
Reza menautkan kedua alis tebalnya dan menarik diri untuk duduk diikuti oleh sang istri. Kini, keduanya pun berhadap-hadapan.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Apa ada sesuatu yang sengaja kamu sembunyikan dariku?"
Hening sejenak. Pria itu tampak berpikir. Berusaha menerka kemana arah pembicaraan istrinya.
"Jawab aku, Bee!" Suara Andin pelan namun penuh penekanan membuat Reza tersentak.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin tahu saja." Sengaja Andin tidak memberitahukan bahwa ia melihat apa yang terjadi siang itu. Sebab ia yakin, suaminya pasti akan mengelak. "Apakah selama menikah denganku ada sesuatu yang kamu tutupi?"
"Enggak ada, Sayang. Aku nggak pernah menyembunyikan apapun darimu. Sungguh."
"Benar?"
"Iya sayang. Beneran!" Reza mengangguk cepat. "Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?"
“Hanya ingin memastikan apa yang aku pikirkan!”
“Tapi aku nggak seperti apa yang kamu pikirkan."
Tiba-tiba mata Andin menjadi panas. Ada cairan yang menumpuk dan mendesak ingin keluar di sudut matanya. Ia palingkan wajahnya ke mana saja seraya menghapus cairan itu agar tidak menetes. Ia benci situasi ini. Ia benci terlihat lemah di hadapan suaminya.
"Sayang ...." Saat Reza hendak menangkup pipi Andin, wanita itu serta merta menepisnya kasar.
"Bohong! Kamu bohong padaku!" Sorot mata yang mengembun itu menatap lekat ke arah suaminya pun juga sebaliknya. "Katakan saja kalau kamu memang menyimpan sesuatu. Aku nggak akan marah kalau kamu jujur, meski itu terdengar menyakitkan!"
Semakin bingung Reza mendengarnya. Apa ini gara-gara istrinya dalam masa PMS? Menjadikan emosi wanita itu tidak stabil dan sensitif. Tetapi sebelumnya tidak seperti ini. Ada apa dengan Andin? Reza menggaruk kasar rambutnya. Pertanda pria itu berada di ambang frustrasi.
"Apa yang harus aku katakan, Sayang? Aku benar-benar nggak nyembunyiin apapun dari kamu."
Tanggul air mata Andin luluh lantak. Membuat cairan bening itu mulai meluncur deras di pipinya.
"Hey ... Sayang. Kamu kenapa menangis seperti ini? Apa, sih, salahku? Please, jangan kaya anak kecil begini, deh."
Ucapan Reza sontak membuat mata Andin memerah. Bukan hanya karena penuh dengan air matanya. Tapi juga menahan gejolak amarah, karena disebut 'anak kecil'.
"Anak kecil? Hah! Kamu bilang aku anak kecil, Bee? Keterlaluan!"
Tak bisa lagi menahan emosinya, wanita itu berdiri dan pergi menuju kamar tamu yang berada tepat di seberang kamar utama.
“Sayang! Sayang!" Berulang kali Reza mengetuk pintunya. Meminta wanita yang sedang menangis di dalam sana untuk membukanya. "Aku minta maaf, Sayang. Aku salah ngomong. Aku nggak maksud—."
"Pergi!"
"Sayang ... Kita ngomong baik-baik, ya?" Reza berusaha membujuk. "Buka pintunya, Sayang. Please!"
"Pergi! Aku mau sendiri!"
__ADS_1
Mau tak mau, akhirnya Reza pun menurut. Dengan langkah gontai, wajah lesu, pikiran bingung, ia kembali menuju kamarnya. Mungkin, istrinya itu butuh waktu untuk menenangkan diri.
Ia pikir menghadapi fluktuasi nilai saham adalah hal yang paling menakutkan. Ternyata menghadapi wanita yang sedang datang bulan jauh lebih mengerikan.
***
Andin terbangun ketika merasakan cacing di perutnya mulai berontak, meminta makan pada pemiliknya.
"Perutku lapar," keluhnya sembari memegangi perut. Ekor matanya beralih pada jam yang menempel di dinding, sudah menunjukkan pukul lima lebih sedikit. Terlalu pagi untuknya sarapan. Namun bila harus menunggu saat yang tepat, pun tidak mungkin. Apa kabar nasib cacingnya yang terus meronta.
Akhirnya ia memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Tepat disaat pintu terbuka, ia melihat pria yang sedang tersenyum padanya. Mengenakan baju koko dan sarung bermotif kotak-kotak menutupi kaki jenjangnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Tak ada jawaban dari Andin. Ia melirik sinis dan melewati tubuh pria itu begitu saja masuk ke kamar.
"Sabar-sabar." Reza mengusap dadanya berkali-kali. "Cuma seminggu ini. Masa iya nggak sabar."
Kumandang adzan subuh mulai terdengar. Reza kembali meneruskan langkah menuju masjid yang masih berada dalam komplek perumahannya.
"Bee!"
Panggilan itu kembali menghentikan langkahnya yang hendak menuruni anak tangga. Sembari tersenyum semringah, ia menoleh. Ada Andin yang berlari kecil ke arahnya.
"Jangan lari, Sayang. Biar aku yang datang padamu," ujar Reza yang juga berlari ke arah istrinya.
"Lebay!" Andin mendelik sebal. Ia meraih telapak tangan Reza dan menaruh sesuatu di sana. "Ini, bawa uang! Pulang sholat belikan aku nasi pecel yang ada di ujung komplek sana. Lauknya cukup telur rebus aja, nggak pake daun pepaya, terus sambalnya dibanyakin."
