Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Patah Hati?


__ADS_3

“Kamu belum menjawab pertanyaannku,” ucap Andin. Saat ini ia dan Reza sudah duduk di bangku pesawat sejak beberapa menit yang lalu.


“Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?” tanya Reza ambigu. Ia menatap bingung pada Andin.


Andin berdecak kesal pada pria di sampingnya itu. “Kenapa kamu bisa ada disana? Kamu mengikutiku? Bukankah seharusnya kamu menyusul orang tuamu di kampung?” Secara bertubi-tubi Andin melontarkan pertanyaannya pada Reza.


“Tidak perlu dibahas. Setidaknya aku sudah ada disini untukmu,” jawab Reza datar.


Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada kumpulan mega berwarna putih yang menggantung di langit melalui kaca jendela pesawat.


Andin terdiam dengan mata masih belum berpindah dari wajah Reza. Ia mengguncang lengan Reza.


“Tapi aku masih penasaran, bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada disana?” Andin kembali mempertanyakan. Merasa tidak puas dengan jawaban Reza barusan.


Reza memejamkan matanya sejenak diikuti dengan hembusan napasnya yang berat. Kemudian ia menolehkan kepalanya menghadap ke samping kiri. Entah kenapa, Andin terlihat sangat menggemaskan bila sedang merengek padanya.


“Aku tahu dari Santi.” Reza menggelengkan kepalanya cepat. “Ah, tidak. Lebih tepatnya aku tahu saat aku akan menanyakan keberadaanmu padanya kemarin sore. Karena aku ingin mengantarkanmu pulang, mengingat mobilmu masih di bengkel. Lalu, tanpa sengaja aku melihat dia memesan tiket pesawat atas namamu di sebuah situs online di komputernya. Awalnya aku abai dan mengira kamu akan menemui klien di luar kota. Tapi aku berpikir kembali karena setahuku bila kamu pergi keluar kota, kamu tidak pernah pergi tanpa Santi bila berhubungan dengan pekerjaan. Sementara dia hanya memesan satu tiket. Dan yang lebih membuatku penasaran adalah, kamu membeli jam tangan pria. Tidak mungkin, 'kan, kamu membeli barang seperti itu untuk papi atau abangmu,"


"Rupanya niatmu keluar kota hanya untuk menemui pria brengsek itu," sindir Reza pelan seraya tersenyum samar nyaris tak terlihat oleh manik mata sendu Andin. "Aku berteman denganmu selama dua tahun. Dan selama itu pula, kamu menyembunyikan hubunganmu dengannya padaku."


Reza terus saja mengomel membuat Andin hanya diam tak berani membantah satu kata pun.


"Kenapa kamu diam? Sudah menyadari letak kesalahanmu dimana?"


"Aku menyembunyikan itu karena permintaannya."


"Dasar bodoh, mau maunya kamu mengikuti permainannya. Kamu lihatkan, sebrengsek apa dia?"


"Iya, iya aku salah. Maaf ya, aku membohongimu selama ini." Andin mengelus wajah Reza.


Reza mengangguk, "iya dimaafkan. Untung aku mengikutimu, bila tidak ... entah apa yang akan terjadi padamu."


Andin menarik tangannya. "Apa kamu berpikir aku akan bunuh diri hanya karena putus cinta?"


"Mungkin." Reza mengangkat kedua bahunya acuh. "Semua orang bisa saja nekat untuk urusan yang satu itu."


Andin mendengus kesal. "Berhentilah membuat kesimpulan yang tidak-tidak. Aku tidak segila itu," bantah Andin. Ia menyandarkan tubuhnya sembari melipat tangannya di depan dadanya.


Reza tertawa kecil. "Maaf, aku hanya bercanda."


"Nggak lucu!"


"Sandarkan kepalamu disini." Reza merangkul dan menyandarkan kepala Andin tepat di pundaknya. "Perjalanan kita masih panjang, kamu bisa tidur sebentar."


