
"Gavin!"
Reza dan beberapa orang yang tengah menikmati pesta, seketika tersentak begitu mendengar teriakan Aleysia.
Bersama Adrian, ia pergi menghampiri anak mereka demi memastikan keadaan. Namun, belum sampai di tempat tujuan. Dua pria tersebut kembali dikejutkan oleh gerakan spontan Aleysia yang mendorong kasar Gavin hingga jatuh masuk ke dalam kolam ikan yang kedalamannya hanya sebatas lutut orang dewasa.
"Aleysia, apa yang kamu lakukan, Nak?" Adrian melempar tanya saat tiba di depan putrinya. "Kenapa kamu sampai mendorongnya?"
"Dia duluan yang salah, Pa. Gara-gara dia, gaun Aley jadi basah dan kotor kayak gini," sahut Aleysia seraya menyematkan tatapan penuh benci pada remaja yang sedang ditolong oleh Reza.
Adrian mengalihkan pandangannya pada gaun Aleysia. Benar saja, gaun tersebut terlihat basah dan sedikit memerah akibat noda minuman.
"Maaf, aku nggak sengaja, Al. Aku juga nggak tahu kalau kamu ada di belakang tubuhku." Gavin berusaha menjelaskan. Bibir tipis miliknya bergetar, seakan menahan dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.
"Bohong! Bilang saja kamu sengaja karena ingin merusak pestaku, kan? Dasar jahat! Pembawa sial!"
"Aleysia!"
Entah kapan datangnya, tiba-tiba Rissa muncul. Raut wajahnya berubah pias manakala mendengar ucapan Aleysia. Meski bukan ditujukan pada Reza. Tetap saja, Rissa merasa tak enak hati pada suami dari adik iparnya tersebut. Sebab, kehadiran Gavin di sana, ada andil Reza sepenuhnya.
"Siapa yang mengajarimu untuk bersikap tidak sopan seperti ini, hah? Ini hanya masalah sepele. Baju basah atau kotor masih bisa diganti."
"Tapi Aley sangat menyukai gaun ini, Ma," ujar Aleysia.
"Lalu, apa kamu akan terus memakai gaun yang sudah kotor itu disepanjang pesta?" sembur Rissa lagi dan langsung membungkam mulut Aleysia. Namun, mimik wajahnya semakin mengeras. Rusak sudah suasana pesta yang ia nanti-nantikan beberapa bulan ini hanya karena tamu yang tak di undang.
"Minta maaflah pada Gavin, Sayang." Nada suara Rissa terdengar melemah. Ia tahu betul bagaimana cara menghadapi Aleysia yang memiliki karakter keras dan egois.
"Nggak! Aley nggak salah."
"Aleysia!"
"Nggak apa, Bu Rissa. Saya yang salah." Akhirnya, Gavin ikut bersuara. "Sekali lagi maafkan aku, Aleysia."
Aleysia mendengkus kesal. Kemudian tanpa dosa, ia berbalik dan berjalan melewati tamu undangan begitu saja masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan Andin yang datang membawa handuk lalu membalutkannya ke tubuh dingin anak angkatnya tersebut.
"Aleysia … Al!"
Rasanya suara Rissa hanya terbuang sia-sia di udara. Berkali-kali memanggil, Aleysia tetap tak menghentikan langkahnya.
"Biarkan saja, Kak. Mungkin dia perlu waktu," kata Andin. Berusaha menenangkan Rissa.
"Maafkan Aleysia, ya, Nak Gavin."
"Iya, Bu Rissa. Nggak apa, kok. Saya bisa maklum."
Rissa tersenyum sambil menatap segan pada Gavin sebelum akhirnya ia ganti menatap Reza. "Ehm … Za. Lekas bawa Gavin masuk ke dalam dan lekas ganti pakaiannya sebelum dia masuk angin."
Tanpa menjawab, Reza mengangguk kemudian berjalan bersisian bersama Gavin menuju rumah.
***
Pusat tata surya perlahan mulai tergelincir menuju peraduan hingga semburat jingga merambat masuk memenuhi langit ibukota.
Sejak satu jam yang lalu, pesta ulang tahun yang memiliki kesan tak menyenangkan tersebut, usai dilaksanakan. Rumah pun terlihat rapi dan sepi seperti sedia kala.
__ADS_1
Reza juga sudah pamit pulang bersama keluarganya untuk menginap di rumah Rudi sebelum besok mereka bertolak ke Bandung.
