
Andin memiringkan tubuhnya sedikit menghadap pria yang fokus menatap lurus ke depan itu. Ada rasa senang tak tergambarkan olehnya mendengar Reza akan mempertemukan dirinya dengan wanita pilihannya.
“Serius?”
Dengan ragu Reza menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia hanya asal bicara karena Andin terus saja mendesaknya dengan pertanyaan yang begitu menyudutkan.
Ia memutar otak sembari mencari alasan yang masuk akal untuk mengulur waktu. Melihat dari gesture Andin yang seperti itu, kecil kemungkinan cintanya akan terbalas. Tapi hati kecilnya terus saja mendorongnya untuk jujur terhadap perasaannya. Apa salahnya mencoba? Toh, selama ini Andin sudah hafal betul bagaimana dirinya.
“Oke! Deal ya?” Tantang Andin dengan menegaskan jari telunjuknya tepat di depan wajah Reza.
“Iya, tapi ada syaratnya.”
Kening Andin seketika berkerut sangat dalam hingga nyaris menyatukan kedua alisnya, menandakan sebuah kebingungan di sana.
“Syarat?” tanya Andin. “Hanya mengenalkannya saja dan itu kamu pintai syarat?”
“Ya, kenapa memangnya?”
“Aku sungguh sangat penasaran dengan bentuknya. Sampai-sampai kamu buat syarat segala untukku.”
“Sudah kukatakan, dia wanita istimewa!”
Andin mencebik. “Ok fine! Apa syaratnya?”
“Kamu tidak melupakan janjimu, bukan?”
“Janji apa?” Andin semakin kebingungan. “Seingatku, aku tidak pernah menjanjikan apa pun padamu.”
Reza mendengkus kesal. “Dasar wanita. Begitu mudah melupakan sesuatu.”
“Hei! Jangan sembarang bicara.” Andin mulai geram. “Aku memang tidak pernah berjanji sesuatu padamu.”
“Aku sudah pernah bilang. Temani aku ke taman hiburan. Setelahnya, akan kupertemukan kamu dengannya.”
“Rezaaaaaaaa!”
Suara Andin melengking memenuhi tiap sudut mobil itu diikuti dengan gerakan tangannya menjambak rambut Reza, membuat pria itu kehilangan fokus dalam mengendalikan arah mobilnya hingga nyaris membentur median jalan.
“Andin! Kamu mau kita mati konyol di sini!”
“Kamu sadar tidak? Kamu itu baru sembuh! Tenagamu juga belum pulih sepenuhnya!”
“Aku sehat! Aku kuat!”
Andin mengabaikan kalimat Reza. Ia mengubah posisi duduknya seperti semula dan memalingkan wajah ke arah jendela.
__ADS_1
“Lebih baik aku tidak akan pernah melihat wanitamu. Bila kamu terus memaksakan kehendakmu itu. Kamu tidak tahu betapa aku sangat menghawatirkanmu. Betapa gilanya aku saat melihatmu terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. Tidakkah kamu menyadari hal itu, Reza? Mungkin kamu akan terus menganggap kesehatanmu sepele, tapi tidak bagiku.”
Andin kembali menatap Reza dengan manik sendunya. Setetes air matanya jatuh membasahi pipinya membuat Reza segera menepikan mobil ke bahu jalan dan mematikan mesinnya.
“Berhentilah bersikap kekanak-kanakan,” ujar Andin.
Ia menggenggam tangan Andin. “Maafkan aku. Maaf, sudah membuatmu khawatir padaku. Baiklah kita lupakan perjanjian konyol itu. Tapi kumohon jangan bersedih lagi.” Reza menarik tangannya sebelum kemudian ia menangkup wajah Andin dan menghapus jejak-jejak air mata di sana.
“Ayo kita pulang."
Setelah mendapat anggukan, Reza kembali menyalakan mesin dan mulai melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di rumah di rumah, Andin tak lantas pergi. Sebab, Hesti dan Ahmad memaksanya masuk dulu ke dalam rumah. Segan terasa, namun demi menghormati tuan rumah, Andin pun menurut.
Sebuah meja makan dengan aneka menu sederhana, tertata rapi di atasnya. Empat orang itu pun duduk mengelilinginya.
“Jangan sungkan, Nak. Justru sebaliknya, kami sangat berterima kasih padamu. Seminggu lebih kamulah orang yang paling direpotkan menjaga Reza.” Hesti membuka percakapan. Tangannya mulai sibuk mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piring Andin.
“Biar saya ambil sendiri, Tante,” cegah Andin. Ia melirik ke arah Reza. “Untuk masalah dia. Saya hanya bertanggungjawab dengan apa yang terjadi padanya.”
“Nggak perlu berlebihan seperti itu, Nak Andin. Kami yang merasa nggak nyaman.”