***


Reza langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur lantai berukuran standart miliknya dengan posisi menelungkup. Rasa kantuk dan lelah yang mendera membuatnya tak sanggup untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


"Hari ini sangat melelahkan sekali," keluhnya pelan.


Bagaimana tidak, setelah menempuh setengah perjalanan menuju kampung halamannya di Sukabumi. Reza memutar arah kendaraannya menuju bandara untuk menyusul Andin ke Semarang. Dengan perasaan bersalah ia menelepon orangtuanya, meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya untuk menghadiri pernikahan teman sekolahnya dulu. Dan beruntungnya ia dan Andin menggunakan pesawat yang sama walau nomor kursi Reza jauh dari Andin. Namun begitu, ia berhasil menguntit Andin hingga kembali lagi ke bandara untuk pulang ke Jakarta.

__ADS_1


Hampir dua jam Reza masuk ke alam mimpi, suara berisik yang berasal dari ponselnya mengharuskannya kembali ke alam nyata. Ia mengerjapkan matanya bekali-kali untuk menyesuaikan penglihatannya, namun nihil. Sepertinya kelopak matanya enggan terbuka.


"Siapa yang menelepon malam-malam begini, sih!" kesal Reza. Ia memiringkan tubuhnya untuk menjangkau ponselnya yang terselip di saku celananya. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, ia langsung menempelkan benda tersebut ke daun telinganya sesaat setelah ia menggeser ikon hijau.


"Hem ... siapa?" tanya Reza dengan mata masih terpejam.


"Reza, ini aku."


Suara wanita terdengar samar di telinga Reza efek kantuk berat yang dirasakannya saat ini.


"Aku siapa? yang jelas kalau bicara!"


"Apa kamu lupa dengan suaraku? Ini aku! Andin!"


Begitu mendengar nama Andin, Reza langsung membuka mata dan bangkit dari posisinya. Kemudian menyandarkan tubuhnya ke dinding tembok berlapiskan wallpaper bercorak manly tersebut.


"Ada apa, Ndin? Apa ada sesuatu yang tertinggal di mobilku?" tanya Reza memastikan dugaannya karena setelah mereka tiba di bandara, Reza langsung mengantarkan Andin pulang terlebih dahulu menggunakan mobilnya yang terparkir di bandara. Sebuah kebiasaan baru bagi Reza bila ia pergi ke luar kota menggunakan pesawat, Reza selalu menginapkan mobilnya di parkiran bandara.


"Tidak ada."


"Lalu?"


"Ehm ... ehm ...."


"Katakan atau aku matikan teleponnya sekarang!"


Ancaman Reza membuat Andin gelagapan dan langsung mengatakan maksudnya dan tujuannya menelepon laki-laki tersebut.


"Hah?"


"Jangan berpikiran kotor. Maksudku, aku belum mengantuk. Bisakah kamu kerumahku lagi dan menjemputku. Kita pergi ke tempat biasa."


"Kenapa tidak dari tadi sebelum aku mengantarmu pulang?" Reza menarik ponselnya sebentar untuk melihat jam disana. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 21.42.


"Aku maunya sekarang bukan tadi. Tapi kalau tidak mau ya, tidak apa. Aku bisa pergi sendiri."


"Tunggu! Aku akan menjemputmu."


Seketika rasa kantuk dan lelahnya hilang begitu saja. Bila menyangkut Andin, Reza sangat semangat. Secepat kilat ia membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Setelahnya, ia memacu mobil keluaran jepang berwarna biru miliknya itu menuju kediaman sang pujaan hati. Hanya berani memuja. Tak berani memiliki.


***


Jejeran gerobak yang berada di pinggir jalan menjadi tujuan mereka malam ini. Tempat ini adalah tempat favorit Andin dan Reza karena selain banyak menawarkan pilihan menu, rasanya pun tak kalah enak dengan restoran.


