Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Tidak Seperti yang Kalian Bayangkan


__ADS_3

Tatapannya tak berpindah menatapi pantulan dirinya di depan cermin berukuran persegi panjang yang melekat di dinding kamarnya untuk memastikan kembali penampilannya. Setelan jas berwarna biru dongker menjadi pilihan outfitnya hari ini untuk memulai aktifitasnya di kantor.


“Perfect.” Reza menjentikkan jarinya. Sesaat kemudian, ia mengambil salah satu jejeran sepatu pantofelnya yang tersusun rapi di sudut kamar dan menentengnya keluar.


Langkah kaki terdengar memburu membuat Hesti mengalihkan perhatiannya untuk menemui Reza yang berjalan ke arahnya. Reza langsung mencium punggung tangan ibu dan bapaknya yang duduk di kursi di balik meja makan.


“Loh, kamu nggak sarapan?”


“Echa sarapan di kantor saja, Bu. Buru-buru, nih. Ada pekerjaan penting di kantor.”


“Kakak, aku boleh, ya, ikut nebeng sampai depan kampus?” Rania bangkit berdiri dan mengantungkan ransel di punggungnya


“Memangnya motormu kenapa?” tanya Reza sambil berlalu pergi menuju sofa dan duduk untuk memasang sepatunya.


“Aku lagi malas bawa kendaraan, Kak,” sahut Rania sambil berjalan menghampiri Reza.


“Oh, ya sudah. Ayo.”


“Ibu, Bapak. Kami berangkat dulu, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” sahut Hesti dan Ahmad kompak.


Keduanya pun keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Reza, sudah bergabung bersama kendaraan lain di atas aspal jalanan ibukota.


“Rania ... Kakak boleh tanya sesuatu?”


Kalimat Reza membuat gerakan tangan Rania yang tengah asyik membuka lembaran-lembaran tesisnya terhenti. Rania menolehkan kepalanya menatap Reza yang fokus menatap jalan.


“Tanya apa, Kak?”


“Ehm ... Ehm ... menurutmu, apa sih yang membuat seorang wanita tertarik pada pria sehingga dia mau menerima cinta dari si pria tersebut?”


Rania menautkan kedua alisnya. Mencoba mencerna ke mana arah pembicaraan laki-laki yang terpaut lima tahun di atasnya ini.


Tak ada respon dari Rania membuat Reza melirik ke samping.


“Nia!” pekik Reza, melihat keterdiaman Rania. “Apa kamu mendengar Kakak?”


“Sebentar sebentar. Aku masih mencerna ucapan Kakak ...." Rania menjeda kalimatnya untuk menyimpulkan perkiraannya. "Kalau aku tidak salah menebak. Apa sekarang Kakak sedang jatuh cinta? Dan bingung untuk mengutarakannya?"


DEG.


Jantung Reza berdegub sangat kencang. Napasnya terasa sesak. Bagaimana bisa Rania dengan mudah menebak isi kepalanya?


“Tidak,” jawab Reza berbohong. “Siapa yang sedang jatuh cinta?”


Rania tersenyum jahil, “Ya sudah. Aku tidak akan menjawabnya. Nggak penting juga untuk dibahas.” Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada berkas ditangannya.


Suasana hening seketika. Wajah Reza terlihat gusar, berkali-kali ia menarik napasnya dan mengeluarkannya kasar melalui mulut. Hal ini tak luput dari jangkauan mata Rania yang mencuri-curi pandang padanya.


“Sudah ... mengaku saja. Kakak sedang jatuh cinta, kan?” desak Rania membelah keheningan.


"Kakak hanya bertanya. Sementara kamu, cukup memberi jawaban sesuai sudut pandangmu sebagai seorang wanita." Masih berusaha mengelak.


"Tapi semua pertanyaan harus ada alasan, Kak. Agar mudah mendapatkan jawaban nantinya." Rania mencoba memprovokasi keadaan. "Jujur saja padaku, kalau saat ini Kakak sedang mengalami yang namanya jatuh cinta."


