
Gita terlihat gelisah. Sudah beberapa menit berlalu, Andin tak kunjung kembali ke meja. Begitu juga dengan Farah, wanita itu sibuk mengedarkan pandangan kesana kemari mencari keberadaan pria yang sedari tadi pergi dengan alasan ingin membuat beberapa panggilan melalui telepon.
"Bu Farah!" panggil Gita hingga mengalihkan perhatian pemilik nama tersebut.
"Ya?"
"Ehm … saya permisi sebentar untuk menyusul bu Andin ke toilet. Sudah agak lama beliau tidak kembali, saya khawatir bu Andin kenapa-kenapa di sana."
"Oh iya iya, Bu Gita. Silakan."
Gita melangkahkan kakinya menuju toilet yang berada di ujung koridor sebelah kiri restoran. Nyaris saja tubuhnya masuk ke dalam sana, samar-samar manik matanya menangkap bayangan sepasang manusia yang ia kenali tengah asyik berpelukan tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memicing sembari mendekat, memastikan penglihatannya. Tentu saja dengan jarak aman agar keberadaannya tak di sadari oleh mereka berdua.
"Kamu jahat, Reza. Jahat!"
"Iya kamu benar, aku memang jahat. Aku salah. Kumohon, maafkan aku."
Netra yang semula sipit itu tiba-tiba membesar diiringi dengan mulut terbuka. Gita terkejut, melihat perlakuan Reza terhadap Andin yang begitu lembut, terlebih lagi ketika melihat pria itu mencium pucuk kepala bosnya berkali-kali.
Apa mereka saling mengenal?
Gita mengerutkan dahi, berusaha menerka-nerka asumsinya.
"Ada hubungan apa sebenarnya antara pak Reza dan bu Andin?" Mengetuk-ngetuk dagunya, masih berpikir. "Atau jangan-jangan ... pak Reza adalah pria yang dicari bu Andin?"
Walau ia belum tahu siapa dan bagaimana wujud asli serta profil rinci mengenai pria yang dicari Andin selama tiga tahun terakhir ini, Gita sangat yakin bahwa pria itu adalah Reza—pria yang dicintai atasannya itu. Sebab selama mengenal dan menjadi bawahan Andin, tak sekalipun ia pernah melihat wanita itu berhubungan dengan seorang pria asing manapun sedekat ini.
Terlebih asumsinya itu dikuatkan oleh segelintir cerita dari beberapa staf di kantor yang mengatakan bahwa Andin pindah ke Bandung mempunyai misi lain selain memimpin Foody Industries.
Tak lama berperang dengan pikirannya, Gita memutuskan kembali masuk ke restoran. Langkah kakinya gontai, bukan karena sedih atau kecewa karena gagal bersaing mendapatkan cinta pria itu. Melainkan ikut merasa empati terhadap Andin yang harus menerima kenyataan bahwa pria tersebut telah memiliki tunangan. Sungguh miris!
"Bu Gita?"
Sebuah suara mengejutkannya. Ia mendongak, ada Farah yang berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
"Ya Bu." Wajah Gita berubah panik. Serta merta ia menggeser tubuhnya untuk menutupi pandangan wanita itu agar tak melihat pasangan yang sedang asyik melepas rindu di taman. "Ibu mau ke toilet juga?"
Farah menggeleng. "Tidak, saya hanya mengkhawatirkan Bu Andin. Bagaimana keadaan beliau?"
"Ah ... Ehm ... Tidak apa, Bu. Beliau hanya ada sedikit masalah pada pencernaannya. Mungkin karena tadi sebelum kemari kami sempat mampir di perempatan jalan itu untuk beli cilok." Gita memberi alasan dengan tangan menunjuk sembarang arah. Setidaknya dengan melakukan itu, perang dunia ketiga tak akan terjadi di sini.
"Apa tidak sebaiknya diperiksakan saja ke dokter?" usul Farah dan segera mendapat gelengan dari Gita.
"Saya sudah menawarkannya, Bu. Namun beliau menolak." Gita menarik lembut tangan Farah. "Sebaiknya kita menunggu di meja saja, Bu. Sebentar lagi juga akan selesai. Tidak sekali Bu Andin seperti ini."
Dalam hati, Gita beristigfar berkali-kali. Memohon ampun pada pemilik semesta karena telah membohongi wanita yang berjalan bersisian dengannya itu.
"Eh, sebentar." Farah menghentikan langkahnya membuat Gita refleks mengikutinya. "Saya mau mencari A' Reza. Kenapa sampai sekarang dia juga belum kembali?"
