
Malam ini untuk pertama kalinya, Andin menginap di rumah Farah. Meskipun berada di rumah yang nyaman dan dikelilingi oleh orang-orang yang ramah. Tak serta merta membuat wanita berambut panjang yang tergerai itu mampu memejamkan matanya. Padahal jarum jam baru saja melewati angka dua belas.
Dalam remangnya cahaya kamar dengan luas tiga puluh dua meter persegi, Andin sibuk membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mencoba mencari kenyamanan yang tak kunjung didapatkan. Pada akhirnya, ia menarik diri dan menyandarkannya di headboard. Untuk sesaat, ia meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur kemudian membukanya hanya untuk sekadar membunuh jenuh.
Helaan napas seketika menguar di udara saat pandangannya terisi penuh oleh beberapa pesan WhastApp yang dikirim dengan nomor tak dikenal. Akan tetapi, bila menelisik dari isi pesan tersebut, ia sudah bisa menduga siapa pelakunya.
[21.30 WIB]: Andin, apa kamu sudah tidur? Kalau belum, apa aku boleh meneleponmu sekarang? Aku merindukan suaramu, Sayang.
[22.08 WIB] : Andin?
[22.37 WIB] : Sayang?
[22.49 WIB] : Ya sudah, kalau tidak mau.
Selamat tidur. Aku mencintaimu. Have a nice dream.
Sejenak, Andin memejamkan matanya. Sejujurnya pun ia tersiksa dengan keadaan ini. Tapi apa daya, ia harus kembali pada niat awal yang tak ingin merusak kebahagian dan harapan banyak orang. Terlebih Farah yang juga terlihat sangat mencintai Reza. Biarlah ia yang mengalah dan pasrah kemana takdir akan membelenggunya kelak.
Tanpa sedikitpun niat untuk membalas pesan tersebut, Andin mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Disaat ia hendak merebahkan tubuhnya. Sebuah poto yang menempel di dinding kamar bercat abu-abu itu, mengusik perhatiannya. Ia memicing, ada dua anak remaja tanggung menggunakan karate gi—seragam karate. Tangan kanan memegang piagam penghargaan dan tangan kiri memegang lempengan medali dengan tali yang melingkar di leher mereka masing-masing.
Andin yang penasaran, pun langsung menyalakan lampu utama sebelum kemudian mendekat ke arah poto tersebut sembari berusaha menebak salah satu dari mereka karena mirip dengan seseorang yang sangat familiar di ingatannya. Terutama dengan senyum khas itu.
“Itu Aa' Fathan dan Aa' Reza!”
Hampir saja jantung Andin keluar dari rongganya, mendengar suara yang begitu mengejutkan di telinganya. Ia lekas menoleh. Ada Farah yang berjalan ke arahnya.
“Maaf, saya membuat Anda terkejut.” Farah terlihat segan. Berulang kali bibirnya mengucapkan kata ‘maaf’ karena telah membuat rekan kerjanya itu terkejut.
“Tidak apa, Bu Farah,” kata Andin. “Anda belum tidur?” Ia kembali mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur dengan kaki menjuntai ke bawah, disusul oleh Farah yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Saya dari kamar mandi. Tidak sengaja melihat lampu di kamar ini menyala. Tadinya hanya ingin memastikan, tapi tenyata Anda belum tidur. Kenapa Bu, apa kamar ini kurang nyaman untuk Anda?"
“Maaf sebelumnya. Bisakah kita bicara biasa saja? Kalau dipikir-pikir, usia kita tidak jauh berbeda," pinta Andin yang merasa panggilan tersebut memberikan jarak bagi keduanya.
Farah mengangguk setuju. “Baiklah Bu … eh Andin,” ralatnya kemudian.
“Nah … gitu, ‘kan enak dengernya. Biar makin akrab.” Seulas senyum tersemat di bibir kedua wanita itu.
“Kenapa belum tidur? Apa kamar ini kurang nyaman buatmu?” Farah mengulang pertanyaan yang belum sempat terjawab.
“Nyaman, sangat nyaman. Hanya saja malam ini sepertinya insomniaku kambuh, deh,” jawab Andin memberi alasan. Sebenarnya ia pun ia bingung dengan dirinya sendiri. Padahal ia adalah tipe wanita yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Mungkinkah ini karena ia sedang berada di rumah calon istri dari pria yang dicintainya?
