
Dengan langkah panjang, Reza pergi menghampiri sepasang manusia yang tengah asyik beradegan romantis di sudut area itu. Walau baru dua kali bertemu dan sudah tiga tahun berlalu. Tak sedikitpun, Reza melupakan wajah dari salah satunya. Wajah pria yang ia ‘yakini’ adalah suami dari wanita pujaannya, Andin.
“Hei brengsek!”
Tubuh pria itu terguncang, nyaris tergelincir dari kursi yang ia duduki beberapa saat lalu ketika Reza baru saja mendorong pundaknya.
“Kau siapa—."
Kalimat pria tersebut terpangkas oleh sebuah kepalan tangan Reza yang sudah mendarat sempurna di wajahnya.
“Mas Angga!” pekik sang wanita yang melihat pria itu tersungkur di atas paving blok dengan sudut bibir mulai mengeluarkan cairan segar berwarna merah.
Kejadian itu sontak menyita perhatian para pengunjung dan juga pelayan yang berada di sana. Beberapa dari mereka berhamburan untuk melerai agar perseteruan itu tidak berlanjut. Angga berdiri dengan dibantu oleh salah satu pengunjung.
"Minggir!" Reza berusaha menepis tangan pria yang mencekal tubuhnya.
"Sudah, Pak! Tidak baik menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan," ujar pria berseragam khas pelayan tersebut. "Lebih baik bicarakan dengan kepala dingin."
“Pria ini harus diberi pelajaran! Dia ini pria tidak tahu diri. Sudah memiliki istri yang sempurna. Masih saja selingkuh?”
Seketika darah Angga mendidih mendengar tudingan itu. Ia menarik langkahnya ke depan hendak maju melawan Reza, namun terhenti kala tubuhnya juga dicekal oleh seseorang. Sementara wanita di sampingnya itu memicing sembari berusaha mengingat-ingat siapa pria yang menatap nyalang pada suaminya tersebut.
“Apa maksudmu, brengsek! Memangnya kau siapa berani menuduhku seperti itu?” tanya Angga tak kalah sengit.
“Pak Reza?”
Reza dan Angga kompak menyorotkan matanya ke arah wanita itu dengan kening berkerut.
"Kamu kenal dia, Sayang?" Angga beralih menatap pemilik nama tersebut. “Reza … temannya Andin?”
Wanita itu mengangguk. “Iya Mas.”
“A-Amalia … kamu Amalia, bukan?” tanya Reza memastikan penglihatannya. Ia memperhatikan wanita itu dari atas hingga bawah kemudian kembali lagi ke atas. Terlihat sangat berbeda dari segi penampilan serta postur tubuh. Wajar bila sejak tadi Reza tak mengenalinya. Karena dulu, dipertemuan awal mereka, Amalia tampak begitu kurus dan kuyu. “Apa yang kamu lakukan bersama pria brengsek ini?” tanyanya lagi.
“Heh! Jangan sembarangan—.”
“Dia suami saya, Pak," aku Amalia cepat. Ia terlihat bingung ada masalah apa antara suaminya dan Reza.
“Suami?” Reza membelalakkan matanya diiringi dengan mulut yang terbuka karena terkejut. "Dia suami kamu? Bagaimana bisa? Kamu jangan bercanda Amalia?”
“Apa pendengaranmu terganggu?” Angga yang sudah tidak tahan mendengar ocehan Reza, menepis kasar tangan orang-orang yang mencekalnya dan maju untuk mencengkeram kerah baju pria itu. “Aku suaminya dan dia adalah istriku satu-satunya." Angga menunjuk Amalia menggunakan dagunya.
__ADS_1
“Mas, udah! Nggak enak dilihat sama yang lain.” Amalia berusaha menurunkan tangan suaminya. Untuk sesaat, ia mengedarkan pandangannya ke beberapa orang di sekitar mereka. "Maaf, silakan membubarkan diri. Sepertinya ada kesalahpahaman diantara mereka. Kami akan meluruskannya dengan hati dan kepala yang dingin. Terima kasih."
Sepeninggal orang-orang itu, Amalia meminta dua pria yang masih terlihat emosi itu untuk duduk bersama dan menyelesaikan permasalahan dengan cara baik-baik.
"Sejak kapan kalian menikah?" Reza membuka suara setelah beberapa saat keheningan terjadi.
"Apa pentingnya untukmu!"
"Mas!" Amalia memegang tangan suaminya, berharap pria itu tidak tersulut emosi.
"Aku hanya ingin memastikan," ujar Reza.
"Kami menikah beberapa bulan yang lalu—."
"Apa maksudmu mengatakan aku selingkuh?" Angga memangkas kalimat Amalia.
"Bukankah kau adalah pria yang dijodohkan pak Rudi untuk Andin?"
Sejenak Angga dan Amalia saling melempar pandang. Dimenit berikutnya, pun keduanya mengulas senyum bahkan sangat lebar tatkala mengerti dengan situasi. Sementara Reza hanya melongo melihatnya.
"Kenapa respon kalian seperti itu? Aku serius bertanya." Reza kembali geram. Ia mengebrak meja untuk menumpahkan kekesalannya. Tapi tak membuat keduanya menyurutkan senyum penuh ejekan.
"Tunggu tunggu tunggu." Angga mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan Reza untuk tenang. "Sepertinya kau sudah salah paham."
"Kau pasti mendengar ucapan papaku dan juga papinya Andin, saat di pesta itu, 'kan?"
Reza hanya mengangguk.
