Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Penculikan Andin


__ADS_3

I’m gonna love you till the end


I’m gonna be your very true friend


I wanna share your ups and downs


I’m gonna be around


Sebuah lagu milik MLTR, mengalun merdu melalui audio mobil membuat bibir Andin dan Reza sedari tadi tak berhenti mengikuti lirik tersebut untuk mengurangi rasa jenuh yang menyelimuti perjalanan mereka menembus padatnya lalu lintas malam ini.


Tak lama kemudian, tiba-tiba Reza terdiam. Merasa kering di bagian pangkal tenggorokanya. “Ekhem! Ehkem ....” Berkali-kali ia berdehem berusaha menetralkan rasa yang tak nyaman disana.


“Kenapa, Za?” tanya Andin khawatir.


“Serak,” jawabnya singkat sembari tangan kirinya sibuk membuka console box di samping kirinya mencari air mineral yang biasa tersedia disana. “Yah, habis ternyata,” keluhnya.


“Kamu mau minum?” tanya Andin yang diangguki oleh Reza.


Andin menatap ke lurus depan sambil mengingat-ingat sesuatu.


“Nanti dipersimpangan itu, belok kiri, lurus sedikit, belok kanan. Sebelum pos kamling, ada toko kelontong yang biasa buka dua puluh empat jam.” Andin memberi arahan. “Nah, kamu bisa membeli air mineral disana.”


“Tapi itu bukan ke arah rumahmu. Nanti putar baliknya jauh, loh."


“Daripada tenggorokanmu tidak nyaman? Pilih mana?”


“Iya juga, sih,” balas Reza. "Ekhemmm!" Reza kembali berdehem.


Reza mengikuti arahan yang diberikan Andin. Setelah melewati jalan yang padat, mobil milik Reza mulai merambat masuk menyusuri kawasan yang lengang dari kendaraan bermotor.


"Kamu kok tahu banget daerah ini? Padahal, 'kan daerah ini jauh dari rumahmu."


"Dulu, sebelum pindah ke rumah yang sekarang. Kami tinggal di daerah ini. Saat aku dan Bang Iyan masih SD, kami sering pulang pergi ke sekolah jalan kaki. Dan terkadang kami suka mencari jalan alternatif untuk memangkas jarak agar lebih cepat sampai ke rumah," jelas Andin menceritakan kehidupan masa kecilnya.


"Serius kalian jalan kaki?" tanya Reza terkejut. "Bukankah kalian orang kaya? Yang kemana-mana menggunakan sopir atau pengawal?"


Andin mengangguk dan tersenyum maklum. "Kami dulunya orang biasa, Za. Dan sekarang pun kami masih merasa seperti itu. Sebenarnya yang kaya itu, mami. Mami adalah putri tunggal dari pemilik perusahaan property tempat papi bekerja dulu. Tapi semenjak  menikah dengan papi, mami rela meninggalkan kemewahan dan hidup sederhana bersama papi yang mulai merintis perusahaan sendiri karena setelah menikah papi tidak bekerja di perusahaan kakek."

__ADS_1


Reza mengernyit heran. "Kenapa seperti itu? Apa pernikahan mereka tidak direstui kakekmu?" tebak Reza.


"Direstui namun kakek ingin melihat sejauh mana papi bertanggungjawab terhadap keluarganya. Agar kelak jika kakek meninggal, ia tenang meninggalkan putrinya ke tangan yang tepat. Terbukti, ketika Bang Iyan menginjak SMP usaha tour and travel yang dijalankan papi maju pesat. Dan disaat itulah kakek merasa sudah saatnya memberi semua harta kekayaannya pada putri satu-satunya itu,"


Tapi karena mami tidak memahami management perusahaan dengan baik mami dengan sukarela menyerahkannya pada papi untuk dikelola. Alhasil, perusahaan property dan tour and travel itu menjadi cikal bakal Dinata Group saat ini," tutur Andin panjang lebar.


"Pantas saja. Kamu dan Adrian tidak canggung berada di lingkungan biasa, makan makanan di pinggir jalan, dan sebagainya," kata Reza.


Andin hanya tersenyum.


Tak lama berselang, Reza pun menepikan mobilnya tepat di seberang toko.


“Kamu mau ikut turun?” tanya Reza sambil menarik tuas hand brake.


“Tidak, aku akan menunggumu disini,” ujar Andin.


"Kamu mau titip apa? Nanti kalau ada, aku belikan," tawar Reza.


Andin menggeleng. "Tidak, terima kasih.”


“Ya sudah, tunggu ya? Aku cuma sebentar, kok,” ucapnya kemudian pergi masuk ke toko.


