
Pagi ini, suasana dapur minimalis berukuran kurang lebih dua belas meter persegi itu tampak berbeda. Biasanya hanya ada satu orang yang berkuasa di sana. Namun kali ini, area tersebut bertambah menjadi dua orang. Ya, orang itu adalah Andin. Tanpa canggung dan risih sedikitpun, wanita muda dengan tubuh berbalut apron itu sigap membantu sang calon mertua mempersiapkan menu sarapan yang akan mereka santap nantinya.
“Ibu takjub loh sama kamu. Selain pandai mengurus perusahaan besar, ternyata kamu juga pandai dalam urusan dapur,” puji Hesti ketika melihat Andin sibuk dengan pisaunya, memotong daging ayam menjadi beberapa bagian.
Andin tersenyum maklum. “Meski dirumah ada asisten, tapi mami nggak pernah berhenti mewanti-wanti dengan kalimat ‘bila ingin menjadi istri dan ibu yang baik, maka perhatikan gizi dan nutrisi suami dan anak. Walau hanya dengan memasak, istri juga ikut andil dalam menjaga kesehatan keluarga’.
“Betul apa kata mamimu. Bagaimanapun juga, wanita harus tahu di mana batasnya dan apa kodratnya.”
“Iya Bu.”
“Ngomong-ngomong … terima kasih ya, Nak.”
Sebuah kalimat yang terdengar ambigu seketika menghentikan gerakan tangan Andin. Pun ia menoleh, menatap Hesti dengan kebingungannya.
“Terima kasih untuk apa, Bu?” tanyanya.
“Karena sudah mau menerima lamaran bocah tengil itu,” sahut Hesti kemudian terkekeh. “Akhirnya setelah pencarian panjangnya, dia menemukanmu. Menemukan tempat yang tepat untuk melabuhkan seluruh cintanya.”
Setitik cairan bening keluar membasahi wajahnya yang mulai dipenuhi oleh kerutan. Mengingat nasib putranya yang kurang beruntung bila menyangkut wanita. Melihat itu, spontan Andin pergi ke wastafel dan mencuci tangannya kemudian kembali lagi menghampiri Hesti dengan membawa beberapa lembar tisu yang baru saja di tariknya.
“Ibu jangan bilang seperti itu. Saya mencintainya dengan tulus meski memang semuanya sempat terlambat. Tapi saya tidak pernah menyesal telah memilihnya.”
“Terima kasih, Nak. Terima kasih.”
Keduanya saling berpelukan, menumpahkan rasa penuh kesyukuran. Hingga tanpa disadari, pria yang sedang mereka gunjingkan itu kini berada tak jauh dari sana dengan separuh tubuh menyender disisi pintu kulkas.
“Eh, sebentar.” Hesti mengurai pelukannya. “Ibu mau ke atas dulu. Ada sesuatu yang mau Ibu ambil di sana.”
Andin mengangguk. “Ah iya, Bu. Silakan.”
“Sekalian handle ini juga, ya, Nak," katanya lagi seraya menunjuk panci yang mengeluarkan kepulan asap di atasnya. “Ibu mau sekalian panggil bapak. Kok sampai sekarang belum turun juga.”
Setelah mendapat anggukan lagi dari Andin, Hesti segera melangkah menuju kamar yang berada di lantai atas. Namun sesaat kemudian tertahan saat mendapati Reza masih bergeming di tempatnya sembari menyunggingkan senyum yang sulit diartikan.
“Mau ngapain?” ujar Hesti dengan sedikit memelankan suaranya agar Andin tak mendengarnya.
“Ng-nggak. Cuma mau ambil minum. Haus," kilah Reza. Dengan cepat pria itu menarik pintu kulkas dan mengambil sebotol air di sana.
"Jangan berkilah! Kamu itu nggak biasa minum air dingin di pagi hari."
"Ah ehm ... ehm." Seketika ia menjadi gugup. Bahkan merutuki dirinya sendiri karena salah mencari alasan. "Mulai sekarang Echa akan membiasakannya, Bu."
"Halah alasan." Sejenak Hesti menolehkan kepalanya menatap punggung wanita yang terlihat sibuk menyelesaikan masakannya kemudian ganti menatap putranya. "Berani kamu macam-macam padanya! Ibu timpuk kamu!"
"Ishh jahatnya," ucap Reza dengan memanyunkan bibirnya.
"Belum halal!" sergah Hesti.
“Iya iya, nggak.”
"Awas, ya!"
"Hemm."
Hesti melanjutkan lagi langkahnya. Setelah memastikan wanita paruh baya itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Barulah Reza mendekati Andin sambil mengendap-ngendap.
"Astaga!" Andin hampir saja menjatuhkan spatula ketika merasakan dua tangan kokoh melingkar di perutnya. Tak perlu menoleh belakang, ia sudah tahu siapa pemiliknya. "Lepas, Bee!"
"Masak apa, Sayang?" tanya Reza polos tanpa memedulikan Andin yang berusaha melepaskan pelukannya.
