
Mendengar Reza sudah sadar dari komanya, Andin merasa bahagia sekaligus lega. Setidaknya apa yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Namun tetap saja rasa bersalah itu masih bersarang di benaknya.
Bersama Rudi dan Mira, ia pergi menjenguk Reza di ruang ICU menggunakan kursi roda. Awalnya, ia sempat menolak dan ingin berjalan saja. Namun hal itu justru ditentang tegas oleh Rudi hingga akhirnya mau tak mau ia pun menurut.
“Kak Andin!” Rania terperanjat sesaat setelah mengeluarkan tubuhnya dari ruangan Reza. Kemudian ia mendekat ke arah Rudi dan Mira untuk menyalami keduanya.
“Bapak dan ibumu di mana, Nak?” tanya Rudi. Matanya berkeliaran menatap sekitar mencari keberadaan orang tua gadis di depannya itu.
“Sudah pulang, Om. Saya hanya sendiri di sini menjaga kakak,” sahut Rania. “Tapi ini saya tinggal sebentar, ada yang mau saya beli di mini market depan.”
“Apa aku bisa menemui kakakmu?” Andin melirik pintu di belakang tubuh Rania.
Rania tersenyum dan mengangguk. “Iya, Kak. Silakan.” Ia membuka pintu lebih lebar agar kursi roda itu muat melintas.
“Andin bisa sendiri, Pi. Terima kasih,” tolak Andin saat kursi roda kembali di dorong Rudi.
“Baiklah, Papi dan Mami akan duduk di sana sambil menunggu Abangmu kembali dari mengantar istrinya,” ujar Mira sembari menunjuk jejeran kursi tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebenarnya ia dan suaminya ingin sekali mengikuti putrinya, tapi dokter masih membatasi jumlah tamu untuk menemui Reza.
Andin mengangguk kemudian memutar lingkaran besi di kursi rodanya untuk membawa tubuhnya masuk ke dalam.
Seketika hatinya mencelos kala manik matanya menatap seonggok daging bernyawa tergolek lemas di atas tempat tidur. Hingga tanpa sadar, air mata jatuh membasahi pipinya.
Suara dari roda yang berbenturan dengan lantai spontan membuat Reza membuka matanya perlahan. Pria itu mengulas senyum tipis pada Andin. Seolah-olah senyum itu menyiratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Reza ....”
“A-Andin—.”
“Jangan banyak bergerak dulu!” pangkas Andin seraya menahan tangan Reza yang hendak menghapus air matanya.
“Kamu nggak apa?” tanya Reza dengan nada lemah.
“Kenapa menghawatirkanku? Di sini yang menjadi korban adalah kamu bukan aku.”
Reza hanya menanggapi omelan Andin dengan senyuman. Jika saja ia mampu bergerak bebas. Ingin sekali rasanya ia menarik kedua pipi wanita itu dengan gemas seperti yang biasa dilakukannya.
“Maafkan aku.” Andin mulai terisak. Berkali-kali ia menghapus air matanya namun tetap saja cairan bening itu masih mengalir di sana.
“Apa yang kamu tangisi? Lihatlah aku nggak apa.”
“Aku hanya takut, Reza. Aku pikir kamu akan pergi meninggalkanku.”
Reza menggeleng. “Bagaimana bisa aku meninggalkanmu jika takdir masih menghendakiku untuk terus bersamamu. Lagi pula, kamu masih punya hutang padaku.”
Rasa bersalah kembali mengendap di pikiran Andin. Ia menundukkan kepala, terlihat segan menatap Reza.
“Iya, aku tahu itu. Aku janji. Aku akan mengerahkan beberapa orang untuk mencarikanmu pendonor sebagai pengganti ginjalmu yang telah diangkat.”
__ADS_1
“Walau sekarang aku hanya memiliki satu ginjal. Tapi itu tak masalah bagiku. Aku masih bisa bertahan bila terus menjaga pola makan dan kesehatan.” Reza mencoba meyakinkan Andin. “Tapi bukan itu maksudku.”
Andin mendongak, menarik pandangannya ke arah Reza dengan heran.
“Lantas apa?”
“Kamu, ‘kan, janji akan mentraktirku bermain sepuasnya di taman hiburan.”
Andin menatap sinis Reza. “Aku sangat menghawatirkanmu. Bisa-bisanya kamu memikirkan hal konyol seperti itu.”
“Itu bukan hal konyol,” bantah Reza.
“Permisi ....”
Seorang perawat kembali datang dengan tangan sibuk menenteng map berisi rekam medis milik Reza. Buru-buru Andin menghapus air matanya.
“Maaf, Bu Andin. Karena pak Reza baru saja sadar, beliau tidak diperkenankan dulu terlalu lama menerima tamu. Beliau butuh istirahat yang cukup agar lekas pulih begitu juga dengan Anda, Bu,” kata perawat itu.
“Baik, Ners. Saya akan pergi. Tapi bisakah saya minta waktu sebentar lagi?”
Perawat berjenis kelamin laki-laki itu mengangguk kemudian mengalihkan perhatiannya pada monitor EKG dan mulai sibuk menyalin angka grafik ke dalam berkas yang ada di tangannya.
“Kembalilah ke kamarmu. Kamu juga perlu beristirahat.”
“Baiklah. Aku akan menemuimu lagi nanti.” Andin menepuk lembut punggung tangan Reza.
“Iya, sampai jumpa.”
Melihat kondisi Reza yang berangsur stabil, dokter memutuskan untuk memindahkan pria itu ke ruang perawatan. Beberapa alat medis sudah dilepas dari tubuhnya, hanya menyisakan infus dan kateter di sana.
