
"Ah, lelahnya!"
Farah mengangkat kedua tangannya ke atas. Guna merenggangkan otot-ototnya yang teramat kaku. Sudah semenjak pagi, ia disibukkan dengan beberapa berkas yang ada di hadapannya. Bahkan, wanita itu sampai melewatkan jam makan siang.
Farah meraih ponsel yang dengan sengaja ia silent agar tidak menganggu pekerjaannya. Ia buka dan melihat rentetan notifikasi yang masuk. Salah satunya adalah pesan WhatsApp dari seseorang yang beberapa bulan ini memenuhi hati dan pikirannya.
Aa' Ganteng:
Nanti pulang bareng, ya? Mobil kamu dititip saja di kantor.
Pesan pertama datang pada pukul 12.40. Itu artinya sudah dua jam yang lalu. Farah menjadi merasa bersalah pada pria itu.
Neng? Sibuk, ya?
Pesan kedua datang setelah beberapa menit kemudian. Mungkin, karena centang abu tak kunjung berubah biru, pria itu kembali mengirim pesan.
Ya sudah. Kalau free, hubungi Aa' balik ya, Neng?
Farah tersenyum. Tepat disaat ia hendak menekan sebuah nomor, pria yang ingin dihubungi sudah lebih dulu melakukannya.
"Neng! Masih sibuk?"
"Enggak. Sudah santai, nih.
"Sudah makan?"
"Belum sempat!"
"Hah! Apa? Jam segini Eneng belum makan?"
Terpaksa Farah menjauhkan sejenak ponselnya dari daun telinga. Sebab suara pria di ujung sana bagai petir yang menyambar tepat di indra pendengarannya.
"Apa bosmu itu nggak punya hati, sampai karyawannya sendiri nggak diijinkan makan barang sebentar? Itu kantor atau apa? Membiarkan karyawannya kerja bagai kuda."
Bibir Farah kembali menyunggingkan senyum. Memaklumi sikap over dari kekasihnya tersebut. Dalam hati ia bersyukur telah mendapatkan pria yang begitu mencintainya.
"Enggak, A'. Bukan begitu. Hanya saja—."
"Eneng bela dia? Eneng masih punya hati padanya? Belum bisa move on?" pangkasnya cepat. Membuat Farah geram mendengar tudingan itu.
"Innalillahi! Aa' pikir aku wanita apaan? Pelakor, gitu?" cercanya tak terima. "Denger ya, A'. Meskipun kami berada di kantor yang sama. Bukan berarti kami bisa menjalin sesuatu di luar batas norma!"
Pria di seberang sana mulai gelagapan. Rasa cemburu yang besar menjadikannya salah mengartikan situasi.
"Aa' nggak—."
"Nggak apa?" Sekarang gantian Farah yang memangkas. Kesal sekaligus gemas pada sikap kekanakan pria tersebut. "Kalimat Aa' sudah jelas menuduhku seperti itu!"
"Maafin Aa', Neng. Aa' hanya takut si Eneng akan berpaling. Aa' cinta banget sama Eneng."
Mata Farah memutar malas. Bucin bin posesif sekali kekasihnya itu.
"Kita sudah mulai mempersiapkan pernikahan. Kenapa Aa' masih meragukan perasaanku? Aa' sendiri tahu kalau aku bukan orang yang mudah untuk berkomitmen. Namun, sekalinya aku memiliki komitmen. Sampai kapanpun, aku akan tetap menjaganya."
"Iya, Neng. Maafin Aa'. Aa' janji nggak akan ragukan cinta Eneng lagi."
"Hmm ...."
"Ya sudah. Aa' tutup dulu teleponnya. Oh iya, Aa' udah pesenin makanan buat kamu. Tunggu aja kurirnya datang, ya?"
"Iya Aa' sayang. Makasih."
Sambungan pun terputus. Farah meletakkan kembali ponselnya di atas meja sebelum kemudian ia beranjak keluar menuju balkon yang ada di ujung koridor untuk sekadar mencari udara segar sembari menunggu kurir datang.
Balkon yang mengarah ke sebuah taman mini dengan beberapa jenis bunga yang tumbuh di atasnya, menjadi spot favorit bagi sebagian karyawan disana termasuk dirinya.
Setelah melewati beberapa ruangan, langkah Farah terhenti saat melintasi pintu ruang kerja Reza yang terbuka. Dari sini, dapat ia lihat pemilik ruangan itu sedang duduk menopang wajah dengan siku menumpu di atas meja. Sementara satu tangannya lagi sibuk memutar-mutar pena.
Semenyedihkan itu kah berjauhan dengan istri.