“Kamar ini memang sudah lama kosong, semenjak Aa’ Fathan menikah dan tinggal mandiri bersama istrinya di kota. Namun begitu, kamar ini selalu dibersihkan.”
Andin hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti kemudian mengalihkan perhatian pada sosok yang sedari tadi membuatnya penasaran.
“Oh, iya. Jadi itu kakakmu dan pak Reza? Ternyata mereka berteman sejak kecil, ya.” Andin sengaja masih menyematkan embel-embal 'pak' pada Reza. Karena tak ingin membuat Farah curiga padanya. Bagaimanapun juga ia harus menjaga perasaan wanita itu.
"Benarkah. Lucu juga, ya?"
"Iya, dulu kami tinggal berdekatan dikampung sebelah. Kebetulan ibuku dan ibunya sama-sama mengandung anak pertama laki-laki. Jadi semenjak itu, keduanya pun tumbuh bersama selama bertahun-tahun sebelum akhirnya, keluarga Aa' Reza pindah ke Jakarta," terang Farah mengingat bagaimana masa kecil kedua pria yang sangat dicintainya itu.
“Hem ... Berarti kalian memang sudah lama saling mengenal sebelum memutuskan untuk bertunangan."
“Aku memang mengenalnya sejak kecil. Namun hubungan kami membaik saat dia dan keluarganya kembali kesini.”
Wajah Farah berubah sendu, mengalihkan perhatian Andin yang menatapnya dengan penuh kebingungan.
“Maksudmu?”
__ADS_1
Farah tersenyum sembari menarik ingatannya ke beberapa belas tahun yang lalu. "Dulu aku sangat membencinya. Dia itu usil. Dia akan terus menggangguku sampai aku menangis." Menjeda kalimatnya dan memalingkan wajah menatap nanar ke arah pintu kamar yang tertutup rapat di hadapannya itu. "Tapi entah kenapa semenjak dia kembali, aku kehilangan sosok itu. Terlebih setelah kami resmi bertunangan. Dia lebih banyak diam dan terkesan dingin padaku."
Pandangan Farah mulai mengabur pertanda cairan bening memupuk di balik pelupuk matanya. Andai sekali saja ia berkedip, sudah dapat dipastikan cairan itu akan lolos membasahi pipinya.
"Apa kamu mencintainya?" Entah apa yang mendorong Andin untuk bertanya seperti itu. Namun yang pasti wanita itu hanya ingin tahu seberapa dalam perasannya terhadap Reza. Bila perasaan wanita itu lebih besar darinya, ia akan mudah melepas perasaanya pada Reza. Mungkin.
Farah mengangguk lemah. "Iya, aku mencintainya dan bahkan sangat mencintainya."
Seketika Andin merasakan ada sebuah tikaman tajam, melesat masuk mengenai tepat di ulu hatinya usai mendengar jawaban itu. Ia memalingkan wajahnya dan mengerjapkan matanya
"Tapi, semakin mendekati hari pernikahan. Aku semakin ragu padanya. Apakah dia mencintaiku atau tidak? Apa hanya aku yang mengharapkan pernikahan ini sementara dia tidak? Apakah ia terpaksa berhubungan denganku hanya karena menyenangkan orang tuanya?" cicit Farah. Air mata yang sudah lama menggenang, kini tak mampu lagi bertahan. Andin mengusap bahu wanita yang bergetar itu agar sedikit lebih tenang.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja dia sedang sibuk dengan pekerjaannya."
“Maaf, Ndin. Aku jadi curhat padamu.” Farah menyeka sisa-sisa air matanya dan menatap lekat wanita yang tersenyum padanya. “Oh iya, Ndin. Sekarang ceritakan tentangmu?”
“Tentangku?” ulang Andin dan segera mendapat anggukan dari Farah. “Tentangku dalam hal apa?”
“Apa kamu sudah memiliki kekasih?”
“Ke-kekasih?” Suara Andin tertahan di pangkal ternggorokan diiringi dengan lidahnya yang tiba-tiba kelu. Tak menyangka Farah akan mempertanyakan statusnya. Wanita itu menghindari tatapan penuh tuntutan dari Farah.
“Ya kekasihmu. Tidak mungkin, ‘kan wanita secantik kamu tidak memiliki kekasih.”
Andin terdiam sampai tangan Farah menyentuh tangannya.
"Ndin?"
“Hah?
__ADS_1
"Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"Tidak! Aku tidak memiliki kekasih.”