
Seorang pria terlihat baru saja mengeluarkan tubuhnya dari balik pintu lift. Dengan ransel yang menggantung di pundak, ia berjalan menyusuri koridor lantai dua puluh empat menuju ruangannya yang selama berminggu-minggu ia tinggalkan karena sebuah insiden.
Pria itu adalah Reza. Mulai hari ini ia akan kembali aktif dengan rutinitas hariannya di kantor. Walau sebenarnya Adrian sudah memberikan jatah cuti yang tak terbatas untuknya, namun pria itu sudah merasa bosan bila terus-menerus berdiam diri di rumah tanpa melakukan kegiatan apa pun.
Sepertinya, penolakan Andin pada malam itu tak sedikitpun menyurutkan semangat Reza untuk pergi bekerja. Setidaknya dengan keberadaan dirinya di sana, ia bisa selalu dekat dengan pujaan hatinya tersebut.
Ya, pria yang kini menggunakan setelan jas berwarna mocca itu sudah bertekad akan terus mengejar cintanya meskipun itu harus membutuhkan kesabaran yang ekstra. Ia tahu yang dibutuhkan Andin hanyalah waktu. Waktu untuk bisa melupakan rasa traumanya dan juga ... status mereka. Mungkin.
Reza sangat meyakini, waktu mampu mengubah segalanya tak terkecuali prinsip dan perasaan Andin. Bolehkan ia egois dan berharap lebih mengenai hal itu?
“Loh, Pak Reza sudah sehat?” Faisal terkejut. Ia menghampiri Reza saat bosnya itu nyaris saja menyentuh handle pintu ruangannya.
“Iya, Sal. Alhamdulillah,” ucap Reza sembari tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada kursi-kursi yang berada di balik meja, belum terisi oleh pemiliknya. “Mana trio absurd itu?”
“Siapa yang Anda maksud, Pak?” Faisal menatap Reza dengan dahi berkerut.
“Pak Reza!”
Panggilan dari salah satu orang yang dicarinya menggema di koridor tersebut. Membuat si pemilik nama menoleh ke belakang. Ada Nana, Mega dan Bagas berlari kecil menghampiri mereka yang masih bergeming di depan ruang Direktur Umum.
“Panjang umur ternyata,” gumam Reza membuat Faisal mengerti siapa yang dimaksud bosnya tadi.
“Pak Reza sudah sembuh? Sudah tidak merasa sakit lagi?” tanya Mega bertubi-tubi sambil memutar tubuh atasannya itu tanpa rasa segan sedikitpun.
“Kalau belum fit benar, jangan memaksakan diri dulu, Pak.” Nana ikut-ikutan mengomentari kehadiran Reza di kantor yang begitu mendadak. Tangannya juga tak kalah sibuk memegangi tubuh Reza.
“Iya, Pak. Anda, ‘kan masih dibebas tugaskan oleh pak Adrian untuk sementara waktu. Kenapa Anda malah bekerja?” timpal Bagas. "Seharusnya Anda banyak-banyak istirahat, Pak."
Melihat bosnya itu hampir kehilangan keseimbangan membuat Faisal geram dan mengambil sikap.
“Heh! Bisa sopan nggak kalian? Kalau pak Reza jatuh bagaimana?" Faisal memecah kerumunan itu dan menghalau tangan ketiga rekannya yang mulai tak terkendali.
"Maafkan kami, Pak."
Raut penyesalan dan sungkan tiba-tiba muncul di wajah mereka masing-masing. Ketiganya mundur selangkah lagi, memberi jarak pada pria yang sedari tadi hanya mengulas senyum. Ia tahu bahwa anak buahnya ini sangat peduli padanya.
“Saya sudah nggak apa. Terima kasih sudah khawatir pada saya. Ya sudah, kalian kembalilah bekerja." Reza melanjutkan lagi gerakan tangannya membuka pintu dan masuk ke dalamnya membuat Faisal buru-buru kembali ke mejanya untuk mengambil sesuatu.
