemegang sabuk hitam DAN 2. Sekali libas, kelar!” Reza menyombongkan diri sembari terkekeh membuat Hesti mencebik remeh.
“Gaya! Orang nggak pernah latihan lagi semenjak kuliah. Memangnya kamu masih ingat?”
“Buktinya Echa bisa ngalahin perampoknya,” balas Reza tak mau kalah.
“Ya ya ya. Ibu coba percaya saja, deh.” Hesti mengalah. “Ayo sarapan,” ajaknya kemudian beranjak mendahului Reza yang masih bergeming di tempatnya sambil matanya mengekori langkah ibunya yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.
Pria itu menghembuskan napas leganya. Setidaknya alasan tadi cukup ampuh menghalau pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja akan terlontar lagi dari mulut ibunya. Ia melirik pada perban yang melingkar ditangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Assalamualaikum ….”
Suara dari beberapa orang yang mengucapkan salam, terdengar dari balik pintu ruang tamu membuat Reza menarik pandangannya mencoba menerobos melalui celah tirai jendela kaca ribben.
“Waalaikumsalam ….”
Sahutan juga terdengar dari arah dapur dan juga dari kamar Rania.
"Kenapa tamunya nggak dibukain pintu sih, Kak?" omel Rania sesaat setelah mengeluarkan tubuhnya dari kamarnya dan mendapati Reza yang hendak bangkit dari duduknya.
"Ini mau jalan ke sana. Tapi karena kamu yang niat. Ya udah sana bukain pintunya."
"Iihh, dasar nggak jelas!" gerutu Rania sembari melangkah menuju ruang tamu.
Sebelum membuka pintu, sejenak ia menyempatkan diri untuk menggeser tirai demi memastikan siapa tamunya. Ada sepasang paruh baya tampak kelelahan sedang duduk di kursi teras. Sementara di sudut lain, seorang wanita muda terlihat sibuk memandangi beberapa koleksi tanaman hias yang berada di halaman.
__ADS_1
Rania mengulas senyum. Tanpa menunggu lama ia segera membuka pintu.
"Farah!"