
Kerlipan cahaya bintang yang bertaburan di langit menjadi tanda bahwa tugas sang mentari telah usai sejak beberapa jam yang lalu. Begitu juga dengan seluruh rangkaian proses pemotretan yang dilakukan oleh dua model dadakan tersebut.
Saat ini, sebuah meja makan panjang milik salah satu restoran yang berada di tepi pantai itu kini terlihat penuh oleh seluruh tim produksi termasuk Andin dan Reza. Ya, sebelum pulang ke kediaman masing-masing, mereka menyempatkan diri menggelar acara makan malam bersama.
Tak henti-hentinya mereka memuji bakat model Andin dan Reza yang terlihat begitu luwes di depan kamera seperti sudah memiliki pengalaman sebelumnya ketika pengambilan gambar berlangsung.
"Ah, biasa saja. Ini pertama kalinya saya juga melakukannya," ujar Reza merendah. Pria itu melirik ke arah Andin yang sedari tadi hanya diam seraya tangannya mengaduk-aduk santapan makan malamnya. Ia mengernyit dan mengulurkan tangannya menyentuh tangan Andin yang menempel di meja.
"Andin ...," panggil Reza lembut hingga membuat Andin refleks menarik tangannya.
"Hah! Apa Za?"
"Kamu kenapa? Kok melamun?"
"Ti-tidak. Siapa yang melamun?" tampik Andin. Wanita itu langsung menyuapkan nasi beserta lauk yang sudah ia kumpulkan ke dalam sendok.
Reza tak serta merta dibuat percaya. Pasalnya ia sudah merasa ada yang aneh pada wanita itu sejak take terakhir.
"Lekas habiskan makananmu. Setelah itu kita pulang. Aku sudah lelah dan mengantuk."
Andin hanya mengangguk. Baik ia maupun orang-orang yang mengitari meja makan, terlihat kembali menikmati santapan malamnya dalam keheningan.
Begitu juga ketika dalam perjalanan pulang. Andin dan Reza tak ada yang saling bicara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Reza sibuk menerka apa yang terjadi pada Andin. Sementara Andin sibuk menerka apa yang terjadi pada dirinya terutama ... hatinya.
Sesaat kemudian Reza merasakan sesuatu yang keras menimpa bahunya. Pun ia menoleh dan mengulas senyum ketika melihat Andin tertidur dengan pulasnya.
Karena settingan kursi di mobil tersebut adalah personal seat, ia berinisiatif mengambil bantal leher yang ada di kursi belakang sebelum kemudian melingkarkannya di leher Andin agar bila wanita itu terbangun tak terlalu membuatnya pegal di seluruh tubuhnya.
***
Lelah dan kantuk masih Reza rasakan ketika kakinya sudah menapak di gedung utama Dinata Group. Rupanya efek kemarin masih terbawa hingga kini.
Lift yang membawanya sampai di lantai tujuannya. Setelah keluar dari sana, Reza tak lantas pergi ke ruangannya melainkan pantry yang terletak di ujung koridor sebelah kiri. Ia berniat hendak membuat kopi, setidaknya cairan hitam itu dapat membantu menghilangkan sedikit rasa kantuk yang menderanya saat ini.
"Pak!" Seorang wanita berseragam office girl itu terkejut dan hampir menjatuhkan gelas kotor yang dicucinya kala melihat Reza masuk secara tiba-tiba. Ia segera mencuci tangannya dan beranjak menghampiri Reza yang juga berjalan menghampiri lemari pantry.
"Bapak mau apa? Biar saya buatkan?" tawar wanita itu ketika tangan Reza menjangkau sebuah cangkir beserta piringnya.
"Tidak perlu," tolak Reza. "Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Biar saya yang buat sendiri." Reza meraih toples kopi dan membukanya.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, Pak. Saya yang nggak enak. Karena itu sudah menjadi tugas saya." Sang wanita kekeuh menawarkan diri.
Reza menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengangkat cangkir guna meletakkannya di bawah kran dispenser. Pria itu menghembuskan napas kasarnya dan menoleh ke arah OG tersebut.
"Amalia ...." Reza membaca nama wanita itu dari name tag yang menggantung di lehernya.
"I-iya Pak," jawab Amalia dengan nada sedikit bergetar melihat Reza menatapnya tajam. Ia memundurkan langkahnya untuk mengantisipasi hal apa yang terjadi selanjutnya.
"Biar saya saja," ucap Reza tegas.
"Ba-baik, Pak ...." Amalia terlihat kebingungan menyebut nama pria di depannya itu. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Wajar bila ia belum mengenal nama-nama karyawan dan petinggi Dinata Group.
"Reza! Nama saya Reza." Sembari mengeluarkan name tagnya dari saku celana, Reza mengenalkan dirinya.