"Bee! Jangan begini! Nanti kalau ibu lihat kita, bagaimana?"
"Aman ... Ibu lagi di atas. Pasti akan lama." Walau nada suara Reza meyakinkan, namun tetap saja Andin merasa risih dengan posisi seperti itu. Wajahnya pucat. Khawatir Hesti atau Ahmad akan memergoki mereka.
"Iya tapi akunya yang nggak enak. Kamu sana, jaga jarak agak jauhan sana."
"Nggak! Nanti kangen!"
Andin berdesis. Merasa geram pada pria yang ada belakangnya itu hingga timbul niat untuk mencubit lengan Reza. Tapi belum juga niat itu terwujud, pria itu sudah lebih dulu berteriak.
"Arghhhh!"
__ADS_1
Refleks Reza melepaskan tangannya dan ganti memegangi kepalanya yang terasa nyeri akibat benturan sebuah benda asing.
"Sudah dibilang. Jangan macam-macam!"
"Sakit Bu," aduh Reza menatap ibunya yang tengah memegang sendok sayur itu sembari mengusap kepalanya untuk menghilangkan rasa sakit. "Jahat banget sih, sama anaknya sendiri."
"Salahmu! Anak orang belum dihalalin malah disosor terus," sarkas Hesti yang mana membuat Andin tertawa geli menyaksikan penderitaan sang calon suami. "Sudah sana. Tuh, bapakmu sudah nunggu di meja makan."
"Yank ... tolong tahan aku." Reza mengulurkan tangannya pada wanita yang menikmati penderitaannya. Namun segera di tepis oleh ibunya.
"Heh! Mau lagi?" ancam Hesti seraya mengangkat kembali sendok sayur yang ada di tangannya.
"Nggak nggak nggak," kata Reza sembari menjauhkan tubuhnya dari dua wanita tersebut.
"Dasar tengil!" Hesti menatap Andin. "Kamu nggak diapa-apain Echa, 'kan?"
"Nggak kok, Bu."
Usai dengan urusan memasak dan menatanya di meja makan. Keduanya pun lantas mendaratkan tubuhnya di kursi masing-masing. Dan hal itu menarik perhatian Reza yang tampak kebingungan.
"Yank, kenapa duduknya di sana? Sini dekat aku." Berulang kali Reza menepuk kursi kosong yang ada di sisi kirinya.
"Nggak usah! Biar Andin duduk dekat Ibu. Biar aman!"
"Echa sudah jinak, Bu."
"Iya, karena sudah jinak itu. Makanya ngelunjak."
"Yaelah Bu. Segitunya, Echa—."
"Aku duduk di sini saja, Bee," pungkas Andin.
"Tuh, dengerin."
Reza hanya memutar bola matanya malas. Pada akhirnya ia pun membiarkan kemenangan berada di pihak ibunya.
"Kalau mau dekat. Setelah sarapan, antar dia pulang ke Jakarta. Minta baik-baik pada yang berhak atas dirinya." Kali ini Ahmad angkat bicara. Memberi saran pada putranya.
Andin dan Reza saling melempar pandangan. Sebelum kemudian Andin yang lebih dulu memutus kontak mata tersebut. Wajahnya terlihat gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengusik di pikirannya.
"Padahal setelah sarapan ini, Echa mau ngajak Andin ke kebun. Sekalian bertemu investor baru di sana," kata Reza.
"Ya ampun, Cha! Kamu ini seperti nggak punya karyawan saja."
"Bukan begitu, Bu. Investor ini sangat penting."
"Penting mana daripada Andin?"
Kalimat Ahmad begitu menohok seketika membungkam mulut Reza. Di satu sisi ia memikirkan dirinya. Namun di sisi lain, investor ini sangat berpengaruh besar bagi perusahaannya dan tentu saja hal itu juga akan berimbas pada kesejahteraan seluruh karyawannya.
"Kamu itu punya asisten. Percayakan saja padanya untuk mengatasi ini," usul Ahmad.
Reza terdiam tampak berpikir sebelum akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, Pak. Kami akan ke Jakarta."
"Nah ... begitu baru gentle!" puji Ahmad.
"Oh iya, Nak Andin." Hesti menggeser sebuah kotak dengan ornamen ukiran di atasnya yang semula ada di hadapannya kini beralih tepat di hadapan Andin. "Ini untukmu."
"Apa ini, Bu?" Dengan lancang Andin membuka kotak tersebut. Sepersekian detik kemudian, ia terperanjat. Satu set perhiasan cantik nan elegan tersimpan apik di dalamnya.
"Dulu, ini pemberian neneknya Echa ketika Ibu dan Bapak akan menikah. Dan sekarang benda ini, Ibu berikan lagi padamu. Mohon diterima ya, Nak."
"Ta-tapi ini terlalu berlebihan, Bu."
