
Fahreza Al Husein, hari ini kamu sudah membuktikan siapa dirimu sesungguhnya. Dan kamu, berhasil membuatku membencimu. Dasar pengkhianat!
“Maaf Bu, membuat Anda menunggu lama. Tadi toiletnya lumayan antre.” Suara Gita, berhasil membelah konsentrasi Andin. Buru-buru ia menyeka air mata sebelum kemudian ia berbalik dan menutupi pandangan Gita melalui tubuhnya.
“Gita, sepertinya kita harus kembali ke kantor,” cetusnya.
Gita mengerutkan kening. “Kenapa, Bu? Kita bahkan baru tiba disini.”
“Saya lupa kalau ada pekerjaan penting. Dan untuk makan siang, lebih baik kita pesan saja lewat aplikasi online.” Tanpa menunggu respon Gita, ia lekas menarik tangan sekretarisnya itu untuk pergi dari sana.
Langit kota Bandung siang itu tampak menghitam. Rintik hujan, perlahan mulai turun membasahi aspal jalanan. Dalam perjalanan menuju kantor, Andin hanya diam sembari menikmati suasana luar dari balik kaca mobil. Hatinya sakit. Pikirannya kalut. Pria yang selama ini ia anggap ‘berbeda’, ternyata sama brengseknya seperti pria-pria asing yang pernah ia kenali sebelumnya.
Siapa sebenarnya pria yang ia nikahi itu? Baru beberapa saat lalu, pria itu melambungkan perasaannya bahwa ia satu-satu wanita yang paling dicintai. Namun sesaat kemudian, pria itu berhasil mematahkan keyakinannya. Ternyata, menjalin persahabatan yang cukup lama belum tentu menjamin seseorang itu mampu dipercaya sepenuhnya. Bullshit!
Tiba di kantor Andin langsung menyibukkan diri demi memudarkan pikirannya mengenai hal yang terjadi di restoran tadi. Namun seberapa kuat ia mencoba menepis, semakin kuat pula bayangan itu muncul di kepalanya. Lelah, ia melepaskan pena dan menyandarkan tubuh di kursi sembari memejamkan mata.
Apa karena aku belum bisa memberikanmu seorang anak, kamu tega melakukan ini padaku? Apa rasamu sudah mulai terkikis dengan seiringnya waktu dan itu membuatmu bosan padaku?
Andin bukannya tidak pernah memeriksakan diri. Sudah beberapa dokter obgyn terbaik di kota itu yang ia datangi. Begitu juga dengan beberapa program kehamilan yang ia jalani. Hasilnya tetap sama. Ia dinyatakan baik-baik saja. Dokter menegaskan, peluang memiliki anak itu ada. Kapankah itu? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
Lamunan Andin buyar ketika mendengar suara derit pintu yang dibuka. Gita muncul dengan membawa berkas di tangannya. Kotak makan transparan dari salah satu restoran yang masih terisi penuh di meja kerja atasannya, menjadi pengalihan netranya kini.
“Ibu belum makan siang?” tanya Gita.
“Saya masih belum lapar,” jawab Andin.
“Ibu sakit? Wajah Ibu pucat.”
“Enggak, saya baik-baik saja.”
Gita tersenyum meskipun heran. Sebab, semenjak kepulangan mereka dari restoran tadi, Andin terlihat banyak diam. Entah apa, ia tak mau mengusik wanita itu terlalu jauh.
***
Semakin sore, hujan turun semakin deras. Begitu pula dengan suara petir yang menggelegar berkali-kali. Sudah lebih dari satu jam Andin duduk di lobby. Menunggu sang suami yang hingga kini belum juga datang menjemputnya. Ia mulai gelisah, tak biasanya pria itu membuatnya menunggu selama ini.
Sekali lagi ia membuka roomchatnya. Memastikan pria itu sudah membaca ataupun membalas beberapa pesan yang dikirim. “Kenapa masih centang satu? Ada apa dengannya?”
Napasnya terhela gusar. Suasana kantor mulai tampak sepi. Hanya meninggalkan beberapa karyawannya yang masih bekerja di ruangan masing-masing. Mulanya, Andin sempat mendapat tawaran Gita untuk mengantarkannya pulang dan bahkan wanita itu juga sempat menemaninya menunggu Reza. Namun melihat wajah lelah Gita. Dengan tegas, ia meminta sekretarisnya itu untuk pulang terlebih dahulu.
“Sayang!”
__ADS_1
Panggilan seseorang yang sangat ia nantikan, berhasil menyita perhatiannya. Pria berkemeja biru dongker dengan sedikit basah karena tetesan air hujan itu berlari ke arahnya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Sayang.” Nada suara Reza terdengar menyesal. Bagaimana tidak, ini pertama kali dalam pernikahannya, ia telah mengecewakan istrinya tersebut.
Andin tak memberikan jawaban. Ia berdiri kemudian berjalan mendahului suaminya menuju mobil. Melihat itu, Reza segera menyetarakan langkah di samping Andin.
“Sayang, kamu marah?”
Masih tidak ada jawaban.
“Maafkan aku. Tadi Farah—.”
Reflek, Andin menahan langkahnya dan kembali menatap Reza. “Farah?”
“Iya Sayang. Mobil Farah sedikit mengalami trouble. Jadi aku berinisiatif mengantarkannya lebih dulu.”
