
Seiring dengan langkah kaki Reza yang mulai menjauh, tubuh Andin semakin bergetar. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Berulang kali, ia pukulkan kepalan tangan di dada. Melepaskan sesak yang menghimpit paru-parunya.
Sungguh tak sedikitpun terlintas dalam benak Andin, bahwa Reza akan setega ini padanya. Apa sesingkat ini, hubungan persahabatan yang mereka bina selama bertahun-tahun? Apa hanya sebatas ini, rasa saling melengkapi itu ada?
Tak dapat dipungkiri memang. Bila berada di dekat Reza, Andin selalu merasa nyaman. Entah nyaman seperti apa yang ia rasakan. Ia pun bingung mengertikan itu. Namun yang pasti Reza adalah tempat di mana ia selalu mencurahkan segala keluh kesahnya. Dan kini, pria itu pergi dengan membawa sejuta kebingungan.
“Kamu jahat, Za. Jahat! Kenapa kamu pergi ninggalin aku kayak gini? Memangnya apa salah aku ke kamu?"
Tangisan Andin semakin pecah. Membuat suasana di ruangan itu hanya terisi oleh isakannya. Make up yang mulanya sempurna, kini sudah terlihat sangat berantakan oleh desakan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
"Apa memang begini caramu berteman? Dasar brengsekkkkkk! Jahat! Kamu jahat Reza! Aku benci kamu! Sungguh sangat membencimu!" Andin kembali meluapkan segala emosi yang berkecamuk di hati dan pikirannya hingga tanpa sadar teriakannya itu terdengar sampai ke telinga Santi yang berada dibalik pintu ruangannya.
Mulanya wanita itu hendak mengantarkan beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh Andin. Namun gerakan tubuhnya tertahan kala mendengar suara teriakan diiringi dengan isakan wanita itu. Tak ingin menganggu privacy Andin, Santi mengurungkan niatnya dan menunggu hingga kondisi atasannya itu benar-benar tenang.
Sembari mendekat ke mejanya, Santi mengingat-ingat kejadian tadi. Saat ia berpapasan dengan Reza di koridor menuju lift. Wajah pria itu terlihat gusar dengan mata memerah. Dapat Santi tebak, pria itu baru saja menangis. Sepertinya pria itu dan atasannya memang sedang ada masalah yang pelik.
"Ah sudahlah, bukan urusanku," gumam Santi. Ia mengambil buku agendanya dan mulai mencatat sesuatu di dalam sana.
Puas menangis, Andin bangkit dari duduknya. Wanita itu memutuskan untuk menyusul Reza. Ia tak mau, Reza meninggalkannya tanpa menjelaskan apa alasan dibalik kepergiannya itu.
"Santi!"
"Astaga!"
Santi terperanjat mendapati Andin tiba-tiba ada di depannya. Apalagi melihat keadaan Andin yang begitu berantakan.
"Maaf, saya mengejutkanmu. Apa kamu melihat Reza?"
__ADS_1
"Pak Reza sudah masuk ke lift itu, Bu." Tunjuk Santi pada salah satu mesin pengangkut manusia yang berada beberapa meter di depan mereka. "Mungkin belum sa—."
Tanpa mendengar ujung kalimat Santi, Andin segera melangkahkan kakinya mendekat ke arah lift khusus petinggi. Namun beberapa kali menekan tombolnya, lift tersebut tak kunjung terbuka.
"Kenapa pintunya tiba-tiba macet begini, sih!" Decaknya kesal, ia semakin panik. Tak mungkin baginya menggunakan tangga darurat sementara ia saat ini tengah berada di lantai dua puluh tujuh.
Setelah mencoba lagi untuk kesekian kalinya, akhirnya dengan perlahan pintu pun terbuka. Tanpa menunggu sepenuhnya terbuka, Andin buru-buru meneroboskan tubuhnya ke dalam sana dan langsung menekan tombol menuju basemen. Sesampainya di lantai paling dasar di gedung Dinata Group itu, manik mata Andin menangkap sebuah mobil SUV biru metalik sudah melintas di depannya. Tanpa pikir panjang, wanita itu segera berlari mengejar mobil tersebut sembari berteriak.
"Reza! Tunggu!" Tangan wanita yang menggunakan heels setinggi 7 cm itu nyaris saja menyentuh body bagian belakang mobil Reza.
