Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Permintaan Ibu Hamil


__ADS_3

Bandung kala itu sepertinya sudah memasuki musim penghujan. Aspal jalanan terlihat basah oleh rintik gerimis yang mulai berjatuhan sejak beberapa menit yang lalu. Begitu juga dengan angin yang berembus pelan, menggesekkan dedaunan dari pohon yang tumbuh di sekitar gedung rumah sakit.


Dari balik kaca transparan, Reza berdiri mengamati hal tersebut dengan perasaan tak karuan. Antara gelisah, rindu, bosan, senang semuanya bercampur dalam benaknya kini. Cukup lama ia menunggu sampai beberapa kali pindah tempat demi membunuh waktu. Namun, Farah dan Denis tak kunjung keluar dari ruang IGD.


“Apa yang mereka bicarakan? Lama sekali!” gumamnya kesal. Untuk kesekian kalinya ia menatap angka pada jam digital yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul 17.18. “Apa terjadi sesuatu?”


Khawatir sekaligus penasaran, ia langkahkan kaki mendekati pintu IGD. Meskipun ragu, ia beranikan diri membuka dan memasukkan tubuhnya secara perlahan. Denis yang menyadari kedatangannya, lekas mengangkat tangan. Mengisyaratkan pria itu untuk menahan langkah sejenak.


“… sekali lagi maafkan aku, Farah.”


Diantara isakan, Reza dapat mendengar suara istrinya dari balik tirai yang menggantung sebagai sekat antar ranjang pasien.


“Rasa cemburu membuatku buta untuk melihat dari berbagai sudut yang lain.” Andin berkata lagi.


Farah terseyum. “Percayalah … kamu, satu-satunya wanita baik dulu, sekarang hingga nanti yang akan selalu ada di hatinya. A’ Reza sangat mencintaimu. Jangan pernah ragukan itu. Dan bahkan aku sampai bosan bila ia selalu meminta pendapatku bagaimana caranya memberi kejutan romantis padamu.”


Ujung kalimat Farah, spontan menerbitkan senyum di bibir Andin. Wanita itu tahu suaminya bukan tipe otomatis romantis. Wajarlah, terlalu lama sendiri membuat Reza kaku bila berhadapan dengan seorang wanita.


“Bisa tolong panggilkan suamiku?” pinta Andin. “Aku ingin minta maaf padanya.”


Sejenak, Denis dan Farah saling bersilang pandang sebelum kemudian Denis mengalihkan perhatiannya ke belakang dan menyibak tirai. Pria yang masih berdiri disana, mengulas senyum seraya menatap dua manik sembab milik istrinya.


“Sayang ….”


“Kalau begitu kami permisi,” pamit Denis.


“Terima kasih, Mas Denis … Farah. Dan sekali lagi maaf sudah berprasangka yang bukan-bukan.”


“Sudahlah, Andin. Kita lupakan saja masalah itu. Oh iya, selamat atas kehamilan anak kembarmu, ya?”


Andin terkejut dan melirik Reza yang masih mengembangkan senyum. Pupus sudah kejutan yang ia persiapkan untuk pria tersebut karena pikiran bodohnya.


“Iya, terima kasih, Farah,” ucap Reza sebelum asisten dan kekasihnya itu benar-benar pergi dari sana.


Kini, tinggal lah calon orang tua itu saja di sana. Kamar IGD hari itu tampak sepi. Di sudut lain, ada beberapa dokter jaga yang sedang bekerja di balik meja kerja meraka. Andin menarik tubuhnya untuk duduk. Reza yang peka, segera mendekat.


“Jangan terlalu banyak bergerak dulu, Sayang.”


“Bee.”


“Ya, Sayang?”


Andin merentangkan satu tangannya yang bebas. Seolah meminta Reza untuk lebih mendekat padanya. “Peluk aku, Bee. Aku merindukanmu.”


“Aku juga merindukanmu, Sayang. Sangat!” Reza berkata seraya mendaratkan beberapa ciuman di pucuk kepala istrinya dengan sayang.


“Maafkan aku.”


Reza mengurai pelukan dan ganti menggenggam tangan Andin sembari menatap lekat.


"Sayang ... Kamu nggak perlu minta maaf. Aku yang salah."


"Enggak, Bee. Aku juga salah." Andin menarik tangannya dan mengusap pipi dimana ia sempat mendaratkan tamparan keras. "Aku sudah menyakitimu. Maafkan aku."

__ADS_1


Air mata yang sudah mengering, kembali menetes membasahi pipi Andin. Segera Reza menyekanya.


"Sstt! Jangan menangis lagi, Sayang. Bukankah kita seharusnya bahagia." Reza mengalihkan tatapan di perut istrinya yang rata. "Kasihan mereka kalau mendengar Bundanya sedih."


