Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Memohon Dengan Sangat


__ADS_3

“Papi!”


Teriakan menggema memenuhi ruangan. Belum hilang rasa terkejut mereka mengenai kehadiran Reza. Kini bertambah lagi dengan sambutan tak biasa dari Rudi hingga membuat pria tersebut langsung tersungkur ke lantai dengan sudut bibir mengeluarkan cairan segar berwarna merah pekat. Serangan itu terlalu mendadak tanpa bisa dihindari olehnya.


Sebelum mendekati Rudi. Adrian menyempatkan diri melirik istrinya yang sedang memeluk tubuh kedua anaknya untuk menghindari pandangan mereka agar tak menyaksikan adegan itu lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga, ini tidak baik bagi perkembangan psikologis mereka.


“Sayang, bawa anak-anak pergi ke kamar. Dan pastikan mereka tidak akan keluar sebelum masalah ini selesai.”


“Iya Mas.” Rissa bergegas menggendong Ammar di tangan kirinya dan menggenggam tangan Aleysia di tangan kanannya kemudian beranjak dari sana. Setelah memastikan istri dan anaknya lenyap dari pandangan, barulah ia mendekati papinya.


“Apa yang Papi lakukan?” Suara Andin lantang. Ia membungkuk, mencoba membantu Reza untuk berdiri. “Kenapa Papi sampai memukulnya?”


“Papi hanya memberikan apa yang pantas dia dapatkan!”


“Apa maksud, Papi?”


Rudi tak menjawab, ia justru maju selangkah dan hendak kembali melayangkan pukulan. Namun terhenti kala Adrian dengan cepat mencekal tubuh pria paruh baya tersebut.


“Hentikan, Papi! Kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa adanya kekerasan sedikitpun.”


“Benar apa kata Iyan, Pi,” sela Mira memperingatkan suaminya. “Ayo kita duduk dulu. Kita bicara dengan hati dan pikiran tenang.”


“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mi!” Rudi menatap dingin pria yang kini sudah berdiri tepat di samping putrinya. “Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum saya kehilangan kesabaran!”


“Papi!” sergah Andin, tak terima dengan kalimat papinya. Sebenarnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sebab, sejak Rudi berniat mengenalkan beberapa pria padanya, ia selalu saja menolak mentah-mentah dan berkeyakinan bahwa suatu hari nanti akan dipertemukan kembali pada Reza. Mulanya Rudi masih bisa menerima alasan putrinya itu. Namun ketika menginjak tahun ketiga kepergian Reza, pria paruh baya itu terlihat jengah dan khawatir. Terlebih lagi mengingat usia Andin yang sudah memasuki kepala tiga dan sangat pantas untuk membina hubungan rumah tangga.


“Masuk ke kamarmu, Andin!”


“Nggak!”


“Andin!”


Rudi menaikkan intonasi suaranya membuat wanita itu sedikit tercengang. Tiga puluh tahun dalam hidupnya, baru kali ini ia mendengar bentakan sang papi yang begitu memekakkan telinga. Andin masih bergeming. Sampai akhirnya ia merasakan sebuah usapan lembut mendarat di pergelangan tangannya.


“Turuti perintah papimu, Sayang."


Sebuah sebutan yang baru saja terdengar. Sukses menautkan kedua alis Mira, Rudi dan Adrian disertai tanda tanya besar di kepala mereka.


“Apa kamu bilang? Sayang? Ada hubungan apa sebenarnya diantara kalian?” Manik mata Rudi memindai wajah Andin dan Reza secara bergantian seraya menunggu jawaban.


“Saya dan Andin menjalin hubungan, Om. Dan maksud kedatangan saya kemari, ingin meminta restu untuk menikahinya," ujar Reza dengan penuh percaya diri yang sudah membumbung tinggi.


Rudi berdecih. “Kamu pikir, setelah apa yang kamu lakukan padanya. Saya akan dengan mudah memberikan restu? Tidak! Tidak sama sekali!”


“Papi!”


“Masuk ke kamarmu, Andin!” Sekali lagi Rudi memberi perintah. Hingga mau tak mau wanita itu benar-benar pergi dari sana sambil menangis.

__ADS_1


"Om—."


