
Reza tersenyum getir seraya menatap nanar pintu berbahan stainless yang perlahan mulai menyatu di hadapannya. Dahi pria itu berkerut kala indera pendengarannya menangkap suara-suara samar yang berasal dari arah belakang, tengah bergosip tentang dirinya dan Andin.
Eh, bu Andin kenapa tuh?
Iya benar. Nggak biasanya dia begitu.
Wah, kacau nih! Berantem ini pasti.
Hah?
Lihat deh, bu Andin tumbenan jutekin pak Reza kayak gitu.
Iya juga, sih. Biasanya pagi-pagi kita udah disuguhi pemandangan romantis.
Reza memutar tubuhnya. Sontak hal itu membuat beberapa karyawan yang semula berkerumun itu pecah dan menyibukkan diri masing-masing.
Ada yang sibuk menelepon, ada yang sibuk membuka buku tamu di meja resepsionis dan ada juga yang mengobrol sembari tersenyum kikuk. Tentu saja, semua itu hanya akting belaka agar Reza tak memarahinya.
Melihat itu, Reza menggelengkan kepalanya dan berkata, "lanjutkan pekerjaan kalian, bila tidak ingin dipecat. Perusahaan ini membayar kita bukan untuk bergosip.”
"I-iya Pak," sahut mereka secara bersamaan.
Kemudian, Reza memutar tubuhnya kembali untuk menaiki lift dan pergi ke lantai dua puluh tujuh. Namun bukan untuk menyusul Andin di sana, melainkan menuju ruang rapat. Karena pagi ini Adrian akan mengadakan rapat yang bersifat urgent.
Jajaran direksi dan beberapa pemegang saham terlihat sudah duduk di kursi masing-masing ketika Reza baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Tak sengaja, netra hitam miliknya bertemu lagi dengan netra milik Andin. Wanita itu langsung membuang muka ke arah mana saja asal bukan Reza.
Muak. Hanya rasa itu saja yang ada dalam dirinya ketika melihat pria itu. Pria yang selalu menghindar darinya. Kesalahan apa yang telah ia lakukan? Kenapa pria itu tiba-tiba berubah? Bukankah hubungan mereka selama ini menuntut untuk saling terbuka satu sama lain? Lalu, apa artinya persahabatan mereka, bila salah satunya memendam masalahnya sendiri?
Selama berjalannya rapat, Reza sama sekali tidak konsentrasi mendengarkan paparan demi paparan yang disampaikan oleh Adrian. Berkali-kali pria itu menatap jam di tangannya, berharap waktu bergulir dengan cepat. Ia sudah tidak tahan bila berada dalam satu ruangan dengan Andin. Terlebih lagi wanita itu duduk tepat di hadapannya yang hanya tersekat oleh meja.
Bila Andin memiliki rasa muak terhadapnya. Justru Reza malah sebaliknya, semakin ia dekat dengan Andin. Maka semakin kuat pula cinta ini merantai hatinya. Sementara cinta itu, takkan pernah ia miliki. Tidak akan pernah!
Tepat pukul 09.43. Rapat pun selesai dilaksanakan. Satu persatu anggota rapat, mulai beranjak meninggalkan ruangan begitu juga dengan Andin dan Reza.
Namun disaat Reza hendak keluar ruangan, sebuah tangan tiba-tiba mencekal pundaknya.
"Tunggu sebentar."
"Ada apa, Yan?"
"Duduk dulu."
Reza menurut, ia pun kembali mendudukkan dirinya di kursi yang sempat ia tinggalkan disusul oleh Adrian sementara Rendy sudah lebih dulu pergi dari sana.
"Ada apa?" ulang Reza.
"Kamu ada masalah?" Tatapan Adrian yang penuh intimidasi, melayang di wajah Reza. Pria itu hanya diam tak menjawab. Membuat Adrian berhasil menarik kesimpulannya. Ia menyandarkan tubuhnya diiringi helaan napasnya.
"Aku tidak ada hak untuk mencampuri urusan pribadimu. Tapi yang aku inginkan, tolong pisahkan antara masalah pribadi dengan pekerjaan. Karena akhir-akhir ini yang aku perhatikan, kinerjamu sangat menurun dari biasanya. Dan bahkan sejak rapat berlangsung, kamu terlihat sangat gelisah."
Reza membeliakkan matanya. Sungguh pria itu tak menyangka bahwa Adrian memergoki gerak-geriknya tadi. "Ehmm ... Maafkan aku, Yan. Hanya saja, akhir-akhir ini aku merasa tak enak badan," elaknya. Ia tak mau, Adrian mengetahui fakta yang sebenarnya. Bagaimana bila kakak dari pujaan hatinya itu juga akan membenarkan dugaannya?