Andin tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Oh iya, Sayang. Kenapa kamu nekat pulang sendiri? Kalau ingin pulang, kenapa nggak menelponku lebih dulu?"


Rentetan pertanyaan yang sedari tadi ingin diajukan akhirnya terucap.


"Tadinya, aku ingin memberi kejutan, sebagai kado hari ulang tahunmu. Nggak tahunya aku yang terkejut dengan kejadian tadi." Andin menunduk. Rasa cemburu yang sempat menguasai hati, menghadirkan sesal sekaligus malu yang teramat dalam di lubuk hatinya.


Sementara Reza, terlihat senang. Meskipun ia sendiri lupa dengan hari lahirnya karena sibuk bekerja. Ah, bukan, lebih tepatnya ia sengaja menyibukkan diri untuk mengalihkan kerinduannya saat berjauhan dengan Andin.


Namun, terlepas dari itu semua. Ada rasa yang sulit ia jelaskan melalui bahasa apapun. Kabar kehamilan istrinya terlampau membuatnya bahagia.


"Hei, Sayang!" Reza mengangkat dagu Andin. Meminta wanita itu kembali menatapnya. "Hari masih belum berganti. Jadi kejutannya masih berlaku."


"Tetap beda, dong, kesannya."


"Bagiku sama saja, Yank. Kehadiran mereka adalah kado terindah yang pernah kudapatkan seumur hidupku. Terima kasih, Sayang. Terima kasih banget." Reza kembali merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan.


***


"Kamu lagi ngapain, Sayang?"


Reza yang baru saja masuk ke kamar, terlihat bingung mendapati Andin duduk di atas lantai berlapis karpet, sedang sibuk dengan beberapa jeans miliknya.


Tanpa berganti pakaian setelah seharian bekerja, ia ikut duduk di depan sang istri yang segera meraih tangannya dan ia balas dengan kecupan singkat di kening.


"Nggak apa. Ini kamu lagi ngapain? Kenapa celanaku berserakan kemana-mana?"


Perhatian Reza teralih menatap gunting, jarum dan beberapa gulungan benang yang ada di sekitar istrinya.


"Aku lagi robekin celana kamu," jawab Andin singkat. Tanpa menoleh, tangannya sibuk bekerja dengan gunting.


"Kok—." Kalimat Reza tertahan. Lekas ia meraih satu celana jeans berwarna hitam dan memperhatikannya secara seksama. Sejurus kemudian ia terbelalak. Ada beberapa robekan di bagian paha dan lutut. "Celana ini masih bagus, kenapa kamu malah berobeknya?"


"Aku mau melihatmu memakai itu, Bee. Kesannya keren dan semi-semi badboy gitu."


Tak ada yang bisa dilakukan Reza selain mendesah pasrah. Ia tahu sejak hamil, ada saja tingkah polah istrinya itu. Seperti beberapa hari yang lalu, ia sempat dibuat pusing atas permintaan nyeleneh sang istri yang mengidam ingin berkeliling komplek tengah malam buta menggunakan motor dengan alasan mencari angin.


Bukannya tak bisa protes. Hanya saja ia sedang berusaha sabar untuk memahami ngidam dan mood swing yang dialami Andin. Lagipula memang inilah masa-masa yang ia idam-idamkan sejak dulu. Lalu, untuk apa harus mengeluh. Toh, ini hanya berlangsung singkat.


"Buruan mandi. Kita makan malam diluar tapi kamu harus pakai jeans itu, ya?"


"Iyaaaaaa." Dengan segera, Reza bangkit menuju kamar mandi.


"Iya-nya yang ikhlas, dong!" sentak Andin. "Kamu ini sebenarnya sayang nggak, sih, sama aku?"


Langkah Reza terhenti. Untuk sesaat, ia memejamkan mata sembari memupuk kesabaran.


Sabar, sisa empat bulan lagi. Semuanya pasti akan kembali normal.

__ADS_1


Ia berbalik, menatap istrinya yang sedang cemberut. "Aku ikhlas kok, Sayang. Tunggu, ya? Aku mandi dulu biar semriwing wanginya."


Seperginya Reza dari hadapannya, Andin mengumpulkan semua celana yang tadi ia rusak dan melipatnya kembali. Menyisakan satu, ia letakkan di atas ranjang bersamaan dengan kaos v-neck bersamaan dengan kemeja lengan panjang motif kotak-kotak yang baru saja ia keluarkan dari dalam lemari pakaian.