Kursi yang berada di balik meja hitam kecokelatan itu terlihat berpenghuni sesaat setelah Reza mendudukkan dirinya di sana. Ia langsung mengambil salah satu dari tumpukan dokumen yang telah tersusun rapi berdasarkan tanggal masuknya oleh Faisal, sekretarisnya. Begitulah Reza, ia selalu sigap, profesional dan bertanggung jawab pada pekerjaannya hingga suara ketukan pintu mengambil alih konsentrasinya.
“Masuk!”
Dengan membawa buku agenda, Faisal muncul dari balik pintu dan berjalan menghampiri Reza.
“Ada apa, Sal?” tanya Reza ketika Faisal sudah berada tepat di depannya.
“Hari ini, pak Adrian mengadakan rapat jam sepuluh, Pak. Apa Anda bisa menghadirinya?” Faisal memastikan. Karena sejak sebelum Reza kembali bekerja, ia adalah orang yang selalu menggantikan posisi bosnya itu.
__ADS_1
“Apa agendanya?”
“Membahas tentang company anniversary yang akan diadakan dua bulan lagi, Pak,” jelas Faisal.
“Baik, saya yang akan menghadirinya. Ada lagi?” tanyanya kemudian.
“Setelah jam makan siang. Anda ada janji temu dengan perwakilan dari PT. Mega Santosa, untuk peninjauan proyek yang sedang berlangsung di daerah Tebet Barat, Pak.”
“Okay,” jawab Reza santai.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Pak.” Faisal undur diri setelah mendapatkan anggukan kepala dari Reza.
Sepeninggal anak buahnya itu, Reza kembali mengalihkan perhatiannya pada berkas yang sempat ia abaikan sebelumnya.
***
Reza menghentikan kegiatannya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.40. Ia mengangkat tangannya ke atas untuk sekadar merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Setelah memastikan berkasnya sudah rapi dan laptopnya dalam keadaan off, ia beranjak dari ruangan dan masuk ke dalam lift menuju lantai dua puluh tujuh.
Sesampainya di ruang rapat, ia mengedarkan pandangannya ke sana kemari hingga terhenti pada sosok yang sangat menonjol tengah asyik menatap layar laptop.
Dengan perlahan Reza mendekat sembari meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya ketika karyawan lain ingin menanyakan tentang kabarnya. Mengerti akan isyarat tersebut, mereka pun mengurungkan niatnya.
Ia menarik kursi dan duduk di sisi kiri wanita itu namun hal itu justru tak membuat sang wanita bergeming dari posisinya.
"Serius amat, Neng!"
"Reza! Kamu, kok kerja? Bukannya masih cuti, ya?" Sebuah respon yang menurutnya sama seperti yang di lontarkan anak buahnya tadi pagi hanya dijawab dengan senyuman oleh Reza.
"Kamu benaran udah baik-baik aja?" tanya Andin lagi.
Reza memangku satu kaki kanannya dan meletakkan seluruh lengannya di tepian sandaran kursi Andin sehingga membuat tubuh mereka nyaris menempel satu sama lain.
"Aku sudah merasa lebih baik, Andin. Jangan terlalu berlebihan seperti itu," bisiknya pelan.
Andin menarik kepalanya dan menatap Reza. "Yakin?"
"Sangat yakin." Reza menjawab mantap disertai anggukan kepala.
"Lalu bagaimana dengan hatimu?"
"Hatiku? Memangnya kenapa dengan hatiku?" Reza menarik tangannya dan melerai kakinya.
"Apa hatimu sudah baik-baik saja setelah penolakanku waktu itu." Wanita itu masih dirundung kekhawatiran kalau saja perasaan Reza akan terluka dan menjauh darinya karena mungkin penolakan itu pasti akan memberikan jarak diantara mereka.
Reza tergelak mendengarnya. "Tenang saja. Hatiku sudah cukup kebal dengan penolakan dari berbagai wanita. Aku sudah mengantisipasinya."
__ADS_1
"Mengantisipasinya?" ulang Andin memastikan ucapan Reza.
