Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Rencana Gita


__ADS_3

Andin menarik sedikit sudut bibirnya nyaris tanpa eskpresi ketika pria itu menanyakan kabar sekaligus mengulurkan tangan di hadapannya. Ragu Andin ingin menyambut. Namun sentuhan lembut di punggung tangannya, menyadarkannya bahwa ia harus bersikap seprofesional mungkin. Pada akhirnya, wanita itu pun membalas uluran tangan tersebut.


“Baik, Pak Reza,” sahut Andin dan lekas melepas tautan tangannya.


“Bu Andin, Bu Gita … mari silakan duduk. Pasti lelah menempuh perjalanan dari Bandung hingga kemari.” Suara Farah, mengambil alih situasi. Sesaat kemudian, sofa panjang yang berada sudut ruangan itu sedikit terguncang ketika tiga wanita tersebut mendaratkan tubuhnya di sana. Disusul oleh Reza yang duduk di sofa tunggal.


Tak lama, seorang OB datang membawa nampan dengan beberapa camilan dan empat buah cangkir berisi cairan berwarna merah pekat. Ia meletakkannya tepat dihadapan tamu-tamu atasannya tersebut.


“Mari silakan diminum. Ini teh mawar, produk yang baru kami kembangkan di sini,” tawar Farah sesaat setelah OB meninggalkan ruangan.


“Terima masih, Bu,” ujar Gita.


Pun mereka serentak mengangkat cangkir masing-masing lalu menyesap dengan penuh kenikmatan. Tak henti-hentinya beberapa pujian terlontar dari bibir Gita mengenai rasa yang baru saja menyentuh lidahnya. Sedangkan Andin hanya tersenyum menimpali.


“Lelah kami terbayar ketika melihat pemandangan indah yang ada di sini.” Andin membuka suara dengan merespon kalimat Farah sebelumnya.


“Iya, udaranya juga sejuk. Nggak seperti di kota, masih banyak polusi,” timpal Gita. “Rasanya pengen deh, punya jodoh orang sini. Biar bisa kesini terus.”


Seketika Andin tersedak mendengar celetukan Gita. Ia lekas menjauhkan bibirnya dari cangkir dan mengembalikannya ke tempat semula. Reza yang panik, spontan berdiri dan menarik beberapa lembar tisu yang ada di atas meja lalu membantu membersihkan bibir wanita itu dari sisa-sisa cairan di sana.


Sontak saja hal itu membuat Farah tertegun melihat perlakuan Reza yang begitu lembut pada Andin. Berbanding terbalik bila sedang bersamanya, Reza seakan dingin terkesan tak acuh. Jangankan menatapnya dengan penuh cinta. Melirik saja dalam hitungan lima detik sudah suatu keberuntungan baginya.


“Terima kasih,” kata Andin. “Aku bisa sendiri.” Ia menepis tangan Reza sesaat setelah melirik Farah yang memperlihatkan raut wajah sedihnya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Reza memastikan.


“Iya, duduklah!” titahnya lirih pada Reza agar kembali mendaratkan tubuhnya di tempat semula.


“Bu Farah, apa lokasi perkebunannya jauh dari sini?” Andin mencoba mengalihkan topik. Menurutnya, semakin cepat meninjau lokasi. Semakin cepat pula urusannya terselesaikan dan ia bisa segera kembali ke Bandung.


“Dekat, hanya beberapa ratus meter dari sini,” jawab Farah


“Apa bisa kita pergi sekarang? Mumpung belum sore.”


“Bisa,” sahut Reza cepat. “Farah, tolong hubungi pak Yusuf agar mempersiapkan mobil dan juga beberapa keperluan lain yang mungkin saja akan diperlukan disana.”


Farah mengangguk. “Baik, A’. Aku akan ke ruangan terlebih dahulu.” Ia menoleh pada Andin. “Bu Andin, saya permisi sebentar.”


“Ah iya, Bu. Silakan.”