"Sudah kuduga." Angga menjentikkan jarinya. "Memang benar papaku berniat untuk menjodohkanku tapi bukan Andin orangnya. Dan waktu itu, mereka hanya bercanda. Kau pasti hanya mendengar setengah dari cerita mereka, 'kan?"
Reza kembali menganggukkan kepalanya. “Aku tidak tahan mendengarnya. Jadi aku putuskan untuk pergi dari sana.”
Angga berdecih. "Dasar pria bodoh?"
"Mas!" Amalia memukul paha suaminya untuk tidak keterlaluan.
Angga mulai menceritakan secara detail apa yang terjadi sebenarnya. Mulai dari kisahnya dan Amalia, pertemuannya dengan Andin di sebuah kafe yang mana saat itu, wanita yang berstatus sahabatnya terlihat melamun seperti memikirkan sesuatu yang pelik.
"Aku dan Andin hanya sahabat. Seperti kau dan dia. Seharusnya kau bertanya padanya. Bukan menelan informasi itu mentah-mentah."
Reza tertegun mendengarnya. Tak menyangka betapa bodohnya ia selama ini, membiarkan kesalahpahaman menutupi mata hatinya akibat cemburu yang tak beralasan. Ia mengangkat kedua tangannya dan mengacak rambutnya frustrasi.
__ADS_1
"Seharusnya kau lebih peka untuk bisa meraba perasaannya," imbuh Angga.
"Maksudmu?" tanya Reza ambigu.
"Aku bisa melihat cinta di matanya. Hanya saja dia belum menyadari itu." Sejenak Angga menjeda kalimatnya. "Dia mencintaimu.”
Mata Reza masih terbelalak tak percaya mendengar kalimat yang baru saja Angga katakan. Benarkah Andin juga mencintainya? Kenapa ia begitu terlambat mengetahuinya?
"Kau tak percaya?" Angga menyeringai remeh. “Dia itu mencintaimu, bodoh!”
“Mas! Empati sedikit bisa nggak, sih?” sergah Amalia.
“Gemes aku, Yank.”
Angga melirik ke arah Reza. "Heh! Denger ya. Aku ini mantan playboy. Mudah bagiku untuk menilai gesture tiap wanita yang ada disekitarku, tak terkecuali Andin."
"Mantan playboy aja bangga!" Amalia mendelik sebal pada suaminya itu. Ia menyandarkan kasar punggungnya di kursi dan bersedekap. Membuat Angga menjadi kelabakan.
"Ehm ... Ng-nggak gitu, Sayang. Mas, 'kan hanya memberi dia penjelasan. Cuma contoh, Sayang ... contoh."
"Tapi, 'kan bisa pakai perumpamaan lain."
"Sayang, tapi—."
"Kenapa justru kalian yang berdebat!" Reza menyela sembari kembali mengebrak meja yang mana membuat sepasang manusia yang ada dihadapannya itu terperanjat. Pria itu mengusap wajahnya berkali-kali. Bingung menentukan sikap, antara bahagia atau tidak karena situasi saat ini sudah berbeda. Hingga tanpa sadar, kilatan cincin yang tersemat di jarinya menarik perhatian Angga.
"Kau sudah menikah?"
Reflek Reza menghentikan gerakan tangannya lalu menariknya untuk melihat cincin di sana. Seketika pandangannya meredup. “Beberapa hari yang lalu aku baru saja melangsungkan pertunangan dengan wanita pilihan orang tuaku.”
“Apa kau mencintai wanita itu?”
Reza diam tak menjawab pertanyaan itu. Namun dari sorot matanya, Angga dapat menyimpulkan asumsinya. Ia sangat memahami kondisi Reza yang saat ini berada di persimpangan jalan. Antara meraih cinta sejati atau melanjutkan pertunangan itu.
Hening … hingga suara dering ponsel yang berada di dalam saku celana Reza, mengambil alih situasi.
“Astaga! Aku lupa kalau ada janji dengan seseorang.” Reza menepuk keningnya sesaat setelah melihat nama Farah muncul di layar ponselnya. “Sepertinya aku harus pergi. Maaf sudah membuat kekacauan di sini. Dan maaf juga, aku sempat memukulmu.”
“No problem,” balas Angga santai. “Ingat pilihan ada di tanganmu. Aku harap kau tak salah mengambil keputusan.”
Reza mengangguk setuju. “Terima kasih. Aku pergi.” Ia langsung beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Reza melajukan kendaraannya menuju restoran di mana Farah masih setia menunggu kedatangannya. Selama perjalanan, tak henti-hentinya ia mengulas senyum bahagia setelah mengetahui Andin memiliki perasaan yang sama padanya. Ya, pria itu telah memutuskan setelah urusannya beres di sini. Ia akan pergi ke Jakarta. Mengejar cintanya yang ia tinggalkan demi sebuah ego. Persetan dengan pertunangannya, yang ia pikirkan saat ini ialah kebahagiannya. Bolehkan ia egois lagi?
"Maaf maaf. Saya terlambat." Reza menyapa tiga wanita yang sedang asyik berbincang di meja berbentuk persegi bermaterial kayu tersebut. Satu diantaranya, duduk membelakanginya. Ia lantas menarik kursi kosong sesaat sebelum mendaratkan tubuhnya di sana. Sepersekian detik kemudian, pandangannya dibuat melumpuh kala iris hitam miliknya bertemu dengan iris cokelat milik wanita yang baru saja ia pikirkan, Andinia Maura!