
Mulai terasa lelah aku bertahan
Terlalu lama kau terdiam
Terlalu lama kau meredam, Cinta
Berapa besar yang kudapatkan
Tak selamanya kumengalah
Tak selamanya kudiam
Bawaku pergi dari ini
Di tempat kau berpaling
Dan bila ku pergi dari ini
Akankah kau kembali
Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh seorang pria mengalun merdu secara bersamaan dengan gitar yang dimainkannya. Bahkan suara itu berhasil mengusik indera pendengaran Farah yang saat ini masih terlihat sibuk membolak-balik tubuhnya demi mencari posisi ternyaman untuk mengantarkannya ke alam mimpi.
Entah karena belum mengantuk atau memang tidak terbiasa dengan lingkungan sekitar tempat tinggal temannya itu yang hingga saat ini masih saja terdengar suara deru mesin kendaraan berlalu lalang di depan rumahnya. Padahal jarum jam sudah melewati angka sebelas malam. Kontras sekali dengan suasana malam di kampung halamannya.
Mulanya, wanita itu beserta keluarganya akan kembali pulang ke Sukabumi tadi siang. Namun atas desakan dan rayuan maut dari orang tua Rania yang meminta mereka untuk menginap di rumahnya, mau tak mau mereka pun menurut dan mengurungkan niat tersebut hingga esok hari.
Farah memalingkan wajahnya menatap Rania yang terlelap di samping kirinya. Seulas senyum terpancar jelas diwajahnya saat melihat teman masa kecilnya itu tertidur pulas dengan mulut terbuka sementara helaian kain yang semula membungkus tubuhnya kini sudah tergeletak di bawah kaki wanita tersebut.
“Dasar bar-bar," gumamnya pelan sembari menarik selimut itu hingga batas dada Rania sebelum kemudian ia beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri jendela dan membukanya. Dari sini ia bisa melihat beberapa anak muda berkumpul di salah satu teras rumah warga tengah asyik dengan ponselnya masing-masing sembari memberi arahan pada timnya di dalam game online yang dimainkan oleh mereka.
Lama ia berada di posisinya, namun rasa kantuk tak kunjung mendera. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar sesaat setelah menutup pintu jendela itu serapat mungkin.
Langkahnya sengaja ia hentikan ketika manik syahdunya menangkap bayangan seorang pria tengah duduk dengan posisi membelakanginya. Seketika keraguan menyelimuti dirinya. Antara melanjutkan niat atau kembali ke kamar. Jujur, ia masih merasa canggung bila berdekatan dengan pria itu. Lima belas tahun tak bertemu adalah hal wajar baginya memiliki rasa itu.
__ADS_1
Farah masih berdiri di tempatnya. Matanya mengedar kesana kemari sembari menimbang-nimbang pilihannya. Suasana di lantai dua itu tampak sepi. Hanya ada dua kamar yang saling berhadapan dan ia tahu pasti siapa pemilik dari kamar di depannya itu. Di sana juga terdapat satu area lagi untuk bersantai dengan dinding bertuliskan ‘sudut literasi’ dilengkapi beberapa rak yang berisi berbagai macam buku ilmiah dan non ilmiah, tersusun rapi di dalamnya.
Ada rasa kagum yang menyelimuti dirinya saat melihat pemandangan itu. Pemandangan yang sama persis seperti rumah mereka saat masih menjadi tetangganya. Walau terpisah cukup lama dengan keluarga itu, tapi ia tahu kebiasaan mereka yang memang sangat gemar membaca.
Farah menghela napasnya yang baru saja ia tarik panjang. Ia melanjutkan lagi langkahnya menuju balkon. Sesampainya di sana, wanita itu mengerutkan dahi hingga nyaris menyatukan kedua alisnya ketika melihat Reza asyik dengan lamunannya sembari matanya menatap langit luas bertaburan bintang yang berkelap-kelip mengitari bulan.
“Aa', kok melamun?"
Suara Farah berhasil menguapkan lamunan Reza. Ia menolehkan kepalanya menghadap wanita yang berdiri di ambang pintu.
"Farah! Belum tidur?" Tanpa menjawab pertanyaan itu, Reza malah memberikan pertanyaannya.
"Aku belum ngantuk, A'."