Ketika Farah beranjak dari duduknya. Disaat itulah Reza mengisyaratkan Gita melalui matanya untuk ikut keluar bersama wanita itu agar ia lebih leluasa meluapkan kerinduannya pada Andin. Gita yang mengerti, langsung mengangguk setuju.


“Bu Farah!"

__ADS_1


“Ya?”


“Boleh saya ikut. Sekalian mau melihat-lihat gedung ini,” ucap Gita berbohong.


Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Farah mengajak Gita untuk ikut bersamanya. Meninggalkan Andin yang sibuk memakinya dalam hati. Bisa-bisanya sekretaris kurang ajar itu pergi meninggalkannya berdua bersama Reza.


Atmosfir di ruangan itu seketika mencekam, hanya terdengar suara napas yang saling bersahutan untuk mencari udara segar di sekitar mereka. Canggung? Ya, itu yang dirasakan Andin saat ini. Sampai akhirnya ia memutuskan berdiri di depan dinding kaca yang menampilkan berbagai aktivitas manusia yang ada di bawah sana sambil bersedekap.


Namun rupanya, itu adalah keputusan yang buruk membuat Andin segera menyesalinya. Bagaimana tidak, Reza mudah memanfaatkan keadaan dengan memeluknya dari belakang.


“Reza!” Andin gelagapan. Ia meronta sembari mengedarkan pandangannya menatap sudut-sudut ruangan itu, mencari keberadaan CCTV.


“Kamu tenang saja. Bila aku ada di ruangan ini, aku selalu mematikan CCTVnya. Karena aku tidak suka ada orang yang melihat aktivitasku,” ujar Reza yang paham kemana arah pikiran Andin.


“Tapi tidak seharusnya seperti ini, Reza!” Masih berusaha meloloskan diri. “Reza lepaskan aku. Farah akan memergoki kita!”


“Bisa nggak, tenang sedikit!” Reza semakin mempererat pelukannya dan mengabaikan ocehan Andin.


“Tenang matamu!" umpatnya kesal. "Kalau kita begini akan terlihat seperti pasangan yang sedang berselingkuh, Za!”


“Salahmu, bikin aku kangen. Kenapa, sih kamu selalu mengabaikan pesan dan teleponku. Apa kamu tidak merindukanku?" bisik Reza lembut dengan meletakkan dagunya di pundak Andin hingga membuat sekujur tubuh wanita itu meremang terlebih Reza juga menggodanya, dengan meniupkan udara di leher jenjangnya.


Andin diam, bukan sedang menikmati tapi lebih tepatnya sedang menenangkan diri.


"Dari sini polsek jauh, nggak?"


"Bunuh orang tapi dalam keadaan membela diri. Hukumannya berapa tahun?"


Reza semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan Andin. Ia melepaskan tautan tangannya dan lekas membalik tubuh wanita itu menghadap padanya.


"Kenapa tanya—." Kalimat Reza terpotong ketika merasakan nyeri yang luar biasa bagian lengannya akibat gigitan Andin.


"Arghhh! Lepas! Sakit sakit!"


"Apa yang sakit, A'?"


Suara itu menarik perhatian sepasang manusia yang sedang terlibat keributan. Keduanya panik dan segera menarik diri, menjaga jarak paling aman. Farah dan Gita berjalan menghampiri keduanya.


"Ada apa, A'? Mana yang sakit?" Farah menelisik, mencari apa yang menjadi keluhan dari calon suaminya itu.


"Nggak apa nggak apa," elak Reza. "Apa semuanya sudah siap?" tanya kemudian sebagai peralihan topik.


"Sudah. Ayo kita berangkat sekarang."

__ADS_1


Reza mengangguk kemudian mendahului ketiga wanita di belakangnya sembari menggerakkan tangannya berulang kali untuk membuang nyeri akibat gigitan tadi. "Dasar barbar! Untung cinta."