"Apa yang kamu tunggu? Pergi!"


"Papi, dengarkan penjelasannya dulu! Ayo kita duduk dulu." Mira menarik tangan Rudi, memaksa suaminya itu untuk duduk kembali di tempat semula.


Sofa minimalis berbahan polyester berwarna abu-abu itu terasa terguncang saat Mira, Rudi, Reza mendaratkan tubuh disana. Sementara Adrian, pergi mengambil kassa dan salep penghilang memar di dalam kotak penyediaan obat yang tergantung di sudut dapur kemudian kembali lagi ke sofa.


"Obati lukamu dulu, Za."


"Terima kasih." Reza meraih dua benda yang diberikan Adrian padanya.


"Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan, Nak." Mira membuka suara sesaat setelah keheningan tercipta cukup lama diantara mereka. "Kami siap mendengarkan."


Reza mengangguk segan. "Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Tante. Saya datang kemari ingin melamar Andin menjadi istri saya."


“Dasar pria tidak tahu diri!" hardik Rudi dengan penuh penekanan dalam kalimatnya. "Setelah kamu membuatnya terpuruk selama bertahun-tahun. Enteng sekali kamu menawarkan sebuah pernikahan padanya. Apa kamu masih waras? Hah?"


"Papi! Tenanglah! Ingat tekanan darah, Papi." Mira menepuk pundak suaminya sembari memberi ketenangan.


"Apa kamu tahu bagaimana tersiksanya kami melihat Andin hampir saja depresi? Bahkan ketika kami ingin membawanya ke psikiater, ia selalu saja menolak.” Pandangan pria tua itu mengembun. Hatinya bergejolak mengingat masa-masa sulit putrinya melewati hari tanpa sosok pria yang sedang menundukkan kepala di hadapannya itu. “Dan lebih tersiksanya lagi, ketika ia memutuskan untuk mengasingkan diri di kota lain. Tanpa kerabat, tanpa teman hanya demi mencari keberadaan pria brengsek sepertimu!” imbuh Rudi lagi. Tangannya mengepal, bila saja Mira tidak menahan gerakannya. Mungkin Reza sudah habis ia cabik-cabik saat itu juga.


Kalimat Rudi bagai sebuah sembilu yang melesat tajam mengenai tepat ke dasar hatinya. Begitu besar dosa yang telah ia lakukan pada wanita yang ia cintai hingga tanpa sadar banyak hati tersakiti karena ulahnya tersebut.


“Tante tahu alasanmu pergi karena ingin berdikari. Tapi apakah sulit bagimu untuk tetap menjaga hubungan baik dengan Andin? Ingat, kalian ini hidup di zaman modern. Semua mudah di akses dengan sekali sentuh. Bukan justru menghilang bak di telan bumi,” ucap Mira.


“Apa maksudmu, Reza?” Setelah sekian lama menjadi pendengar. Kini gantian Adrian yang membuka suara. “Apa yang membuatmu menjadi cemburu padanya?”


Ia memang tahu bahwa Reza mencintai adiknya. Tapi yang ia tahu, selama ini adiknya itu tidak pernah dekat pada pria manapun semenjak kejadian penculikan tersebut kecuali … Reza. Lalu bagaimana bisa pria itu cemburu?


Sejenak, Reza menghembuskan napasnya di udara. “Itu karena ….” Ia mulai menceritakan secara detail apa yang menjadi sebab kepergiannya. Mulai dari celetukan Rudi yang ingin menjodohkan Andin hingga kejadian di kafe yang mana saat itu, Angga dan Andin nampak begitu mesra. Ia punya mulut, seharusnya bertanya bukan malah menarik kesimpulan absurd. Ia juga punya telinga yang masih sehat, seharunya ia mendengar bukan malah pergi.


Ketiga orang itu hanya melongo mendengarnya. Antara ingin marah, kesal dan juga tertawa bercampur menjadi satu. Menertawakan kebodohan Reza.


Sementara disisi lain. Andin menyandarkan tubuhnya di heardboard sembari menelusupkan wajahnya di kedua lutut yang ditekuk. Ia menangis, meluapkan semua rasa yang menumpuk di dadanya.