"Oh, aku kira karena nyanyianku tadi yang membuatmu nggak bisa tidur."
"Ya nggaklah, malah suara Aa bagus. Aku baru tahu kalau Aa bisa menyanyi."
"Duduk sini!" titahnya kemudian seraya menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang pada Farah agar duduk di sampingnya.
"Aa mikirin apa?” tanya Farah. “Sampai jam segini belum tidur."
"Nggak lagi mikirin apa-apa," bantah Reza. Ia menggelengkan kepalanya.
"Masa sih? Aku berdiri cukup lama di sana." Farah menunjuk ambang pintu menggunakan wajahnya. "Tapi Aa nggak nyadar."
Reza hanya mengulas senyum sebagai jawaban. Tidak mungkin ia jujur pada Farah kalau saat ini ia sedang memikirkan seseorang.
"Apa masalah pekerjaan? Atau cinta?" Farah menerka lewat pertanyaannya untuk mencoba mencairkan suasana yang begitu canggung bagi keduanya.
"Cinta?" Ulang Reza memastikan. Kini netra keduanya saling bertemu.
Farah mengangguk. "Cinta."
__ADS_1
"Kamu sudah punya pacar belum?"
Farah mematung seketika mendapat pertanyaan itu. Ia lantas mengalihkan pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari sorot mata yang tengah menatapnya tajam.
Tak bisa dipungkiri, pertanyaan itu memang terdengar sederhana namun mampu memporak-porandakan irama detak jantungnya saat itu juga. Melihat itu, Reza mengulum senyum dan sepersekian detik kemudian …
“Brfftt … aku lupa. Mana ada yang mau sama kamu. Kamu, ‘kan cengeng.”
Sebuah celetukan yang mana membuat Farah menarik kembali pandangannya menatap pria yang terbahak-bahak di sampingnya itu dan mencubit pinggang Reza sekuat yang ia mampu.
“Arrggghh! Aduh aduh … sakit sakit. Udah! Lepas!” Reza menepis tangan Farah dan mengusap berkali-kali di area itu untuk meredakan sakitnya. “Jahat banget, sih,” ujarnya kemudian.
“Aa yang jahat! Mana ada aku cengeng! Sembarangan!” Farah membela diri kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari memanyunkan bibirnya.
“Ngambek?” Reza menundukkan kepalanya menatap Farah. “Makin jelek lho, kalau ngambek.”
Farah hanya diam tak menjawab sementara Reza masih bergeming di posisinya.
“Apa sih, A’?” Farah menampik pelan wajah Reza. Bukannya menjauh, pria itu justru semakin gencar menggoda pemilik cekungan di salah satu pipinya tersebut. Tak ingin membuat jantunganya bermasalah dengan tatapan itu, Farah beranjak dari duduknya untuk kembali ke kamar. Namun tertahan kala Reza menarik tangannya.
“Maaf. Aku hanya bercanda.” Suara Reza tegas berkata membuat Farah mengurungkan niatnya dan kembali mendaratkan tubuhnya di tempat semula.
“Maafin aku.” Reza mengulang kembali kalimatnya seraya mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Farah.
“Iya aku maafin.” Pun Farah menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Reza diiringi dengan penyatuan ujung ibu jari keduanya. Sebuah tradisi yang biasa mereka lakukan semenjak masa kanak-kanak bila ingin mengakhiri pertengkaran.
Setelah melakukan perdamaian, mereka pun mulai saling bertukar cerita tentang kegiatan masing-masing. Tentu saja, topik itu dibumbui dengan beberapa candaan Reza yang terkadang receh dan menjengkelkan bagi Farah.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya sejak beberapa menit yang lalu. Ia tersenyum melihat Reza dan Farah begitu akrab satu sama lain. Itu Hesti. Tadinya, wanita paruh baya itu hendak menghampiri Reza bermaksud meminta bantuan pada putranya tersebut untuk menggantikan bola lampu yang putus di dalam kamar mandi yang berada di dapur.
Semoga dengan keakraban kalian ini, membawa pengaruh baik pada hubungan kalian. Terutama kamu Nak. Mungkin kehadiran Farah, bisa membuatmu perlahan melupakan perasaanmu pada Andin.
Tak ingin mengganggu, pun Hesti menarik langkahnya lagi untuk kembali ke kamar.
__ADS_1