Suara teriakan Andin, menarik perhatian Reza untuk melirik ke arah spion yang menggantung di bagian tengah mobilnya. Pria itu terkejut, namun keadaan begitu memaksanya untuk terus melajukan kendaraannya. Ia harus tega karena ia khawatir keputusannya itu akan goyah.
"Hentikan mobilnya! Kamu harus menjelaskan sesuatu padaku!"
Maafkan aku, Andin. Bila aku menghentikan mobil ini, aku takut takkan sanggup meninggalkanmu. Sementara hatiku terlanjur sakit melihatmu bersamanya.
***
Sudah lebih dari sepekan sejak hari itu, yang dilakukan Andin hanyalah berdiam diri di rumah. Terkadang ia terlihat melamun, menangis atau sekadar tertawa untuk menertawakan kebodohannya yang mana membuatnya begitu mudah terbawa emosi. Andai saja waktu itu ia menurunkan sedikit egonya untuk membukakan pintu ruangannya, mungkin saat ini ia akan tahu apa yang menjadi alasan pria itu mengundurkan diri dari perusahaan.
Dan sejak saat itu pula Andin sama sekali tak menampakkan diri di kantor. Membuat Adrian sedikit kewalahan mengerjakan pekerjaannya. Walau Rendy selalu ada di sampingnya, namun hal itu tak cukup membantu untuk mengurus perusahaan sebesar Dinata Group.
Bahkan sampai detik ini, pria itu masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada sang adik. Bila ditanya, Andin selalu menjawab ‘tidak ada apa-apa cuma ingin rehat sebentar’. Mendengar alasan itu, Adrian hanya bisa pasrah.
Mungkinkah ini efek Reza yang sudah tak bekerja lagi di sana hingga membuat Andin tak semangat? Atau ada hal lain yang mengganggu hati dan pikiran wanita itu? Sepertinya banyak hal yang ia lewatkan semenjak menikah.
Memang semenjak menikah dan tinggal terpisah dari orang tuanya, Adrian sudah tak lagi menjadi tempat Andin mencurahkan isi hatinya karena peran itu sudah tergantikan oleh Reza.
__ADS_1
"Onty! Onty!" Tepukan halus disertai suara Aleysia menyadarkan Andin dari lamunannya. Ia menatap gadis kecil bermanik sama persis dengan dirinya itu.
"Eh iya, Sayang. Ada apa?" tanya Andin.
"Ikannya udah kenyang."
Andin mengikuti jari telunjuk Aleysia yang mengarah pada kolam ikan koi yang ada di depannya. Sedetik kemudian ia terkejut. Rupanya karena asyik melamun, ia tak sadar telah banyak menuangkan makanan ikan di dalam sana.
"Ah iya, benar." Dengan segera ia menarik tangannya yang masih terlihat menggenggam sebuah sendok takar dan mengembalikannya ke dalam toples khusus makanan ikan tersebut. "Maaf, Onty nggak lihat."
"Apa yang kamu pikirkan, Andin?"
Suara Rissa berhasil menyita perhatian Andin. Ia menolehkan kepalanya menghadap wanita yang berdiri di sampingnya.
"Ehm ... Nggak ada, Kak," elak Andin.
Rissa tersenyum lalu ganti menatap putrinya. "Aley, sini pintar," panggilnya kemudian.
Aleysia mendekat ke arah Rissa membuat wanita itu berjongkok untuk menyetarakan tinggi tubuhnya. "Aley masuk dulu, ya. Main sama papah atau opa di dalam. Mamah mau ngomong sebentar sama onty."
"Iya." Aleysia mengangguk sesaat sebelum masuk ke dalam rumah. Rissa mengekori tubuh putrinya itu sampai tak terlihat lagi kemudian berdiri dan mendaratkan tubuhnya di samping Andin. Iris hazel miliknya, menatap lekat adik dari suaminya itu.
"Ke-napa Ka-kak menatapku seperti itu?" Tiba-tiba Andin menjadi salah tingkah. Ia memalingkan wajahnya kemana saja untuk melepaskan kegugupannya.
"Andin ... lihat Kakak." Andin menurut, ia pun kembali menatap Rissa. "Boleh Kakak tanya sesuatu padamu?"
Tanpa suara, Andin mengangguk kaku.
__ADS_1
"Apa kamu mencintai Reza?"