
Lotus Café and Resto yang terletak di sisi timur kantor Anggoro Group siang itu tampak ramai. Tempat dimana Rissa dan Andin membuat janji untuk menikmati makan siang bersama. Andin mengedarkan pandangannya, memindai setiap jengkal bangunan yang menurutnya ada sedikit perubahan pada ornamen restoran tersebut.
Ia tersenyum. Masih teringat jelas peristiwa beberapa tahun lalu. Dimana tempat ini menjadi saksi Reza mengungkapkan isi hatinya pada Rima. Sayangnya, cinta pria itu ditolak mentah-mentah. Akan tetapi dengan adanya kejadian tersebut, ia bersyukur. Sebab bila tidak, mana mungkin ia mendapatkan Reza. Pria yang telah meleburkan semua rasa traumanya terhadap cinta.
Senyumnya semakin mengembang ketika netranya menangkap jelas seorang wanita cantik yang melambaikan tangan seraya berjalan ke arahnya. Andin berdiri dan menyambutnya dengan pelukan disertai cipika cipiki.
“Sudah lama?” Rissa menarik kursi yang berada tepat di seberang Andin sebelum kemudian ia mendaratkan tubuhnya disana. “Maaf ya, tadi Kakak ada meeting. Sebenarnya sudah berakhir satu jam yang lalu. Tapi karena terlalu asyik mengobrol makanya telat."
“Nggak apa, Kak. Justru aku yang minta maaf karena sudah menganggu pekerjaan Kakak,” ujar Andin segan.
“Nggak, lah! Ini kan, ‘kan memang sudah jam makan siang. Oh iya, dimana suamimu?”
Sekarang gantian Rissa yang menyapukan pandangannya. Mencari sosok pria yang dulu pernah bekerja menjadi office boy di perusahaannya.
“Dia di Bandung, Kak. Aku datang kemari sendirian.”
Rissa terlihat bingung. “Kalian ada masalah?” terkanya kemudian.
Napas Andin terdesah panjang. Dalam dua hari, ia sudah mendapat pertanyaan yang sama. Apakah karena keinginannya menemui orang tua tanpa sosok suami, itu sudah dikategorikan ke dalam pernikahan yang sedang bermasalah?
“Kami nggak ada masalah, Kak. Hanya saja aku memang ingin kemari. Selain rindu keluarga, aku juga rindu suasana macetnya ibukota,” jelas Andin. Memang semenjak menikah, bertemu fisik seperti ini sudah sangat jarang mereka lakukan. Tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing menjadi salah satu alasannya.
Rissa tergelak. “Macet kok, dirindukan. Ada-ada saja kamu.”
__ADS_1
Percakapan mereka terjeda sejenak ketika seorang gadis berseragam khas pelayan datang dengan membawa dua buku menu di hadapan mereka. Untuk sesaat, Rissa tertegun mendengar beberapa pesanan Andin. Tak biasanya adik iparnya itu memesan tiga menu sekaligus bahkan salah satunya adalah Tom Yam—makanan asal negeri gajah putih yang memiliki cita rasa pedas dan asam.
Usai mencatat semua pesanan pelanggan dan mematiskan tidak ada yang salah. Pelayan restoran pun beranjak dari sana dan beberapa saat kemudian pelayan yang lain datang dengan membawa nampan yang tersimpan menu di atasnya.
“Kamu yakin mau makan itu?” Pandangan Rissa tertuju pada mangkuk yang berisi berbagai macam seafood, jamur dengan kuah yang terbuat dari campuran rempah yang begitu kuat. Ia sampai bergidik ngeri ketika Andin dengan entengnya tanpa dosa menambahkan sambal dan perasan jeruk nipis ke dalamnya.
“Iya. Kenapa memangnya, Kak?”
“Aneh!” cetus Rissa.
“Aneh? Maksudnya?”
“Selama Kakak mengenalmu, kamu nggak pernah makan dalam porsi banyak apalagi asam.”
“Nggak tahu, Kak. Akhir-akhir ini nafsu makanku menggila dan suka banget sama yang asem-asem.”
“Sudah periksa ke dokter?” tanya Rissa. Kali nada suaranya sedikit tegas.