Secara perlahan, kaki Farah melangkah mendekat. Menunggu beberapa saat, pria itu tak kunjung menyadari kehadirannya. Iseng, ia raih sebuah buku agenda dan melemparkannya tepat di hadapan pria yang sedang larut dalam lamunan.
"Astaga!" Reza terperanjat kaget. "Apaan, sih! Bikin orang jantungan aja."
Farah mengabaikan ocehan Reza. Ia justru menarik kursi dan duduk dengan santainya.
"Ngapain kesini?" tanya Reza ketus. Beberapa hari ini mood Reza mendadak oleng. Ingin mendatangi istrinya, rasanya tidak mungkin. Mengingat begitu banyak agenda yang tidak dapat ia tunda seenak jidat.
"Ngapain melamun?" Bukannya menjawab, Farah justru melempar tanya. "Kesambet baru tahu rasa."
"Dih! Belum tahu aja kamu bagaimana rasanya berjauhan dengan tulang rusuk. Perih tahu, nggak?"
"Nggak!"
__ADS_1
Reza mendecakkan lidahnya. "Buruan nikah, deh. Biar tahu rasanya."
"Nggak semudah itu! Pernikahan juga butuh banyak persiapan."
"Iya juga, sih! Biar nggak kena mental kaya kekasihmu itu," cibir Reza yang seberapa tahu tentang hubungan Farah dengan calon suaminya tersebut. "Bucin!"
"Ngaca A' ngaca!" bela Farah. "Emang situ nggak bucin? Akut pula! Sampai aku datang kesini kamu nggak ngeuh."
"Ah, ngaco!" kelit Reza sambil mengibaskan dokumen di udara hingga tanpa sengaja ujung kertas tersebut mengenai ekor mata Farah dan reflek wanita itu memekik kaget.
"Argh!"
Reza kembali tersentak. Lekas ia berdiri dan mendekat arah wanita yang menutup mata dengan tangan. Seolah sedang mengusap pelan untuk meredakan perih.
"Sorry Farah, sorry. Aku nggak sengaja. Aku hanya bercanda. Nggak tahunya bercandaku justru mencelakaimu."
"Nggak apa, A'." Farah berkata sembari menunduk dengan tangan masih sibuk bekerja.
"Jangan dikucek! Nanti bakal tambah merah. Sini, biar aku tiup." Tanpa aba-aba, segera Reza menarik tengkuk Farah. Membuat jarak diantara mereka terpangkas.
Dada Farah berdebar tak karuan. Bukan karena cinta itu masih ada. Lebih tepatnya, ia sedang gugup. Khawatir orang lain melihat adegan yang mungkin saja akan menimbulkan kesalahpahaman. Dengan kedua tangannya, ia mendorong pelan dada Reza.
"A', jangan seperti ini. Kalau orang lain melihat kita bagaimana?"
"Abaikan penilaian orang lain. Yang penting itu keadaan kamu," jawab Reza enteng. "Kamu begini karena aku!"
Pasrah. Itulah keputusan akhir Farah. Meski sulit untuk mengontrol jantungnya yang semakin berdetak kencang kala napas hangat Reza berulang kali membelai salah satu matanya yang memerah.
Cukup lama mereka berdiri dalam posisi seperti itu. Sampai sebuah tangan menarik kasar pundak Farah, memaksa wanita itu untuk berbalik.
"Arrghh." Farah reflek menjerit karena kaget.
Rupanya Andin yang telah melakukannya. Wanita itu tampak murka. Sebab merasa telah dibodohi oleh dua manusia yang ada di hadapannya itu.
"Sayang, kamu—."
Kalimat Reza terpangkas oleh sebuah tamparan keras di pipinya. Untuk kedua kalinya ia terkejut. Tak menyangka dengan kehadiran Andin yang begitu tiba-tiba.
"Hebat! Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?" tuduh Andin sarkas. Darahnya mendidih. Luka lama akibat perselingkuhan sang mantan yang susah payah ia lupakan, kini kembali terbuka. Sungguh, pria yang ia anggap berbeda ternyata tega melakukan hal yang sama.
"Sayang! Kamu salah paham. Aku bisa jelaskan—."
"Salah paham apa? Mau dijelaskan seperti apa? Kamu pikir mataku buta!"
"Andin, ini tidak seperti apa yang kamu tuduhkan. Hubunganku dan A' Reza hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih." Farah menyela, berupaya menengahi agar situasinya tidak semakin runyam.
Farah tak lekas menjawab. Ia sibuk menyeka cairan yang mulai berdesakan di pelupuk mata. Begitu juga dengan hatinya terlampau sakit mendengar tuduhan itu.
