Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Mantan Gebetan


__ADS_3

Kilauan cahaya jingga mulai nampak memenuhi langit kota Jakarta. Roda-roda dari berbagai jenis kendaraan, saling berlomba-lomba untuk mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuannya masing-masing.


Namun hal itu tak membuat Reza segera beranjak dari tempatnya berdiri. Pria itu masih terlihat berdiri di samping pagar pembatas basemen yang berada tepat di belakang mobilnya sejak beberapa menit yang lalu. Walau tubuhnya saat ini sedang berada di sana, namun tidak dengan pikirannya. Sepertinya pria itu kini memiliki hobby baru yaitu menghabiskan waktu dengan melamun, melamun dan melamun.


Tak lama kemudian, Reza tersadar dari lamunannya kala sayup-sayup telinganya mendengar suara memburu dari hentakan kaki yang terbungkus heels itu mendekat ke arahnya.


Reza gelagapan. Dengan cepat, ia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci yang terselip di dalam sana kemudian menarik langkahnya menghampiri mobil.


"Reza! Tunggu!"


"Maaf, Ndin. Aku buru-buru."


Tanpa memedulikan Andin, Reza terus saja menggerakkan tangannya untuk menarik handle mobil namun tertahan karena Andin segera mencekal dengan tubuhnya hingga menutupi separuh sisi pintu tersebut.


"Katakan padaku. Kamu kenapa, sih? Apa aku melakukan kesalahan padamu? Kenapa kamu selalu menghindar dariku."


"Aku nggak apa," kelit Reza. "Hanya saja—."


"Hanya saja apa? Ini seperti bukan kamu, Reza.


Reza tampak diam sejenak sembari berpikir. Tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kalau ia sangat cemburu pada kejadian malam itu. Bagaimana bila Andin membenarkan dugaannya? Bagaimana bila rencana Rudi yang ingin menjodohkan putrinya itu tetap terlaksana? Sungguh ia tak sanggup mendengar kenyataan yang mungkin akan membuatnya semakin terluka lebih dalam.


Reza melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Maaf, aku harus pergi." Ia menepis pelan bahu kanan Andin agar wanita itu segera memindahkan posisi tubuhnya.


Baru saja kakinya hendak melangkah naik ke mobil, ia membalik badannya menghadap Andin.


"Hem ... Andin," panggil Reza. Ia maju selangkah mendekat pada wanita itu


"Ya?" Wajah Andin berubah semringah. Akhirnya pria di depannya itu mau menurunkan egonya untuk berbicara padanya. Ia melemparkan senyum manisnya pada Reza.


"Sebaiknya kamu segera pulang." Reza melirik sebentar ke arah langit. "Hari sudah semakin gelap, tidak baik untuk kamu berlama-lama di sini. Bahaya." Tanpa mendengar jawaban dari Andin, Reza melanjutkan lagi niatnya yang sempat terhenti beberapa saat.


Melihat itu, seketika senyum Andin menyurut bersamaan dengan datangnya amarah yang berkobar di dadanya. Untuk kesekian kalinya ia merasa diabaikan oleh pria yang mulai menjalankan mobilnya itu.


"Oke, Za. Kamu pikir dirimu siapa? Berani mengabaikanku seperti ini. Kalau memang kamu ingin menjauh dariku. Pergilah! Pergi sejauh-jauhnya dari hidupku. Aku tidak butuh teman sepertimu lagi!"


Lantang Andin berteriak hingga memenuhi area lantai dasar tersebut membuat Reza menarik pandangannya menatap pantulan Andin melalui kaca spionnya sembari terus saja melajukan mobilnya.


***


Rasa marah, kecewa, sedih, panik semua begitu membelenggu dipikiran Reza saat ini. Ingin kembali dan menenangkan Andin di sana, tapi lagi-lagi akal sehatnya terus saja memerintahkannya untuk tetap bertahan pada egonya.


"Biarlah, ini hanya sementara. Setelahnya dia akan melupakanku begitu dia sudah menjadi milik pria pilihan orang tuanya,” gumam Reza ketika mobil yang dikendarainya berhenti di persimpangan jalan sesaat setelah lampu lalu lintas berwarna merah menyala.


