Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Hamil?


__ADS_3

Usai mengarungi indahnya lautan kenikmatan bersama suaminya. Tak serta merta membuat tubuh Andin terlihat lemah. Namun sebaliknya, selepas mengerjakan sholat subuh wanita itu sudah bersiap menuju dapur. Hari ini ia berencana akan memasak menu spesial untuk Reza. Sebagai wujud cintanya yang luar biasa pada pria tersebut.


Andin mulai beranjak meninggalkan kamar tepat ketika pria yang hendak merebahkan tubuh di atas tempat tidur itu tiba-tiba menahan pergerakannya.


"Kamu mau kemana, Sayang?"


"Ke dapur. Aku mau masakin sesuatu buat kamu," jawabnya antusias. "Tunggu, ya?"


Kening Reza berkerut bingung. Tumben sekali istrinya itu rajin bangun pagi dan memasak di akhir pekan? Biasanya usai sholat subuh, wanita itu memilih untuk tidur lagi dan bangun jika matahari sudah meninggi.


"Apa kamu nggak capek, Sayang?"


Nada suara Reza terdengar khawatir. Mengingat bagaimana mereka menghabiskan malam dan menggila bersama dalam balutan gairah. Seperti biasa, pergumulan itu tidak pernah cukup bila dilakukan sekali dalam tempo sesingkat-singkatnya. Terlebih lagi pada malam itu, orang yang paling dominan adalah istrinya. Entah apa yang membuat wanita itu menjadi agresif. Akan tetapi, ia teramat menyukainya.


"Nggak dong, Bee. Kan, semalam udah dapat vitamin. Jadi tubuhku menjadi lebih fresh sekarang," sahut Andin dengan mengerlingkan matanya.


Berulang kali Reza mengerjap. Antara takjub dan terkejut mendengar Andin berkata seperti itu. Namun di menit berikutnya, ia mengulum senyum. Persetan dengan segala keanehan yang dialami istrinya akhir-akhir ini. Yang penting hatinya terlampau senang.


Melayangkan seringai menggoda, ia beringsut mendekati wanita yang sibuk mengumpulkan rambut hitam panjangnya lalu menggelungnya ke atas.


"Kalau begitu... boleh dong, kita mengulangnya lagi?" Teramat sengaja, ia menelusupkan tangannya di balik kaos pink nude yang dikenakan istrinya.


"Jangan sekarang, ya," tolaknya sambil menepis lembut tangan Reza. "Hari ini aku mau masakin kamu sesuatu yang sangat spesial?"


"Apa? Masukin aku?"


Pertanyaan itu membuat Andin lekas menoleh dan menatap sinis pada suaminya.


"Dasar mesum!" sentak Andin. "Aku bilang, masak, Bee! M-A-S-A-K!" la mengeja huruf per huruf. Berusaha memperjelas kalimatnya.


"Oh ... kirain."


"Udah ah. Aku mau turun!"


"Eh, sini dulu!"


Untuk kedua kalinya, Reza kembali menahan gerakan Andin yang nyaris saja beranjak dari tempat tidur.


"Apa lagi, sih!"


"Beneran nggak mau? Padahal aku ingin memberimu vitamin lebih, loh. Agar sistem imunmu bertambah kuat dua kali lipat."


Tubuh Andin mendadak tegang ketika merasakan embusan napas hangat dan lembab, membelai secara keseluruhan di kulit lehernya. Ia terbuai untuk beberapa saat hingga akhirnya ia mampu menguasai dirinya.


"Bee ... nanti lagi, ya? Aku sudah lapar," ujar Andin seraya memegangi perutnya yang kini mulai meronta hendak diisi makanan.


"Kalau begitu, makan aku saja."


"Apa enaknya?"


"Apa kamu lupa? Semalam kamu begitu pintar, agresif dan lihai—."


"Jangan dibahas!" pangkas Andin kemudian menurunkan pandangannya menatap apa saja yang ada di bawah. Entah bagaimana wujud wajahnya sekarang. Yang pasti ia malu, sangat sangat malu. Dalam hati ia pun bertanya-tanya. Setan apa yang merasukinya semalam hingga ia bisa seagresif itu? Tunggu! Bukankah menjadi wanita penggoda untuk suami sendiri itu teramat dianjurkan.


"Tapi aku menyukainya, Sayang."


Memilih untuk tidak merespon ucapan itu, Andin lekas menarik diri dan gegas pergi ke dapur. Meninggalkan pria yang menatapi jejak punggungnya sembari terkekeh melihat istrinya itu gelagapan.


***


"Hih ... memalukan!"


"Kenapa, Bu?" tanya Jumi sesaat setelah ia masuk dari pintu belakang dan mendapati Andin sedang mengomel sambil berjalan ke arah dapur.


"Nggak apa nggak apa," jawab Andin. "Mbak dari mana?"


