Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Menabur Umpan?


__ADS_3

"Farah!"


Mendengar namanya dipanggil, wanita bersurai hitam dengan panjang sebahu itu menoleh ke sumber suara. Ia mengulas senyum kala melihat teman masa kecilnya itu menghambur ke pelukannya.


"Nia!" Farah membalas pelukan Rania dengan tak kalah erat disertai lompatan-lompatan kecil saking bahagianya. Pun tak lama, keduanya melerai pelukan itu. Rania meraih tangan kedua orang tua Farah dan menciumnya.


"Kok, nggak ngabarin mau ke sini?" tanya Rania, matanya mengabsen orang-orang yang berdiri di sekitarnya.


"Ka—."


"Nia, siapa yang datang?"


Suara Hesti terdengar mendekat membuat kalimat Halimah—ibu Farah—terpotong. Ia menarik langkahnya mendekat pada si empunya rumah.


"Teteh," sapa Halimah pada Hesti.


"Halimah ... Ridwan." Respon yang sama seperti Rania tadi, ia tujukan pada tamunya tersebut. Ia memeluk Halimah disertai cipika cipiki sebelum kemudian beralih mengulurkan tangannya pada Ridwan. "Masya Allah, apa kabar?


"Alhamdulillah baik, Teh," sahut Halimah dan suaminya kompak.


"Ayo masuk," ajak Hesti sembari menarik tangan Halimah untuk masuk ke dalam rumah. "Kita ngobrol di dalam sekalian sarapan bersama."


"Tidak perlu repot, Teh. Sebelum kemari, kami sudah sarapan," tolak Ridwan yang berjalan di samping istrinya itu.


"Pokoknya harus mau. Bapak sama kakaknya Nia sudah menunggu di meja makan."


"Iya Paman, Bibi. Ibu masak banyak menu hari ini," timpal Rania yang juga menarik tangan Farah. "Sepertinya Ibu punya firasat kalian akan datang kemari."


Sejenak Halimah dan suaminya saling pandang. Ridwan memainkan alisnya memberi isyarat pada Halimah, sementara wanita paruh baya itu hanya mengangguk tanda setuju. Melayangkan protes pun percuma, Hesti tetap kekeuh pada pendiriannya


Sesampainya di meja makan, Hesti mengerutkan keningnya melihat sebuah kursi kosong di sebelah suaminya itu tak berpenghuni dengan piring yang masih menyisakan makanan di sana.


"Pak!" Ahmad yang kala itu tengah asyik menikmati sarapannya pun menoleh pada Hesti. Sesaat kemudian ia terkejut melihat orang-orang yang berdiri di samping istrinya. Ia bangkit berdiri dan menyalami satu persatu dari mereka dengan antusias.


"Silakan duduk. Ayo ikut sarapan mumpung masih hangat," pinta Ahmad membuat ketiga tamunya itu duduk mengisi beberapa kursi-kursi yang mengitari meja. Sedang Rania, ia pergi ke dapur untuk mengambil beberapa piring tambahan.


"Echa mana, Pak?" tanya Hesti. Matanya mengedar ke sana kemari mencari keberadaan putranya tersebut. "Makanannya kok, nggak dihabiskan."

__ADS_1


"Echa tadi ke kamar sebentar, ponselnya berdering berkali-kali. Sepertinya telepon penting."


Ahmad mengalihkan pandangannya menatap jam yang melekat di dinding tembok rumahnya, kemudian berganti menatap Ridwan dan Halimah.


"Jam berapa berangkat dari Sukabumi?" tanyanya heran.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 08.34. Sementara jarak tempuh Sukabumi - Jakarta kurang lebih tiga atau empat jam dengan kecepatan normal. Bila asumsinya benar, berarti tamunya itu berangkat dari sana sebelum matahari terbit.


Ridwan tersenyum. "Sejak dua hari yang lalu kami sudah berada di Jakarta, Kang. Daerah Jatinegara. Ada kerabat yang sedang melangsungkan pernikahan anaknya."


"Dua hari yang lalu? Kenapa kamu nggak bilang, Rah? Jahat!" omel Rania pada Farah.


"Aku lupa, Nia. Serius. Tadi aja, kalau kami tidak bertanya pada tetanggamu, mungkin kami akan tersesat. Habisnya rumah ini banyak sekali perubahannya." Irish hitam milik Farah menyapu ke segala penjuru ruangan yang saat ini terlihat lebih besar dan luas dibandingkan dengan dulu, saat pertama kali ia datang kemari.


"Alhamdulillah rezekinya Reza ada buat merenovasi rumah ini," tutur Hesti.


Sepersekian detik kemudian, Reza kembali muncul di ruangan itu dan mendaratkan tubuhnya di kursi yang sengaja ia tinggalkan beberapa saat lalu. Matanya tak lepas memandang wanita yang juga menatapnya. Tak ada sedikitpun guratan senyum diwajahnya. Kehadiran Farah, seakan mampu menghipnotisnya.


"Ehem!"