"Sayang, kamu ini ngomong apa, sih!" timpal Reza.
"Selama ini aku mencoba untuk diam. Menepis segala pemikiran negatifku tentang hubungan kalian. Ternyata aku salah! Salah besar.
Kalau kamu memang masih mencintai suamiku. Kenapa dulu kamu melepasnya? Apa sekarang kamu menyesal dan ingin kembali merebutnya dariku?" cerca Andin.
"Sayang, itu nggak benar!"
"Diam kamu, Bee!" Andin berseru tegas seraya menunjuk wajah suaminya. Emosi yang mencuat ke ubun-ubun membuatnya kehilangan adab.
"Yang sopan kamu." Reza menepis kasar jari Andin. Sepertinya emosi pria itu sudah mulai terpancing. "Aku ini suamimu!"
Satu yang disayangkan Reza. Kebiasaannya yang selalu mematikan CCTV bila sedang berada dalam ruangan itu, membuatnya kesulitan untuk memberikan sebuah bukti otentik mengenai kejadian yang sebenarnya.
"Andin, kumohon percayalah," ujar Farah mencoba memberi pengertian sekali lagi. Ia mendekat, ketika ingin meraih tangan Andin. Wanita itu justru mendorongnya kasar hingga terjerembab ke lantai.
"Jangan sentuh aku! Dasar pengkhianat!"
"Andin!"
Baik Andin maupun Farah, terkejut mendengar teriakan Reza yang begitu memekakkan telinga. Terlebih Andin, seumur-umur berteman hingga menikah dengan Reza baru kali ini pria itu menaikkan satu oktaf nada suaranya.
"Tuduhanmu itu sama saja menyudutkan kami. Apa kamu pikir kami serendah itu? Kami ini masih punya iman!"
Reza berjongkok. Kedua tangannya meraih pundak Farah, membantu wanita itu untuk berdiri. Setelah yakin kondisi asistennya baik-baik saja. Ia melangkah mendekat sambil membawa tatapan marah sekaligus kecewa pada Andin yang masih membeku. Sepertinya istrinya tersebut masih shock.
"Sebaiknya kita pulang. Lama-lama di sini, emosimu akan semakin tak terkendali," ajaknya seraya menarik tangan Andin untuk keluar dari ruangan itu.
Nyaris saja melewati pintu, tiba-tiba Andin merasa penglihatannya mulai memudar, kakinya pun tak mampu lagi menopang tubuhnya yang mungil. Ia pun oleng ke samping. Dengan gerakan secepat kilat, Farah menangkap tubuh wanita itu agar tak jatuh dan membentur lantai.
"Andin!"
"Sayang!" Reza terlihat panik. Terlebih saat menatap wajah pucat Andin. "Sayang, bangun, Sayang! Jangan bikin aku khawatir seperti ini." Berkali-kali ia menepuk pipi Andin. Berusaha membuat istrinya terjaga.
"A', sebaiknya kamu bawa dia ke rumah sakit, sekarang!" usul Farah dan lekas mendapat anggukkan dari Reza.
__ADS_1
***
Dengan kepala menunduk serta kedua tangan menumpu di paha, Reza duduk di sebuah kursi panjang yang berada tepat di depan ruang IGD.
Pikirannya kalut sekaligus bingung. Ada apa dengan Andin? Kenapa bisa istrinya itu tiba-tiba ada di Bandung? Bukankah rencana awal ia ingin menghabiskan masa cutinya di Jakarta? Andai pun memang ingin pulang, seharusnya istrinya itu menghubunginya bukan malah pulang sendiri seperti ini.
Napas Reza terdesah frustrasi. Ia sandarkan punggungnya sembari bersedekap. Sorot matanya beralih fokus menatap pintu di depannya. Berharap dokter segera keluar dari sana dan memberikan kabar baik baginya.
Terdengar beberapa langkah kaki mendekat dari sisi kirinya. Ia masih bergeming. Tak perlu menoleh, ia sudah tahu siapa mereka. Denis dan Farah. Dua sejoli yang baru beberapa bulan lalu sepakat menjalin asmara dan memutuskan akan menikah dalam waktu dekat ini.
"Minum dulu, Bro!" Reza melirik satu cup kopi panas yang melayang di udara, menunggu uluran tangannya menyambut minuman tersebut. "Setidaknya minuman itu bisa membuat pikiranmu sedikit tenang."
"Terima kasih, Den." Reza segera meraih dan menyesapnya pelan.
"Belum ada kabar dari dokter, ya, A'?" tanya Farah.
