
Jarum jam baru saja menyentuh angka enam ketika cahaya jingga mulai menghilang tergantikan oleh sinar mentari yang merambat memenuhi langit kota. Namun pria yang menggunakan kaos oblong dan celana pendek model chino itu sudah berdiri di balik pintu rumah sang kekasih sejak beberapa menit yang lalu.
"Pergi sekarang?" tanya Andin seraya menarik daun pintu ruang tamu ke arah dalam. "Aku aja belum mandi loh, Bee."
"Masa', sih!" Reza mendekat. "Tapi kok masih wangi, cantik pula."
Andin mencebik. "Pagi-pagi sudah menggombal! Ayo masuk," ajaknya kemudian membuka seluruh pintu dan tirai yang ada di ruang tamu.
"Sengaja berangkat pagi supaya nggak terjebak macet, Yank." Reza menjawab pertanyaan Andin sebelumnya.
"Kamu mau minum apa, Bee? Kopi atau teh?"
"Nggak usah repot, Sayang. Kamu mandi aja sana. Aku gampang."
"Ya sudah. Aku mandi dulu setelah itu kita sarapan. Kamu pasti belum sarapan, 'kan?"
Reza hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Tak dipungkiri memang, pria itu juga belum menyempatkan diri, menikmati jatah sarapan yang telah disediakan oleh pihak hotel—tempatnya menginap semalam—sebab ia begitu tergesa ingin segera bertemu dengan belahan jiwanya.
Tak berselang lama, usai membersihkan diri dan berganti pakaian. Andin kembali ke ruang tamu untuk mengajak Reza pindah ke meja makan yang sudah tertata rapi oleh nasi dan beberapa lauk pelengkap di atasnya. Sebelum duduk, Reza mengedarkan pandangannya menatap sekitar seakan-akan tengah mencari keberadaan seseorang dan hal itu mengalihkan perhatian Andin.
“Kamu perlu sesuatu, Bee?” tanyanya. “Mau apa? Biar aku buatkan.” Ia berdiri, hendak melangkah ke dapur. Namun dengan cepat, Reza menahannya.
“Aku nggak perlu sesuatu, Sayang. ARTmu mana? Tumben sekarang nggak ada?"
“Oh, kemarin dia ijin datang agak siangan. Ada keperluan penting katanya. Tapi nanti dia akan menginap sekalian menjaga rumah ini selama aku tidak ada,” jelas Andin sembari mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang baru saja ia tarik.
“Apa? Jadi selama ini kamu tinggal sendirian? Di rumah sebesar ini?” Suara Reza menggelegar hingga nyaris meledakkan gendang telinga wanita yang menatapnya heran.
“Kamu kenapa kaget gitu, Bee? Aku sudah biasa.”
Wanita itu mengalihkan perhatiannya pada piring kosong milik Reza kemudian menarik benda itu untuk diisi nasi dan beberapa lauk di atasnya.
“Biasa kamu bilang?" Reza memindahkan tubuhnya dan duduk di samping Andin. "Ini bahaya, Sayang. Kalau ada orang asing datang dan ingin berniat buruk padamu, bagaimana?”
Decakan kesal menguar di udara. Sungguh sangat berlebihan sekali. “Lingkungan disini sangat aman, Bee. Terproteksi selama dua puluh empat jam. Dan kamu bisa lihat sendiri, 'kan? Hampir tiga tahun aku disini, semuanya baik-baik saja."
“Tapi tetap saja aku tidak akan tenang, Sayang," lirih Reza dengan menggenggam tangan Andin kemudian mengecupnya.
"Jangan khawatir, Bee." Wanita itu menarik tangannya dan ganti mengusap wajah yang dipenuhi oleh rasa khawatir itu. "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula, papi dan mami juga sering kemari."
"Bagaimana kabar mereka? Ah ... Pasti mereka sangat kecewa padaku karena pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan sedikitpun?" Tiba-tiba rasa bersalah kembali mencuat di dada kala mengingat betapa bodoh dirinya di masa lalu.
"Alhamdulillah, mereka baik, Bee," kata Andin meyakinkan. "Mm ... Bagaimana kalau pekan depan, giliran kamu yang ikut aku ke Jakarta? Sekaligus merayakan ulang tahun Ammar."
"Ammar? Siapa itu?" tanya Reza menatap bingung pada wanita yang lekas meraih ponselnya kemudian membuka aplikasi penyimpanan poto di sana.
"Nah, ini." Andin menunjukkan sebuah poto pria cilik berpipi chubby dengan rambut hitam lebat di hadapan Reza. "Dia ini adik Aleysia, Bee."
__ADS_1
"Ini anak kedua Adrian?"
Andin mengangguk.
"Oh iya, aku baru ingat sekarang. Terakhir kali bertemu, Rissa memang sedang hamil, ‘kan?”
"Iya, dia lucu dan menggemaskan, bukan?"
“Tapi tantenya lebih dari itu."
Sebuah kalimat yang terdengar ambigu, membuat Andin segera menolehkan kepalanya ke samping. Karena posisi wajahnya sangat dekat, hal itu mampu dimanfaatkan Reza sebaik mungkin untuk mereguk manis dan lembut dari benda kenyal yang ada di hadapannya.