Wanita itu merasa berada di persimpangan jalan yang begitu membingungkan. Antara berbakti pada orang tua atau mempertahankan cinta yang baru saja ia dapatkan. Beginikah cara takdir kembali mempermainkannya?


Suara decitan pintu, seketika menghentikan tangisannya. Ia mendongak dan menatap wanita yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kak Rissa ...," panggil Andin seraya menghapus jejak-jejak air matanya. Ia beringsut, menjuntaikan kakinya ke bawah kemudian mempersilakan kakak iparnya itu duduk di sisi kirinya.


"Menangislah bila itu mampu membuatmu merasa lebih baik," ujar Rissa. Ia tahu benar apa yang sedang dirasakan oleh Andin saat ini.


"Kak ...." Andin menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Rissa. Ia kembali terisak. "Kenapa harus seperti ini, Kak? Kenapa papi membencinya? Kenapa, Kak? Bukankah dulu papi sangat mendukungku bila menjalin hubungan dengannya?"


"Tidak ada yang bisa menjamin hati seseorang, begitu juga dengan papi. Dan yang harus kamu tahu, Andin. Papi hanya kecewa padanya bukan membenci."

__ADS_1


Andin menarik diri, menatap Rissa. "Apa bedanya, Kak? Apa bedanya kalau papi akan tetap pada keputusannya."


“Itu karena papi punya alasan sendiri.”


“Papi egois!”


“Andin … mengertilah posisi papi saat ini.”


“Papi yang seharusnya mengerti posisiku! Bukan aku!” seru Andin tak mau kalah.


“Tapi—.” Kalimat Risa terpangkas ketika melihat Andin beranjak dari duduknya, hendak pergi keluar kamar. “Andin, kamu mau kemana?”


Andin menghentikan langkahnya yang nyaris mendekati pintu. “Aku harus kembali menemui papi, Kak. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Reza. Aku sayang dia, Kak! Aku cinta dia!” Tanpa menunggu jawaban, wanita yang berderai air mata itu melanjutkan lagi langkahnya.


“Bee!”


Panggilan disertai derap langkah kaki mendekat, mengalihkan perhatian semua yang ada di sana menatap ke sumber suara.


“Berhenti di sana, Andin. Atau kamu akan menyesal nantinya,” ancam Rudi seraya menegaskan jari telunjuknya. “Bukankah Papi memintamu untuk masuk ke kamar? Kenapa kembali?”


“Nggak Pi! Andin ingin bersamanya.” Sembari terus melangkah.


“Papi bilang berhenti di sana, Andin! Sejak kapan kamu menjadi pembangkang seperti ini? Hah!”


“Papi! Jangan terlalu keras padanya,” sergah Mira.


Rudi kembali mengalihkan pandangan ke arah Reza dengan tatapan penuh permohonan. “Sekarang pergilah.”


“Jangan usir dia, Pi! Ini bukan sepenuhnya salah dia!” teriak Andin.


“Om, saya mohon dengan sangat. Ijinkan kami bersama. Kami saling mencintai, Om.” Suara Reza terdengar bergetar. Susah payah pria itu menahan cairan bening yang mulai berdesakan di pelupuk matanya agar tidak jatuh. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di dada. "Please."


“Cepat seret dia keluar, Iyan.”


Adrian mengangguk. Sebenarnya ia juga tak tega menuruti perintah itu. Namun bila dipaksakan, keadaan akan semakin tak terkendali.


“Pergilah dulu, Za. Kamu bisa kembali bila keadaannya sudah membaik.”


Reza menahan tubuhnya. “Nggak, Yan. Aku harus tetap di sini. Sampai aku bisa meyakinkan kedua orang tuamu bahwa cintaku tulus untuk Andin.”


"Tidak ada lagi yang perlu diyakinkan. Semuanya sudah jelas."


"Om ...."


“Pendengaranmu masih berfungsi, ‘kan? Saya bilang pergi!” tegas Rudi.


Pada akhirnya Reza mengalah. Dengan berat hati ia berbalik tanpa menghiraukan wanita yang ia cintai sedang memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


“Pergi dan kembalilah dengan membawa mahar yang terbaik untuk putri saya.”


__ADS_2