Hesti tersenyum sambil menepuk punggung tangan Andin. "Ibu nggak menerima penolakan. Sekarang barang ini sudah menjadi milikmu, jadi tolong kamu simpan baik-baik, ya?"
"Terima saja, Sayang," sela Reza. Dan akhirnya mau tak mau wanita itu pun menerimanya.
***
Matahari belum terlalu tinggi ketika mobil yang dikendarai Reza baru saja melintasi pintu gerbang Tol Bocimi. Hal itu membuat Andin semakin gelisah. Bahkan keringat dingin mulai mengucur perlahan di keningnya.
__ADS_1
"Yank, kamu kenapa? Tumben dari tadi cuma diam. Sakit?" Reza melepaskan tangannya dari persneling dan beralih untuk memeriksa kening Andin. "Kok kamu keringatan? Apa ACnya kurang dingin?"
"Eh, a-aku nggak apa, Bee. Jangan khawatirkan aku."
"Yakin?"
"Iya, nggak apa. Serius."
Reza tak serta merta dibuat percaya. Pasalnya ketika masih berada di rumahnya, Andin sudah terlihat berbeda. Seperti ada yang disembunyikan oleh wanita itu.
Tanpa aba-aba, pria itu segera menggeser tuas sein ke arah kiri, meminta jalan untuk menepikan mobilnya di bahu jalan sesuai rambu yang di anjurkan.
"Kenapa berhenti, Bee?" tanya Andin.
"Kamu yang kenapa? Ada apa denganmu, Sayang?"
"Aku." Menunjuk diri sendiri. "Aku nggak apa. Kamu tenang saja."
"Kamu jangan bohong! Katakan ada apa?" Suara Reza terdengar mendesak dan menuntut membuat Andin susah payah menelan salivanya. "Ingat, kita sudah sepakat untuk tidak menyembunyikan hal sekecil apapun dalam hubungan ini."
Andin mendesahkan napasnya di udara. "Keluargaku belum mengetahui kalau aku sudah bertemu dan menjalin hubungan denganmu."
"Lalu, apa yang kamu khawatirkan?"
"Aku takut mereka akan menolak lamaranmu." Seketika pandangan Andin mulai mengabur, pertanda air mata sedang meronta ingin segera keluar dari singgasananya.
"Hei Sayang ... dengar aku." Dua telapak tangan Reza menangkup wajah Andin dan meminta wanita itu untuk menatapnya. "Aku tahu aku sudah mengecewakan mereka. Aku memang salah. Aku bodoh. Tapi yakinlah, kalau semuanya akan baik-baik saja."
"Nggak Bee." Andin menggeleng kemudian membenamkan tubuhnya di pelukan Reza dan menumpahkan tangisnya di sana. "Ini bukan sepenuhnya salahmu."
"Kalau begitu, kita berjuang bersama, ya? Berjuang meyakinkan mereka kalau cinta kita layak untuk diperjuangkan."
Andin melepaskan pelukannya dan menatap Reza. "Iya."
"Sudah lebih tenang?"
Andin mengangguk.
"Oke, kita lanjutkan perjalanannya."
Reza kembali menyalakan mesin dan melajukan kendaraannya. Tak sampai satu jam, mereka pun tiba di tempat tujuan.
"Biar aku saja, Sayang," cegah Reza saat melihat Andin hendak menekan bel yang menempel di sisi kiri pintu utama.
Setelah dua kali menekan bel, terdengar suara decitan pintu yang di tarik ke arah dalam.
"Non Andin!" sapa sang asisten rumah tangga. Kemudian menatap pria yang tersenyum padanya. "Mas Reza?"
"Iya, Bi. Apa kabar?"
"Bibi baik Mas. Ya Allah, Mas kemana saja? Lama loh, Bibi nggak liat Mas main-main kemari."
"Saya pulang kampung, Bi," jawab Reza jujur sembari terkekeh.
"Silakan masuk. Kebetulan, hari ini semuanya juga pada ngumpul di ruang keluarga. Lagi membahas acara ulang tahun Den Ammar."
Mendengar itu, langkah Andin tertahan disertai irama jantung yang berdetak tak karuan. Reza yang paham, lantas mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu.
"Tenang, Sayang."
Andin mengangguk kemudian meneruskan lagi langkahnya menuju ruang keluarga.
"Andin!"
Suara Mira mengalihkan seluruh perhatian semua orang yang duduk di sofa. Terkejut. Bingung. Terpancar jelas di wajah-wajah mereka. Bukan pada Andin. Melainkan pada pria yang muncul tiba-tiba setelah sekian purnama.
Rudi beranjak dari duduknya dan pergi menghampiri Reza tanpa membawa senyum di wajahnya. Alih-alih tersenyum. Melihatnya pun rasanya sudah tak sudi. Sepertinya pria paruh baya itu tampak muak dengan keberadaan Reza di rumahnya.
"Assa—."
Kalimat pria tersebut terpangkas oleh sebuah kepalan tangan Rudi yang sudah mendarat sempurna di wajahnya.
__ADS_1
"Papi!"