Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Cemburu, Lagi?


__ADS_3

Denis menatap bergantian antara rangkulan di tangannya dan juga wajah Andin dengan penuh kebingungan. Lain halnya dengan Reza, pria itu merasa tubuhnya menjadi kaku. Ingin menyangkal, tapi pemandangan di depannya itu tampak nyata!


Rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuh Reza. Ia merasa terbakar. Sakit hati, marah, kecewa, sedih, putus asa bercampur di dadanya. Bagaimana mungkin Andin memiliki calon suami sementara yang dicari dan diharapkan wanita itu selama ini adalah dirinya?


"Calon suami?" Farah sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.


Andin mengangguk. "Iya." Ia menoleh pada Denis yang masih tampak bingung. "Mas! Kenalkan, mereka ini rekan bisnisku. Ini Farah dan ini ... atasan sekaligus calon suami Farah, Pak Reza."


Secara bergantian Denis menyalami Farah dan Reza. Ia mengernyit ketika telapak tangan besar itu mencengkeram tangannya sembari memandang dengan tatapan membunuh.


"Serius ini calon suami kamu? Bukannya kamu pernah bilang padaku, kalau kamu tidak memiliki kekasih?" cecar Farah yang masih tak percaya dengan kehadiran Denis yang begitu tiba-tiba.


"Tidak memiliki kekasih, bukan berarti tidak memiliki calon suami, kan?" Andin menegaskan kalimatnya sembari menyempatkan diri menatap Reza yang terlihat sangat kecewa.


"Ya juga, sih! Eh, tapi seru juga kalau kita bisa double date begini?" cetus Farah kemudian melirik Reza. "Ya nggak, A'?"


"Mungkin!" Reza membalik tubuhnya kemudian pergi tanpa arah memecah kerumunan pengunjung lain disusul oleh Farah yang susah payah mengimbangi langkahnya.


Melihat Reza semakin menjauh, Andin segera melepas tautan tangannya. Rasa segan bercampur malu seketika menghujam dadanya karena melibatkan Denis dalam sandiwaranya. "Maaf ya, Mas.”


"Nggak apa." Denis tersenyum maklum. "Ayo kita kesana. Aku akan sewa gazebo untuk kita. Atau kamu mau ke tempat lain?"


"Terserah Mas saja. Aku ngikut."


"Kalau aku nyebur ke danau, kamu mau ikut juga?"


Andin melirik sinis seraya memberikan pukulan gemas di lengan pria yang tak berhenti menggodanya.


"Nah, 'kan senyum. Enak dilihatnya dari pada manyun. Jelek!"


"Bodo amat!"


Denis terkekeh. Sampai akhirnya tawa itu terhenti kala petugas pengelola wahana sepeda air memberikan mereka pelampung berbetuk rompi untuk keselamatan.


"Oh iya, Mas. Kamu kesini sama siapa? Dalam rangka apa? Liburan? Atau bisnis?" Andin memberondong pertanyaan yang sedari tadi membuatnya penasaran. Tapi ada untungnya juga Denis ada disini. Setidaknya ia tak merasa canggung berada di sekitar mereka.


Tak ada jawaban, pria itu justru menyibukkan diri dengan memandangi wanita yang begitu menggemaskan dan juga cerewet.


"Mas!"


"Ya?"


"Kamu dengerin aku nggak, sih?"


"Dengerin cuma pertanyaanmu banyak banget. Aku bingung mau jawab yang mana." Denis mencoba memberi alasan.


Andin mendecakkan lidahnya. "Sudahlah lupakan saja."


"Ya marah ...." Sejenak Denis menghela napas kemudian berkata, "aku kesini sendiri. Aku baru saja mengunjungi makam kedua orang tuaku. Karena lokasi pemakaman dan danau nggak terlalu jauh, aku sempatkan untuk nyegerin otak."


"Mas asli warga sini juga?" tanya Andin.


"Juga?" Ulang Denis dengan mengerutkan dahinya belum mengerti siapa yang dimaksud wanita yang tengah merasa gugup di depannya itu.


"Ma-maksudku Mas sama seperti Farah. Dia juga asli warga sini, 'kan,” kilahnya.


Denis tersenyum. "Iya memang aku asli sini. Tapi semenjak orang tuaku wafat, aku pindah dan menetap di Bandung bersama kakek."


Andin hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Sedangkan Denis, ia mengedarkan pandangannya menatap beberapa pengunjung yang juga sedang menikmati keindahan alam yang disuguhkan oleh desa tersebut dan terhenti pada sosok pria yang menghunuskan tatapan tajam padanya.


Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat sangat membenciku? Apa ini ada hubungannya dengan Andin?


Sesaat kemudian, Denis memutus kontak mata tersebut dan beralih pada wanita yang duduk di sampingnya. "Ehm ... Andin.


"Ya Mas?"


"Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi maaf bila pertanyaan ini akan menyinggungmu." Denis terlihat ragu namun ia juga tak bisa menampung rasa penasarannya terlalu lama.


"Tanya tentang apa, Mas?"