“Kenapa tidak menghubungiku? Apa kamu tahu berapa lama aku menunggumu?”
“Maafkan aku, Yank. Hapeku lowbatt. Sumpah!”
“Apa sekarang di mobil sudah tidak bisa mengisi daya?”
Reza mengatupkan bibirnya, tak berani membantah. Dalam hati, ia memaki dirinya sendiri. Kenapa bisa sebodoh itu. “Maaf Yank. Aku lupa.” Ia meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Andin meneruskan lagi langkahnya dan masuk ke dalam mobil. Di mobil, suasana juga tak kalah mencekam. Sesekali Reza melirik wanita yang hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Ia memaklumi itu sebab kesalahan ada pada dirinya. Mungkin bila sampai di rumah, ia akan meminta maaf dengan cara yang lain.
Pria itu tidak sadar. Kesalahannya bukan hanya terlambat menjemput. Tetapi juga kebersamaannya dengan Farah di restoran itu yang membuat istrinya itu marah. Andai ia jujur sedang apa, dengan siapa dan berbuat apa. Mungkin Andin bisa sedikit memakluminya.
Entah bagaimana Andin mengekspresikan dirinya. Ada rasa marah, sedih dan kecewa berkecamuk di dalam hatinya. Sungguh ia pun tidak bisa mengertikan perasaannya saat ini. Satu hal yang paling ia benci di dunia ini adalah kebohongan. Dan tragisnya, orang yang paling ia cintai melakukan hal itu.
“Tolong menepi di mini market itu, Bee!” pinta Andin seraya menunjuk sebuah toko retail yang berada beberapa meter di depannya. Reza mengangguk dan lekas menepikan mobil di bawah kanopi agar ia dan istrinya keluar tidak terkena tetesan hujan.
“Mau beli apa, Sayang?”
“Roti!” jawab Andin singkat.
“Kamu sudah lapar?”
Sepertinya pertanyaan itu terbuang sia-sia karena kali ini Andin tidak memberinya jawaban. Wanita itu segera melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya dan melangkah keluar dari mobil.
“Tunggu disini saja!” titah Andin kala melihat Reza ingin mengikutinya.
__ADS_1
“Kenapa? Aku mau ikut kamu ke dalam.”
“Aku cuma sebentar!”
“Ya sudah! Aku titip kopi panas, ya?”
“Hemm ….”
Andin masuk ke dalam toko. Sedangkan Reza kembali masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, netranya menangkap sosok wanita cantik. Mengenakan blouse pink motif bunga berlengan panjang dengan rok menjuntai hingga mata kaki. Tangan kanannya menenteng goody bag berukuran sedang sementara satu tangannya lagi memegang satu cup kopi panas pesanannya.
“Nih!” Andin menyerahkan cup itu pada Reza kemudian meletakkan barang belanjaannya di kursi belakang.
“Kenapa taruh di belakang, Yank?”
“Kenapa memangnya?” Andin malah balik bertanya. “Suka-suka aku, dong. Mau taruh dimana.”
“Kamu ‘kan lapar. Sambil jalan, rotinya dimakan saja.”
“Nanti saja makannya, kalau sudah di rumah. Kasihan mbak Jumi. Pasti dia sudah masak.”
“Kalau gitu, sini! Minta sepotong, aku juga sudah lapar.”
Tanpa mencegah, Andin langsung memalingkan wajahnya ke samping sembari tersenyum tipis saat Reza meraih kantong belanjaannya. Detik berikutnya, pria itu memekik. Ternyata isinya bukan roti dalam arti yang sesungguhnya.
“Yank! Ini sih, bukan roti. Tapi amunisi bulananmu!”
“Letakkan kembali dan cepat nyalakan mobilnya!”
Wajah Reza terlihat sedih. Bukan karena isinya yang tidak sesuai harapan. Melainkan sedih karena kali ini istrinya mendapat tamu bulanan. Itu artinya, Andin belum juga hamil. Padahal, mereka rajin membuatnya. Bisa dikatakan seperti minum obat antibiotik. Dua kali sehari dengan durasi yang cukup lama.
Setelah meletakkan barang itu ke tempat semula, Reza lekas menyalakan mesin dan kembali meneruskan perjalanannya. Hujan di luar, sudah menyisakan rintik. Namun hawa dingin masih menyergap dua manusia yang sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
Akhirnya, mobil Reza berhenti di carport rumahnya. Usai membersihkan diri, mereka turun ke dapur untuk menikmati makan malam. Selesai dengan ritual itu, mereka pun kembali pergi ke kamar dan beristirahat.
Malam ini, mata Andin enggan terpejam. Sekelebat ingatannya tentang kejadian siang tadi, masih jelas tergambar di kepalanya. Layaknya video yang menyangkan adegan demi adegan antara Reza dan Farah.
Ia menolehkan kepalanya ke samping. Dilihatnya pria yang ia yakini sedang menyembunyikan sesuatu darinya itu sudah memejamkan mata.
"Bee?"
"Ya?" Reza membuka mata dan menatap lekat ke arah istrinya. Dari sorot mata itu, Andin menjadi ragu. Tetapi kini, rasa cemburunya benar-benar merantai hati. "Ada apa, Sayang?"
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"