"Bee!" pekik Andin karena terkejut seraya mendorong tubuh Reza. Namun tak sampai membuat pemiliknya terjatuh. “Jangan begini! Di sini hanya ada kita berdua, tidak baik! Sana sana, duduk disana!"
"Yaelah, nyicip doang dikit. Morning kiss, Yank."
"Nggak ada morning kiss morning kissan. Cepat duduk sana!"
"Pelit!"
Dengan langkah lesu dan bibir yang manyun, Reza kembali ke mendudukkan diri di tempat semula.
"Kita ini belum menikah! Dan seharusnya, aku juga tidak boleh menerima tamu laki-laki dalam keadaan sendirian seperti ini. Tapi karena aku tidak tega melihatmu kelaparan. Ya sudah, apa boleh buat."
"Oh gitu. Oke! Kalau sudah sampai di desa aku akan—." Reza segera menutup mulutnya, khawatir semua rencana yang sudah dipersiapkannya akan gagal.
"Akan apa?"
***
Lalu lintas di pagi ini terlihat cukup lengang. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, mobil yang melaju dengan kecepatan rata-rata itu akan tiba di tempat tujuan lebih cepat dari biasanya. Selama perjalanan, Reza terus saja melemparkan candaannya pada wanita yang sedari tadi tak berhenti tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Senang, deh. Akhirnya aku bisa melihat tawamu lagi, Sayang. Satu dari semua hal yang kurindu darimu, kini kembali."
Andin mengulum senyum dengan wajah bersemu merah. "Fokus nyetirnya, Bee. Bahaya!”
"Iya, ini juga lagi fokus, kok," sahut Reza kemudian mengalihkan satu tangannya menyentuh sebuah tombol pencarian frekuensi dari audio mobil.
"Bee, lagu favorit kita!" seru Andin ketika sebuah lagu milik MLTR berjudul I'm gonna be arround mengalun merdu memenuhi suasana di mobil.
"Eh iya."
Lirih-lirih kecil mulai terdengar dari bibir keduanya ketika mengikuti lirik lagu tersebut. Sampai akhirnya, hawa sejuk yang masuk melalui celah jendela mobil menjadi tanda bahwa mobil kini sudah berada di kawasan pedesaan.
"Kamu betah tinggal di sini, Bee?" Iris cokelat yang tersembunyi di balik kelopak indah itu tak lepas memandang hamparan hijau yang berada di sisi kanan dan kiri.
"Betah," jawab Reza singkat. "Mulanya memang terasa berat ketika aku baru saja datang kembali. Tanpa kamu hari-hariku suram. Tapi aku selalu berusaha menguatkan diri, bahwa hidup harus terus berjalan."
__ADS_1
Mendengar itu, wajah Andin berubah sendu. Membuat Reza lantas menarik tangan wanita itu dan menautkan jemarinya di sana. "Jangan merasa bersalah, Sayang. Aku ... akulah yang bodoh."
"Aku tidak merasa seperti itu, Bee. Aku hanya—."
"Kita sudah sampai, Yank."
Andin mengalihkan perhatiannya pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di teras rumah. Senyum ramahnya menjadi penyambut sepasang kekasih yang saja keluar dari mobil.
"Andin!" Hesti menghambur ke pelukan Andin. "Ibu kangen banget sama kamu, Nak."
"Andin juga, Bu."
Campuran rasa haru dan juga bahagia menyatu dalam benak dua wanita beda generasi tersebut.
"Bu, jangan erat-erat meluknya," ujar Reza memperingati ibunya agar merenggangkan sedikit pelukannya. "Nanti dia kesakitan, loh."
"Ah iya, maaf maaf." Hesti mengurai pelukannya.
"Nggak apa, Bu."
"Bapak di mana, Bu?" Reza menyapukan pandangannya menatap sekitar.
"Itu bapakmu." Tunjuk Hesti pada pengendara motor sport yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nak Andin!" Buru-buru Ahmad turun dari motor dan menghampiri Andin yang juga sedang menghampirinya. "Apa kabarmu, Nak?"
"Alhamdulillah baik, Pak," sahut Andin.
"Ayo masuk-masuk."
Secara bersamaan, Andin, Ahmad dan Hesti mendudukkan diri di sofa. Sementara Reza, pergi ke kamar Rania untuk meletakkan tas Andin yang berisi pakaian di sana kemudian kembali lagi ke ruang tamu.
Sesaat setelah berbincang dan mengistirahatkan sejenak tubuh dari rasa lelah yang mendera. Tepat pukul empat sore, Reza berencana mengajak Andin pergi ke suatu tempat yang telah ia janjikan sebelumnya.
"Ayo Sayang?"
"Eh, pada mau kemana?" tanya Hesti dengan dahi berkerut bingung.
"Andin baru saja datang, loh. Masih capek dia," timpal Ahmad.
"Mau kemana sih, Bee?"
"Ke suatu tempat dimana akan menjadi sejarah bagi kita."
***
Taqobalallahu Minna Wa Minkum. Shiyamana wa Shiyamakum. Atas nama pribadi. Otor mohon maaf lahir dan bathin. Dan juga otor minta maaf bila ada janji yang belum bisa terpenuhi. Itu murni kesalahan dari otor yang memiliki kegiatan yang rampungnya sungguh sangat jauh dari ekpektasi.
__ADS_1
Dengan penuh harap. Tetaplah menjadi pembaca setia novel ini hingga tamat. Terima kasih.
Love and Kiss