Reza menghembuskan napas beratnya kemudian mengedarkan pandangannya ke arah luar mobilnya. Seketika tatapannya terhenti saat melihat jejeran gerobak yang berada sekitar di taman. Tempat biasa yang ia datangi bersama Andin. Pria itu menarik sedikit kedua sudut bibirnya kala mengingat beberapa kebiasaan unik wanita itu bila memesan sebuah makanan di sana.

__ADS_1


“Mau makan apa? Soto ayam apa mie ayam?” tanya Reza sembari mendudukkan dirinya menyusul Andin yang sudah lebih dulu mendaratkan tubuhnya di kursi plastik.


“Aku mau makan soto ayam saja. Ingat! Nasinya dikit aja, kuahnya dibanyakin, tidak pake kol, daun seledri dan juga bawang goreng.”


Reza tercengang mendengar pesanan wanita di depannya itu. “Pesanan apa itu?”


“Aku pakai susuk. Kalau makan tiga hal yang kuhindari, aku takut akan membuat khasiatnya luntur.”


“Hah?”


“Aku hanya bercanda. Santai dong, mukanya.” Andin terkekeh geli. Sementara tangannya tergerak untuk mengusap kasar wajah Reza yang menegang. “Aku tidak suka makan sesuatu yang mentah kemudian di masukkan ke dalam kuah panas.”


“Lalu apa kabar bawang gorengnya? Itu, kan tidak mentah.”


Andin menghela napas. “Rasanya aneh di lidahku. Sudah sana samperin penjualnya. Kalau dia kemari, aku khawatir dia akan lupa. Kamu tunggu di sana sampai dia selesai menyiapkan pesananku.”


“Ya ya ya. Mau makan aja ribet amat, sih,” gerutu Reza sembari berjalan menghampiri pedagang soto ayam.


Bunyi suara klakson tiba-tiba terdengar di sela-sela lamunannya membuat dirinya terpaksa melepaskan pandangannya. Dengan segera ia menurunkan tuas handbrake dan memindahkan persnelling untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Namun tak lama kemudian ia menghentikan mobilnya secara mendadak dan disaat itu pula terdengar suara benturan yang begitu keras menghantam aspal.


“Arrghhh!” pekik seseorang di luar sana membuat Reza seketika panik. Khawatir keteledorannya dalam mengemudi akan berdampak buruk pada orang lain.


“Astaga! Aku nabrak orang.” Ia segera melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi melingkar di tubuhnya sebelum kemudian ia turun dari mobil dan menghampiri pengendara motor matic yang terduduk lemas di samping motornya. Sepertinya wanita itu mengalami syok. Karena kejadian itu begitu cepat menimpanya.


Setelah membantu membenarkan posisi motor tersebut ke bahu jalan agar tidak menghalangi pengendara lain yang melintas di sana, Reza berjongkok dengan satu lututnya menumpu di atas aspal. Membuat tubuhnya sejajar dengan wanita itu. “Mbak, saya minta maaf. Saya nggak sengaja. Beneran.”


Reza mengerutkan dahinya sembari berusaha menembuskan pandangannya dari balik kaca helm bogo yang masih setia melindungi wajah wanita yang sibuk melepaskan debu aspak di kedua telapak tangannya.


"Memangnya Mbak mau kemana?" Reza menatap ke depan dan ke belakang melihat kondisi jalan yang memang tak begitu ramai oleh kendaran bermotor. "Bahaya Mbak jalan sendirian di tempat sepi seperti ini."


"Rumah saya daerah sini, Mas. Itu rumah yang berpagar hitam." Sembari menunjuk arah yang dimaksud.


“Oh, iya. Apa ada yang terluka? Bila ada ayo kita ke rumah sakit atau klinik terdekat agar kondisi Mbak bisa diperiksa lebih lanjut. Saya khawatir ada luka dalam di—.”


“Saya tidak apa-apa, Mas.” Wanita itu cepat memangkas kalimat Reza. Ia merasa pria di depannya ini sungguh berlebihan. Padahal jelas-jelas kesalahan ada pada dirinya. Ia menarik diri dan bangkit dari duduknya disusul oleh Reza yang sudah berpindah posisi di sampingnya untuk membantu wanita itu berdiri.