"Saya habis buang sampah di depan," sahutnya sembari meletakkan tong sampah yang sudah kosong ke tempat semula.


Andin mengangguk kemudian beralih pada kulkas dan lantas mengeluarkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk memasak.


"Ibu mau masak?"

__ADS_1


"Iya."


"Sini, biar saya aja yang masak, Bu."


"Nggak usah, Mbak. Mbak cukup kerja yang lain saja. Eh, katanya Mbak mau pulang pagi ini, ya?" ralatnya cepat ketika teringat sesuatu.


"Iya, Bu. Anak saya sejak kemarin sudah merengek ingin pergi jalan-jalan bersama saya dan neneknya."


Dari cerita Jumi, Andin tahu bahwa wanita yang ada di hadapannya itu adalah seorang janda yang harus menghidupi ibu dan juga putra satu-satunya yang kini berusia tiga belas tahun bernama Gavin.


Suami Jumi telah meninggal karena kecelakaan kerja beberapa tahun yang lalu. Beruntung, ketika bermajikan Andin. Wanita itu tidak perlu lagi memikirkan masalah pendidikan Gavin. Sebab Reza dan Andin sepakat akan menjaminnya hingga ke jenjang tertinggi sekalipun. Bahkan mengangkat bocah yang kini sudah duduk di kelas delapan disalah satu SMP ternama di Bandung itu sebagai anak. Hitung-hitung sebagai pancingan, pikir mereka.


"Maaf ya, Mbak. Gara-gara permintaan suami saya. Mbak harus repot-repot bermalam disini. Padahal saya sendirian juga nggak apa."


"Nggak apalah, Bu. Namanya juga suami sayang istri," ucap Jumi, membuat Andin segera menerbitkan senyumnya. "Gavin pasti juga akan mengerti."


"Bagaimana kabar dia? Sudah lama dia nggak main-main kemari? Saya jadi rindu padanya."


"Alhamdulillah, Gavin sehat, Bu. Nanti kalau sudah liburan sekolah, saya akan sering-sering ajak dia kemari."


"Ya sudah sebaiknya Mbak pulang. Dan tolong sampaikan salam saya pada Gavin dan juga neneknya."


"Insha Allah, Bu. Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Seperginya Jumi, Andin kembali melanjutkan aktivitasnya. Cukup lama ia disana hingga dua sajian menu andalannya, gurame bakar madu dengan siraman sambal pencit di atasnya dan juga cah kangkung, sudah tersaji di atas meja makan. Ia tersenyum. Merasa puas dengan hasil maha karyanya.


"Hem ... wanginyaaaaa."


Dari jarak beberapa meter, Andin memindai penampilan pemilik suara tersebut. Pria yang mengenakan kaos v-neck tanpa lengan dan celana pendek sebatas lutut itu mendekat dan langsung memeluknya dari belakang.


"Kelihatannya enak, nih!" imbuhnya lagi.


Andin tersenyum. "Ayo kita makan, Bee."


"Iya, aku juga sudah nggak sabar pengen nyicipinnya."


"Ya sudah, lepas dulu pelukannya."


"Boleh aku minta appatizernya dulu?"


Andin menarik kepalanya dan menatap bingung pada Reza. "Mau salad buah?" tanyanya dan dijawab dengan gelengan.


"Puding?"


Reza kembali menggeleng.


"Yogurt?"


Lagi-lagi Reza menggeleng.


"Terus apa, dong? Jangan bikin aku bingung."


"Cium aku!"


Tak ada respon dari Andin. Ia masih menatap ragu pada suaminya tersebut. Wanita itu tahu, bila ciuman mendarat, akan ada hal lain yang menyusul berikutnya. Benar-benar ciri khas Reza. Mengerti dengan keraguan Andin, Reza berkata,


"Cium saja nggak ada hal lain. Percayalah!"


"Beneran?"


"Aku sih, maunya bo'ongan."


"Tuh, kan?"


"Iya iya janji. Cium aja. Tapi civok basah, ya?"


Andin mengerucutkan bibirnya. Namun hal itu justru suatu kesalahan baginya. Sebab Reza lantas melayangkan ciumannya tanpa izin bahkan mengulùmnya untuk beberapa saat. Puas dengan hidangan pembuka, keduanya pun mendudukkan diri dan mulai menikmati menu sarapan spesial pagi itu.


***

__ADS_1


Cuaca Bandung siang itu cukup terik. Lalu lintas terlihat lengang. Meskipun weekend, sepertinya warga kota kembang tersebut terlihat enggan untuk keluar rumah hanya untuk sekadar melepas penat.


Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Andin. Saat ini ia sudah duduk di atas motor yang berhenti tepat ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Ia terlihat sangat antusias. Berbanding terbalik dengan pria yang semenjak keluar rumah sudah memasang wajah masam.


