Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Semakin Aneh


__ADS_3

Hujan kembali turun membasahi kota. Angin malam berembus. Lirih dingin menyapa hingga merasuk ke pori-pori kulit.


Disepanjang perjalanan, pikiran Reza berkelana. Kalimat Hesti begitu membekas di kepalanya. Apa benar ia akan segera memiliki anak, sementara ia tahu benar istrinya saat ini sedang dalam masa haid?


Akan tetapi, berdasarkan asumsi dan keyakinan sang bunda. Keanehan yang ia keluhkan tadi ialah ciri yang memang dialami wanita hamil pada umumnya.


Embusan napas terdengar berat. Pria itu tidak terlihat senang atau pun sedih. Sebab, setengah hatinya masih ragu. Khawatir bila ia terlalu banyak berharap seperti sebelumnya, semuanya akan menguap bagai debu tersapu angin. Biarlah ini menjadi rahasia Tuhan. Sebagai hamba, ia dan Andin hanya bisa berdoa dan berusaha.


Reza menghentikan mobilnya dan membuka pintu jendela tepat di samping pos keamanan perumahannya. Security yang bertugas dua orang itu, bergegas menghampirinya. Beruntung gapura minimalis perumahan tersebut memiliki kanopi yang cukup lebar, hingga membuat keduanya tidak basah oleh hujan.


"Assalamualaikum, Pak," sapa keduanya ramah.


"Waalaikumsalam, Pak Daud, Pak Yahya," jawab Reza. Dengan teramat sengaja ia palingkan wajahnya sebentar ke arah kursi penumpang di sebelah kiri seraya meraih bungkusan plastik berukuran besar. "Ini Pak, ada sedikit oleh-oleh dari saya."


"Alhamdulillah." Salah satu dari mereka menerima bungkusan tersebut dengan perasaan senang.


"Pasti Bapak habis dari kampung, ya?" tebak pria bertubuh tinggi berkulit gelap, bernama Daud tersebut. Tak heran baginya. Sebab, ini adalah sebuah kebiasaan baru bagi Reza bila ia kembali dari kampung. Pria itu selalu saja membawa sesuatu untuk para penjaga perumahannya. Berbagi rezeki, hitung-hitung sedekah. Pikirnya.


"Iya, Pak. Ada urusan tadi di sana."


"Terima kasih, loh, Pak. Repot-repot membawakan kami ini," timpal Yahya.


"Sama-sama, Pak. Mumpung panen," ujar Reza. "Oh iya, sekalian titip juga untuk pak Wira sama pak Dadang, ya?" Ia menyebutkan dua pria lain yang berjaga di shift pagi.


"Beres, Pak. Beres! Kami akan sampaikan amanah Bapak pada mereka besok pagi."


"Oke, deh. Kalau gitu saya lanjut."


Daud mengangguk. "Baik, Pak. Semoga rezeki Bapak makin lancar, selalu diberi kesehatan dan keselamatan dunia akhirat," ucapnya tulus.


"Aamiin ya rabbal 'alamin." Reza mengusap wajahnya kemudian mengucapkan salam. "Assalamualaikum, Pak. Tetap jaga kesehatan"


Pun keduanya membalas salam tersebut sesaat sebelum Reza kembali melanjutkan perjalanannya. Tiba di carport, ia turun dan masuk melalui pintu yang langsung terhubung ke arah dapur. Keadaan di sana sangat temaram membuat Reza meraba-raba dinding untuk mencari saklar dan menekannya.


"Astaghfirullah!" Jumi memekik kaget. Tak sengaja, ia menjatuhkan tumblr hingga isinya tumpah membasahi lantai.


"Maaf maaf, Mbak. Saya kira nggak ada orang." Reza terlihat panik, ia mendekati Jumi. Memastikan keadaan wanita itu. "Mbak nggak apa?"


"Nggak apa, Pak. Saya cuma kaget. Soalnya tadi saya nggak dengar Bapak masuk," terang Jumi. Ia melangkah ke sudut, mengambil tongkat pel dan segera membersihkannya.


"Oh iya, bagaimana mood istri saya hari ini? Apa saja yang dilakukannya?" Reza pergi ke wastafel, menadahkan tangannya di bawah kran yang baru saja ia nyalakan.


"Tidak banyak yang dilakukan ibu hari ini selain berbelanja berbagai macam camilan."


Reza menegakkan tubuhnya kemudian beranjak ke sisi kanan. Membuka lemari bagian bawah, dimana biasanya itu menjadi tempat istrinya penyimpanan bahan makanan selama sebulan. Ia terkejut ketika melihat isinya.


"Ini ... punya istri saya semua?" Reza menggerakkan jarinya di udara.


"Iya, Pak. Bukan cuma itu. Di atas juga ada."

__ADS_1


Buru-buru Reza membuka lemari bagian atas dan kembali tercengang. Bagian atas isinya tak kalah banyak dari bagian bawah.


"Istri saya mau buka warungkah? Sebanyak ini buat apa?"


"Ya dimakan, lah!"


Sebuah suara disertai langkah kaki yang mendekat, menyita perhatian Jumi dan Reza. Wanita yang menggelung asal rambutnya itu langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya.


"Kangen ...."


"Hemm ... buang jejak. Biar nggak dimarahin."