"Apa kamu sudah memeriksakan keadaanmu ke dokter?"
Reza menggeleng. "Ah, itu tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah biasa. Dibawa istirahat sejenak, pasti akan pulih seperti sedia kala."
"Yakin?" Ada nada keraguan yang tersemat dalam pertanyaan Adrian barusan.
__ADS_1
"Iya yakin, Yan."
"Ok baiklah. Silakan kembali ke ruanganmu."
Keduanya pun berpisah tepat di depan pintu ruangan rapat untuk kembali pada aktivitasnya masing-masing.
***
Seharian, Reza tak fokus mengerjakan pekerjaannya. Bahkan beberapa berkas laporan yang teronggok di atas meja hanya dilirik saja olehnya tanpa ada niat sedikitpun untuk menyentuhnya. Selama beberapa jam di dalam ruangan, Reza hanya melamun, melamun dan melamun. Apalagi yang dipikirkannya bila bukan Andin. Rupanya insiden tadi pagi begitu membekas erat di ingatan Reza. Pria itu rindu Andin. Rindu aroma tubuhnya, rindu suaranya dan rindu berbagi cerita dengannya. Semua hal tentang wanita itu, ia sangat merindukannya!
Namun lagi-lagi logika membawanya untuk kembali teguh dengan sikapnya. Bila ia tidak mampu menentukan sikap, bisa dipastikan ia adalah orang yang paling terluka dalam hubungan yang tak berujung ini. Reza menghembuskan napas di udara sesaat sebelum menarik pandangannya ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, itu artinya seluruh aktivitas karyawan Dinata Group telah usai. Setelah mengambil jas yang sengaja ia sampirkan di sandaran kursi, ia beranjak dari ruangannya.
"Semuanya! Saya duluan ya?" pamit Reza pada anak buahnya yang tengah sibuk merapikan meja masing-masing sebelum pulang.
"Iya Pak. Hati-hati."
Setelah memberikan sebuah anggukan sebagai respon. Reza melanjutkan lagi niatnya untuk turun ke lantai dasar menuju mobilnya.
***
Padatnya jalanan ibukota di jam pulang kantor membuat Reza harus memupuk kesabaran karena tak sebentar waktu yang dibutuhkannya untuk sampai di rumah.
Sesaat kemudian, perhatiannya teralihkan pada seorang wanita berhijab maroon tengah kesulitan mendorong motor maticnya di tepi jalan. Dari nomor platnya saja, ia tau siapa pemilik motor tersebut. Tanpa berpikir panjang, pria itu segera menepikan kendaraanya di bahu jalan.
"Gegen!"
Panggilan itu seketika menghentikan langkah si pemilik nama tersebut. Ia menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Reza menghampirinya.
"Mas Reza ...."
"Motormu kenapa?" Kini, pandangan Reza terisi penuh oleh motor yang ada di depannya.
"Pergilah masuk ke mobilku. Aku akan mengantarmu pulang. Perkara motormu, biar montir langgananku yang akan mengurusnya," ujar Reza sembari merogoh ponsel di dalam saku celananya.
"Nggak usah, Mas," cegah Genik saat Reza nyaris menempelkan benda pipih di daun telinganya. "Itu malah akan merepotkanmu."
"Nggak ada yang perlu direpotkan."
Genik ingin membantah kalimat Reza, namun urung ketika melihat pria itu sudah sibuk bertukar suara dengan seseorang di ujung teleponnya.
"Oke aku tunggu." Sambungan pun terputus. Reza melirik Genik. "Montirnya akan segera tiba, lebih baik kita menunggu di mobil saja."
Genik hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Reza menuju mobil. Tak lama kemudian, montir yang ditunggu pun tiba dan langsung memeriksa keadaan motor tersebut. Karena ada trouble yang cukup serius, montir memutuskan untuk membawa motor Genik ke bengkelnya.
"Kamu dari mana mau ke mana?" tanya Reza ketika sudah melanjutkan perjalanannya.
"Aku baru pulang kerja, Mas. Rencananya tadi mau ke Central Mall. Ada sesuatu yang ingin aku beli di sana. Tapi karena ada trouble pada motorku, sepertinya aku harus menundanya."
"Ok, kita kesana," putus Reza.
"Mas ak—."
"Jangan mencoba menolakku, Gen. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu."
Kening Genik seketika berkerut. Bagaimana dia bisa tau kalau aku akan menolaknya?
