
Hari ini, Andin memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Entah kenapa sejak pagi menjelang, wanita itu merasa sekujur tubuhnya lelah sekali. Seperti telah memikul beban berat di pundak sembari berjalan puluhan kilo. Dan hal itu membuat Reza terlihat khawatir pada istrinya tersebut. Terlebih lagi saat melihat wanita dengan wajah pucat itu enggan beranjak dari tempat tidur sesaat setelah ia menikmati sarapan.
“Kita ke dokter yuk, Yank? Biar kamu diperiksa.” Pria yang kini telah siap dengan pakaian kerja—bergaya kasual—itu merangkak naik ke atas tempat tidur kemudian menempelkan punggung tangannya di kening, pipi dan juga leher Andin. Memeriksa suhu tubuh wanita tersebut.
“Aku nggak sakit, Bee,” elak Andin seraya menepis tangan Reza. “Aku baik-baik aja. Dibawa istirahat sebentar, nanti juga mendingan.”
“Baik-baik apanya? Lemes kaya gitu," gerutu Reza. "Ini pasti karena kebanyakan makan sambal. Jadi gini 'kan akhirnya. Ayo kita ke dokter!"
“Udahlah, Bee. Nggak usah panik. Palingan juga ini karena hujan kemarin, jadinya aku masuk angin."
Reza bergeming, tampak berpikir.
“Kenapa masih disini? Sana kerja!” cetus Andin.
"Tunggu sebentar!"
Tanpa menunggu jawaban Andin, Reza beranjak dari kamar dan pergi ke dapur. Tak lama kemudian, pria itu kembali dengan membawa segelas air jahe hangat. Senyuman mengulas di bibir kala netra hitam miliknya menangkap sosok yang sedang tertidur pulas di balik selimut tebal berbulu halus. Secara perlahan ia mendekati sosok itu.
"Sayang ... Sayang ...." Reza menepuk-nepuk pipi Andin. Meminta wanita itu untuk membuka matanya. "Bangun dulu, Sayang."
Andin mengerjapkan matanya. Sampai cairan encer berwarna keruh yang ada di atas nampan menjadi perhatiannya kini. "Apa itu, Bee?"
"Air jahe. Diminum dulu, Sayang. Biar badanmu hangat dan enakan."
Melihat perlakuan manis Reza. Membuat dinding keraguan Andin akan cinta suaminya perlahan roboh. Begitu juga dengan sorot mata itu. Ia masih melihat cinta disana. Cinta untuknya bukan untuk yang lain termasuk ... Farah.
“Sini biar aku bantu.” Reza berinisiatif membantu istrinya untuk duduk. Akan tetapi, wanita itu justru menolaknya.
“Aku bisa sendiri, Bee. Aku nggak selemah yang kamu bayangkan.”
Reza hanya tersenyum menanggapi. Ia meraih gelas dan memberikannya pada Andin.
“Terima kasih, Bee.”
“Aku nggak kerja aja Yank, ya? Biar bisa temenin kamu disini.”
“Memangnya nggak ada kerjaan penting?”
“Masih bisa dihandle sama yang lain. Aku disini—.”
Kalimat Reza terhenti ketika ponsel yang berada di nakas, berdering. Ia raih, nama Farah muncul di layarnya.
“Siapa?”
Tanpa menjawab pertanyaan Andin, Reza segera menunjukkan layar ponselnya.
“Ya udah, sih! Terima saja.”
Reza mengangguk dan lekas menggeser ikon hijau. Tak lupa ia juga menekan tombol speaker, agar istrinya itu bisa mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Farah.
“Ada apa, Rah?”
__ADS_1
“Aku cuma mau ingatin kamu, A’. Jam 10 nanti, investor asing dari Singapura akan datang ke kantor.”
Reza menepuk keningnya. “Astaga, hampir saja aku melupakannya,” gumamnya.
“Dan juga, investor itu mau melihat langsung ke lapangan. Itu artinya, hari ini mau nggak mau kita harus pergi ke Sukaraya bersama mereka.”
Kata ‘kita’ yang disematkan Farah dalam kalimatnya, berhasil mengusik kembali pikiran Andin. Tetapi ia tidak boleh egois. Bagaimanapun juga, Farah adalah kaki tangan suaminya. Wanita yang selama ini menemani pria itu merintis usaha dari nol hingga sebesar sekarang.
Hanya rekan kerja tidak lebih. Dan aku sangat yakin dia hanya mencintaiku, sangat mencintaiku.
Sekali lagi, Andin meyakinkan diri. Berusaha menepis pikiran-pikiran jelek mengenai apa yang ia lihat kemarin. Mungkin saja ini hanya bawaan hormonal, membuat emosinya terkadang tidak stabil.
“Hari ini?”
“Iya, A’.”
“Tapi aku nggak bisa ninggalin istriku sejauh itu, Rah. Dia sedang kurang fit sekarang.”
“Andin sakit?”
“Nggak, Rah!”
Kali ini, suara Andin yang terdengar dan lekas mendapat lirikan tajam dari Reza. Seperti tak terima pernyataan istrinya itu. Hendak protes, namun telapak tangan wanita itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
“Aku sehat! Dia saja yang berlebihan," imbuhnya lagi.
“Yakin?"
“Iya. Aku baik-baik saja. Aku pastikan dia akan ikut bersamamu ke desa.”
“Iya.”
“Ya sudah. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Bye Andin. Semoga lekas sembuh.”
“Terima kasih Farah.”
Sambungan pun terputus. Wajah Reza terlihat gusar. Bingung menentukan pilihan, antara bertahan disisi istrinya yang sedang sakit atau pergi bersama Farah ke desa.