Reza menggelangkan kepalanya. "Memang susah bicara pada seorang master psikolog. Nggak mudah dan tak bisa dibohongi."


"Orang awam pun akan sangat mudah menebaknya, Kak. Jelas sekali terlihat dari bahasa tubuh Kakak saat ini."


“Kelihatan banget, ya?”


“Benarkan tebakanku? Kakak sedang jatuh cinta.”


“Iya iya tebakanmu benar. Kakak memang sedang jatuh cinta,” ungkap Reza dengan nada suara sedikit tertahan.


“Tapi bukannya Kakak sudah punya pengalaman ya, sebelumnya?”


“Ini beda. Dia istimewa. Jadi perlakuannya pun harus istimewa pula,” ujar Reza membanggakan wanita impiannya.


"Hah? Apa aku mengenalnya?" Rania antusias mendengarnya. Ia menutup berkas dan memiringkan tubuhnya menghadap Reza. Berharap pria itu akan bercerita lebih banyak lagi tentang wanita yang disukainya.


"Kamu tidak mengenalnya. Sudah Kakak katakan, dia wanita istimewa. Bahkan sangking istimewanya, Kakak takut padanya."


Rania mengernyit kembali. "Kenapa? Apa wajahnya mengerikan?"

__ADS_1


Reza terkekeh menanggapi tuduhan Rania. "Tidaklah, dia sangat cantik. Hanya saja, Kakak takut mengutarakan perasaan Kakak padanya."


"Takut ditolak?"


Reza mengangguk pelan. "Kakak takut dengan penolakannya. Dan bila itu terjadi, pasti akan berpengaruh terhadap hubungan pertemanan yang sudah kami bina selama ini."


"Kenapa kakak bisa yakin kalau dia akan menolak Kakak. Apa Kakak bukan tipenya?"


"Entahlah.” Reza mengendikkan bahunya.


"Selama berteman dengannya, apa Kakak selalu memberi perhatian padanya? Dan ketika ia berkeluh kesah, apa Kakak selalu menjadi pendengar dan pemberi saran yang baik? Seorang wanita pasti akan terpesona oleh pria yang bersedia untuk mendengarkan kata-katanya dan menghargainya."


Reza mengangguk lagi. “Sebagian saranmu sudah Kakak lakukan. Hanya saja Kakak masih tidak percaya diri.”


“Yakinkan diri Kakak dulu. Jangan buat semuanya terkesan tergesa-gesa.” Rania menepuk bahu kakaknya memberi semangat.


"Oke. Terima kasih sarannya.


Tanpa terasa, mobil yang dikendarai Reza sudah menepi di bahu jalan tak jauh dari gerbang kampus tempat adiknya selama ini menimba ilmu. Rania keluar dari mobil tapi sebelum wanita muda itu menutup pintu, ia membalikkan tubuhnya.


"Ingat ya, Kak. Buat semuanya berjalan natural. Jangan tergesa-gesa!" titah Rania seraya menegaskan jari telunjuknya.


"Iya. Sudah sana, masuk."


Rania menutup pintu mobil kemudian melangkah pergi meninggalkan Reza yang juga mulai menjalankan mobilnya.


***


Reza menyandarkan tubuhnya di mobil dengan tangan bersedekap. Pria tampan itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum simpul ketika ekor matanya menatap seorang wanita, mengenakan rok span dan kemeja lengan panjang berwarna soft pink yang baru saja keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.


“Kenapa kamu masih disini? Apa kamu sedang menunggu seseorang?” tanya wanita berambut hitam legam, terikat rapi menyerupai ekor kuda. Matanya mengedar kesana kemari mencari sosok yang ditunggu oleh Reza.


Reza mengangguk. "Aku sedang menunggumu."


“Menungguku?” Andin menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya terlihat bingung.


“Aku melihat mobilmu berjalan di belakang mobilku. Jadi apa salahnya aku menunggumu. Kan, kita bisa naik ke atas sama-sama,” jawab Reza seraya menunjuk ke arah atas.


