Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Ketegangan


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa kehamilan Andin sudah memasuki bulan ke sembilan. Tinggal beberapa hari ke depan, bayi-bayi mungil yang belum di ketahui jenis kelaminnya itu akan lahir ke dunia.


Bukan sengaja tak tahu. Hanya saja setiap kali melakukan pemeriksaan USG, kedua bayi tersebut seperti enggan menampakkan ‘benda keramat’ milik mereka masing-masing. Atau mungkin, mereka sengaja karena ingin memberikan kejutan? Entahlah.


Namun, terlepas dari itu semua. Reza dan Andin patut bersyukur. Kedua bayi mereka tumbuh dengan baik dan sehat di dalam sana.


“Sudah pas hangatnya, Sayang?” Reza bertanya saat Andin memasukkan kedua kakinya yang terasa pegal ke dalam baskom berisi air hangat. Seperti biasa, itu adalah hal rutin dilakukan seusai ia melakukan jalan-jalan santai di sekitaran komplek demi memudahkan persalinannya kelak.


Andin mengangguk. “Pas, kok. Makasih ya, Bee?”


“Sama-sama, seksi.”


“Bee!”


Netra Andin membesar. Ia juga memberi kode bahwa di sana, bukan hanya mereka saja yang duduk. Melainkan ada seorang remaja pria yang sedang fokus merakit mobil tamiya.


“Dia nggak dengar.”


“Gavin dengar, Yanda,” jawab remaja itu lugas kemudian tersenyum menatap kedua orang tua angkatnya.


“Tuh, kan!”


Reza hanya meringis mendengarnya. Akan tetapi, nyatanya memang seperti itu. Meskipun perut membuncit disertai bobot tubuh yang meningkat drastis. Tak membuat aura kecantikan Andin menghilang. Bahkan di mata Reza, kecantikan Andin semakin hari semakin bertambah.


“Kalau ngomong suka asal. Nggak lihat situasi,” imbuh Andin lagi. Ia berpendapat, kata itu kurang pantas didengar oleh remaja yang bahkan belum genap berusia lima belas tahun.


“Iya iya, maaf.”


Reza menggeser tubuhnya mendekat pada Gavin dan memperhatikan dua buah tamiya berbeda warna yang sudah selesai di modifikasi sesuai standar kompetisi. “Mau pakai yang mana?” tanyanya kemudian.


“Ehm … yang ini!” Gavin mengangkat sebuah tamiya berwarna hitam metalik yang ia beri nama ‘Cheetah’. Berharap mobil itu bisa melesat secepat hewan berkaki empat tersebut di atas arena balap.


“Semoga menang.”

__ADS_1


“Aamiin.”


Tak lama berselang, terdengar suara bel berbunyi dari arah pintu ruang tamu. Reza berdiri, begitu hendak melangkah serta merta Gavin menahannya.


“Biar Gavin saja yang buka pintunya. Yanda cukup temani Bunda di sini.” Kemudian remaja itu pergi setelah mendapat anggukan dari Reza.


"Assalamualaikum." Sebuah salam terdengar ketika pintu terbuka. Mira beserta rombongan keluarganya yang lain, datang berkunjung.


"Waalaikumsalam, O-Oma." Gavin berkata segan sembari sedikit menundukkan kepalanya.


Meskipun sudah dianggap keluarga oleh pemilik rumah tempat ibunya bekerja. Tetapi tetap saja rasa segan itu masih erat melekat pada dirinya. Bagaimanapun juga, ia harus tahu diri.


"Hai Gavin, apa kabar?" sambar Rissa yang berdiri di belakang mertuanya.


"Alhamdulillah baik, Bu Rissa. Mari silakan masuk."


Semuanya pun bergerak ke dalam rumah. Gavin mengulas senyum saat tatapannya bersibobrok dengan sepasang mata yang juga tengah menatapnya sinis.


Remaja itu bisa memaklumi, mungkin kejadian dulu belum lepas dari ingatan Aleysia meski sudah ribuan kata penjelasan dan maaf telah terucap, bocah perempuan itu masih saja membencinya. Bahkan Adrian dan Rissa sampai turun tangan meluluhkan hati karena kesalahpahaman yang terjadi putrinya tersebut. Namun nihil, Aleysia terlalu kokoh pada pendiriannya.


Biarlah, suatu saat biar Tuhan yang mengetuk pintu hatimu untuk memaafkan kesalahanku.


Tanpa berniat kembali ke ruang tengah, Gavin justru pergi ke dapur untuk menemani ibunya bekerja.