"Dia!" Andin mengikuti arah pandang Denis. Irish cokelat miliknya tiba-tiba membesar dan reflek menghentikan gerakan kakinya yang sedari tadi mengayuh sepeda air diikuti Denis yang juga menghentikan gerakannya. "Ada hubungan apa antara kamu dan dia?"

__ADS_1


“Hanya rekan bisnis! Tidak lebih.”


“Tapi yang aku tangkap hubungan kalian tidak seperti itu,” bantah Denis.


“Seperti itu bagaimana? Aku dan dia memang tidak ada hubungan apa-apa selain bisnis. Dan lagi … Mas sudah melihatnya sendiri, ‘kan, kalau Farah itu calon istrinya.”


“Oh ....” Denis ingin sekali mempercayai kalimat Andin namun hati kecilnya meragukan itu.


“Ayo Mas, kita ke dermaga. Aku sudah lelah.”


“Baiklah.”


Denis dan Andin kembali menggerakkan pedal sepedanya menuju dermaga sambil sesekali melemparkan candaan hingga membuat Andin tertawa lepas. Tentu saja hal itu menarik perhatian pria yang sedang terbakar cemburu.


"A'!"


"Hem!"


"Kamu liatin apaan, sih?" Farah berusaha mencari-cari kemana arah pandang Reza. "Oh, itu. Mereka pasangan yang serasi, ya?"


"Biasa saja! Nggak ada serasi-serasinya sama sekali." Kini, pandangan Reza terisi penuh oleh Farah yang menatapnya dengan kening berkerut. "Sebaiknya kita pulang." Kakinya semakin kencang mengayuh pedal dan mengarahkannya menuju dermaga.


"Loh, A'! Kita belum mencoba permainan lain."


"Lain kali saja. Aku capek, mau tidur!"


Kerutan di kening Farah semakin dalam. Ia bingung dengan perubahan sikap Reza yang tiba-tiba aneh. Tadinya pria itu sangat bersemangat mengajaknya kemari, tapi entah kenapa sekarang justru sebaliknya.


"A', kita nggak nunggu Andin dulu. Kita perginya bareng, seharusnya kita pulangnya juga bareng." Farah mengingatkan sembari melepaskan pelampung di tubuhnya.


"Kamu nggak lihat, di sampingnya ada siapa? Pria itu bisa mengantarkannya pulang dengan selamat. Jadi kita tidak perlu menghawatirkannya."


"Tapi—."


"Aku tidak terima bantahan, Farah!" Reza mengulurkan tangannya, mengajak wanita itu untuk berjalan beriringan dengannya.


Baru beberapa langkah mereka meninggalkan dermaga, terdengar suara tubuh yang terhempas ke dalam air disertai teriakan beberapa pengunjung. Keduanya menoleh.


Tanpa pikir panjang, Reza berlari menghampiri Andin yang berusaha ditolong oleh Denis dan beberapa orang yang ada disana. Pria itu meletakkan asal dompet dan juga ponselnya barulah ia masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Andin. Kemudian, dengan hati-hati ia membawa tubuh Andin ke tepi dermaga dan merebahkan tubuhnya di atas sana.


“Andin … Andin ….” Reza melakukan resusitasi dengan bantuan napas dan pijat jantung (Cardio-Pulmonary Resucitation/CPR) kemudian menepuk-nepuk pipi Andin berusaha menyadarkan wanita itu dari pingsannya. “Andin, apa kamu bisa mendengarku?”


Reza menatap nyalang sembari mencengkeram kerah baju Denis. “Bagaimana ini bisa terjadi? Apa kamu tidak bisa menjaganya dengan benar? Hah!” Ia menaikkan intonasi bicaranya. Merasa geram pada pria yang ada dihadapannya itu.


“Kejadian ini terlalu cepat membuatku tidak bisa mencegahnya. Sebelumnya, Andin mengeluhkan kakinya terkilir ketika dia salah mengambil langkah. Lalu setelah itu, dia terjatuh ke dalam air karena hilang keseimbangan.” Denis berusaha memberi penjelasan sambil menepis tangan Reza.


“Mas, dari pada kalian bertengkar lebih baik Mbaknya dibawa ke klinik terdekat.” Salah seorang pengunjung memberi saran.


Reza menjauhkan tubuhnya dari Denis dan mendekati Andin. Ketika ia hendak mengangkat tubuh itu, dua bola mata yang tersembunyi di balik kelopak indah itu perlahan terbuka.


“Andin!”


“Bisa jauhkan tubuhmu dari tubuhku?” tegas Andin sesaat setelah melirik Farah yang berdiri tak jauh darinya. Raut wanita itu terlihat masam. Jelas sekali memancarkan kecemburuan disana.


“Andin, aku—.”


“Mas Denis, tolong bantu aku berdiri.”


Denis mengangguk, pun ia membantu Andin untuk berdiri. Namun ketika wanita itu mencoba melangkah, ia merasakan nyeri hebat di pergelangan kakinya.


“Arrggghh!"


