Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Belenggu Cinta


__ADS_3

Tungkai Reza mendadak lemas disertai dada yang semakin berdebar kencang. Banyak pertanyaan dalam benaknya. Terlebih ketika melihat dokter menghampirinya dengan wajah yang menegang.


"Ada apa, Dokter?" todong Reza setelah keluar dari ruangan. Di sana, seluruh keluarga juga berdiri mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh dokter Ririn.


"Begini, Pak Reza. Pembukaan rahim bu Andin tidak bertambah sama sekali. Sementara air ketubannya sudah hampir mengering. Jadi jalan satu-satunya untuk menyelamatkan semuanya adalah dengan operasi caesar."


"Lakukan, Dokter. Lakukan apa yang terbaik menurut Anda. Mau caesar, mau seset, apapun yang penting istri dan anak-anak saya selamat."


"Parah!" gumam Adrian. "Dia kira adikku ikan, pakai di seset." Ia menggeleng. Akan tetapi ia memahami apa yang di khawatirkan Reza. Mungkin semua para calon ayah juga akan seperti itu bila menyangkut nyawa istri dan anaknya


"Baiklah, Pak. Silakan ke bagian administrasi untuk melengkapi prosedurnya," anjur dokter Ririn pada Reza.


Lima belas menit kemudian, Reza sudah berpakaian serba hijau lengkap dengan tutup kepala dan masker. Ia siap mendampingi istrinya selama menjalani proses persalinan.


"Jangan tegang, Sayang. Aku di sini, menemani perjuanganmu." Sebuah kecupan ia benamkan di kening Andin.


Sembari dokter bekerja, Reza membisikkan dzikir dan doa sebagai penenang bagi istrinya. Sesekali ia mendongak. Berusaha menjangkau pandangannya di balik kain yang membentang di atas dada Andin dan melihat bagaimana proses operasi caesar berlangsung. Dalam sekejap, ia bergidik ngeri. Betapa besarnya pengorbanan seorang ibu dalam melahirkan buah cinta. Pantas saja, derajat seorang ibu lebih tinggi dibandingkan seorang ayah.


Sesaat kemudian, terdengar suara tangis bayi pertama yang berhasil di keluarkan, menggelegar memenuhi ruangan. Reza menegakkan tubuh dan menatap kagum pada sosok mungil yang berada ditangan sang asisten dokter. Tanpa sadar, cairan bening mulai yang memupuk di kedua sudut matanya. Lekas ia seka agar tak sampai jatuh membasahi pipi kemudian mengusap wajahnya penuh kesyukuran.


Berkali-kali ia menarik napas lalu menghembuskan secara perlahan untuk menetralkan dadanya yang masih terasa sesak kala melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perjuangan Andin yang bersimbah darah melahirkan anaknya. Benar-benar menguji adrenalin.


"Laki-laki, Pak!"


Reza hanya mengangguk tanpa melepaskan tatapannya. Selang beberapa menit, bayi kedua keluar. Akan tetapi tangisannya tak sekencang bayi pertama.


"Wah, selamat Pak Reza. Bayi Anda sepasang, lahir dengan sangat sehat."


Reza tak terlalu jelas mendengar ucapan dokter barusan. Ia terlalu terlena menatap dua bayi yang sedang dibawa ke meja lain untuk dibersihkan.


"Bee!"


"Ya, Sayang?" Reza membungkuk menyetarakan wajahnya dengan wajah Andin.


"Bagaimana bayi kita? Apa dia sehat? Boleh aku melihatnya?" lirihnya.


"Alhamdulillah, bayi kita sehat, Sayang. Sabar, ya, mereka lagi dibersihkan oleh dokter."

__ADS_1


Menunggu lagi beberapa saat, akhirnya dokter meminta Reza untuk mengadzani dua bayi tersebut secara bergantian. Dengan tangan gemetar, Reza mengangkat satu bayi berjenis kelamin laki-laki ke dalam gendongannya sementara satu bayi lagi di gendong oleh dokter. Keduanya bergerak mendekati Andin dan memperlihatkan bayi-bayi itu pada ibunya.


"Anak-anakku sayang." Tangis Andin luruh seketika. Ada rasa tak percaya dalam benaknya kalau kini ia telah menjelma menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Ia ciumi bayinya bergantian.


