
"Pegangan yang bener, Yank." Reza menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Memastikan penumpangnya sudah duduk dengan sempurna.
"Ini sudah pegangan," ujar Andin seraya menggenggam erat behel belakang di motor yang mereka tunggangi saat ini.
"Bukan begitu. Nanti jatuh, loh."
"Aman aman. Udah tenang aja." Andin mencoba memberi pengertian.
"Ya sudah." Tiba-tiba sebuah ide nakal terbersit di kepalanya. Dengan sengaja, ia memainkan persneling motornya hingga terjingkat maju membuat Andin segera menautkan dua lengannya di pinggang Reza.
"Bee!"
"Tuh, 'kan. Belum apa-apa sudah mau jatuh."
"Itu karena kamu yang sengaja."
Reza menumpukkan tangan Andin di depan perutnya. "Udah gini aja. Jangan dilepas!"
"Modus!"
Reza hanya mengendikkan bahunya tak acuh sembari melajukan kendaraan roda dua tersebut.
Sebuah lahan berukuran luas. Dengan beberapa pembatas untuk membedakan jenis tanaman yang tumbuh di atasnya. Menjadi tujuan Reza dan Andin saat ini. Indahnya hamparan warna-warni beserta harum yang begitu menyeruak, membuat wanita berparas cantik itu tak beralih barang sedikitpun dari objek yang tengah dipandangnya.
Ia begitu takjub. Untuk sesaat, wanita itu memejamkan matanya. Mencoba meresapi segala hal yang baru ia temui. Meski sejak awal ia sudah mengetahui bahwa selain melon, Reza juga tengah membudidayakan beberapa jenis tanaman bunga namun tak menyangka akan sebesar dan seluas ini. Sumpah demi apapun, rasa kagumnya tumbuh berkali-kali lipat pada pria yang mencoba menuntun langkahnya ke tengah area.
“Hati-hati, Sayang.”
“Aku nggak nyangka banget, Bee. Kamu bisa sehebat ini. Keren, sangat sangat keren,” puji Andin dengan mengacungkan dua jempolnya. Tapi rasanya itu tak cukup untuk menggambarkan kekagumannya.
Reza mengembangkan senyumnya. “Terima kasih, Sayang. Aku tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan untukku. Tapi yang jelas saat ini aku sangat bersyukur. Terlebih dengan adanya kamu di sampingku.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa Andin tak kuasa menahan degup jantungnya yang tiba-tiba meronta hingga nyaris keluar dari raganya. Ia menurunkan pandangannya menatap tanah yang dipijaknya saat ini bermaksud menyembunyikan rona merah di wajahnya. Sampai akhirnya ia merasakan sebuah tangan menyentuh dagunya.
“Sayang … lihat aku.” Andin menurut. Pun ia menatap manik yang dipenuhi cinta untuknya. “Tujuanku mengajakmu kemari karena ….” Ia merasa lidahnya menjadi kaku. Gugup, bingung, takut, khawatir seketika mengumpul di dadanya begitu juga dengan detak jantungnya yang berdegup tak karuan.
“Karena apa, Bee?” tanya Andin.
Tak ada jawaban. Pria itu justru meraih sebuah kotak berbentuk persegi dalam saku celananya. Membuat Andin menarik ingatannya ke beberapa tahun lalu mengenai benda yang menurutnya sangat tak asing tersebut. Detik berikutnya, ia terkesiap melihat Reza menurunkan tubuhnya dengan satu lutut menyentuh bumi.
“Bee? Apa yang kamu lakukan? Ayo berdiri!”
Pria itu menahan tubuhnya ketika dua tangan jenjang milik Andin mencoba untuk membantunya berdiri. Mulutnya masih terkatup rapat. Setelah beberapa saat meyakinkan diri dan memupuk keberanian ia mendongakkan kepalanya menatap wanita yang masih dilanda kebingungan.
__ADS_1
“Sayangku,” panggil Reza pelan.
“Ya?”
“Sayangku … Andinia Maura. Maaf bila ini terlihat sangat tergesa. Tapi hari ini, di tempat yang pernah aku janjikan padamu. Memberanikan diri untuk menjadikanmu pusat duniaku.” Reza membuka kotak beludru berwarna ungu yang sedari tadi berada dalam genggamannya dan memperlihatkan sebuah cincin bertahtakan berlian. “Maukah kamu mendampingi ragaku hingga menua dan rapuh dalam ikatan pernikahan?”
Sekarang, gantian Andin yang membisu. Berulang kali wanita itu mengerjap hingga bulir bening yang berada di sudut matanya berdesakan membasahi pipinya.
“Sayang … bagaimana jawabanmu? Apakah kamu—.”
“Iya, aku mau!” pangkas Andin cepat. “Aku mau menikah denganmu, Bee.”