Andin mendecakkan lidah dan lekas mengurai pelukannya. "Orang kangen dikata buang jejak." Ia mendudukkan dirinya di balik meja makan disusul oleh Reza.


Sementara Jumi, karena tak ingin menganggu momen romantis majikannya itu. Ia pamit ke kamarnya sembari membawa tumblr yang sudah terisi penuh.


"Sayang ... kok, ngambek, sih!" Reza menyentuh pipi Andin, meminta wanita itu untuk menatapnya. "Sini, lihat aku. Katanya kangen."


"Udah enggak!"


"Ya sudah, sini! Biar aku saja yang kangen." Reza langsung memeluk tubuh istrinya dari samping dan hal itu sukses menerbitkan senyum di wajah Andin.


"Kenapa pulangnya lama?" tanyanya sambil mengerakkan jarinya asal di dada Reza.


"Gitu ... nyuruh aku nginap!"


"Itu, 'kan tadi pagi bukan sekarang," bantah Andin.


"Udah! Tapi kebangun karena lapar."


"Kamu belum makan malam?"


"Udah, tapi lapar lagi."


Andin mengurai pelukannya dan beranjak mendekati kulkas. Ia buka dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Apa itu?" tanya Reza yang berusaha menjangkau pandangannya menatap isi di atas piring yang di masukkan istrinya ke dalam microwave.


"Sambal goreng hati ayam plus kentang."


Kening Reza berkerut. Bukannya dia nggak suka hati ayam? Matanya meneliti tubuh wanita yang kembali duduk di sampingnya. Seketika kalimat ibunya kembali terngiang.


"Kenapa, Bee? Ada yang aneh denganku?" Andin ikut-ikutan menatap tubuhnya.


"Apa kamu masih datang bulan?"


"Cuma ngeplek, tapi sekarang udah bersih. Aku juga heran. Nggak biasanya seperti itu."


"Apa kamu sedang hamil?"

__ADS_1


Sekarang gantian Andin yang terlihat bingung. Dalam sehari, baik Jumi maupun Reza. Bertanya akan hal yang sama.


"Apa kamu sedang hamil?" ulang Reza.


Wanita itu menggeleng. "Nggak! Meskipun ingin, tapi aku nggak lagi hamil," jawabnya. "Kenapa tanya seperti itu?"


"Kamu aneh! Nggak biasanya kamu makan yang enggak-enggak."


"Ck!" Andin berdecak. "Enggak-enggak gimana? Namanya juga lagi pengen. Emang nggak boleh?"


"Boleh, sih! Tapi ingat jangan berlebihan. Nggak bagus buat kesehatanmu."


"Iya, Bee."


"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Mau bersih-bersih. Lengket banget badanku."


"Kamu nggak ikut makan?"


"Aku masih kenyang, Sayang." Reza mencium pucuk kepala istrinya dan berlalu pergi menuju lantai dua.


Seperginya Reza, Andin kembali mendekati microwave ketika mesin penghangat tersebut telah mengeluarkan bunyi. Dengan segera, ia menyantap makanan itu hingga habis tak bersisa sedikitpun. Usai makan, Andin tak lantas pergi ke kamar. Melainkan pindah duduk di ruang keluarga untuk menonton drathai favoritnya sembari memakan camilan.


Sampai jarum jam sudah menyentuh angka satu, ia merasa bosan. Akhirnya ia mematikan tv dan memutuskan untuk masuk ke kamar meski rasa kantuk belum kunjung mendera.


“Ish! Aku ditinggal tidur.”


Secara perlahan, Andin merangkak naik ke atas ranjang dan berbaring di samping pria yang kini sudah terbang ke alam mimpi. Ia tersenyum. Dengan teramat sengaja, ia menyentuh wajah damai suaminya tersebut.


“Bee ….” Suara Andin terdengar mendayu-dayu. Masih tak ada pergerakan, ia guncang tubuh Reza. Berharap pria itu segera terjaga dari tidurnya. “Bee … bangun.”


Detik berikutnya, Reza mengerjap. “Apa Sayang? Kamu belum tidur?”


“Aku kangen ….”


“Iya, aku juga. Ayo kita tidur!” Reza memeluk istrinya dan kembali memejamkan mata.


“Bukan itu!”


Seketika manik mata Reza terbuka dengan sempurna. Ia renggangkan pelukannya seraya menatap bingung pada Andin.


“Lantas apa, Yank?”


Tubuh Reza mendadak tegang disertai bulu kuduknya yang juga ikut meremang, ketika merasakan tangan Andin mulai berani mengusap-ngusap miliknya yang paling inti. “Aku kangen.”


Meski aneh, Reza mengembangkan senyum. “Bilang, dong. Kalau—.”


Kalimat Reza terhenti kala bibir Andin sudah mendarat di bibirnya. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Reza pun membalas ciuman itu dengan begitu menggelora. Hujan diluar sudah menyisakan rintik namun suhu udara malam ini teramat dingin. Membuat dua insan yang sedang dilanda gairah itu tak berhenti memberikan kepuasan satu sama lain.


“Biar aku yang bekerja, Bee. Cukup kamu diam dan menerima sentuhanku.”

__ADS_1


Andin menggeser tubuhnya, mensejajari wajahnya pada benda yang sedari tadi sudah berdiri sempurna. Sejurus kemudian terdengar pekikan Reza yang terkejut.


“Arrgghh!”


__ADS_2