Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Bertemu Kembali


__ADS_3

Matahari sudah hampir naik ke singgasana. Kicauan burung-burung terdengar bersahutan memenuhi desa. Para petani pun mulai sibuk di ladang mereka masing-masing. Begitu pula dengan pria yang duduk di sebuah ruangan didominasi oleh kaca sebagai sekat.


Bukan bekerja, melainkan sibuk menatapi sebuah poto wanita dilayar ponselnya yang baru saja diunduh dari salah satu sosial media yang diikutinya. Pandangannya meredup, pikirannya kalut. Bagaimana tidak, setelah kepulangannya dari Bandung dua minggu yang lalu bahkan sampai detik ini, ia belum bertemu dengan orang tuanya untuk membicarakan masalah pembatalan pernikahan.


Pasalnya, keduanya kini tengah berada di Jogja menemui sang adik—Rania yang baru saja melahirkan di sana. Padahal rencana pernikahannya hanya sisa satu bulan lagi dari hari yang telah disepakati. Tak etis rasanya bila harus membatalkan tanpa sepengetahuan orang tuanya mengingat sang ibu adalah orang yang paling antusias dalam rencana ini.


“Aku tidak akan menyerah, Sayang. Tunggu aku, akan kujadikan kau satu-satunya milikku.” Ia mendesahkan napasnya sembari melekatkan punggungnya di sandaran kursi.


Cukup lama ia memandangi wajah Andin sembari mengingat-ingat rasa manis dan kenyal dari bibir wanita itu. Sampai suara ketukan di pintu ruangannya mengurai imajinasinya.


“Aa’?” Tanpa dipersilakan. Farah mengangsurkan tubuhnya masuk ke dalam ruangan sesaat setelah ia mengayunkan pintunya ke arah dalam, membuat Reza buru-buru meletakkan ponsel dalam posisi terbalik di atas meja.


“Kenapa?” tanya Reza datar tanpa memandang lawan bicaranya. Tangannya pura-pura sibuk membuka beberapa lembaran berkas yang ada dihadapannya.


“Pak Edwin, calon investor kita sudah menunggu di ruang meeting, A’,” jawab Farah.


“Oh, baiklah. Kamu sudah persiapkan semuanya?”


“Sudah. Ayo kita temui beliau.”


Reza melirik Farah sebentar kemudian mengangguk. Setelah memasukkan ponselnya di dalam saku celana, ia beranjak melewati Farah begitu saja untuk menemui calon investornya. Sedangkan Farah, ia hanya menggelengkan kepala sembari mengikuti langkah kaki Reza menuju ruang meeting. Hal biasa baginya melihat sikap Reza seperti itu semenjak mereka bertunangan.


Kenapa kamu selalu bersikap dingin padaku, A’? Mana Reza yang kukenal dulu? Yang selalu usil dan bertingkah konyol di depanku?


“Selamat pagi, Pak Edwin,” sapa Reza sambil mengulurkan tangan pada pria paruh baya berperawakan pendek dengan perut sedikit membuncit yang duduk disalah satu kursi di balik meja panjang berbentuk oval tersebut.


Pria bernama Edwin itu berdiri diikuti oleh pria muda yang ada di sampingnya kemudian menyambut uluran tangan Reza. “Pagi, Pak Reza. Oh iya, selamat atas keberhasilan Anda telah memenangkan penghargaan yang sangat bergengsi di tahun ini.”


Reza tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Pak. Itu semua berkat kerja keras orang-orang yang ada di belakang saya,” ujarnya merendah. “Mari silakan duduk.”


Setelah mendaratkan tubuh masing-masing dan berbasa-basi sebentar, Farah mulai mempresentasikan beberapa program kerja yang sudah di rencanakan untuk dua semester ke depan. Melihat prospek bisnis yang dijalankan Reza semakin maju pesat, membuat Edwin takjub dan tanpa berpikir panjang ia langsung setuju mengelontorkan dananya ke dalam perusahaan milik pria berparas rupawan itu.


Tak berselang lama, meeting pun selesai dilakukan. Setelah mengantar kepergian tamunya sampai di depan pintu ruang meeting hingga tak terlihat lagi, Reza membalik tubuhnya dan mendekat pada Farah yang sibuk mematikan MacBook dan juga LCD Proyektor.


“Rah, apa lagi agendaku setelah ini?”

__ADS_1


Farah menggeleng. “Tidak ada lagi, A’.”


“Baiklah, kalau begitu aku akan keluar sebentar. Bila ada yang penting, segera hubungi aku,” titahnya kemudian melangkah keluar. Belum sampai di ambang pintu, suara Farah menghentikannya.


“Eh tunggu, A’!” Wanita itu setengah berlari menghampiri Reza.


“Ada apa?”