Reza melongo sambil menatap lembaran uang berwarna biru. Ia pikir, istrinya memanggilnya karena sudah mengibarkan bendera perdamaian. Ah, ternyata hanya ilusi.
"Iya iya, Sayang. Iyaaaaaaaa ...," jawab Reza.
"Kenapa gitu jawabnya? Nggak ikhlas aku suruh? Nggak suka?"
Susah payah Reza menelan salivanya. "Suka, Sayang. Aku ikhlas. Ya sudah aku pergi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mereka pun berpisah. Andin kembali masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Namun ketika ia membuka celananya, ia terkejut.
"Loh, kenapa hanya plek yang keluar? Kemarin 'kan sudah. Seharusnya hari ini banyak." Tangannya beralih memegang dada, kencang. Pertanda memang ia sedang berada dalam fase abnormal.
Cukup lama Andin larut dalam pikirannya. Hingga akhirnya ia buru-buru membersihkan diri karena gejolak di perutnya semakin tidak terkendali. Selesai dengan urusan mandi dan berganti pakaian, Andin keluar lagi dan menunggu kedatangan suaminya di meja makan.
"Ibu mau sarapan apa?" tanya Jumi ketika melihat Andin menarik kursi dan duduk di balik meja makan. "Biar saya buatkan."
"Nggak usah repot, Mbak. Tadi sudah titip beli sama suami saya buat sarapan. Mbak masaknya agak siangan aja, nggak apa. Nanti saya bantuin, deh," sahut Andin dan hal itu sukses mengerutkan kening Jumi. Pasalnya, hari ini bukan weekend tetapi Andin berinisiatif ingin membantunya memasak.
"Ibu nggak ngantor?"
"Saya—."
__ADS_1
"Sayaaaangggggg ... Yuhuuuuuuu ... Suami tampanmu ini sudah datangggggg ...."
Dengan menahan senyum, Jumi pamit dari wanita yang melirik ketus pada majikan laki-lakinya itu.
"Lamaaa!"
"Yang beli rame, Yank," jawab Reza sambil meletakkan bungkusan nasi ke dalam piringnya dan juga Andin. Sisa satu, Reza pergi ke dapur untuk memberikan jatah Jumi kemudian kembali lagi dan duduk di hadapan istrinya.
"Tapi aku biasanya beli sebentar doang."
"Serius ... tadi emang lagi rame banget. Mungkin lagi pada pengen makan ini juga kali." Reza tergelak dengan kalimatnya.
"Halah! Palingan juga ngelirikin cewek cantik disana."
"Astaghfirullah ... Mana ada aku gitu, Yank. Cuma kamu wanita tercantik di komplek ini."
"Apa! Berarti di luar komplek ini, masih ada yang lebih cantik dan itu bisa membuatmu berpaling dari aku." Kesal, Andin menghempaskan punggungnya di sandaran kursi dan bersedekap.
Innalilahi, kenapa begini ya Allah? Kenapa sulit sekali menghadapinya?
"Kan, diam. Benar berarti dugaanku."
Reza menarik napas lalu menghembuskannya. Dan itu ia lakukan berkali-kali sesaat sebelum ia mendekat pada istrinya. "Terus, aku harus apa? Supaya kamu percaya, kalau aku cuma cinta dan sayang sama kamu."
"Tau ah!" seru Andin singkat.
"Sayang, dengerin aku. Secantik apapun, sebaik apapun wanita diluar sana. Hanya kamu wanita luar biasa yang mampu menggetarkan hati ini. Percayalah, hanya kamu yang aku inginkan sejak dulu."
Andin menelisik jauh ke dalam manik mata Reza. Ada ketulusan disana. Namun ingatannya tentang Farah kembali terlintas. Padahal ia sangat tahu Farah dan Reza hanya berteman. Andai pun pria itu mencintai Farah. Tidak mungkin ia memutus pertunangan mereka lalu mengejar cintanya.
Jujur, Andin terlihat bingung dengan pemikirannya sendiri. Ingin percaya, tetapi setengah hatinya mengatakan tidak. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan wanita itu.
"Sayang!" panggil Reza melihat keterdiaman Andin.
"Udah udah sana! Aku mau makan! Perutku lapar banget!"
Reza mendesah kemudian kembali duduk di tempat semula dan membiarkan istrinya itu sarapan yang menurutnya terlalu pagi untuk menikmatinya.
"Kamu nggak makan, Bee?" tanya Andin yang heran melihat bungkus nasi Reza masih belum terbuka.
"Kayanya aku kenyang duluan, deh. Liat kamu makan selahap itu," kata Reza. "Kenapa sambalnya diaduk-aduk gitu, apa nggak pedas? Bumbunya aja sudah lumayan pedas."
Andin menggeleng. "Enggak! Malah ini kurang pedas. Kamu tadi kurang banyak minta sambalnya."
"Hah? Itu udah banyak, loh. Dua sendok penuh aku mintanya."
"Nggak pedas. Mau coba?" Sembari menyodorkan sendok yang tersimpan nasi berlumuran bumbu pedas serta lauk ke mulut suaminya.
"Nggak nggak nggak. Kamu makan aja, Yank. Tapi kalau nggak kuat, mending berhenti daripada perutmu sakit."
"Nggak akan, ini aja kurang." Andin melirik jatah suaminya. "Kemarikan pecelmu, Bee. Aku masih lapar."
__ADS_1
"Apa!"
Kali ini, Reza benar-benar dibuat heran dengan tingkah laku istrinya itu yang tak seperti biasanya. Apa yang terjadi padanya?