Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Meyakinkanmu


__ADS_3

"Lalu, apa tujuanmu datang kemari?"


"Simple!" Reza memiringkan tubuhnya menghadap Andin. Wajahnya tegas dan serius. "Aku ingin memperjuangkanmu."


Hening


Keduanya saling melayangkan pandang dengan sorot mata yang sama sebelum kemudian Andin memutus kontak mata tesebut.


Reza menggeser tubuhnya lebih dekat pada wanita yang masih bergeming itu. "Aku ingin memperjuangkanmu, Andin. Maukah kamu menikah denganku?"


Bukannya senang, Andin tampak murka. Ia mendekati balkon dan membuka pintunya selebar mungkin. “Sebaiknya kamu pergi jika hanya itu yang kamu inginkan.”


“Kenapa kamu mengusirku? Aku bahkan belum selesai bicara.” Reza beranjak dari duduknya. Saat ia hendak meraih tangan Andin, dengan cepat wanita itu menepisnya.


“Karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Za! Semuanya sudah jelas!" Nada suara Andin terdengar tegas di telinga Reza. Namun tak sedikitpun menggoyahkan tujuan awal pria itu untuk datang kemari.


"Bila aku pergi. Akan sulit bagiku untuk bertemu denganmu lagi."


“Bagus! Karena itu yang aku inginkan.”


Reza terdiam mendengar jawaban itu. Apa sesulit ini meyakinkan Andin? Apa semengerikan ini takdir cintanya? Disaat ia sudah mengetahui perasaan Andin yang sebenarnya, wanita itu justru menghindar darinya. Sungguh lucu!


“Apa yang kamu tunggu?” sentak Andin pelan tanpa mengalihkan perhatiannya menatap guyuran hujan yang semakin deras membasahi paving blok komplek perumahannya. “Pergilah ...."


"Aku tidak akan pergi, sampai aku bisa meyakinkanmu kalau aku mencintaimu."


Andin menggelengkan kepala. Bingung bagaimana caranya harus bersikap di hadapan pria keras kepala itu. "Selain tidak waras. Kamu juga pria kejam, Reza. Apa kamu tega melukai hati banyak orang hanya demi keinginanmu itu?”


“Anggap saja aku seperti itu. Tapi yang aku cintai hanya kamu. Dan aku yakin kamu juga memiliki rasa yang sama. Untuk itu, mari kita sempurnakan kisah kita.”

__ADS_1


“Jangan terlalu percaya diri, Reza. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak pernah mencintaimu?”


Reza menyeringai. “Aku tidak percaya. Bila kamu tidak mencintaiku. Untuk apa kamu pindah kemari dan mencari keberadaanku selama ini?”


Mulut Andin ternganga diiringi dengan netra yang membesar. Bagaimana bisa pria itu dengan mudah mengetahuinya? Padahal hari ini adalah pertemuan perdananya setelah bertahun-tahun. Tunggu! Hanya ada satu orang yang mampu membeberkan semua itu pada Reza. Dan orang itu adalah Gita.


Ya, usai pertemuannya dengan Andin di restoran. Reza terlihat gelisah. Begitu banyak pertanyaan yang berkeliaran di benaknya. Salah satunya mengenai keberadaan Andin di kota ini. Sepengetahuannya, wanita itu tidak akan kemana-mana dan hanya fokus membantu Adrian mengembangkan kantor pusat yang ada di Jakarta. Lalu, akankah ia menyerah setelah mengetahui perasaan Andin yang sebenarnya dari Angga? Tidak. Tentu saja tidak.


Sebab itulah tanpa ragu dan membuang seluruh gengsinya, ia menghubungi Gita dan meminta waktu pada wanita itu untuk bertemu dengannya di suatu tempat sesaat setelah ia mengantar Farah menuju hotel tempat mereka menginap.


Mulanya, Gita sempat menolak. Khawatir ini akan membuat Andin murka bila mengetahui pertemuannya dengan Reza apalagi ini menyangkut privacynya. Namun bukan Reza namanya bila harus menyerah begitu saja.


Dengan segala bujuk dan rayuan mautnya, ia berhasil meyakinkan wanita itu kalau ini tidak akan seperti ekspektasinya. Hingga akhirnya, mau tak mau Gita memenuhi ajakan itu. Deal. Kesepakatan terjadi.


Setelah bertemu. Reza langsung mencecar wanita itu dengan pertanyaannya. Ia tertegun setelah mendengar fakta demi fakta yang dijelaskan oleh Gita. Seketika hatinya mencelos. Rasa marah, kecewa, putus asa langsung menghantam dadanya saat mengetahui Andin mengerahkan beberapa anak buahnya hanya untuk mencari keberadaannya selama bertahun-tahun. Benar apa kata Angga, ia yang bodoh. Bahkan terlalu bodoh untuk melihat situasi yang sebenarnya.


“Kenapa? Terkejut?” tanya Reza.


“Maafkan aku yang sudah terbawa emosi," lirih Reza. "Bila saja aku tidak terbakar cemburu melihat kedekatanmu bersama Angga di pesta malam itu maupun di cafe, mungkin saat ini akan beda ceritanya.”