"Katanya mau makan itu." Reza menunjuk semangkok mie ayam yang sudah cukup lama diabaikan pemiliknya. "Kenapa dari tadi kamu hanya memandangnya saja?"


Andin masih terdiam mengabaikan celotehan Reza.


"Mie itu tidak akan pernah masuk ke dalam mulutmu kecuali kamu yang memasukkannya sendiri menggunakan sendok atau garpu itu."


"Apa perlu aku suapi?" Reza menarik mangkuk Andin namun Andin menepisnya.

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa memakannya sendiri."


"Sebentar."


Reza menarik kembali mangkuk itu. Ia mulai memilah-milah batang sawi lalu memindahkannya ke dalam mangkuk mie ayam miliknya dan membiarkan daun sawinya tetap berada di mangkuk Andin.


"Bawang gorengnya juga, Za."


"Iya aku tahu. Seharusnya kamu bilang pada pedagangnya untuk tidak memberimu dua hal yang paling tidak kamu suka," ucap Reza sambil terus mengobrak abrik mie ayam Andin.


"Aku lupa," jawab Andin polos.


"Kamu seperti orang mengidam saja, jam segini keluyuran cuma buat makan beginian," kata Reza, "nih." Reza mendorong mangkok tersebut.


"Sembarangan! Kamu, kan, tahu kebiasaannku. Jam segini aku mudah lapar."


Keduanya pun mulai menikmati makanannya masing-masing.


"Reza."


"Hem," sahut Reza dengan mie masih menjuntai di mulutnya.


"Apa kamu pernah merasakan yang namanya patah hati?"


Pertanyaan Andin membuat Reza susah payah menelan makannya. Ia langsung menyedot es tehnya untuk membantu mendorong sisa-sisa makanan yang ada di mulutnya agar masuk ke dalam kerongkongan.


"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu? Apa sekarang kamu sedang merasakannya?"


"Entahlah. Aku hanya bingung dengan perasaanku."


Reza melepaskan sendok dan garpu yang sedari tadi melekat di kedua telapak tangannya. Ia menyatukan jemarinya dengan siku menumpu di atas meja.


"Patah hati ... Semua orang mungkin pernah merasakannya bila menyangkut kegagalan cinta, tak terkecuali aku. Tapi aku tak membiarkan perasaan itu berlarut-larut. Toh, apa untungnya? Seperti tidak ada kerjaan saja."


"Itu karena kamu sudah terbiasa, lain halnya dengan diriku yang baru saja merasakannya."


"Oh ... jadi saat ini kamu sedang patah hati?"


Andin terdiam, sementara tangannya sibuk mengaduk-aduk es tehnya dengan sedotan. Hingga terdengar suara dentingan es batu yang berbenturan dengan gelas kaca.


"Sudahlah, untuk apa kamu memikirkan pria brengsek itu. Pasti saat ini dia sedang bersenang-senang di atas penderitaanmu."


"Bukan begitu, hanya saja saat ini aku sedang memikirkan diriku. Bisa-bisanya aku begini. Satu tahun aku dibuat percaya padanya."


"Itu karena kamu, B-O-D-O-H." Reza mengeja satu persatu huruf untuk mengejek Andin. "Alias tidak pintar membaca situasi," ejek Reza.


Andin melirik sinis pada pria yang duduk di hadapannya. Sesaat kemudian ia menyapu pandangannya menatap ke sekeliling. Mengingat malam ini adalah malam minggu wajar bila keadaan di sekitar mereka masih tampak ramai. "Jika saja saat ini kita tidak sedang berada tengah-tengah orang banyak. Mungkin aku sudah menamparmu, Za!"


Reza terkekeh geli, "sudah lama aku tidak melihatmu marah seperti ini, hahaha."


"Nih, rasakan!" Andin menendang tepat di tulang kering Reza yang mana membuat pria tersebut meringis kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2