Tak berapa lama, mobil pun tiba di pelataran parkir. Genik tersenyum ketika melihat Reza bergegas turun dan memutari mobil untuk membukakannya pintu. Ternyata sikap lembut lelaki tersebut tak pudar sedikitpun meski waktu sudah memisahkan mereka.
__ADS_1
"Silakan."
"Terima kasih, Mas."
Keduanya pun berjalan beriringan masuk ke dalam mall. Sebuah toko perkakas yang terkenal dengan kualitas terbaiknya, menjadi tujuan mereka saat ini. Dengan sabar Reza mengikuti langkah Genik sembari mendorong trolley.
"Ternyata, cita-citamu untuk menjadi chef akhirnya terwujud."
Genik tersenyum getir. "Iya Mas. Tapi masih ada yang belum terwujud sepenuhnya."
"Apa itu?"
"Menjadi chef di restoran sendiri."
Kalimat Genik, mengalihkan pikiran Reza ke beberapa tahun lalu saat keduanya baru saja lulus dari fakultas masing-masing. Saat itu, Reza mempertanyakan apa langkah selanjutnya yang ingin diambil wanita itu. Genik hanya menjawab 'ingin mengasah kemampuan menjadi chef handal dan memiliki restoran sendiri'.
"Mas!"
Panggilan Genik membuyarkan lamunan Reza. Pria itu menoleh ke sampingnya.
"Kamu melamun, Mas?"
"Kamu sudah selesai?" Reza balik bertanya.
"Sudah." Reza mengikuti jari telunjuk Genik yang mengarah pada tumpukan barang di dalam trolley.
"Ayo kita ke kasir," ajak Reza.
Usai dengan urusan belanja, Reza tak lantas mengantar Genik untuk pulang ke rumahnya. Melainkan mengajak wanita itu untuk menemaninya makan malam bersama di sebuah restoran yang ada di dalam mall tersebut. Mulanya wanita itu menolak, namun rayuan maut dari pria berparas tegas itu sekali lagi mampu membuatnya berkata 'iya'.
"Kamu selalu menolak ajakanku? Apa kamu sedang menjaga perasaan seseorang?"
"Maksud Mas?" Genik menatap Reza dengan penuh kebingungan.
"Apa saat ini kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang? Hingga kamu khawatir dia akan cemburu padaku."
"Kenapa Mas bisa menarik kesimpulan seperti itu? Aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Justru sebaliknya. Aku yang khawatir."
Reza tergelak. "Takdirku masih sama. Aku selalu mencintai seseorang tanpa pernah bisa kumiliki sepenuhnya. Aku tidak tahu sampai kapan akan seperti ini." Melepaskan sendok dan garpu di atas piring kemudian menyandarkan tubuh. "Saat ini aku memang mencintai seseorang, tapi dia menolakku karena alasan yang tak masuk akal."
Genik hanya diam mendengarkan. Jujur saja ada rasa sesak di dalam dadanya ketika Reza meluapkan isi hatinya. Bagaimana tidak, ia masih mencintai pria itu. Lagipula, Reza adalah cinta pertamanya dan harus kandas karena penolakan dari orang tuanya.
"Hanya karena kami memulai hubungan sebagai sahabat. Dia menjadikan itu sebagai alasan. Sungguh lucu!" imbuh Reza lagi.
Reza diam, Genik pun masih terlihat diam. Suasana di meja itu menjadi hening.
Sementara wanita yang mereka ceritakan beberapa saat lalu terlihat berdiri di depan sebuah booth minuman tak jauh dari restoran itu.
"Itu Reza bukan, sih?" gumamnya pelan. Ia maju selangkah. Matanya menelisik ke dalam sana berusaha memastikan penglihatannya. "Oh ... jadi wanita itu yang sudah membuatmu menghindar dariku. Dasar pria jahat. Seenaknya saja melupakanku karena mempunyai teman yang baru."
"Kak, choco hazelnutnya sudah ready."
Suara dari karyawan tenant tersebut mengalihkan pandangan Andin.
"Ah iya." Andin mendekat dan mengambil pesanannya. "Terima kasih."
Sebelum pergi dari sana, ia melirik sebentar ke arah Reza. "Bodo amatlah. Suka-sukamu mau melakukan apa. Aku tidak peduli!"
__ADS_1
Sesaat kemudian, wanita muda berambut hitam pekat itu melanjutkan lagi niatnya yang hendak berbelanja. Setidaknya dengan melakukan itu, bisa sedikit membuat pikirannya kembali fresh.