“Pergilah Bee. Semakin lama kamu disini, semakin enggan kamu pergi bekerja.”
“Kamu yakin nggak apa aku tinggal? Aku sendiri saja nggak tahu pulang jam berapa nanti.”
“Iya, Bee. Aku nggak apa,” jawab Andin penuh dengan keyakinan. “Nanti kalau capek, kamu nginap saja di rumah ibu. Aku khawatir kalau kamu pulangnya malam. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?”
“Nggak ah! Aku akan usahain pulang cepat.”
“Ya udah terserah. Pokoknya jangan lupa kabari aku.”
Reza mengangguk. “Iya Sayang. Kalau gitu aku pergi, ya.”
“Maaf ya, Bee. Aku nggak bisa antar kamu sampai depan.”
__ADS_1
“Nggak apa, Sayang. Cukup antar aku dengan doa dan ….” Reza mengantungkan kalimatnya dan lekas membenamkan ciuman di bibir Andin. Seperti biasa, ciuman itu tak pernah berlangsung singkat. Bibir Andin bagaikan suplemen untuk menyegarkan staminanya.
***
Beberapa jam usai mengkonsumsi air jahe hangat dan mengistirahatkan sejenak tubuhnya. Kini, tubuh Andin kembali bugar seperti sedia kala. Dengan membawa laptop, wanita itu keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang tengah untuk memeriksa beberapa laporan pekerjaan yang telah dikirim oleh Gita melalui email.
Sesampainya disana, Andin tak serta merta langsung duduk. Melainkan meletakkan dulu laptopnya di atas meja sofa kemudian pergi ke meja makan untuk menuangkan segelas air putih dari teko kaca.
“Mbak Jumi, maaf ya. Saya nggak nepati janji untuk membantu Mbak masak hari ini,” ujar Andin ketika melihat Jumi sedang membersihkan bekas memasaknya.
“Nggak apa, Bu. Ini memang tugas saya," ujar Jumi. "Ibu sudah baikan?” tanyanya kemudian.
“Sudah Mbak. Terima kasih ya, air jahenya. Selain enak, tubuh saya jadi lebih bertenaga.”
“Bukan saya yang buat, Bu. Tapi bapak.”
Andin kaget. "Suami saya?”
Jumi mengangguk. “Iya Bu. Tadinya memang saya yang ingin buat. Tapi bapak bersikeras. Katanya ‘kalau ramuan herbal dibuat oleh tangan dari seseorang yang dipenuhi cinta untuk istrinya. Herbal itu akan bereaksi lebih cepat dari yang diduga’.”
Tiba-tiba wajah Andin memerah disertai hati yang berbunga-bunga mendengarnya. Tidak menyangka suaminya itu masih seromantis dulu. Padahal beberapa saat lalu ia sudah di ambang insecure.
Bayangan Reza akan berpaling darinya karena sampai detik ini belum juga bisa memberikan pria itu keturunan, adalah hal yang paling menakutkan.
"Ibu beruntung loh, dapet suami seperti pak Reza. Sudah baik, perhatian dan juga beliau sayang banget sama Ibu."
"Tapi dia nggak seberuntung saya."
Wajah Andin berubah sendu. Ia menatap kosong ke arah gelas yang telah berisi cairan bening di dalamnya.
"Kenapa Ibu bilang seperti itu?" Jumi mendaratkan tubuhnya di samping majikannya.
"Karena sampai saat ini, saya belum bisa memberikan apa yang belum ia miliki." Andin melirik Jumi. "Yaitu ... anak."
"Bu, maaf sebelumnya bila saya terkesan menggurui Anda. Sebaiknya Ibu jangan berkecil hati. Diluar sana masih banyak pasangan yang sudah melewati usia pernikahan lebih dari 5, 10 bahkan belasan tahun. Mereka baru di karuniai anak. Pernikahan Ibu masih dikatakan muda. Masih banyak waktu untuk bisa mendapatkan anak. Lagipun, kondisi kesehatan Ibu dan Bapak juga sehat secara keseluruhan. Apa yang membuat Ibu ragu?"
Andin terdiam. Berusaha membenarkan kalimat Jumi. Namun ada bagian dalam hatinya yang masih terlihat ragu untuk bisa menerima pernyataan itu. Ia mendesah. Haruskan ia pasrah dengan keadaan?
"Sabar dan tawakal adalah kuncinya, Bu."
"Insha Allah, Mbak. Oh iya, apa kita punya stok hati ayam di kulkas?"
Ujung pertanyaan Andin sukses mengerutkan kening Jumi. Sang asisten rumah tangga itu terlihat bingung.
"Hati ayam? Untuk apa, Bu?"
"Untuk di makanlah. Memangnya buat apa? Saya lagi pengen makan hati."
"Kan Ibu nggak suka. Jadi saya nggak pernah nyetok."
"Tapi saya lagi pengen banget makan itu. Kalau nggak ada, Mbak siap-siap deh. Kita pergi ke swalayan buat beli," cetus Andin. "Ini sudah jam satu lebih, nggak mungkin 'kan kita jam segini ke pasar."
__ADS_1
Aneh, bingung, terkejut. Itu yang Jumi rasakan saat ini. Bertahun-tahun bekerja dengan Andin. Ia sangat tahu apa yang disuka dan tidak disuka oleh majikannya itu. Namun kali ini, sang majikan meminta hal yang sangat tidak disukainya. Hingga menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya.
"Apa sekarang Ibu sedang hamil?"