Mendengar itu. Bukannya berdiri, Reza justru menundukkan kepala dengan mata terpejam sembari bersorak ria dalam hati. Akhirnya, penantian panjangnya terbayar dengan sebuah jawaban ‘iya’ dari bibir wanita yang telah lama ia dambakan. Sungguh, cara kerja waktu sangat mengejutkan bersamaan dengan takdir yang begitu kuat membelenggu keduanya.
Sesaat kemudian, Reza kembali mendongakkan kepalanya dan menyematkan cincin di jari manis Andin. Cincin yang dulu pernah diabaikannya kini resmi menjadi miliknya. Dari sana pula, ia bisa mengetahui seberapa besar dan tulus pria itu mencintainya.
“Ayo berdiri, Bee.”
Sekali lagi Andin menarik tangan Reza. Setelah berdiri, pria yang diliputi oleh buncahan rasa bahagia itu lekas membenamkan tubuh Andin ke dalam pelukannya.
“Terima kasih, Sayang. Terima kasiiiihhhhh banget. Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintamu, Bee. Sangat mencintaimu.”
Reza menarik diri dan menatap Andin dengan senyum yang masih tak menyurut. Secara spontan ia langsung mengangkat tubuh wanita itu ke atas hingga membuat pemiliknya memekik histeris.
“Aku seneng banget, Sayang.”
“Bee! Turunkan aku. Aku ini berat, loh.”
Namun tetap saja Reza tak mengindahkan kalimat itu dan terus memutar tubuh Andin di udara.
“Bee! Aku pusing!” jerit Andin yang mana hal itu membuat Reza tersadar dan segera menurunkannya ke bawah kemudian mendekap tubuh itu lagi.
“Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu bahagia.”
Andin mengangguk maklum. Tak lama, ia merasakan basah di baju bagian pundaknya. Dapat ia terka dengan mudah, itu berasal dari air mata pria yang sedang memeluknya.
“Bee ….”
“Biarkan seperti ini sebentar saja,” ujar Reza di sela-sela isakannya. Astaga, hanya dengan moment seperti ini, ia menjelma menjadi sosok yang melow. Menggelikan.
Andin kembali mengangguk dan membiarkan Reza memuaskan diri dengan posisi tersebut.
__ADS_1
“Aku sungguh tidak menyangka hari ini akan tiba. Sekali lagi terima kasih, cintaku,” imbuhnya lagi sebelum akhirnya pelukan itu terurai.
“Sampai kapan kamu akan terus berterima kasih, Bee? Hem?”
“Tolong cubit aku, Yank.”
“Hah?”
“Cubit aku.” Reza menarik ke dua tangan Andin dan menempelkannya di pipi. Memastikan ini bukan mimpi atau sekadar khayalan belaka. “Ayo!”
Meskipun ragu dan bingung. Wanita tersebut lekas menuruti perintah.
“Arrghhhh! Udah udah! Sakit!”
“Maaf Bee, maaf. Sakit banget, ya?” Andin mengusap permukaan pipi Reza yang tampak memerah efek cubitannya tadi.
“Nggak apa, Sayang. Aku senang, ternyata ini bukan mimpi.”
“Dasar aneh!” Andin tersenyum. “Jadi ini tempat yang ingin kamu tunjukkan padaku?”
Reza mengangguk seraya menggenggam tangan Andin untuk berjalan menyusuri kebun tersebut. “Dan kini, tempat ini sudah sah menjadi milikmu.”
“Maksudnya?” Langkah Andin tertahan. Keningnya berkerut.
"Ingat nggak, apa yang aku katakan padamu sesaat setelah Adrian melamar istrinya?"
Dengan polosnya, Andin menggeleng lemah. Sebab wanita itu sama sekali tidak mengingatnya. Reza menghela napas panjang kemudian berkata,
"Aku pernah mengatakan. Aku akan memberikan bunga sekaligus kebunnya berhektar-hektar ketika melamarmu. Dan sekarang aku sudah mewujudkan itu."
Andin tak kuasa membendung air matanya. Ia segera menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Reza. Entah bagaimana lagi ia harus menafsirkan perasaannya? Kurang bersyukur apa lagi ia mendapatkan calon suami baik dari yang terbaik seperti Reza.
"Ta-tapi ini ter-terlalu berlebihan. Aku sama sekali tidak membutuhkannya" lirih Andin. "Yang kubutuhkan hanya cinta dan kasih sayangmu."
"Kamu nggak perlu meragukan itu, Sayang. Tanpa diminta, aku akan memberikannya. Bahkan bila perlu, nyawaku sekalipun."
Hening. Keduanya sibuk menyelami perasaan masing-masing. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
***
Bosan nggak alurnya gini terus?
Kasih konflik ya?
__ADS_1
Sepuluh like dan koment. UPnya kenceng.
Serius.