"Terima kasih, Sayang. Kamu ibu yang hebat. I love you."


"I love you more ...."


***


Ruang rawat inap yang memiliki fasilitas lengkap dan luas itu terdengar begitu berisik. Selain keluarga, rekan kerja dari Reza dan Andin sedang berkumpul di sana.


Bahkan Dina dan Rendy sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk melihat hasil maha karya Reza.


"Keren kau, Za. Setelah lama menunggu. Akhirnya dapat dua sekaligus, sepasang pula. Bagi resep, dong."


Rendy yang kala itu berdiri di samping box bayi laki-laki, melempar tanya pada Reza yang duduk di sofa. Rupanya pria itu juga berkeinginan memiliki bayi kembar.


"Oh, tidak bisa. Rahasia perusahaan, Bos. Haram dibagikan."


"Sombong amat!"


"Apa itu?"


Kali ini Adrian yang bertanya. Dalam hati ia pun sama seperti Rendy. Siapa yang tidak mau memiliki anak kabar yang lucu dan imut seperti keponakannya itu. Rendy dan Adrian bergerak menuju ke arah Reza dan mulai membisikkan sesuatu.


"Sebelum bertempur, kalian berlari dulu berkeliling rumah tujuh kali dan mandi tujuh mata air dengan kembang tujuh rupa di tengah malam. Sanggup?"


"Kau gila?!"


Kompak Rendy dan Adrian berseru lantang. Pun keduanya langsung menoyor kepala Reza dengan gemasnya.


"Ish, dibilangin nggak percaya," keluh Reza.


"Iya aku percaya. Aku percaya kau itu gila," sergah Adrian.


Tak ada tanggapan dari Reza. Ia justru terbahak kemudian duduk di sisi istrinya yang tengah menyusui bayi perempuan mereka.

__ADS_1


"Sudah ada nama untuk bayi-bayimu ini, Cha?" tanya Hesti yang teramat penasaran seperti apa nama yang diberikan untuk cucu-cucunya itu.


"Sudah, Bu. Yang cowok, Magali Arzio. Yang ini." Reza mengusap lembut pucuk kepala bayi perempuan yang tertidur pulas dalam gendongan Andin. "Mihika Arcyla."


"Nama yang bagus. Pas sekali dengan penyandangnya," puji Mira. Dengan gemas ia menciumi wajah baby Zio.


Kehadiran baby Zio dan baby Cyla merupakan kebahagian yang teramat luar biasa bagi mereka terutama Reza dan Andin.


Tak menyangka, sama sekali tak menyangka perjalanan kisah mereka yang penuh liku, penuh drama dan deraian air mata kini sudah sampai di titik ini.


Ini bukanlah akhir dari segalanya. Namun, segalanya baru akan dimulai. Sebab, di depan sana mungkin saja masih banyak riak-riak yang menanti bahtera mereka. Sebagai manusia biasa yang tak luput dari khilaf, hanya berharap semoga cinta yang dimiliki semakin kuat membelenggu takdir mereka.


...*** The End ****...


Assalamualaikum.


Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.


Novel terpanjang sepajang masa akhirnya rampung.


Ditulis ditengah kesibukan RL yang benar² tak bisa ditinggal. Penuh drama serta menguras tenaga dan pikiran.


Terima kasih pada author yang sudah mengomeliku tiap hari (Bunda Susi), yang juga memberi support lewat bullyannya. Aku ucapkan terima kasih.


Teman² author yang lain. Kak Genik, Kak Ani dan masih ada beberapa yang lain tidak sempat otor sebutkan disini. Terima kasih banget.


Dan terima kasih tak terhingga untuk reader setia yang mengikuti perjalanan kisah cinta Andin dan Reza. Tanpa kakak semua, otor bukan apa².


Maaf bila dalam penyajian cerita ini terkadang melambat dan tak sesuai harapan. Ini murni kesalahan otor sendiri.


Bila kelak berjodoh, semoga kita bertemu kembali di karya selanjutnya. Insya Allah akan launching pada pertengahan bulan November 2021.


Kok lama? Karena proyek di RL insya allah akan rampung di bulan tersebut. Terlebih juga agar waktu penulisan di novel berikutnya tidak lama seperti novel ini.


Wassalamualaikum. Tetap stay safe dan patuhi protkes. I love you more


...Bonus visual...

__ADS_1




__ADS_2