“Sudah, Bu. Ayo kita makan. Keburu dingin, nanti malah nggak enak, lho," sela Ahmad menyudahi interaksi kedua wanita berbeda generasi tersebut.
Mereka pun mulai makan dalam hening. Seusai makan dan membantu membereskan meja. Andin pun segera pamit undur diri.
***
“Cha … Ibu boleh masuk, Nak?” Suara wanita paruh baya disertai ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.
“Masuk aja, Bu. Pintunya nggak dikunci,” sahut Reza. Buru-buru ia me-minimize tampilan layar laptopnya sebelum kemudian ia meletakkan benda itu begitu sja di atas kasur.
Setelah mendapat ijin dari sang pemilik kamar, Hesti membuka pintu dan mengangsurkan tubuhnya masuk.
“Ada apa, Bu?” tanya Reza ketika Hesti berhasil mendaratkan tubuh di sampingnya.
“Ibu hanya ingin melihat keadaanmu. Kenapa kamu belum tidur?"
“Echa belum ngantuk, Bu.”
“Harusnya kamu lebih banyak istirahat. Bukankah Adrian sudah memberimu cuti beberapa hari lagi? Kenapa kamu masih bekerja?”
“Ehm … Echa nggak lagi kerja, Bu. Echa hanya—.”
“Ibu suka padanya,” celetuk Hesti tiba-tiba. Matanya terpaku menatap tampilan layar laptop dengan sebuah foto wanita di sana.
“Hah!”
__ADS_1
“Ibu suka pada Andin!” Hesti memperjelas ucapannya membuat Reza mengikuti arah padang ibunya. Seketika itu juga, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu.
“Sejak pertama kali kamu mengenalkannya pada kami. Ibu sudah menyukainya. Dia wanita baik dan bersahaja. Dan juga, dia tidak canggung dengan keadaan keluarga kita yang seperti ini,” imbuh Hesti.
“Dia tidak seperti wanita-wanita kaya pada umumnya, Bu. Yang arogan dan berkuasa karena harta yang dimilikinya. Keluarganya juga tidak pernah membandingkan seseorang dari status sosial.”
“Apa kamu menyukainya?” Hesti memancing lewat pertanyaannya. Netranya beradu pandang dengan manik hitam milik Reza untuk mencari sebuah jawaban di sana.
Reza mengangguk. “Dia, ‘kan, sahabat Echa. Bagaimana mungkin Echa tidak menyukainya, Bu? Pertanyaan Ibu sungguh aneh."
“Bukan suka yang seperti itu maksud Ibu." Hesti menekan kata ‘suka’ pada kalimatnya membuat Reza menerka-nerka ke mana arah pembicaraan ibunya tersebut.
“Sebuah persahabatan yang dibina selama bertahun-tahun apalagi dengan lawan jenis, mustahil tidak menimbulkan sebuah rasa yang istimewa di antara kalian."
Seketika Reza dilanda kegugupan yang luar biasa membuat ia susah payah menelan salivanya. Ternyata ibunya memahami hal-hal tabu seperti itu.
Hesti menggenggam satu tangan Reza sembari menatapnya lekat-lekat. "Matamu tidak bisa membohongi Ibu, Nak. Ibu ini adalah orang yang melahirkan kamu. Insting seorang ibu itu kuat pada anak-anaknya. Ibu tahu kamu menyukainya lebih dari sekadar sahabat.”
Reza memalingkan wajahnya menatap layar laptopnya. “Ibu benar. Echa menyukainya. Ehm ... bukan! Lebih tepatnya Echa mencintainya, Bu,” ralatnya kemudian.
Hesti tersenyum. Binar-binar bahagia tampak jelas di wajahnya yang mulai mengeriput. Ia senang, akhirnya Reza sudah menemukan tambatan hati. Pasalnya, ia sempat khawatir dengan masa depan putranya yang masih menyendiri di usia tiga puluh tahun tersebut.
“Apa Ibu merestui hubungan kami?”
"Apa kamu tulus mencintainya?" Hesti bertanya balik. "Kamu, 'kan, tahu latar belakang keluarganya."
"Echa tulus, Bu. Echa mencintainya bukan karena dia berasal dari kalangan berada. Tapi itu murni dari sini." Reza menepuk dadanya, meyakinkan ibunya.
Hesti tersenyum dan menyentuh pipi putranya. “Ibu merestuimu bila memang kamu serius padanya.”
“Baiklah. Bu. Besok Ibu tunggu saja kabar baiknya?” Reza menarik tangan ibunya dan menciuminya berulang kali.
“Maksudmu?”
“Echa akan melamarnya dan menjadikannya menantu Ibu."
“Hah!”
***
Eaaaaa ... nunggu besok lagi. 😂😂😂.
__ADS_1