Andin tersentak. Pertanyaan terdengar absurd di telinganya. Dengan susah payah ia menelan sisa-sisa makanan yang ada di dalam mulut. “Hanya karena perubahan nafsu dan selera makan. Kenapa harus sampai diperiksa segala? Bukankah ini normal, Kak?”
“Menurutmu! Menurut Kakak, kamu tidak dalam keadaan normal. Lebih baik kamu pergi ke dokter. Bila benar dugaan Kakak. Kamu harus batasi asupan makanmu agar tidak membahayakannya.”
Ujung kalimat Rissa mengalihkan perhatian Andin. Melepaskan sendok dan garpu, ia layangkan tatap dalam pada lawan bicaranya. Kalimat ‘nya’ disini, merujuk pada sesuatu. Bisa berupa benda atau seseorang.
__ADS_1
“Membahayakannya?” ulang Andin dan Rissa lekas memberikan anggukan sembari tersenyum.
“Prediksi Kakak, sepertinya kamu itu sedang hamil. Kalau ingin meyakinkan, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter. Atau lebih simplenya gini. Kamu bisa mengetesnya secara mandiri menggunakan tes pack. Bila positif, selanjutnya kamu ke dokter untuk memastikan usia kandunganmu dan juga perkembangan dia di dalam sana.” Rissa memperjelas.
Andin terdiam. Antara bingung, khawatir, ragu mengumpul di benaknya. Tak satu orang yang mengatakan hal serupa. Tetapi tetap saja ia bisa menampik karena tertutupi oleh rasa ketidakpercayaan pada dirinya.
“Apa kamu juga pernah mengalami mual, muntah atau rasa lelah yang mendera tiba-tiba?” imbuh Rissa.
Tanpa suara Andin mengakuinya dengan sebuah anggukan. Rissa tersenyum kemudian melirik arah jarum pendek di pergelangan tangannya.
“Apa mau Kakak temani ke dokter? Mumpung masih siang.”
“Nggak usah, Kak. Jujur saja, aku agak sedikit trauma dengan dokter.” Andin menceritakan semua pengalamannya dengan beberapa dokter obgyn. Beberapa kali memeriksakan diri, sebanyak itu pula ia menelan kekecewaan hingga berujung pada kesedihan. Sebab itulah, ia tak ingin kejadian dulu terulang kembali. Alasan itu terlalu konyol tetapi wanita mana yang kuat menelan rasa kecewa hingga berkali-kali?
Rissa menyunggingkan senyum tipis. Memaklumi perasaan Andin. Tak ingin terlalu memaksa, ia pun mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain sembari meneruskan acara makan siang itu. Sampai akhirnya waktu pulalah yang memisahkan mereka. Rissa kembali ke kantor. Sementara Andin pergi ke apotek.
Tunggu! Apotek? Ya, setelah memikirkan perkataan kakak iparnya tadi, Andin membeli alat uji kehamilan dan melakukan tes secara mandiri terlebih dahulu sebelum memutuskan pergi ke dokter. Tak tanggung-tanggung ia bahkan membeli enam buah test pack sekaligus dengan bentuk, merk dan harga yang berbeda.
Keesokan harinya. Andin buru-buru bangun dan langsung masuk ke kamar mandi. Sudah sejak semalam ia dilanda penasaran.
Sebenarnya bisa saja ia melakukan tes pada saat itu juga, namun ia masih menahan diri sesaat setelah ia membaca petunjuk penggunaan dan beberapa artikel di internet yang mengatakan bahwa, tingkat akurasi akan lebih tinggi bila dilakukan pada pagi hari dengan cairan urine pertama.
Andin menarik napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Hal itu ia lakukan secara berulang demi menetralisir gemuruh yang menyesakkan di dada.
__ADS_1
"Semoga hasilnya positif," gumam Andin. Tangannya mencengkeram erat ujung piyama yang dikenakannya sembari menatap was-was pada jejeran alat uji kehamilan yang sedang berproses di depannya itu.
Setelah menunggu beberapa saat, ia raih salah satunya. Dan disaat itu pula cairan bening seketika memupuk di matanya.