"Kalian ini seperti dua orang asing yang baru bertemu saja. Canggung!" sindir Hesti. "Padahal dulu, kalian dekat sekali. Eh nggak dekat ya? Malah keseringan berantemnya,” ralat Hesti kemudian terkekeh.


“Ya, dekatnya karena sering berantem itu, Teh. Dulu ‘kan, Farah ini seringkali menangis dan mengadu kalau habis diganggu oleh Reza."


Kalimat Halimah membuat pikiran Reza berkelana ke beberapa tahun silam saat ia masih remaja. Ia tersenyum mengingat betapa usilnya dia waktu itu. Pernah suatu ketika, ia datang ke rumah Farah untuk menemui Fathan—kakak Farah—yang memang teman sekelas Reza di SMP. Namun niat itu terhenti saat melihat Farah bermain di teras seorang diri. Sejumput ide nakal terbesit di kepala Reza untuk mengganggu gadis cilik yang tengah asyik bermain boneka dengan jejeran miniatur alat masak yang terbuat dari stainless di depannya itu.


“Una, Milli, Ega, kalian mau makan apa?” tanya gadis cilik itu pada boneka barbienya sembari tangannya mengaduk-aduk sayur di dalam panci. Seolah-olah ia adalah koki untuk para bonekanya tersebut.


“Makan angin!”


Celetukan Reza membuyarkan konsentrasi Farah. Ia mengangkat kepalanya dan menatap remaja laki-laki di depannya itu dengan wajah tak ramah. Gadis cilik itu memang dari dulu tak menyukai Reza. Karena menganggap Reza adalah anak nakal yang suka mengganggunya.


“Ngapain, kamu ke sini?”


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Reza malah berkata, “kasihan, masih kecil sudah stres. Ngomong sendiri pula. Ihh … Aku pulang, ah. Takut ketularan stres.” Reza bergidik ngeri kemudian menarik tubuhnya untuk kembali ke rumahnya yang terhalang beberapa bangunan dari tempatnya berdiri dan mengurungkan tujuan awal ia datang kemari. Begitupun dengan Farah, ia berlari masuk ke dalam rumahnya dengan deraian air mata.


“Cha!” Ahmad menyenggol lengan Reza dan seketika pria itu melepaskan lamunannya. “Kamu melamun?”

__ADS_1


“Nggak Pak,” elak Reza kemudian menatap Farah sembari melayangkan senyum manisnya. “Apa kabar, Farah?”


“Alhamdulillah baik, A',” sahut Farah dengan nada sedikit bergetar menahan kegugupannya. Benar apa kata Hesti beberapa saat yang lalu, suasana saat ini begitu canggung bagi keduanya. "Aa' sendiri gimana kabarnya?" Lilitan perban di tangan Reza, kini menjadi perhatiannya.


"Alhamdulillah baik juga."


Walau tiap tahun Reza dan keluarganya pulang ke Sukabumi untuk merayakan hari besar keagamaan di sana, tapi tak sekalipun ia pernah bertemu dengan Farah karena wanita itu juga pasti akan ke kota kelahiran ayahnya di Tasikmalaya.


Usai menikmati sarapan. Mereka membagi dua kelompok kecil. Golongan tua berada di ruang tamu sementara golongan muda yang terdiri dari Reza, Rania dan Farah duduk lesehan di atas karpet di ruang tengah untuk melanjutkan lagi obrolan yang sempat terhenti. Beberapa camilan dan minuman tersaji di depan mereka untuk menemani obrolan itu.


“A', itu tangannya kenapa?” Sebuah pertanyaan yang sedari tadi ingin ia lontarkan untuk membunuh rasa penasarannya itu akhirnya keluar juga.


“Ini?” Reza mengangkat tangannya. “Biasalah jagoan,” jawabnya santai.


Farah mencebik kesal. “Aku kira bertambahnya usia, membuatmu dewasa. Ternyata kamu masih sama ya, A'? Ngeselin kalau di ajak ngomong serius.”


Reza hanya terkekeh mendengar sindiran Farah.


“Aku nggak nyangka. Farah yang kukenal dulu adalah gadis kecil dengan rambut yang selalu dikuncir dua dan wajah penuh bedak tabur. Terus kalau nangis, ingusnya lari ke mana-mana. Tapi kini gadis itu sudah menjelma menjadi wanita secantik ini.”


Kebingungan menimpa Farah untuk menjabarkan ekspresi dirinya saat ini. Antara ingin marah, kesal, senang semuanya menyatu ketika ejekan dan pujian itu terlontar secara bersamaan dari mulut Reza.


“Aku nggak bohong. Kamu memang cantik, Farah,” ujar Reza lagi dan sukses membuat wajah Farah kembali merona.


Rania yang sedari tadi hanya diam, kini melirik malas pada kakaknya tersebut.


Jurus maut mulai keluar. Semoga saja kali ini umpanmu termakan, Kak. Kasian kamu, dari dulu usaha terus tapi nggak pernah ada hasilnya. Nasib Jones.


***


Hayo kalian dukung siapa?


Andin vs Reza


Farah vs Reza


Kaina vs Reza (ngarep😂)

__ADS_1


__ADS_2