"Di mana Aleysia, Sayang?" Seraya menarik salah satu kursi di balik meja makan, Adrian bertanya pada istrinya yang saat itu sedang mengambil sesuatu di dalam kulkas.
"Di kamarnya," jawab Rissa singkat. Ia letakkan beberapa buah mangga di atas meja kemudian duduk dan mulai mengupasnya untuk di jadikan jus kesukaan Adrian.
"Masih ngambek?"
"Begitulah. Nanti juga mereda dengan sendirinya. Seperti nggak tahu aja, watak putrimu itu."
Adrian menghela napasnya. "Mas heran padanya. Awet banget marahan sama Gavin. Biasanya anak-anak akan lebih cepat melupakan masalah dibandingkan dengan orang dewasa. Mirip banget sama seseorang."
Ujung kalimat Adrian reflek menghentikan gerakan tangan Rissa. Merasa salah bicara, Adrian menggigit bibirnya sendiri sembari mengedarkan pandangannya ke arah lain asal bukan istrinya.
"Kamu nyindir aku, Mas?" sarkas Rissa, mengarahkan pisau ke arah Adrian.
Tak dapat dipungkiri memang. Hanya karena dulu Adrian sempat berbohong untuk menutupi jati diri, Rissa begitu sangat membencinya.
"Ah, en-enggak. Mana ada Mas nyindir kamu. Salah dengar, ih!"
"Kamu pikir aku budeg, Mas?"
"Mama … Papa …." Terdengar seorang memanggil dari arah ruang tamu. Bocah tampan bermata bening, muncul tak lama kemudian.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rissa. Wajahnya terlihat panik ketika tatapannya bersibobrok pada Ammar.
"Ma, Pa, coba lihat. Gelang ini kayak punya Abang Gavin," ujar Ammar sambil menyodorkan benda yang ia maksud barusan di atas meja.
Tatapan Adrian meneliti pada benda dengan jejeran biji kayu yang dirangkai menggunakan benang godam warna hitam.
"Abang Gavin, 'kan, selalu pakai ini. Jadi Ammar hapal ini punya siapa."
"Ketemu dimana?" Giliran Rissa melempar tanya.
"Di teras, Ma. Kayaknya nggak sengaja jatuh, deh!"
"Ya sudah, di simpan saja. Besok pagi, kita antar ini ke tempat Opa sebelum Abang Gavin pulang ke Bandung."
"Nggak usah!" Suara disertai derap langkah kaki mendekat, mengalihkan perhatian tiga orang yang duduk di kursi meja makan. "Buang saja ke tempat sampah."
Dengan santainya, Aleysia menuangkan air dari teko kaca ke dalam gelas yang memang selalu tersedia di atas meja makan.
"Kalau minum itu duduk, Al," tegur Rissa saat Aleysia hampir saja mendekatkan gelas ke bibirnya. Gadis itu menurut, ia tarik kursi di samping Ammar dan duduk.
"Kenapa gelang ini harus dibuang?" Rissa bertanya usai Aleysia menenggak minumannya. "Kalau ini benar milik Gavin, kita harus mengembalikannya."
"Sejak dia memberikannya pada Aley. Gelang itu sudah bukan miliknya lagi. Jadi, Aley berhak melakukan apapun pada benda tersebut."
"Termasuk membuangnya?" Sorot mata Adrian terlihat tajam, seolah menuntut penjelasan lebih dari putrinya.
"Iya," ujar Aleysia.
Sejenak, Adrian dan Rissa saling melempar pandangan sebelum akhirnya Rissa kembali mengalihkannya pada putrinya.
"Aleysia, setidaknya hargailah apapun yang Gavin berikan padamu."
__ADS_1
"Tapi, Aley nggak suka, Ma."
"Suka nggak suka, bukan berarti kamu harus membuangnya." Rissa menjeda ucapannya. Ia raih tangan Aleysia dan menggenggamnya lembut. "Sampai kapan kamu akan membencinya, Sayang? Bukankah dulu hubungan kalian sangat dekat dan akrab? Bukankah dia juga sudah meminta maaf dan menyesali semua ketidaksengajaan yang pernah dilakukannya?"
Hening. Tak ada jawaban dari Aleysia. Membuat Rissa kembali berkata, "Mama harap kamu bisa mengerti perasaannya. Dan lagi, kalau kamu memang nggak suka gelang itu. Kamu bisa menyimpannya tanpa harus membuangnya."