"Andin, lebih baik kita ke klinik agar kakimu bisa ditangani dengan baik," ucap Reza namun tak dihiraukan oleh Andin. "Andin!


"Andin, benar apa katanya. Kita ke klinik, ya?" Akhirnya Denis membuka suara untuk membujuk wanita yang berjalan tertatih-tatih di sampingnya itu.


"Iya Mas, aku mau. Tapi harus kamu yang antar," pinta Andin dengan memberikan lirikan sinis pada Reza yang mana membuat pria itu menghembuskan napas beratnya.


Farah berjalan mendekat untuk melihat keadaan Andin sambil membawa kebingungan. Ia tahu Reza adalah sosok pribadi yang baik. Tapi bila mengukur jarak pria itu dibandingkan Denis yang lebih dekat dari Andin, tak seharusnya ia yang repot-repot masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Andin.


Dimenit berikutnya, kebingungannya itu terpatahkan. Saat tak sengaja melihat sebuah poto wanita yang terselip di dompet Reza yang baru saja dipungutnya. Bagai dihujam ribuan anak panah, hati Farah sakit hingga tanpa sadar setitik cairan jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


Ada hubungan apa sebenarnya diantara kalian?


***


Sesampainya di klinik, Andin segera mendapat tindakan dari dokter. Meski hanya sebuah klinik, namun tempat tersebut memiliki peralatan yang cukup lengkap.


Kursi panjang berbahan stainlees di depan ruang pemeriksaan itu terisi penuh oleh, Denis, Reza, dan Farah. Terlihat jelas di wajah mereka menyiratkan kecemasan.


Tak lama, seorang pria bersneli keluar hingga menyita perhatian mereka. Semua yang melihat segera mendekat padanya.


"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Reza.


"Menurut hasil rontgen, ada beberapa keretakan pada pergelangan kakinya," jelas dokter bername tag Handy tersebut.


"Apaaa?" Reza dan Denis kompak terkejut.


"Tidak perlu khawatir. Kami sudah memasangkan gips untuk membantu proses penyembuhannya dan memintanya sementara waktu menggunakan kruk—tongkat."


"Apa saya bisa menemuinya sekarang?" pinta Denis penuh harap.


"Iya dokter, saya juga ingin menemuinya," timpal Reza yang merasa sangat khawatir dengan pujaan hatinya tersebut.


"Boleh, silakan." Dokter itupun membuka lebar pintu yang ada di belakangnya.


"Ayo kita masuk," ajak Reza pada Denis dan Farah.


"Aa' duluan saja, aku mau ke toilet sebentar."


Pada akhirnya Denis dan Reza masuk ke dalam menemui Andin. Disaat Denis akan mendudukkan dirinya di samping kursi tunggu, ponsel yang berada di saku celananya tiba-tiba bergetar.


"Aku permisi keluar sebentar."


"Ya Mas."


Sepeninggal Denis dari ruangan itu, Reza mendekati Andin. "Bagaimana keadaanmu?"


"Seperti yang kamu lihat," jawabnya ketus tanpa memandang Reza sedikitpun.


"Andin ...." Pemilik nama itu menepis tangan Reza yang hendak meraih tangannya.


"Tidak seharusnya kamu berada disini, Reza."


"Kenapa? Karena ada Denis? Calon suamimu itu?"


Andin mengalihkan perhatiannya pada Reza. "Iya! Aku takut akan membuatnya salah paham."


"Aku yakin kamu tidak mencintainya," terka Reza menyeringai remeh.


"Cinta akan tumbuh dengan seiring waktu yang berjalan. Apalagi semua itu dibingkai oleh ikatan suci pernikahan. Dan aku percaya, pilihan orang tua pastilah yang terbaik."


Reza menyadarkan punggungnya sembari menyurai kasar rambutnya berkali-kali. Pria itu tampak putus asa. Harus dengan apalagi ia menyakinkan Andin?


"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, untuk menunggu sebentar saja. Aku akan menikahimu. Aku sangat mencintaimu Andin."


Andin menggeleng lemah. Susah payah wanita itu menahan air matanya. "Dan aku juga pernah bilang, lupakan aku. Berikan cinta itu untuk Farah. Karena dia yang paling berhak mendapatkannya."


"Andin ...."


"Kumohon, pergilah."


"Baiklah bila itu maumu." Reza berdiri dan menatap wanita yang sedang menundukkan kepala. "Mulai hari ini, aku sudahi perasaanku padamu. Semoga kamu bahagia." Tanpa menunggu jawaban, Reza pergi begitu saja meninggalkan Andin dan semua harapannya disana.


***


Seharusnya malam kemarin up. Tapi ada sesuatu dan lain hal yang mengharuskan up dini hari. (Ngeles🙃)


Saran ... lebih baik bacanya malam, sih. Karena part ini bikin emosi.


Benang Merah? Ehm ... sedikit lagi, dua atau tiga part ke depan.


Jangan lupa jejak.. lama ni otor gak tagihan.

__ADS_1


__ADS_2