Kamar VVIP itu tak pernah sepi. Silih berganti keluarga, anak buah maupun rekan sejawatnya datang untuk menjenguknya.
“Terima kasih, ya. Sudah meluangkan waktu kemari.” Reza menatap satu persatu anak buahnya di bagian divisi umum.
“Ah, tidak perlu berterima kasih, Pak. Sudah suatu keharusan bagi kami, untuk berkunjung kemari. Lagi pula kami, ‘kan, juga ingin melihat keadaan Anda.” Bagas cengengesan membuat Nana dan Mega saling pandang lalu mencebikkan bibir.
“Cari muka aja terooosssss ....” sindir Nana.
“Apanya yang cari muka? Mukaku udah ganteng gini. Limited edition, nih,” sahut Bagas, ia mengelus wajahnya berulang kali meyakinkan bahwa dirinya manusia tampan.
“Dih ... Narsis amat!”
“Eh, apa yang di katakan Bagas itu benar, lho.” Faisal menyahut.
“Tuh, dengerin. Faisal aja mengakui aku ini ganteng.” Bagas semakin sombong. “Nggak percaya banget jadi orang.”
“Dilihat dari sisi mananya, sih?” Kali ini Mega menimpali. Netra gadis itu menatap liar pada Bagas – pria kurus berambut klimis efek sapuan pomade serta kaca mata berframe besar selalu bertengger apik di hidungnya.
__ADS_1
“Apa selama ini kalian tidak sadar. Bagas ini memang limited edition.” Faisal mengarahkan jarinya dari ke arah Bagas. “Coba perhatikan! Muka dan penampilan seperti ini, siapa yang mau niru.”
Sontak semua berada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak kecuali Reza yang menanggapinya dengan senyuman. Sementara yang dihina hanya mendengus kesal.
“Sudah, jangan seperti itu. Itu namanya body shaming. Kalau Bagas tidak terima kalian akan berurusan dengan hukum.” Reza menengahi dan hal itu sukses menghentikan tawa mereka. Baik Faisal, Nana maupun Mega segera menghampiri Bagas.
“Bagas, kamu tidak akan menuntut kami, ‘kan?” Wajah Mega tampak pucat. “Tapi aku tidak salah. Aku hanya tertawa.”
“Iya, Gas. Bener apa kata Mega. Aku dan dia hanya tertawa, tidak menghinamu,” imbuh Mega melirik ke arah Faisal.
“Tapi tertawa kalian masuk kategori tertawa menghina.” Reza menakut-nakuti. Dalam hati ia terkikik geli. Lucu sekali mengerjai anak buahnya itu. Karena tak sekali ia mendengar empat manusia di hadapannya itu saling mengejek.
Merasa bersalah, Faisal maju selangkah. Pria yang juga menggunakan kaca mata namun dengan ukuran standar itu mengguncang kedua bahu Bagas.
“Gas, Bagas. Please ... Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu. Aku kelepasan, sungguh.” Faisal mulai memelas. “Kalau kamu menuntutku. Aku bisa dipenjara dan secara otomatis aku akan di pecat Tuan Adrian karena dianggap mencemari nama baik perusahaan.”
“Heh! Pikiran kalian itu terlalu jauh! Siapa juga yang mau menuntut kalian?” sergah Bagas. Walau ia kesal tapi tak sampai hati bertindak sejauh itu.
Seketika mata ketiganya berbinar. Tak henti-hentinya kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’ dilayangkan ketiganya pada Bagas.
Tak berselang lama, Andin masuk ke ruangan Reza. Terlihat wanita itu sudah tak menggunakan kursi roda. Di saat itu juga, keempat anak buah Reza pamit undur diri.
“Semoga Anda lekas sembuh, Pak.” Faisal menyalami Reza di susul oleh ketiga temannya.
“Iya, terima kasih sudah berkunjung.”
“Kami permisi, Bu.”
“Ya, hati-hati,” ucap Andin sembari tersenyum.
Selepas kepergian karyawannya, Andin duduk di samping tempat tidur Reza. Sorot matanya tajam menatap pria di hadapannya itu.
“Kenapa?”
Pertanyaan Reza membuat Andin menggeleng. Sebuah nampan berisi sepiring nasi serta lauk pauk yang masih utuh di atas nakas menarik perhatiannya.
“Kamu belum makan?”
Reza melirik makanannya. “Aku tidak berselera. Makanan rumah sakit terasa sangat aneh dilidahku.”
“Namanya juga untuk orang sakit. Walau begitu, kamu harus tetap memakannya. Bagaimana kamu bisa pulih, kalau makan saja kamu tidak mau.” Andin meraih nampan dan meletakannya di tepi ranjang. Ia mulai menyendok makanan itu kemudian mengarahkannya tepat di depan bibir Reza. “Buka!” titahnya kemudian.
Mau tak mau, Reza terpaksa membuka mulutnya. Pria itu mengernyit seusai indra pengecapnya mulai merasakan benda yang dikunyahnya.
“Setelah ini, baru minum obatnya. Biar cepat sembuh.” Dengan telaten Andin menyuapi Reza hingga makanan itu habis tak tersisa.
Entah kenapa perlakuan Andin yang begitu lembut, membuat Reza semakin kagum hingga tak sabar rasanya ingin segera melamar wanita itu.
__ADS_1
“Bila terus diperhatikan seperti ini, aku nggak sabar ingin cepat-cepat menikah.”
“Menikah?”