Tak memakan waktu lama, mobil rubicon yang dikemudikan Reza sampai di salah satu lahan greenhouse berukuran 1.000 meter persegi yang ditanami berbagai varietas melon dengan chamoe atau oriental melon yang berwarna kuning, dan satu areal lahan lainnya ditanami golden melon.


Andin yang baru pertama kali melihat, dibuat takjub dengan pemandangan di depannya itu. Luar biasa pencapaian Reza saat ini.


"Kami mengembangkan greenhouse yang dilengkapi dengan teknologi irigasi tetes. Ya mirip-mirip hidroponik, lah. Agar hasilnya lebih maksimal terus juga para petani tidak terlalu banyak terpapar matahari."


Andin hanya mengangguk-anggukan kepalanya sembari mengikuti langkah Reza yang memperlihatkan jejeran pohon melon yang siap dipanen.


"Nah ini." Reza berjongkok dan memegang salah satu buah melon berukuran besar. Kemudian berdiri sejenak, mencari seseorang yang tak jauh darinya. "Pak Ujang, bisa pinjam guntingnya sebentar?"


"Sini biar saya yang petik," tawar Ujang kemudian mendekat untuk membantu memetikkan buah dan memberikannya pada Reza.


"Terima kasih, Pak. Sekalian deh dibukain. Saya lagi nggak bawa pisau."


Ujang mengangguk dan mulai membelah buah menjadi beberapa bagian. Reza mengambil dua bagian lalu memberikannya pada Andin dan Gita.


"Manis, Bu," puji Gita usai menggigit buah tersebut.


"Iya manis, juicy juga," imbuh Andin yang begitu menikmati.


"Iya kaya' kamu." Celetukan Reza, mengalihkan perhatian Andin dan Farah yang melayangkan pandang pada Reza.


"Bu-buahnya manis." Ia menggigit satu bagian yang belum bertuan. "Pak Ujang, ayo makan juga dong. Asli, manis banget."


Ujang hanya terkekeh.


Matahari sudah mulai condong ke arah barat. Ternyata perlu banyak waktu untuk mengelilingi greenhouse yang cukup luas tersebut. Membuat Andin mengurungkan niatnya untuk kembali ke Bandung dan mengalihkannya ke Sukabumi hanya sekadar mengistirahatkan tubuhnya.


Namun sebelum itu, Reza mengajak tamunya itu untuk mengisi perut sejenak di salah satu rumah makan yang menyajikan menu khas daerah tersebut. Meja persegi dengan empat kursi mengelilinginya, terisi penuh oleh mereka.


“Oh, iya. Setelah ini mau kemana? Nggak mungkin, ‘kan langsung kembali ke Bandung sore-sore begini?” tanya Farah pada Andin dan Gita.


“Nggak, Bu Farah. Kami akan menginap di salah satu hotel yang ada di Sukabumi. Baru saja Gita melakukan reservasi online,” sahut Andin.


“Yah, sayang sekali. Padahal saya ingin menawarkan Anda untuk menginap dirumah saya. Rumah saya cukup nyaman, lagipun orangtua saya tidak akan keberatan bila ada menginap dirumah kami.”


“Biar Bu Andin saja tetap disini. Biar saya yang kembali ke Sukabumi. Sayang dari pada harus refund.” Suara Gita terasa menyambar di telinga Andin. Ia melirik Reza yang mengerlingkan mata padanya, tanda menyetujui usulnya tersebut.


“Nah iya, Bu Andin. Seperti itu saja,” imbuh Farah.


Andin diam tampak berpikir.

__ADS_1


“Sudahlah, Bu. Terima saja tawaran Bu Farah. Itung-itung nemenin beliau di rumah. Besok saya akan datang kemari untuk menjemput Anda, bagaimana?” Gita berusaha meyakinkan Andin. Berharap rencananya akan berjalan dengan baik.


“Baiklah, saya terima tawarannya.”


__ADS_2