
Getaran ponsel diselingi nada dering yang berada di atas nakas, menarik paksa Reza untuk menyudahi mimpinya. Tanpa mengubah posisi, ia meraih benda pipih itu kemudian menempelkannya di telinga.
“Siapa?” tanyanya dengan mata masih terpejam.
“Kakak iparmu!”
“Kakak ipar?”
“Heh! Dasar kurang ajar. Apa kamu lupa dengan siapa kamu menikah?”
“Wanita cantik kualitas premium.”
“Brengsek! Turun nggak sekarang? Kalau nggak—.”
“Siapa, Bee?” sela Andin yang terusik oleh suara berisik Reza.
“Abang Iyan tampan.”
Reza mengaktifkan pengeras suara pada layar, agar istrinya bisa ikut mendengar percakapan mereka.
“Ada apa, Bang?”
“Ayo turun. Semuanya sudah pada nunggu buat makan siang bareng.”
“Hah!”
Andin dan Reza kompak terkejut dan lekas melihat jam di layar ponsel. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.20. Mereka bangun kesiangan! Bagaimana tidak. Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, Reza kembali menyerang istrinya tanpa ampun. Sementara Andin hanya bisa pasrah. Ah bukan, lebih tepatnya ia mulai ketagihan. Untuk kedua kalinya, ia membenarkan kalimat Avry. Selain besar, Reza juga mampu memuaskannya.
__ADS_1
“Abang tahu kalian masih menikmati masa-masa pengantin baru. Tapi di sini ada mertuamu. Sekalian beliau mau pamit juga, balik ke kampung.”
“Ah iya iya, Bang. Kami akan siap-siap dulu.”
Sambungan terputus. Keduanya pun bergegas pergi ke kamar mandi secara bergantian. Usai membersihkan diri dan memastikan penampilan dalam keadaan rapi, barulah keduanya keluar dari kamar menuju sebuah restoran di tepi pantai dimana semua keluarga telah menunggu.
“Nah itu mereka!”
Kalimat Adrian menyita perhatian semua orang yang ada di dekatnya. Semuanya menoleh pada pasangan pengantin baru yang mendekat ke arah meja sembari bergandengan tangan.
Avry dan Risa saling pandang kemudian terkekeh kecil menatap Andin yang tak seperti biasanya. Meskipun wajahnya sudah dipoles make up, tetapi tetap saja tak mampu menyembunyikan wajah lelahnya. Seakan layu bak bunga yang baru saja di hisap sarinya. Terlebih, ketika ia berjalan sambil menahan perih di bagian intinya. Berbeda halnya dengan Reza. Pria itu justru tampak berenergi dan bersemangat. Binar kebahagiaan jelas terpancar di wajah rupawannya.
“Kenapa lihat aku kaya gitu, Kak?” Andin menatap heran pada Avry dan Rissa. “Senyum-senyum pula.”
Avry menarik tangan Andin. Menuntun wanita itu untuk duduk di sampingnya. Sementara Reza duduk tepat di seberangnya tersekat meja makan. “Bagaimana?” bisiknya kemudian.
“Bagaimana apanya?” Andin balik bertanya.
Andin menarik diri, menyembunyikan rona merah pada wajahnya. Terlalu untuk malu membahas hal yang sangat menggelikan di ingatannya. Semalam ia dan suaminya benar-benar menggila di atas ranjang.
“Sakit? Puas? Ketagihan?” Rissa menimpali dengan rentetan pertanyaan.
“Apasih, Kak!" Ia melirik suaminya yang sedang asyik berbincang dengan Adrian maupun dua pasang paruh baya di sekitar mereka. Entah apa yang mereka bahas, hingga tak mendengar dua wanita di sampingnya ini berceloteh.
“Iya iya kami paham. Jam segini baru keluar. Jalan sudah seperti robot. Kami rasa itu sudah cukup menjawab semua rasa penasaran kami.”
"Kakak ... kenapa pakai dibahas, sih!" protesnya dengan masih menahan malu. "Kaya nggak pernah ngalamin aja!"
__ADS_1
Mereka tak menjawab dan hanya tergelak. Sesaat kemudian, amplop cokelat yang tergeletak di meja menjadi peralihan perhatian Rissa. Ia lekas menggeser benda tersebut tepat di hadapan Andin.
"Untuk kalian," katanya.
"Apa ini, Kak?"
"Buka saja. Itu hadiah pernikahan dari kami."
Andin mengulurkan tangannya, meraih benda tersebut lalu membukanya. Ada beberapa kertas berisi gambar tempat wisata bahari Kab. Berau — Kalimantan Timur dan juga voucher liburan.
"Berau!" cetus Andin sedikit meninggikan suara yang mana hal itu mengalihkan perhatian semua orang untuk menatapnya. Matanya berbinar seakan ia telah mendapatkan sebuah jackpot. Lama ia memimpikan menginjakkan kakinya di wilayah tersebut namun urung karena padatnya jadwal pekerjaan.
"Karena kamu suka alam. Kakak rasa tempat ini cocok untuk kalian berbulan madu."
"Terima kasih, Kak." Andin menarik pandangannya, menatap Reza sambil menggoyangkan lembaran-lembaran di tangannya. "Bee, kita akan pergi Berau!"
Pria itu tersenyum. "Iya Sayang."
"Ayo kita nikmati makanannya. Pasti kalian sudah sangat lapar karena menguras tenaga cukup ekstra."
Lagi, sebuah celetukan dari Adrian. Mampu membuat wajah Andin kembali merona seperti kepiting rebus. Seketika suasana menjadi hening. Semuanya sibuk menikmati makanan yang sudah cukup lama tersaji di atas meja.
"Oh iya, jadi setelah ini kalian akan tinggal dimana?" Kali ini Rudi membuka suara. Memecah keheningan. “Sukaraya?” tebaknya.
Reza melirik sebentar ke arah istrinya sebelum akhirnya menjawab. “Kami sudah memutuskan untuk tinggal di Bandung, Pi. Untuk masalah kantor, saya sudah mempersiapkan lokasi yang pas untuk dijadikan kantor pusat.”
“Iya, Pi. Sebenarnya Andin nggak masalah mau tinggal di mana. Asalkan kami selalu bersama,” timpal Andin.
__ADS_1
“Kami hanya bisa mendoakanmu, Nak. Semoga pernikahan kalian selalu dalam lindungan-Nya.”
“Aamiin.”