Sangking asyiknya, ia tak menyadari kala seseorang menyelinap masuk ke dalam mobil dan menutup paksa pintunya.


“Sudah selesai, Za? Cepat banget.” Masih tetap fokus dengan ponsel.


"Hallo cantik ...." sapa Boby, seorang pria berpakaian serba hitam dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Mendengar suara yang bukan milik Reza membuat Andin harus mendongakkan kepalanya ke samping. Ia terlonjak kaget.


Ia segera melepas sabuk pengaman dan menarik tuas yang menempel di pintu, bermaksud untuk mengeluarkan tubuhnya dari sana. Namun gerakannya kalah cepat karena pintu sudah terkunci secara otomatis begitu pula dengan kacanya.


“Lo nggak bisa ke mana-mana. Maka dari itu, duduk dan diamlah!" bentak Boby.


Andin melirik ke arah toko, pria yang bersamanya beberapa saat lalu terlihat masih sibuk di depan sebuah lemari pendingin mengambil beberapa botol minuman yang terpajang disana. "Re—."


"Gue bilang diem! Lo teriak, gue bunuh lo," pangkas pria itu ketika melihat Andin akan berteriak seraya menodongkan pisau padanya. Andin mengangguk kaku.

__ADS_1


"Kamu siapa dan apa maumu?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar karena takut.


"Lo akan mengetahuinya nanti. Untuk itu lo harus ikutin permainan gue!" Mata tajamnya melirik pada benda pipih yang sedari tadi berada di dalam genggaman Andin.


"Kemarikan ponsel lo!" Belum juga Andin memberikannya, Boby sudah merampas paksa ponsel dari tangan Andin.


"Ambil, ambilah apapun yang kamu mau. Tapi tolong, lepaskan aku," kata Andin mengiba.


Pria itu menyeringai remeh, sesaat kemudian ia menyalakan mesin mobil. Reza yang samar-samar mendengar mesin mobil menyala, menolehkan kepala dan memicingkan matanya. Ia melihat bayangan seorang pria duduk di kursi kemudinya.


Seketika ia panik dan langsung meletakkan asal barang pilihannya di atas rak etalase kaca tepat di sampingnya.


"Andin!" teriak Reza sambil berlari menghampiri mobilnya.


"Hei! Mas!" panggil pria paruh baya pemilik toko tersebut pada Reza. "Mas! Ini jadi dibeli apa tidak? Kenapa diletakkan sembarangan!"


Tanpa mempedulikan teriakan dibelakangnya, Reza terus saja berlari mencapai mobilnya. Nyaris saja tangan Reza menyentuh gagang pintu, mobil itu sudah melaju kencang.


"Andin!" teriak Reza lagi dan kali ini berhasil mengundang perhatian warga sekitar yang berada disana segera berhamburan menghampiri Reza. Mencari tahu apa terjadi pada pria berparas tampan itu.


"Mas! Awas!" teriak salah seorang warga seraya mendorong paksa tubuh Reza agar terhindar dari motor yang memang sengaja hendak menabraknya. Namun naas, Reza tersungkur di atas jalan dengan kepala membentur tepian trotoar.


"Argghh," pekik Reza. Ia menyentuh kepalanya yang terasa sakit, ketika ia menurunkan tangannya ia terkejut ada cairan berwarna merah disana. Darah!


Sesaat kemudian, Reza merasa pandangannya mulai mengabur, tubuhnya melemas hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.


"Astaga! Dia pingsan!" seru Hendra, pemuda yang mendorong Reza tadi. Ia berjongkok memastikan keadaan Reza lebih lanjut.


"Kamu yang tadi mendorongnya, 'kan?" tuduh seorang pemuda lagi yang berdiri di depan Hendra. "Tanggungjawab kamu!"


"Iya, kamu harus tanggungjawab!" tambah pemuda yang lainnya yang lainnya.


"Aku mendorongnya agar dia tidak tertabrak motor. Mana aku tahu kalau akhirnya jadi begini." Hendra membela diri.


"Sudah jangan berdebat! Tolong bantu angkat dia dan bawa ke rumah saya." Suara seorang pria paruh baya yang mengenakan peci putih menutupi uban di kepalanya itu memecah perdebatan diantara tiga pemuda tersebut.


"Apa tidak sebaiknya di bawa ke rumah sakit saja, Pak Haji?" tanya pria bernama Mahmud yang berdiri di samping Pak Haji.

__ADS_1


"Tidak usah, bawa ke rumah saya saja, Pak Mahmud. Kebetulan putra saja seorang perawat di rumah sakit dan hari ini dia tidak bertugas." Pak Haji menatap beberapa pemuda di depannya. "Ayo lekas, kasihan dia."


"Baik, Pak Haji."


__ADS_2