Sejenak, Andin memejamkan mata membuat cairan bening yang sudah menganak sungai dibalik pelupuk mata indah itu, jatuh membasahi pipinya. "Seharusnya kamu bertanya. Bukan malah pergi meninggalkanku dan menjadikanku orang bodoh selama bertahun-tahun."


Reza mengangguk membenarkan kalimat itu. Tanpa ragu, kedua tangan kokohnya menyentuh pipi Andin dan mendongakkannya agar menatap mata sendunya. "Apa yang harus aku lakukan agar aku mendapatkan maafmu?"


"Sudahi perasaanmu padaku. Aku tidak mau terlibat terlalu jauh dalam hubungan ini," cetus Andin. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari pria yang terkejut mendengar permintaannya. Walau hati kecilnya menolak, ia tak mau melukai hati siapapun. Karena memang semuanya jelas-jelas sudah terlambat. "Aku tidak mau kamu melanggar janjimu pada orang tuamu. Jangan sakiti hati mereka dengan keputusanmu ini. Buktikan kalau kamu itu pria sejati, Reza."


"Nggak! Nggak bisa," tolak Reza sembari menggelengkan kepalanya cepat. "Kamu nggak bisa minta aku untuk menyudahi perasaanku padamu." Suara Reza terdengar parau. Pandangannya mengabur. Hatinya sakit mendengar permintaan yang tak mungkin bisa ia kabulkan. Ia menarik langkahnya mendekat pada Andin dan langsung memeluk wanita itu dari belakang. Tentu saja membuat si pemilik tubuh itu berontak namun tak membuat kungkungan itu serta merta terlepas.


"Apa tidak ada harapan untuk kita?” bisiknya pelan.

__ADS_1


Andin tak menjawab namun isakannya semakin kencang seiiring dengan hujan yang turun semakin deras membasahi bumi. Reza segera membalik tubuh wanita itu dan menangkup wajahnya kembali. Dua pasang sorot mata yang sama-sama dipenuhi cairan bening itu saling mengunci untuk beberapa saat hingga bibir Andin yang bergetar mengalihkan perhatian Reza.


Perlahan tapi pasti, tangan Reza mulai turun di ceruk leher Andin. Dengan memupuk keberanian, tiba-tiba ia membenamkan ciuman di sana hingga membuat Andin membeliakkan matanya karena terkesiap.


Merasa tak ada penolakan, Reza semakin memperdalam ciumannya. Walau ini adalah pengalaman pertamanya, ia mampu melakukannya dengan sebaik mungkin membuat Andin seketika terbuai dan memejamkan matanya.


Reza tersenyum saat merasakan Andin mulai membalas ciuman itu dengan susah payah. Entah dorongan apa yang ada dipikiran Andin saat ini. Mulutnya mengatakan tidak namun tubuhnya mengatakan sebaliknya.


Napas mereka semakin memburu dan menuntut. Saling bertukar saliva dan saling menjelajahi rongga mulut masing-masing seolah-olah sedang mengabsen deretan gigi yang tersusun rapi di sana.


"Besok aku akan pulang. Aku akan mengatakan pada orang tuaku untuk membatalkan rencana pernikahanku dengan Farah," ujarnya setelah melepaskan ciumannya dan mengusap lembut bibir Andin.


“Jangan ... kamu nggak bisa melakukan itu, Reza. Sudah cukup kamu membuatku bodoh selama ini. Apa kamu mau membuatku terlihat kejam dihadapan Farah yang akan menghancurkan impiannya untuk menikah denganmu?"


"Harus berapa kali aku menyakinkanmu kalau aku hanya mencintaimu? Sementara Farah, aku memang bersalah padanya. Aku mengiyakan permintaan orang tuaku ditengah keputusasaanku dalam mencintaimu."


"Kamu kejam, Reza. Kamu sudah membuatnya sebagai pelarian dari kegagalan cintamu."


Reza terdiam tak berani membantah karena pernyataan Andin sangat benar adanya. Andai waktu bisa diputar kembali. Mungkin ia tak akan sekejam ini, menyakiti wanita sebaik Farah.


"Baiklah, kalau kamu memang mencintaiku ...." Sejenak menjeda untuk menetralkan sesuatu yang menghimpit dadanya. "Menikahlah dengan Farah. Belajarlah untuk mencintainya seperti kamu mencintaiku."


"Aku nggak bisa melakukan hal itu, Andin!" Reza mengacak rambutnya frustrasi kemudian berbalik dan menggenggam sisi pagar pembatas balkon dengan sangat erat, menumpahkan kekesalannya di sana.


"Bisa! Kamu harus bisa."


Reza menatap lekat manik mata Andin. “Tanyakan pada hatimu. Jika benar itu aku. Jangan pernah berpikir untuk menghentikanku." Kemudian melangkah meloncati pagar balkon dan menyisiri kanopi untuk turun ke bawah. Meninggalkan Andin yang kembali terisak.


***

__ADS_1


Otor dari kemarin bingung. Mau up enggak. Ini bulan puasa. Batal enggak puasanya kalo baca part ini... Namun setelah menakar, menimbang dan menghitung. Sudahlah, dari pada otor dibilang malas up. hehehe.


Maaf ya.


__ADS_2