Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Akhirnya


__ADS_3

Reza mematung. Berusaha mencerna apa yang baru saja di dengar. Detik berikutnya, ia membalik badan. Menatap bingung pada Rudi.


"Ma-mahar?" Pria itu merutuki diri. Entah kenapa, disaat seperti ini ia merasa kerongkongannya tiba-tiba tercekat.


“Papi ….” Sama halnya seperti Reza. Andin pun sama terkejutnya. Dengan perlahan ia mendekati Rudi yang mengangguk padanya. Sesaat kemudian, pria paruh baya itu kembali menarik pandangan ke arah Reza.


"Apa yang kamu tunggu? Pergi sana! Atau kamu mau, saya berubah pikiran," gertak Rudi.


Reza tak lantas pergi. Ia justru menghampiri Rudi kemudian meraih tangan dan menciuminya dengan penuh kesyukuran. "Terima kasih, Om. Terima kasih banget. Saya janji akan menjaga dan melindungi Andin dengan sepenuh hati. Bila perlu saya siap mengorbankan nyawa untuknya."


"Lebay!" cibir Adrian dan mendapat gelak tawa dari orang tua maupun adiknya. "Kamu mau membuat adikku menjadi janda kembang?"


Reza bergidik ngeri. “Nggak, deng! Amit-amit.”


"Walau saya sempat kecewa. Tapi bila melihat ketulusanmu pada Andin. Rasanya terlalu egois kalau saya tidak merestui kalian," kata Rudi. Ia menoleh pada Andin sesaat sebelum merangkul pundak putrinya itu. "Apalagi sejak dulu, kamu adalah pria yang memang kami harapkan untuk menjadi pendampingnya."


Campuran rasa haru, senang, bangga dan bahagia menyatu seketika memenuhi dadanya. Bila saja ia tak menahan diri atau sadar akan dikira gila, mungkin saat ini ia sudah berlari sambil berteriak lantang. Memberitahukan pada semua orang bahwa saat ini ia luar biasa bahagia.


"Sekali lagi terima kasih, Om," ujar Reza. Ia melirik Andin sembari merentangkan kedua tangannya. Seolah ingin terbang ke dalam pelukan wanita itu. "Sayangku—."


"Eh ...." Adrian segera menghalangi langkah Reza dengan tubuhnya hingga pria itu tak sengaja memeluk calon kakak iparnya. "Kamu mau apa? Nikah dulu, baru pelukan!"


"Ish!" Dengan kesal, Reza menarik tangannya sembari menjauhkan tubuhnya. "Kayak dia dulu nggak parah aja," sembur Reza.


"Sorry, ya. Sebelum menikah, aku ini pria polos. Mana ngerti hal begituan!" protes Adrian.


"Polos dari mana? Memangnya aku buta sampai tidak melihat kelakuanmu?"


"Apaan? Kapan? Di mana? Anda jangan mengadi-ngadi, ya." Masih berusaha mengelak. Padahal tuduhan itu benar adanya. Terkadang ia tak habis pikir kenapa bisa dulu seperti itu. Ah, mengingatnya saja, sudah bisa membuatnya geli sendiri.


"Heleh! Ingat nggak waktu di rumah sakit? Ketika aku dan Andin ingin menjenguk Rissa yang baru sadar dari operasi transplantasi. Saat itu kami nggak sengaja melihatmu dan dia sedang asyik berciu—."


"Reza!"

__ADS_1


Suara dari wanita yang tiba-tiba hadir di antara mereka, menghentikan kalimat Reza. Semuanya menoleh. Ada Rissa dengan wajah yang terlihat merah padam. Antara menahan malu dan juga amarah. Bisa-bisanya di saat seperti ini dua pria yang ada dihadapannya itu membahas masa lalu. Terlebih lagi di sana ada sang mertua. Sungguh memalukan!


Susah payah Reza menelan salivanya. Tak menyangka perdebatan itu menarik perhatian mantan bosnya itu.


"Mampoooossss," celetuk Adrian puas.


"Kamu juga, Mas! Bisa diam, nggak? Nggak usah mancing-mancing orang!"


"I-iya Sayang. Maaf maaf, oke Mas diam." Kemudian menutup mulut dengan tangan telapak tangannya.


"Maaf Kak Rissa," ujar Reza.


"Diam!"


Sementara Andin, Rudi, dan Mira hanya menggelengkan kepala menyaksikan ketiga manusia yang sedang berdebat itu. Hingga lupa ada satu hal penting yang harus dibahas lagi.