Sejenak Farah melihat jam di pergelangan tangannya. “Bu Andin dan sekretarisnya sebentar lagi akan datang. Mereka ingin melihat para petani memanen buah sekaligus melihat proses penyortiran yang layak produksi sama yang enggak untuk di pabriknya.”


Senyum di wajah Reza seketika terbit. Bahkan sangat lebar ketika mengetahui sang pemilik hatinya akan datang kemari. “Benarkah?” Ia tampak belum percaya.


Farah hanya mengangguk bingung melihat ekspresi dari pria yang tak berhenti tersenyum di depannya itu.


Ada apa dengannya? Kenapa dia tampak antusias sekali? Senyum-senyum pula. Bahkan denganku saja tidak pernah seperti itu.


***


“Kenapa saya harus ikut, sih? Biasanya juga kamu yang sering berurusan dengannya,” keluh Andin pada wanita yang sedang fokus mengemudi itu. Matanya mengedar kesana kemari melihat pemandangan alam yang disuguhkan oleh desa Sukaraya.


Andin melirik sinis pada Gita. “Kenapa kamu sekarang menjadi lebih pintar?”


“Kalau saya nggak pintar, nggak bakal Anda jadikan sekretaris, Bu,” sahutnya dengan nada menyebalkan yang mana membuat Andin mendengkus kesal. Apalagi melihat wanita itu terkikik geli.


Sebenaranya terlalu malas bagi Andin untuk menjejakkan kakinya disini, apalagi harus bertemu dengan Reza. Bukan muak, hanya saja ia sedang menjaga kesehatan hatinya. Andai sejak awal ia tahu kalau perkebunan ini adalah milik pria itu, mungkin ia akan menolak tawaran Gita yang merekomendasikan perkebunan ini untuknya.


Sementara Gita, sejak mengetahui Reza masih mencintai Andin dan akan terus berusaha mendapatkan hati atasannya itu kembali, wanita itu berinisiatif untuk membantu keduanya bersatu walau harus mengorbankan perasaan orang lain. Terlihat kejam memang, namum bukankah suatu hubungan akan terasa indah bila keduanya memiliki rasa yang sama?


“Ta!”


“Ya Bu?”


“Ehm … kamu masih punya perasaan pada Reza?”


Gita menoleh sebentar kemudian kembali fokus menatap ke depan seraya tersenyum mengejek. “Saya sadar, ternyata perasaan saya hanya sebatas kagum. Tidak ada sama sekali pikiran untuk menjadikannya milik saya. Ibu tenang saja. Saya tidak akan merebut apa yang bukan menjadi hak saya.”

__ADS_1


“Kenapa bawa-bawa saya? Saya hanya bertanya perasaanmu karena Reza sekarang sudah memiliki tunangan,” sentak Andin tak terima.


Gita mengulum senyum. “Kalau saya punya perasaan nggak mungkinlah saya ajak Anda kemari,” gumamnya pelan.


“Apa?”


“Nggak apa, Bu. Nggak apa. Itu kantornya sudah dekat.”


Sebuah bangunan tiga lantai bergaya vintage klasik


dengan tulisan RezAgro Farm menjadi fokus mereka saat ini. Tanaman bunga serta pohon hias, berjejer rapi di kiri dan kanan bangunan tersebut.


Kenapa aku baru sadar kalau RezAgro itu di ambil dari nama Reza? Sempit sekali dunia ini.


Dengan ragu, Andin turun dari mobil yang baru saja Gita hentikan di halaman parkir. Berkali-kali wanita itu menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, berharap semuanya akan berjalan dengan sebagaimana mestinya.


Bersikaplah profesional, Andin. Kau dan dia hanya rekan bisnis, tak lebih.


“Ayo, Bu.”


Ajakan Gita hanya dijawab anggukan oleh Andin. Kemudian keduanya berjalan bersisian, masuk ke dalam gedung. Sesampainya diruangan owner yang berada di lantai tiga, mereka lantas disambut hangat oleh Farah dan juga … pemilik kantor itu sendiri.


“Selamat datang, Bu Andin. Senang bertemu dengan Anda lagi.” Farah langsung memberikan cipika cipiki pada Andin dan juga Gita secara bergantian.


“Saya juga senang bertemu dengan Anda, Bu Farah.” Andin melirik pria yang menghampirinya dengan senyuman.


“Apa kabar?”


***


Mulai malam ini, Insha Allah otor up tiap malem.


Karena makin kesini, adegan makin menghawatirkan.


Jadi disarankan bacanya malam. Mau hiatus dan lanjut setelah lebaran, otor takut diamuk 😂😂.

__ADS_1


Adegan apa? Tunggu saja dengan sabar. Sesabar kita menunggu adzan maghrib.


__ADS_2