Di tempat berbeda, Gavin berdiri di dekat jendela. Sayup-sayup suara qiroah dari pengeras mesjid yang berada tak jauh dari rumah, pun mulai terdengar.
Remaja yang kini telah rapi dengan setelan koko putih serta sarung motif kotak-kotak itu sedikit terjingkat begitu mendengar suara lain dari arah pintu kamar.
"Sudah siap?" tanya Reza.
"Sudah, Yanda." Gavin menarik daun jendela lalu menguncinya rapat. Usai menutupi permukaannya dengan tirai, ia mendekati Reza untuk pergi melaksanakan salat berjamaah ke mesjid.
"Kamu masih mikirin sikap Aleysia?"
Langkah kaki Gavin terhenti tepat di dua anak tangga terakhir ketika Reza bertanya. Raut wajah yang murung serta keterdiamannya sejak pulang dari kediaman Adrian beberapa jam lalu, membuat siapa saja dapat dengan mudah menebak apa yang ia rasakan sekarang.
Merasa tak ada pergerakan di belakangnya, Reza menoleh dan ikut berhenti bergerak lalu tersenyum.
"Apa kamu menyukainya?" Seolah mengabaikan keterkejutan Gavin, Reza kembali melempar tanya.
Gavin mengatupkan bibir tipisnya, lebih tepatnya ia sedang berusaha memahami ke arah mana pertanyaan tersebut.
"Apa kamu menyukai Aleysia, seperti seorang pria pada wanita?" Akhirnya, Reza memperjelas kalimatnya.
"Hah?"
Respon singkat yang mana membuat Reza lekas mengulas senyum. Ia pernah muda, tentu saja hal ini pernah dialaminya. Mengenal cinta di usia belia, meski penolakan terus diterima hingga akhirnya di usia tiga puluh tiga ia menemukan cinta sejati, yaitu Andinia Maura. Ibu dari kedua anak kembarnya yang lucu dan menggemaskan.
"Yanda tahu ini memang berat untukmu. Namun percayalah, suatu hari Aleysia juga akan menyadari betapa tulusnya hatimu. Sekadar saran, perbaiki diri dengan cara belajar sungguh-sungguh.
Buktikan kalau dirimu juga layak dipertimbangkan. Dan lagi teruslah berbuat kebaikan meski kelak akan ada saja orang yang tak menyukai hal itu."
Bagai mendapat angin segar, hati Gavin terasa sejuk begitu mendengar kalimat penuh semangat yang dilontarkan sang ayah angkat.
Remaja itu menerbitkan senyum seraya mengangguk. Benar apa kata Reza. Saat ini, mungkin terlalu dini untuk mengurai cinta.
Maka langkah awal yang akan ia ambil adalah dengan memperbaiki diri. Belajar giat untuk meraih cita sekaligus cinta. Sejak saat itu, ia tak lagi memikirkan bagaimana cara agar Aleysia memaafkannya. Baginya, biarkan waktu yang akan menjawabnya.
🍂🍂🍂
Pancingan kalau rame akan lanjut lebih cepat dari prediksi. Otor sebenarnya juga kangen ma kelen. Love banyak²😍😍.
Sinopsis dari Novel RESTORASI CINTA.
“Ceraikan aku!”
“Menceraikanmu?” Gavin kembali menghampiri Aleysia yang berdiri seraya menatapnya muak. Dengan jarak beberapa jengkal, pria itu menyeringai. “Jangan harap. Kau akan menjadi istriku sampai salah satu dari kita pergi dari dunia ini.”
***
Hanya karena kesalahan tak disengaja yang dilakukan Gavin padanya saat masih kanak-kanak. Membuat kebencian begitu mengakar di hati Aleysia hingga kini. Kebencian itu semakin membesar manakala Adrian—sang papa—memaksanya untuk menikah dengan pria tersebut demi menutupi nama baik keluarga yang bermula dari kesalahpahaman.
Terduduk lemas, Aleysia merasa dunianya hancur dalam sekejap. Untuk saat ini, menikah bukan prioritasnya. Terlebih dengan pria yang amat sangat ia benci. Membayangkan hari-hari hidup bersama Gavin saja rasanya sudah membuatnya ingin mati.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Gavin. Seorang pria yang berprofesi sebagai chef itu sudah menaruh hati bahkan semenjak ia berusia belia. Namun, siapa sangka ditengah perjuangan Gavin untuk mendapatkan maaf dan cinta dari istrinya. Ia justru dihadapkan pada dua pilihan sulit. Meninggalkan atau ditinggalkan.