"Sudah sudah! Hentikan!" sela Mira dan lekas membuat ketiganya tersadar. "Kenapa kalian jadi berdebat? Ini mau dilanjut apa nggak! Kalau nggak jadi, ya nggak apa."


"Ja-jangan dong, Tante." Reza gelagapan dan pergi menghampiri sepasang paruh baya yang pura-pura menjauh. "Om juga sudah memberikan restu. Masa' iya nggak jadi."


"Dilanjut, 'kan, Sayang?" tanya Reza pada Andin.


Wanita itu hanya mengangguk sambil menahan tawanya ketika melihat ekspresi Reza yang terlihat memelas. Ibarat bocah yang sedang merengek ingin dibelikan mainan baru.


"Makanya, pergi sana cari mahar." Rudi menyahut dengan gemas. "Jangan lupa bawa serta orang tuamu sekalian membicarakan tanggal pernikahan kalian."


Reza mengangguk semringah. "Siap Om. Segera saya laksanakan." Ia kembali mencium punggung tangan Rudi dan Mira secara bergantian.


"Andin, apa kamu sudah yakin ingin menikah dengannya? Mending kamu pikir-pikir dulu, deh. Sebelum menyesal nantinya." Adrian berusaha menggoyahkan iman adiknya. Tentu saja hal itu langsung mendapat lirikan sinis dari Reza.


"Heh! Sembarang kalau bicara!" sergah Reza. "Jangan mudah terhasut olehnya, Sayang."


Lagi-lagi Rudi dan Mira hanya menggelengkan kepala. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk benar-benar pergi meninggalkan putra dan calon menantunya itu kembali berdebat.

__ADS_1


"Tuh, kamu bisa lihat, kan. Dia saja nggak sopan sama Abangmu ini, Ndin. Bagaimana nanti kalau dia sudah jadi suamimu. Bisa diinjak harga diri Abang."


"Bagaimana orang mau sopan, Mas? Kamu saja begitu," sindir Rissa. "Kalau mau hormati dan dihargai, perlakukan juga orang seperti itu."


Adrian mengusap tengkuknya yang tak gatal sembari berkata, "Mas hanya bercanda."


"Sudahlah. Lebih baik kita melihat keadaan anak-anak," putus Rissa sembari menarik tangan suaminya agar pergi dari sana.


Seperginya Adrian dan Rissa, Reza menghampiri Andin dan menarik duduk wanita itu di sofa panjang. “Sayang, kamu mau mahar apa dariku?” tanyanya kemudian.


“Apapun yang kamu berikan, asal itu ikhlas dan tidak memberatkanmu. Dengan senang hati aku akan menerimanya, Bee.”


Desahan napas lega menguar di udara. Reza tersenyum. Tanpa aba-aba, ia langsung membenamkan tubuh Andin ke dalam pelukannya kemudian menciumi pucuk kepala wanita itu bertubi-tubi. Meluapkan rasa bahagianya di sana.


“Alhamdulillah ya, Sayang. Akhirnya apa yang kita khawatirkan, tidak terjadi.”


Andin mengangguk. “Iya, Bee. Alhamdulillah.”


Reza melepaskan pelukannya dan menatap wajah Andin lekat-lekat. “Kamu nggak bakal menyesal ‘kan kalau nikah sama aku?” Entah kenapa, rasa percaya diri yang semula membumbung tinggi, tiba-tiba saja menghilang. Rupanya, kalimat Adrian tadi begitu membekas di ingatannya.


“Kenapa harus menyesal? Aku ‘kan sayang dan cinta sama kamu."


"Tapi profesiku sekarang hanya petani, Yank," ucap Reza merendah. "Kamu nggak malu?'


"Kenapa harus malu? Pak taninya punya lahan berpuluh-puluh hektar dan semuanya menghasilkan uang. Sayang bila harus ditolak."


Mulut Reza menganga dengan mata terbelalak. "Oh, jadi hanya karena itu kamu mau menikah denganku?"


Andin terkekeh geli. "Ya nggak dong, Bee. Aku mau menikah denganmu karena kamu pria yang paling memahami semua sisi yang kumiliki."


Senyum Reza kembali mengembang. Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke pada Andin. Wanita itu dapat merasakan terpaan napas hangat yang membelai pipinya. Dekat, semakin dekat membuat manik indah yang tersembunyi di balik kelopak mata itu spontan tertutup. Siap menerima apa pun yang terjadi setelahnya.


Baru saja bibir Reza akan mendarat di tempat tujuan. Suara berat dari arah belakang. Menghentikan aksinya.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?!"


__ADS_2