Gita semakin terkesiap. "Beliau masih ada di parkiran."
"Benarkah? Kalau begitu saya akan menyusulnya."
"Kenapa, Bu Gita?" tanya Farah dengan dahi berkerut bingung.
"Pak Reza masih sibuk bertukar suara dengan seseorang di ponsel. Bila melihat dari raut wajahnya yang tak ramah, sepertinya ada masalah dengan pekerjaannya. Lebih baik kita menunggu saja di meja. Kalau Ibu menghampirinya, saya khawatir Ibu akan terkena imbasnya."
Farah terdiam sembari membenarkan kalimat Gita. Memang benar, bila berurusan dengan pekerjaan Reza tak pandang bulu. Pernah sekali, salah satu pekerja lapangannya membuat kesalahan fatal. Namun seluruh pekerja mendapatkan imbas dari kemarahannya karena kurangnya koordinasi.
"Baiklah, kita kembali saja."
Embusan nafas lega, menguar di udara. Pada akhirnya, pun Gita dan Farah melanjutkan lagi niatnya yang sempat tertunda.
***
Tak sebentar waktu yang dibutuhkan Reza menumpahkan rasa rindunya. Ia sangat menikmati pelukan itu. Meresapi tiap kehangatan serta aroma tubuh Andin yang benar-benar membuatnya candu.
Ia membuka matanya, ketika merasakan sebuah pergerakan kecil yang berusaha membebaskan diri dari pelukan itu.
__ADS_1
"Reza ... Lepaskan aku ...," lirih Andin. "Ini tidak benar."
"Apa yang tidak benar? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sangat merindukanmu."
"Tapi kita sedang berada di tempat yang tidak tepat." Andin menyapukan pandangannya kesana kemari, khawatir kejadian ini akan menyita perhatian orang-orang yang ada di sekitar, terutama Farah. Apa yang akan dipikirkan wanita itu bila melihat mereka berpelukan seperti ini? Ia tidak mau Farah akan salah paham dan menganggap ia adalah perusak hubungannya dan Reza.
Reza menarik sudut bibirnya seraya berbisik nakal. "Oh, kamu mau kita pergi ke tempat sepi? Okay, as you wish."
Andin menyadari kesalahannya. Tak seharusnya ia mengucapkan hal yang menjurus pada kesimpulan liar pria itu. Sekuat tenaga, ia mendorong kasar tubuh Reza agar menjauh darinya.
"Jangan konyol, Reza! Apa kamu lupa dimana batasmu sekarang?"
Kening Reza berkerut, entah kenapa otak cerdas itu tiba-tiba menjadi buffering untuk sekadar mencerna perkataan Andin. "Maksudmu?"
"Saat ini situasinya sudah berbeda, Reza. Kamu ... Kamu sudah memiliki tunangan dan akan segera menikah." Setetes cairan bening lolos begitu saja dari ekor matanya.
Reza maju selangkah. Kedua telapak tangan besarnya menangkup pipi Andin seraya mengusap cairan itu menggunakan ibu jarinya. Ia tatap lekat-lekat mata yang ia yakini ada dirinya di sana.
"Lantas kenapa memangnya kalau aku akan segera menikah?" tanya Reza.
"Kita harus menjaga jarak. Aku takut Farah akan salah paham padaku."
"Biarkan saja. Karena itulah sebenarnya yang kuinginkan. Dia harus tahu bahwa hanya ada satu wanita yang aku cintai, yaitu kamu. Aku masih mencintaimu, Andin."
"Kamu jangan gila, Reza." Andin menepis kasar tangan Reza dan memalingkan wajahnya, menatap tanaman bunga yang ada di sisi kirinya.
"Ya! Aku memang sudah gila. Aku gila karena menginginkanmu. Aku gila karena mencintaimu. Apa kamu tahu betapa tersiksanya aku menahan rasa ini sendirian selama bertahun-tahun?"
Reza menarik dagu Andin hingga mata mereka kini saling bersilang pandang dan terkunci untuk beberapa saat. "Sekarang katakan padaku kalau kamu juga mencintaiku," lirihnya pelan.
"Tidak! Aku tidak mencintaimu! Baik dulu ataupun sekarang, semuanya sama saja. Aku tidak pernah mencintaimu! Tidak akan pernah!" Andin segera membalik tubuhnya dan berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Reza yang mematung sembari menatap punggungnya yang mulai menghilang dari pandangan.
"Matamu tidak bisa membohongiku, Andin. Kamu mencintaiku. Aku sangat yakin akan itu."
__ADS_1