Reza menggeleng. "Belum, Rah. Hampir satu jam aku menunggu belum ada satupun dokter yang datang mencariku. Aku takut bila terjadi apa-apa padanya."
"Insha Allah, semuanya akan baik-baik saja. Andin wanita yang kuat."
"Iya dia wanita yang kuat. Aku masih bisa merasakannya." Reza tersenyum. Tangannya spontan mengusap pipi dimana Andin sempat mendaratkan tamparannya di sana.
Tak lama, seorang wanita berjas putih dengan stetoskop menggantung di leher, keluar dari pintu kaca IGD. Matanya mengedar kesana kemari.
"Wali pasien atas nama Ibu Andinia?"
"Saya, Dokter!" Reza berdiri dan menghampiri dokter di susul oleh Farah dan Denis di belakang. "Bagaimana keadaan istri saya?"
"Ibu Andinia sudah siuman. Beliau hanya mengalami shock dan dehidrasi. Setelah cairan infusnya habis, Beliau juga sudah diijinkan pulang."
"Alhamdulillah." Serentak kalimat hamdalah itu terucap dari bibir mereka.
"Oh iya, saya sarankan untuk selalu menjaga mood istri Anda agar tidak terlalu banyak memikirkan sesuatu yang dapat mengundang stres. Karena kondisi tersebut akan sangat berpengaruh buruk bagi bayi-bayinya," jelas sang dokter memperingatkan.
"Bayi-bayi?" Entah mengapa, dalam kondisi seperti ini. Otak Reza mendadak buffering. Ia menatap bingung pada dokter yang ada di hadapannya itu. Begitu juga dengan Denis dan Farah yang hanya saling melempar pandang.
"Anda belum tahu?" tanya dokter yang juga terlihat bingung. Dengan gaya polosnya, Reza menggeleng. "Saat ini, ibu Andinia tengah hamil anak kembar, Pak."
"Apa? Hamil? Anak kembar?" Wajah Reza berbinar, terlebih ketika dokter mengangguk membenarkan.
"Yes! Alhamdulillah!" Kedua tangan Reza mengepal di udara. Ia beralih menatap Denis dan Farah. "Aku berhasil, berhasil, hore!"
"Katakan peta, katakan peta!" celetuk Denis menirukan salah satu film kartun favorit anak-anak dengan tokoh seorang bocah berponi yang selalu membawa ransel di pundak.
"Apasih, A'!" Farah yang jengah, menyikut tulang rusuk kekasihnya itu.
"Dia bilang 'berhasil, berhasil, hore'. Itu, 'kan kalimat keramat si Dora, Neng."
Farah hanya mendengkus.
"Boleh saya menemui istri saya sekarang, Dokter?" Reza bertanya pada dokter.
"Boleh. Silakan, Pak," ujar dokter seraya melebarkan pintu. Sang dokter masuk terlebih dulu.
Tepat di saat kaki Reza hendak melangkah, dengan sigap Farah menahan gerakannya.
"Biarkan aku dan A' Denis yang masuk. Aku akan mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi diantara kita."
Reza diam tampak berpikir.
"Jiwa istrimu masih terguncang. Aku khawatir kalau kamu masuk lebih dulu, dia tak akan mau menerima apapun penjelasanmu," imbuh Denis.
"Baiklah. Aku akan menunggu di sini."
Akhirnya Farah dan Denis masuk ke ruang dimana Andin sedang dirawat. Sementara ia sendiri kembali duduk di tempat semula. Semoga penjelasan Farah dapat diterima oleh Andin dengan hati dan kepala dingin. Harapnya.
Terlepas dari itu semua. Ia sangat bersyukur. Tuhan telah mengabulkan doanya. Menghadirkan dua nyawa sekaligus di dalam rahim istrinya.
***
Attention please.
Beberapa bab menuju ending.
Dan itu👆 2022 kata loh. Dua bab dijadikan satu. Tadinya mau dipisah, akan tetapi ... yang di Like justru bab terakhir. Kalau ini masih sepi komen dan like, otor hanya bisa mendesah pasrah.
Dua karya otor ini memang tidak di kontrak.
Pertama karena sadar diri, lapak ini sepi.
Kedua karena sistemnya yang ehm ...ya gitulah.
Ketiga karena ada niat suatu saat nanti, tapi nanti ... karya pertama (Benang Takdir) akan di rombak sebagian alurnya dan akan di bawa jalan² ke lapak lain (mencoba peruntungan)
__ADS_1
Ah elah malah curcol😏🙄
Tetap jaga kesehatan, tetap positif thinking, dan semoga badai ini cepat berlalu. Aamiin.