
Sorot mata penuh damba seolah tengah meluapkan kerinduan itu, tak lepas sedikitpun memandang wajah wanita yang terlihat semakin cantik dari terakhir kali mereka bertemu. Bahkan Reza, tak berani berkedip barang sekali. Khawatir bila ia melakukan itu, bayangan Andin akan menguap dari pandangan matanya.
“Ekhem ….” Sebuah deheman yang lolos begitu saja dari bibir Farah, berhasil mengurai kontak mata mereka. Pun keduanya menjadi salah tingkah dan saling melempar pandang kemana saja untuk sekedar membuang kecanggungan. Tak lama, Reza kembali menyorotkan mata tajamnya ke arah Andin. Meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat bukanlah mimpi belaka.
Andin … kenapa kamu bisa ada di sini? Apa yang kamu lakukan?
Ingin sekali rasanya Reza melontarkan pertanyaan itu namun tercekat di pangkal tenggorokannya. Sementara Andin, ia terlihat bingung mengekspresikan dirinya. Antara bahagia, marah, rindu menyatu dalam benaknya. Orang yang selama ini ia cari, duduk tepat di depannya.
"Aa', ini Bu Andin. Beliau inilah yang akan bekerja sama dengan perkebunan kita." Suara Farah terasa menyambar di telinga mereka hingga mampu mempertemukan kembali dua manik berbeda warna tersebut.
“Apa?” pekik keduanya secara bersamaan karena terkejut. Tak menyangka takdir telah mempertemukan mereka dalam keadaan yang seperti ini. Benar-benar di luar ekspektasi.
"Kenapa, A'?"
"Kenapa, Bu?"
Gita dan Farah kompak bertanya sembari menatap bingung pada masing-masing bosnya itu.
"Nggak apa, nggak apa. Kamu lanjutkan saja," ujar Reza. "Aku percayakan padamu."
Farah mengangguk. Ia mulai menjelaskan beberapa point penting yang ada di dalam kontrak kerja sama tersebut dan kapan proyek ini mulai direalisasikan.
Reza bergeming, telinganya tak terlalu jelas menangkap paparan demi paparan yang di lontarkan Farah. Pria itu sibuk mencuri-curi pandang pada wanita berambut panjang yang tergerai indah tengah berdiskusi dengan asistennya itu. Sungguh profesional.
Bila saja memungkinkan, rasanya ia ingin sekali menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya sembari mengucapkan ribuan kata maaf karena telah meninggalkannya dengan sejuta kebingungan.
Sementara Gita, ia menyandarkan satu sisi wajahnya pada telapak tangan dengan siku menumpu di atas meja. Mata sipit yang tersembunyi dibalik kacamata berbentuk oval itu menatap secara bergantian ke arah Andin dan Reza.
Kenapa sejak tadi pak Reza sibuk memandangi bu Andin? Pake senyum-senyum pula. Bahkan denganku saja tidak pernah seperti itu. Apa pak Reza mulai tertarik padanya? Bila benar, apa yang harus aku lakukan? Pesaingku kelas kakap!
“Tidak! Ini tidak mungkin!” teriak Gita sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, menepis pikiran-pikiran buruknya. Sontak saja hal itu menyita perhatian semua orang yang ada di meja.
“Apa yang tidak mungkin, Ta?” tanya Andin. Ia mengernyit heran.
__ADS_1
“Bu-bukan apa-apa, Bu. Maaf maaf.” Gita meraih gelas yang berisi cairan kental berwarna merah muda di depannya itu dan meminumnya hingga tandas.
Andin hanya mendengkus pelan. Saat ia hendak menolehkan kepalanya menghadap Farah, lagi-lagi tatapannya terhenti pada pria yang mengulas senyum penuh kelembutan padanya. Reflek pun ia ikut tersenyum namun tak lama ia segera mengalihkannya pada Farah yang mulai melanjutkan penjelasannya.
" ... sekarang gantian Aa' yang membubuhkan tanda tangan di sini. Sebagai tanda kerja sama ini resmi terjalin," kata Fara seraya menyodorkan sebuah pena pada Reza.
Tak ada pergerakan dari pria itu membuat Farah menusuk-nusuk pelan ujung pena di lengan Reza bermaksud menyadarkan pria itu dari lamunannya. "Aa'?"
"Hah?"
"Ayo lekas tanda tangani ini." Reza melirik pena yang melayang di udara, menunggu uluran tangannya menyambut benda tersebut.
"Ah iya." Ia pun segera menandatangi beberapa berkas yang ada di hadapannya sembari tersenyum senang karena dengan ini, ia akan memiliki banyak waktu untuk bisa memperbaiki hubungannya yang sempat ternodai kesalahpahaman.
"A', di mana cincinmu?" tanya Farah ketika tak melihat keberadaan cincin di jari pria yang duduk di samping kirinya tersebut.
Reza mematung dengan senyum yang perlahan mulai menyurut. Susah payah ia menelan salivanya. Bingung harus menjawab apa. Tanpa sepengetahuan Farah, ia baru saja melepas cincin itu dan menyembunyikannya ke dalam saku celana agar Andin tidak mengetahui rencana pernikahan mereka.