"Baik, Pak Reza. Saya melanjutkan mencuci gelas kotornya." Amalia menarik dirinya kembali ke wastafel sesaat setelah Reza menganggukkan kepalanya.
Selesai membuat kopi, Reza membawanya ke atas meja dan duduk disalah satu kursi tersebut. Sedikit demi sedikit ia menyesap isinya sambil matanya memperhatikan gerak-gerik OG di depannya sedang mengelap gelas yang sudah dicucinya itu.
"Kamu OG baru ya?" Reza membuka percakapan setelah keheningan menaungi keduanya beberapa saat.
Amalia mengangguk lalu menundukkan kembali pandangannya. Terlihat segan menatap Reza
"Iya Pak." Amalia menurut ia pun menarik kursi lainnya dan mendaratkan tubuhnya di sana. Tapi masih menundukkan kepala.
"Amalia, kamu jangan takut sama saya. Saya tidak semenakutkan yang kamu kira." Reza terkekeh. Ia kembali menyesap kopinya yang sudah mulai menghangat.
"Iya, Pak." Amalia pun mencoba memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Reza.
"Asal kamu tahu Amalia, saya juga dulu OB seperti kamu. Jadi untuk hal-hal seperti ini sudah biasa bagi saya," jelas Reza untuk melunturkan ketakutan Amalia padanya.
"Benarkah?" Amalia terkesiap mendengarnya. Wanita itu mulai tertarik dengan informasi yang diberikan Reza. "Kenapa Anda bisa jadi direktur, Pak?"
"Karena sebuah keberuntungan," jawab Reza singkat.
"Keberuntungan?" ulang Amalia.
Reza mengangguk dan mulai menceritakan kisah masa lalunya ketika menjadi OB dan pertemuannya pada Adrian, yang saat itu sedang menyamar sebagai OB hingga berujung pada sebuah keberuntungan baginya.
Raut wajah Amalia tampak berubah-ubah mendengarnya. Ada rasa terkejut, terharu, bangga, menyatu menjadi satu di sana. Ia sama sekali tak menduga. Nasib baik berpihak pada Reza. Benar-benar beruntung.
__ADS_1
Namun terlepas dari itu semua Reza patut bersyukur dengan apa yang ia raih sekarang. Karena Adrian, ia mampu mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik seperti sekarang.
"Nasib manusia tidak ada yang tahu, Amalia. Mungkin hari ini kamu adalah OG, tapi tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu bisa seperti saya atau bahkan lebih," tutur Reza tulus.
"Aamiin, Pak."
"Jangan pernah berhenti berharap. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita."
Amalia hanya mengangguk.
"Amalia, kamu dulu kerja di mana?"
"Sa-saya pernah bekerja di Siantar Group, Pak. Sebagai OG juga?" Suara Amalia terdengar gemetar menandakan si empunya sedang dilanda kegugupan membuat Reza mengernyit heran melihatnya. Kemudian wanita itu menunduk seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Tak ingin lagi banyak bertanya. Reza melirik jam tangannya, sudah hampir jam delapan. Rasa kantuk yang sempat menderanya pun kini telah menghilang. Ia memutuskan untuk kembali ke ruangannya
"Baiklah Amalia, kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu." Reza beranjak dari duduknya dan hendak mencuci cangkir kosong miliknya di wastafel namun segera dicegah oleh Amalia.
"Biarkan yang ini menjadi tugas saya, Pak."
Dengan terpaksa, Reza mengalihkan benda di tangannya pada Amalia. Ia menarik langkahnya keluar dari pantry namun terhenti di ambang pintu. Ia membalik badannya.
"Amalia?"
"Ya Pak?"
"Kalau kerja, jangan banyak melamun. Nanti kamu bisa dikerubungi semut," ledek Reza sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dari sana meninggalkan Amalia yang merona menahan malu karena tidak menyangka Reza memergokinya sedang melamun.
"Andin!" panggil Reza saat melihat wanita itu di depan pintu ruangannya. Ia mempercepat langkah kakinya menghampiri Andin.
"Kamu dari mana?" tanya Andin.
"Pantry," jawab Reza, "tumben kamu ke sini? Ada apa?"
"Aku mau ngajakin kamu ke Expo dan sekaligus menemui EO untuk acara puncak ulang tahun kantor nanti," kata Andin, "apa kamu sibuk?" tanyanya lagi.
"Sesibuk-sibuknya aku, aku akan selalu meluangkan waktu untukmu," goda Reza membuat Andin memutar bola matanya malas.
"Nggak usah gombal! Ayo!" Andin menarik tangan Reza agar mengikuti langkahnya.
__ADS_1