“Terima kasih, Mas.” Ia membuka helmnya dan menggantungkannya di salah satu spion motornya. Saat ia berbalik menghadap Reza, seketika pria itu terkesiap saat melihat wajah wanita yang menurutnya tidak asing di ingatannya.


“Gegen?”


Kini giliran wanita itu yang terkesiap. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan nama seperti itu. Sorot matanya tajam menatap tubuh Reza yang terbalut kemeja lengan panjang warna putih dengan jas berwarna peach serta celana berwarna senada tanpa dasi yang melingkar di lehernya. Kemudian ia menatap ke balik punggung pria itu, ada sebuah SUV biru metalik dengan seri terbaru yang tadi hampir saja menabrak dirinya. Rasanya ia tak percaya dengan penglihatannya. Penampilan Reza benar-benar beda!


“Ma-Mas Reza?”


Reza mengangguk sembari tersenyum. “Apa kabarmu, Gen?”

__ADS_1


“Aku baik, Mas,” sahut wanita bernama Genik tersebut.


Genik adalah teman Reza semasa kuliah dulu. Pria itu sempat menyukainya dan pernah menyatakan perasaannya pada Genik sesaat setelah mereka menyelesaikan pendidikannya masing-masing.


Namun hubungan itu ditentang tegas oleh kedua orang tuanya karena menganggap Reza bukan dari kalangan berada dan hanya seorang OB dengan gaji yang tak mungkin cukup untuk membahagiakan putri mereka satu-satunya itu.


Tak mau disebut durhaka, Genik terpaksa mengikuti kemauan orang tuanya dan mengubur perasaannya pada Reza.


"Sudah malam. Mari aku antar," tawar Reza. "Motormu biar aku tuntun saja. Kan, udah dekat menuju rumahmu."


"Iya, Mas."


Reza mengambil motor dan mereka pun mulai berjalan menuju rumah Genik.


"Kamu pindah rumah? Karena seingatku, rumahmu bukan di daerah ini."


"Hem ... Iya, Mas." Genik mulai menceritakan tentang usaha ayahnya yang mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh rekan bisnisnya. Dengan terpaksa mereka menjual seluruh aset untuk menutupi hutang hingga akhirnya Genik dan keluarganya harus tinggal di perumahan biasa seperti ini.


"Aku lumayan sering pulang lewat sini. Demi memangkas jarak untuk sampai ke rumah. Dan aku baru tau kalau kamu tinggal di sini.


"Memangnya Mas Reza tinggal di mana?"


"Di komplek sebelah."


"Oh."


Sepanjang jalan, Reza dan Genik saling bertukar cerita tentang kegiatan harian mereka. Wanita itu kembali dibuat terkejut, mendengar betapa takdir begitu baik berpihak pada pria di sampingnya itu. Berbanding terbalik dengan keadaanya yang sekarang.


Tak lama kemudian, langkah mereka terhenti di depan pagar teralis yang mengelilingi rumah minimalis di dalamnya.


"Aku langsung pulang, ya," kata Reza usai memarkirkan motornya di tempat seharusnya.


Genik mengangguk. "Terima kasih, Mas."


Reza berlalu pergi meninggalkan Genik yang masih berdiri di depan rumahnya dengan menatapi jejak bayangan Reza yang mulai menghilang dari pandangannya.


"Genik!"


Sebuah panggilan dari wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul di belakangnya memaksa Genik menolehkan kepalanya menatap sang bunda.


"Iya Bunda."


"Siapa pria itu? Pacar baru kamu?" cecar Susi. Ada binar kebahagiaan yang tersirat di wajahnya kala manik matanya sekilas menatap punggung Reza yang tertelan di kegelapan malam. Dari penampilan pria itu, Susi dapat menyimpulkan bila ia berasal dari keluarga terpandang.


"Bukan Bunda. Dia Mas Reza. Aku tadi nggak sengaja bertemu dengannya."

__ADS_1


"Reza?"


__ADS_2