“Ck! Seperti orang penting saja, pakai ditunggu segala.” Andin berlalu pergi mendahului Reza menuju lift yang jaraknya hanya beberapa meter di depannya.


Langkah Andin tertahan mendengar celetukan Reza. Wanita itu melirik pria yang berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Mengerti akan tatapan yang diberikan, membuat Reza cepat memalingkan wajahnya.


“Itu pintu liftnya terbuka.” Buru-buru Reza menarik tangan Andin dan membawanya masuk ke dalam lift.


Setelah keduanya masuk, Reza langsung menekan dua tombol yang berbeda yaitu lantai dua puluh empat dan dua puluh enam, dimana ruangan keduanya berada.


Selama mesin pengangkut manusia itu bergerak menuju lantai yang dimaksud, Reza kembali menatapi wajah wanita yang ia cintai itu tengah sibuk memeriksa email melalui ponsel pintarnya. Merasa diperhatikan, Andin menghentikan aktivitasnya dan menarik pandangannya pada Reza.


"Ada apa?"


Reza hanya menggelengkan kepalanya tapi matanya enggan berpindah menatap Andin.


"Kenapa Rezaaaaaa?" Mulai kesal.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Reza kemudian.


"Kabarku baik,” jawab Andin singkat. “Tumben kamu menanyakan kabarku.”


Reza hanya tersenyum menanggapi ucapan Andin.


"Berhenti menatapku!" seru Andin. Tangannya tergerak untuk mengusap kasar wajah Reza, berharap pria itu menyudahi tatapannya. "Kamu membuatku takut, Reza.”


“Apa kamu takut jatuh cinta padaku?”


Andin memutar bola matanya, malas menanggapi pertanyaan yang menurutnya absurd itu. Ia mengalihkan fokusnya menatap ponsel dan mengabaikan ocehan Reza. Merasa diabaikan, Reza merampas ponsel Andin.


“Aku tidak suka, ya. Saat bersamaku kamu mengacuhkanku.” Suara Reza terdengar tegas sekarang. Begitu juga dengan sorot matanya yang tajam menatap Andin. “Disini hanya ada kita berdua. Tidak lucu kalau kamu mengabaikanku seperti ini.”


“Hei, kenapa kamu marah? Kembalikan ponselku!” Berusaha merebut ponselnya namun Reza tetap menjauhkannya.


“Tidak!”


“Kembalikan!”


“Tidak!”

__ADS_1


Reza memasukkan benda pipih persegi itu ke dalam saku celananya. Andin yang melihat, hanya mendengus kesal. Merasa kalah dengan pria yang ada di hadapannya itu.


“Kamu kenapa jadi aneh begini, sih? Apa semalam tidurmu tidak nyenyak?”


“Tidurku nyenyak, sangat nyenyak,” bantah Reza dengan nada menyebalkan. “Bahkan sebenarnya, aku enggan terbangun pagi ini karena ada kamu di dalam mimpiku.”


“Pagi-pagi sudah menggombal. Lagipula jika kamu tidak terbangun, itu artinya kamu meninggal, Reza.”


“Jahat banget. Nanti kalau aku tidak ada, kamu pasti akan kesepian. Dan mungkin, kamu akan menangis meraung-raung mencariku kesana kemari.”


“Tidak akan dan tidak mungkin hal itu akan terjadi.”


“Apa kamu yakin? Hmm ....” bisik Reza lirih, hingga hembusan napasnya terasa hangat di permukaan kulit leher jenjang Andin.


Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Andin menggunakan kesempatan itu untuk merogoh saku celana Reza, mengambil ponsel di sana. Namun usahanya tak berhasil, tangan Reza terlalu cepat menepis tangan Andin hingga membuat wanita itu hampir saja hilang keseimbangan jika saja Reza tidak segera menahan punggungnya. Sekarang posisi mereka kini saling menempel satu sama lain dengan mata saling mengunci. Hening, hanya suara napas mereka yang terdengar berlomba-lomba mencari pasokan udara.