Sekitar lima belas menit kemudian, Reza muncul dari balik pintu kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit di pinggang. Rambut yang basah serta harum yang menyeruak dari tubuh Reza, membuat Andin mendadak oleng. Semenjak hamil, wanita itu merasa ketampanan Reza naik satu tingkat menjadi tampan kuadrat di matanya.


"Kita nggak usah pergi aja, deh!" Tiba-tiba Andin berkata dan itu justru membuat Reza mengernyit heran hingga menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil baju.


"Loh, kenapa?" tanya Reza.


"Kamunya ganteng banget. Sementara aku." Andin menatap dirinya yang hanya menggunakan dress sebatas betis dengan ukuran lebih besar dari biasa yang ia pakai sebelum hamil. "Buluk, gendut pula."


Tak dipungkiri memang, semenjak hamil nafsu makan Andin meningkat drastis. Seolah tak peduli dengan penampilan, ia makan apa yang ingin di makan. Beruntung, selama hamil ia tak memiliki keluhan apapun seperti ibu hamil pada umumnya.


Reza mengulum senyum seraya mendekati istrinya. "Sayang, kamu begini karena sedang berjuang memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Lalu untuk apa pedulikan pandangan orang lain bila di mataku, kamu tetap yang tercantik dan terseksi." Sebuah kecupan mendarat singkat di bibir merah jambu istrinya.


"Iya, Bee."


"Jadi pergi nggak nih?"


"Dijadiin aja, deh. Udah lapar juga."


"As you wish, my love."


Setelah selesai memakai pakaian yang dipilihkan Andin. Reza menyempatkan diri memantulkan bayangannya di standing mirror. Terlihat aneh, sebab baru kali ini ia memakai celana 'rusak' seperti itu. Untung cinta!


"Lumayan juga. Sebelas dua belas, lah, sama oppa-oppa korea," gumamnya pelan kemudian keluar dari kamar menyusul Andin yang sudah menunggu di bawah.


Selama kurang lebih tiga puluh menit berkendara dengan menebus macet, mereka tiba di tempat tujuan. Meski bukan malam minggu, keadaan cafe terlihat ramai. Ditandai dengan banyaknya kendaraan yang terparkir di sana.


Setelah turun dari mobil, Reza menggandeng tangan istrinya masuk dan langsung menuju rooftop. Embusan angin malam serta merta menyambut langkah mereka ketika sampai di sana.


Memilih duduk di bagian depan dekat pembatas setinggi dada, mereka dimanjakan oleh suasana malam kota yang diterangi oleh lampu-lampu jalanan. Persis seperti menatap diorama yang bergerak.


"Sayang, kita duduk di bawah saja, ya?" Reza tampak khawatir. Sebab semakin lama berada di sini, hawa dingin semakin menjalar ke seluruh tubuh. Dan mungkin, hal ini akan berdampak buruk bagi kesehatan istrinya tersebut. "Nanti kamu pilek, loh!"


"Tapi dari sini pemandangannya bagus, Bee. Terus itu di sini juga ada live music. Aku bisa minta sesuatu padamu?" tanya Andin di ujung kalimatnya.


"Apa?"


"Nyanyikan sebuah lagu romantis untukku!"


Sepasang netra milik Reza membesar. Meskipun bisa memainkan salah satu alat musik, bukan berarti ia pandai bernyanyi. Terlebih ini di muka umum. Malu rasanya menampilkan suara sumbang miliknya. Bila bisa memilih, ia lebih suka duduk di kursi pesakitan saat sidang tesis atau melakukan presentasi di hadapan para investor dari pada bernyanyi.


"Tapi aku nggak terlalu bisa bernyanyi, Yank. Seriusan."


"Nggak terlalu, bukan berarti nggak bisa, kan?"


"Ah ehm ...."


"Jangan bohong. Aku nggak sekali melihatmu bernyanyi dengan gitar di rumah. Masa' permintaan sekecil ini kamu nggak bisa." Nada suara Andin terdengar bergetar. Begitu juga dengan cairan bening yang memupuk di pelupuk matanya. Bila sudah begini, Reza bisa apa? Selain pasrah, pasrah dan pasrah.


Reza maju menaiki panggung dan berbisik pada salah satu anggota band. Sejurus kemudian, musik mulai dimainkan mengiringi riuh rendah tepuk tangan para pengunjung cafe.

__ADS_1


Pada akhirnya, sebuah lagu milik Sheila On 7 - Anugerah terindah yang pernah kumiliki, sukses dibawakan oleh Reza.


Dari sini, dapat Andin menilai seperti apa tulusnya cinta suaminya tersebut. Bahkan ia sanksi, di belahan bumi mana lagi ia bisa menemukan sosok suami idaman seperti Fahreza Al Husein. Lalu, nikmat yang mana lagi yang ia dustakan?


__ADS_2