"Jangan cemberut gitu, ah! Jelek!"


Tak ada tanggapan dari Reza. Pria itu masih terlihat kesal lantaran permintaan istrinya yang begitu nyeleneh. Bukan masalah armada yang digunakan. Melainkan Andin, meminta pria itu pergi hanya dengan mengenakan pakaian yang ia kenakan tadi pagi tanpa pelindung seperti jaket atau baju luaran. Aneh-aneh saja permintaan istrinya tersebut. Untung cinta!


"Ish, kok masih kesal, sih!"


"Bagaimana nggak kesal, cuaca panas begini. Kamu suruh aku pakai ginian. Pakai motor pula. Bisa belang kulitku!"


"Iddih! Kaya cewek aja takut hitam," ejek Andin. "Tenang aja nanti aku yang lulurin!"


Dua manik mata mereka bertemu di spion. Reza menyeringai penuh maksud. "Lulur plus-plus, ya."


"Hem!"


"Yes!"


Reza tergelak penuh kemenangan. Dengan semangat menggelora ia memacu motornya sesaat setelah lampu berganti warna. Sebuah mall yang terdapat bioskop di dalamnya menjadi tujuan mereka kali ini.


Begitu masuk, Andin sudah disuguhkan sesuatu yang tak menyenangkan. Ia risih dengan tatapan para pengunjung mal yang tertuju pada suaminya. Meski tak memiliki otot di lengan dan di perut, tubuh Reza terbilang proposional untuk seukuran pria bertinggi 183 cm. Memiliki kulit putih bersih dengan wajah perpaduan sunda dan manado—klan dari Hesti—membuat siapa saja akan tertarik menatap wajahnya berlama-lama.


"Aku nyesel, deh. Suruh kamu pakai baju begitu dan pergi kemari."


Langkah Reza terhenti ketika nyaris saja menyentuh pijakan pertama di eskalator.


"Kenapa?"


"Coba lihat kesana!" Reza mengikuti ekor mata Andin yang mengarah ke beberapa gadis remaja sedang tersenyum padanya. "Mereka tertarik sama pesona kamu!"


"Ngaco!" bantah Reza. "Kalau aku semenarik itu. Nggak akan lama aku menyandang gelar jomblo. Sudahlah, abaikan saja! Lagian mereka juga punya mata. Hak mereka mau lihat apa."


Andin mengangguk dan mempererat rangkulan tangannya di lengan suaminya dengan posesif. Sampai di gedung bioskop, ia mendapati hal sama. Rasa cemburunya tumbuh berkali-kali lipat.


Ternyata salah mengajaknya kemari.


Sejurus kemudian, tiba-tiba pandangan Andin mengabur disertai gejolak hebat di perutnya ketika aroma popcorn menyeruak masuk ke indra penciumannya. Bahkan rangkulan tadi pun berubah menjadi cengkeraman. Sontak hal itu membuat Reza meringis.


"Kamu kenapa, Sayang?" Kepanikan menyergap Reza kala melihat bibir istrinya itu pucat disertai bulir-bulir keringat yang menetes di kening.


"Mual!" Tepat disaat kata itu terucap, ia berlari masuk ke dalam toilet dan refleks kaki Reza ikut berlari menyusul Andin dan mengabaikan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang sekitar.


"Sayang!"


Hueekkkk ... Hueekkk ...


"Mas! Ini toilet wanita! Kamu dilarang masuk kesini!" Salah satu pengunjung memberi peringatan. Wajahnya tak ramah membuat Reza geram mendengarnya.


"Iya saya tahu! Tapi istri saya sedang sakit di dalam. Anda mau bertanggungjawab kalau ada apa-apa dengannya?" sergah Reza tak mau kalah. "Saya juga tidak tertarik untuk mengintip siapapun disini!"


Wajah wanita itu merah padam. Tak ingin banyak berdebat, ia memutuskan untuk keluar dari toilet sambil mengutuk Reza dalam hati. Sementara pria itu masuk ke salah satu bilik dimana sang istri sedang memuntahkan sesuatu di sana.


Hueeekkk ... hueekkk ...


"Sayang, kita kerumah sakit sekarang, ya?" tawar Reza sembari memijit tengkuk Andin.


"Aku nggak apa, Bee."


"Kalau kamu, nggak apa. Kenapa bisa sampai muntah begini?"


"Aku cuma mual."


"Mual kenapa?"


"Aku mual mencium aroma popcorn."


"Kok bisa? Popcorn disini, kan, makanan kesukaan kamu. Terutama popcorn rasa caramel."


"Aku nggak tahu, Bee."

__ADS_1


"Apa jangan-jangan Mbaknya lagi hamil?" Sebuah suara yang berasal dari petugas kebersihan menghentikan perdebatan mereka. Keduanya pun saling bersilang pandang.


"Hamil?"


__ADS_2