"Hatiku sudah terlindungi oleh tempered glass kualitas terbaik agar tak mudah retak setiap kali mendapat penolakan."
Seketika Andin merasa gemas. Ia mencubit paha Reza sekeras mungkin membuat pria itu meringis kesakitan dan mengaduh hingga menyita perhatian dari orang-orang di sekitar mereka.
"Sakit sakit sakit. Ampun, Aduh. Udah!" Reza menepis tangan Andin dan mengusap pahanya berkali-kali untuk membuang rasa sakit di sana. "Bar-bar banget, sih!"
"Biarin! Salahmu, aku serius kamu malah bercanda."
"Iya iya maaf."
Tak berapa lama, Adrian memasuki ruang rapat bersama Rendy di belakangnya. Sama seperti sebelumnya, keduanya pun terkejut dengan kehadiran Reza yang tiba-tiba. Reza hanya mengangguk. Seolah-olah anggukan itu adalah jawaban dari sorot mata khawatir dari Adrian dan Rendy.
Rapat pun dimulai dengan agenda event tahunan yang biasa dilaksanankan bertepatan dengan hari jadi perusahaan yang ke dua puluh lima tahun.
Banyak ide dan konsep yang di cetukan dari masing-masing divisi. Mulai dari Expo atau pameran booth program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) unggulan, dan talkshow yang mengusung tema Aku Peduli yang berwawasan lingkungan untuk keberlanjutan perusahaan. Kemudian mengadakan bansos, donor darah, serta kompetisi dalam bidang olah raga serta kuliner antar divisi yang berlangsung selama satu bulan penuh.
Puncaknya, Dinata Group juga akan mengundang beberapa relasi serta investor untuk hadir dalam rangka pemberian Award atau penghargaan bagi karyawan yang memiliki dedikasi tinggi di sana.
"Oke, semoga acara ini terlaksana dengan baik dan lancar." Adrian menyudahi rapat yang berjalan hampir dua jam tersebut.
"Aamiin," sahut yang lainnya.
"Baiklah, rapat selesai. Silakan kembali ke ruangan masing-masing. Kecuali kamu dan kamu." Adrian menunjuk Reza dan Andin membuat keduanya saling pandang dengan tatapan tak mengerti.
"Ada apa, Bang?" tanya Andin setelah ruangan itu hanya tinggal mereka berempat.
"Raymond, model kita sudah mengundurkan diri sejak beberapa hari yang lalu karena ia akan melamgsungkan pernikahannya. Dan Abang belum menemukan pengganti dirinya untuk Honeymoon Travel Catalog edisi bulan depan."
"Terus?"
"Abang rasa, kalian cocok untuk menggantikannya," kata Adrian enteng.
"Bang! Yang mengundurkan diri, 'kan Raymond. Kenapa aku harus ikut-ikutan menggantikannya?" Andin melayangkan protesnya. Sementara Reza hanya diam sambil menunggu kalimat Adrian selanjutnya.
"Felly tidak cocok bila disandingkan dengan Reza," sahut Rendy. "dan lagi pula kalian sudah punya chemistry satu sama lain. Kalau diarahkan dengan berbagai gaya, sudah tidak akan canggung lagi."
"Bagaimana?" tanya Adrian.
"Aku tidak bisa." Andin melirik Reza. "Kamu juga tidak bisa, 'kan?" tanyanya kemudian. Namun yang ditanya hanya diam.
"Andin ... Reza. Abang sudah tidak punya waktu lagi. Waktu kita hanya tinggal dua minggu. Dalam waktu sesingkat itu, dimana Abang mencari model yang cocok?"
"Sudahlah Andin. Ikuti saja maunya. Tidak ada salahnya juga, 'kan? Ini demi perusahaan." Setelah sekian lama membisu akhirnya Reza membuka suara.
Andin menghela napas pasrah. "Iya deh. Aku mau!"
__ADS_1
"Yes!" Adrian, Rendy dan Reza kompak mengepalkan tangan di udara sebagai tanda kemenangan membuat Andin menatap curiga pada ketiga pria tersebut.
Apa yang kalian rencanakan?