"Bu Mira!" sapa Hesti saat besannya itu tiba di ruang keluarga bertepatan dengan dirinya yang juga datang dari arah dapur sambil membawa potongan buah di atas. "Ya Allah, lama kita nggak ketemu."


"Bu Hesti!"


Dua wanita paruh baya itu terlihat heboh. Tanpa memedulikan pandangan sekitar, keduanya saling menghampiri dan berpelukan. Wajar saja, setiap mereka mengunjungi anak dan menantu, pasti selalu berselisih waktu. Beruntung, hari ini takdir mempertemukan mereka.


"Nginep di sini, kan?" tanya Hesti pada besannya hanya sekadar ingin memastikan.


"Iya, dong. Kan kita sama-sama mau menyambut kelahiran cucu-cucu kita."

__ADS_1


"Asyik."


Kemudian mereka membentuk kelompok-kelompok kecil. Kelompok wanita kecuali Andin, pergi ke dapur sembari membantu Jumi mempersiapkan makan siang. Sedang kelompok pria tetap bertahan di ruang keluarga dan melanjutkan obrolan.


Menjelang makan siang, semuanya kembali berkumpul di meja makan dan melanjutkan obrolan di sana. Sampai sebuah pekikan Andin, menyita perhatian semua yang ada di meja.


"Aduh!"


"Kamu kenapa, Yank?" Reza bertanya panik. Ia memiringkan sedikit tubuhnya menghadap Andin seraya bersikap waspada.


"Pe-perutku sakit banget, Bee." Teramat sengaja ia mencengkeram kuat kedua lengan suaminya. Berusaha menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.


"Sakit?" ulang Reza.


"Apa sudah saatnya melahirkan?" sambar Hesti. Ia mendekat menyusul Mira yang sudah berdiri diantara anak dan menantunya.


"Tapi ini belum saatnya, Bu." Sambil mengusap kening Andin yang basah, Reza menyahut. "Dokter bilang tiga hari lagi."


"Eh, Za! Kamu jangan salah, istriku melahirkan Aleysia lebih cepat dari apa yang dokter prediksikan," sambar Adrian. "Lebih baik—."


"Bee! Air ketubanku pecah!"


Tanpa berpikir panjang, Reza segera menggendong istrinya masuk ke dalam mobil diikuti oleh Adrian dan para orang tua mereka.


Langit siang itu tampak begitu terang tanpa adanya gumpalan mega yang menghiasi di sana. Di bawah terik matahari, Reza memacu mobilnya dengan kecepatan tak biasa. Seolah sedang berburu dengan waktu. Membuat Hesti berulang kali mengingatkan putra sulungnya itu agar lebih berhati-hati meskipun lalu lintas siang itu tampak lengang.


Sejenak, Reza melirik istrinya melalui kaca spion. Wanita itu meringis tertahan sembari menikmati usapan lembut di kening dari tangan sang mertua.


"Sabar ya, Sayang. Demi anak kita, kamu harus kuat. Aku akan selalu mendampingimu sampai akhir perjuanganmu melahirkan anak-anak kita."


Tak lama mobil pun tiba di rumah sakit. Begitu tiba, Reza langsung di bantu oleh beberapa perawat untuk membawa Andin keruang bersalin yang ada di lantai tiga.


Berada di ruangan itu, ketakutannya semakin menjadi-jadi. Ia merasa perputaran waktu terasa sangat lama ketika harus bersabar menunggu pembukaan Andin lengkap dan benar-benar siap untuk melahirkan. Rasa cemas, takut, sedih, senang dan bahagia bercampur menjadi satu. Sehingga tanpa disadarinya, ada kristal bening yang lolos begitu saja dari ekor matanya disertai oleh lelehan keringat dingin yang mengucur deras membasahi tubuhnya melihat sang istri kesakitan dalam berjuang melahirkan buah cinta mereka.

__ADS_1


Sementara di luar ruangan, seluruh keluarga juga ikut tegang dan harap-harap cemas menunggu cucu-cucu yang mereka itu lahir ke dunia. Tak henti-hentinya bibir mereka menggumamkan doa-doa untuk keselamatan Andin dan bayi-bayinya.


"Pak Reza, kita bisa bicara sebentar di luar?" Degup jantung Reza seketika berdetak tak karuan mendengar ajakan dokter yang berdiri di depannya itu. Seakan ada sesuatu yang serius dan mengharuskan mereka menepi sejenak.


__ADS_2