"Oh ... itu tadi ... Aku ...." Sembari melirik Andin yang juga menunggu jawabannya.
"Aku sengaja melepasnya saat aku membantu montir memperbaiki mobil," elak Reza. Ia tak menyangka Farah akan mempertanyakan itu di depan wanita yang ia cintai.
"Cincin apa Bu Farah?" Gita yang sedari tadi diliputi rasa penasaran yang tinggi, akhirnya membuka suara. Ia mengabaikan Reza yang berdesis menahan geram. Bisa-bisanya wanita itu bertanya lebih lanjut.
Farah tersenyum. "Ehm ... cincin pertunangan kami, Bu Gita. Dan bila tidak ada aral melintang. Kami akan menikah dua bulan mendatang."
Bagai disengat listrik ribuan volt, tubuh Andin dan Gita seketika menegang. Terlebih lagi Andin, wanita itu merasa pandangannya mulai mengabur. Ada sekumpulan cairan yang siap runtuh dari pelupuk matanya. Sungguh berita ini sangat mengejutkan baginya.
"Menikah?" Gita membeliakkan matanya. Rasanya ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja Farah katakan. Belum juga cintanya tersambut. Ia harus kembali menguburnya dalam-dalam.
Wajah Farah merona. Dengan malu-malu ia mengangguk sambil berkata, "iya."
Jawaban singkat yang mampu menarik pandangan dua wanita yang sama-sama terkejut itu mengarah pada pria yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya permisi ke toilet sebentar." Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Andin beranjak dari sana.
Sesampainya di ruang berukuran satu setengah meter persegi itu, Andin duduk di atas kloset sembari menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Air mata yang susah payah ia tahan, luruh begitu saja membasahi pipi mulusnya. Beruntung di ruangan berisi kurang lebih enam partisi kubikel toilet itu hanya ada ia sendiri di sana hingga tangisannya pun tak mungkin terdengar oleh siapapun.
“Kenapa harus seperti ini? Di saat aku sudah membuka hati untukmu, Reza.” Andin memukul-mukul dadanya. Sesak rasanya menerima kenyataan ini. “Sia-sia aku mencintaimu. Sia-sia aku mencari dan menunggumu selama ini bila pada akhirnya kamu bukan untukku,” ucapnya di sela-sela tangisannya.
Di titik ini pun ia menyerah, ia pasrah, ia kalah sebelum berjuang. Wanita itu menyadari kesalahannya. Andai saja dulu ia tak terlalu mengagungkan-agungkan prinsip konyolnya, mungkin hal ini tidak terjadi.
Dengan besar hati, Andin menerima dan menganggap ini sebagai hukuman yang pantas karena telah mengabaikan cinta yang tulus dari pria itu. Biarlah ia yang mengalah, sebab ia juga tak mau menjadi orang ketiga di antara Farah dan Reza.
Puas meratapi nasibnya, ia keluar dari bilik tersebut dan menadahkan tangannya di bawah guyuran air yang mengalir dari kran wastafel setelah sesaat ia nyalakan untuk membasuh wajah dan menghapus sisa-sisa air matanya. Bagaimanapun juga ia harus tegar.
Setelah memastikan penampilannya. Andin menarik langkahnya dari toilet tersebut untuk kembali ke meja. Baru saja wanita itu melewatkan tubuhnya melintasi pintu bermaterial kaca, sebuah tangan kokoh menarik paksa tangannya.
“Reza!” pekiknya, terkejut dengan kehadiran pria itu di depannya. “Lepas!”
Reza tak menanggapi. Ia terus saja melangkahkan kakinya dan membawa wanita itu keluar dari restoran. Mereka berhenti di sebuah taman bunga dengan air mancur di tengahnya itu.
“Lepasin aku, Reza. Tanganku sakit …."
Reza melepaskan tautan tangannya dan membalik tubuhnya menghadap Andin. Di detik berikutnya ia merengkuh tubuh wanita itu dan membenamkannya kedalam pelukan.
“Reza! Lepas!” Sembari terisak, Andin berusaha melepaskan pelukan itu. Namun sayang, tenaganya tak cukup kuat tak untuk menjauhkan tubuhnya dari Reza.
"Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku merindukanmu, Andin," pinta Reza pelan dengan mempererat pelukannya.
Andin menghentikan gerakan tubuhnya dan diam menerima pelukan tanpa membalasnya. Jujur, ia pun merasakan hal yang sama namun ia masih bingung mengertikan perasaanya terlebih setelah mendengar bahwa pria yang sedang memeluknya itu sudah memiliki tunangan. Suasana tenang, hanya terdengar suara gemericik air yang menjadi latar suasana tersebut.
"Maafkan aku, Andin. Maafkan aku." Suara Reza terdengar bergetar, sepertinya pria itu sedang berusaha menahan tangis. "Aku sudah sangat berdosa padamu."
"Kamu jahat, Reza. Jahat!"
"Iya kamu benar, aku memang jahat. Aku salah. Kumohon, maafkan aku." Dengan lembut Reza membelai rambut Andin sembari memberikan beberapa kecupan di ujung kepalanya.
__ADS_1
Kejadian itu tak luput dari sepasang bola mata yang memperhatikan mereka dengan raut wajah terkejut.
Apa mereka saling mengenal?