Tring


Tiba-tiba saja lift berhenti bergerak di lantai enam belas. Kemudian pintu pun terbuka secara otomatis. Dua orang karyawan yang hendak melangkahkan kakinya langsung terhenti sesaat setelah melihat adegan di depannya. Hingga reflek menjatuhkan beberapa dokumen yang ada ditangan salah satu dari mereka.


Suara benturan tersebut berhasil menjadi pemutus kontak mata antara Reza dan Andin. Andin segera menjauhkan dirinya dari Reza dan menundukkan kepalanya menahan malu. Ia khawatir karyawannya akan salah paham dengan kejadian barusan. Sementara Reza membalik badan dengan santainya dan memperhatikan dua orang karyawan sedang berjongkok memunguti dokumen yang berserakan di lantai.


“Kalian.” Reza berjalan menghampiri sepasang karyawan yang sudah berdiri di depannya. “Gunakan lift yang lain saja.”


Bugh


"Arghhh ... sakit, Ndin." Punggung Reza terasa panas akibat pukulan Andin yang tak terima dengan perintahnya.


"Apa maksudmu menyuruh mereka menggunakan lift lain?" Andin menatap marah pada Reza kemudian berganti menatap dua karyawannya yang masih bergeming di ambang pintu lift. "Kalian masuk saja, lift ini masih muat menampung kita semua," titah Andin kemudian.


Karyawan tersebut melirik ke arah Reza untuk meminta persetujuan, sedangkan Reza hanya memberi kode melalui matanya, menyuruh mereka untuk tidak ikut bergabung di lift yang sama.


"Maaf, Bu. Kami harus kembali ke ruangan untuk merapikan kembali dokumen ini." Salah satu karyawan itu memberi alasan. Tentu saja hal itu adalah kebohongan.


Reza mengembangkan senyum. “Pergilah," ucapnya tanpa mengeluarkan suara.


Nyaris saja pintu lift tertutup, Andin menahannya. “Tunggu!”


Teriakan Andin membuat langkah anak buahnya terhenti dan refleks berbalik menghadap Andin.


“Ya, Bu Andin,” ucap mereka serempak.


“Jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang kami. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku tidak ingin, kejadian tadi menimbulkan gosip di kantor ini."


Keduanya saling pandang dengan wajah bingung. Sementara Reza hanya tersenyum penuh maksud dibelakang Andin.


“Kalian mengerti!”


“Me-mengerti, Bu.”


Andin melepaskan tangannya, membiarkan pintu kembali tertutup dengan sendirinya. Ia menoleh pada Reza yang tersenyum padanya.


“Tidak usah senyum-senyum. Lihatkan, gara-gara kamu, mereka hampir saja berpikiran yang tidak-tidak."


"Kalau benar juga tidak apa. Itu semakin baik untuk hubungan kita."


"Huh?"


"Aku duluan," ujar Reza sesaat setelah lift berhenti di lantai tujuannya. Ketika ia hendak melangkah, Andin menarik ujung jasnya.


"Hei ... tunggu sebentar."


"Kenapa? Apa kamu sudah merindukanku?"


"Pede banget, sih."


"Lantas apa dong."


"Ponselku." Tangan Andin menengadah tepat di wajah Reza.


Reza menepuk dahinya. "Untung kamu ingatkan. Jika tidak, mungkin aku akan menjualnya untuk modal beli kuaci." Ia merogoh sakunya kemudian meletakkan ponsel di atas telapak tangan Andin.


"Sudah sana kerja." Andin mendorong paksa tubuh Reza agar keluar dari lift.


“Sampai jumpa," ucapnya kala kedua pintu lift mulai bergerak untuk menyatu. Sejenak, ia menyempatkan diri mencium udara. "Muacchh."

__ADS_1


Seketika Andin terperangah sampai pintu lift tertutup sempurna. "Tadi Reza bukan, sih? Kenapa dia berbeda sekali?" gumamnya.


__ADS_2