Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Sebuah Panggilan


__ADS_3

Matahari sudah berada tepat di singgasananya ketika roda mobil yang dikemudikan Reza berhenti sempurna di salah satu lahan parkir sebuah pusat perbelanjaan ternama di kota Bandung. Bukan tanpa alasan pria tersebut mengajak Andin kemari, selain ingin menghabiskan waktu berdua. Ia juga ingin menjajal beberapa wahana permainan yang ditawarkan oleh tempat tersebut yaitu Trans Studio.


Andin mendesahkan napasnya. Wanita itu pikir, seiring bertambahnya usia. Tak ada lagi minat Reza untuk bermain di tempat seperti itu. Ternyata ia salah. Bahkan kali ini Reza terlihat sangat bersemangat. Seperti seorang bocah yang baru saja mendapatkan mainan baru. Mungkinkah ini efek dari perubahan statusnya dari single menjadi double? Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


“Ayo Sayang.” Reza mengulurkan tangannya bermaksud membantu wanita yang masih terlihat kesal itu untuk turun dari mobil.


“Kenapa kesini, sih?” Sembari menggerutu Andin menyambut tangan Reza.


“Kan tadi di rumah aku sudah bilang. Mumpung aku disini, kita main. Anggap saja ini kencan pertama kita setelah resmi jadian,” jawab Reza. “Lagian, besok aku juga harus kembali ke kampung.”


“Ya, ‘kan bisa kencan ditempat lain. Taman kota atau pantai misalnya.” Andin mencoba memberi pilihan. Sebab wanita itu sangat menyukai kegiatan yang langsung bersentuhan dengan alam.


“Males ah! Siang-siang gini main di taman apalagi pantai. Nanti yang ada aku malah menjelma menjadi ksatria baja hitam. Saking teriknya."


Andin hanya memutar bola matanya jengah namun tak menyurutkan gerak langkahnya untuk terus mengikuti pria yang berjalan di sampingnya. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan pintu masuk wahana.


“Sayang, kamu tunggu di sini sebentar, ya? Aku mau ke toilet,” ujar Reza dengan menggerakkan jari kelingkingnya sebagai isyarat. “Udah di ujung.”


“Iya, jangan lama-lama.”


“Siap Bos!”


Sepeninggal Reza, Andin menepikan diri agak jauh agar tidak menghalangi jalan para pengunjung yang saat itu terlihat memang sangat ramai. Sebuah kursi panjang, menjadi pilihan Andin untuk mendudukkan diri sembari memainkan ponsel yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya.


"Andin!"


Seseorang memanggilnya, ia mendongak. Ada Denis dan seorang wanita muda yang berdiri di samping pria tersebut.


“Mas Denis?"


“Sedang apa kamu di sini?" tanya Denis.


“Ya, aku kesini mau main, Mas. Memangnya mau apa lagi?” Andin memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sebelum kemudian ia bangkit berdiri.


“Kan wahananya di sana bukan di sini." Denis menunjuk pintu masuk wahana. "Kamu sendirian?" tanyanya lagi kemudian mengedarkan pandangannya menatap sekitar. Mencari sosok yang mungkin saja datang kemari bersama Andin.

__ADS_1


Tubuh Andin sedikit terjingkat kala merasakan sebuah tangan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya dengan posesif. "Dia bersamaku," jelas Reza.


Wajah Denis berubah pias. Namun ia tidak terlalu terkejut dengan pemandangan di depannya karena ketika dulu saat di klinik, pun ia sempat mendengar semua percakapan antara Reza dan Andin. "Apa kabar?" Tangannya mengulur pada Reza.


"Baik," sahut Reza dengan sedikit memaksakan senyumnya. Entah kenapa ia tidak terlalu suka dengan keberadaan Denis. Terlebih lagi saat dirinya baru saja keluar dari toilet dan mendapati Andin sedang asyik berbincang pada pria tersebut.


Denis melirik wanita berambut ikal yang ada di sampingnya. "Oh iya. Kenalkan ini adik sepupuku, Della. Della, mereka ini teman baru Kakak."


Wanita bernama Della itu mengulas senyum ramah. Secara bergantian ia mengulurkan tangan tepat di hadapan Andin dan Reza.


"Kalau begitu kami permisi dulu. Mau melanjutkan acara." Dengan cepat Reza menyudahi pertemuan singkat itu karena mulai terganggu akan sorot mata Denis yang sedari tadi terus saja memandangi Andin.


"Silakan silakan. Kami juga mau naik ke lantai atas," balas Denis.


"Kami duluan ya, Mas?" timpal Andin yang mana hal itu membuat Reza segera menautkan alis tebalnya.


Akhirnya mereka pun berpisah dengan tujuan masing-masing. Setelah menjauh dari pandangan Denis, Reza segera melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mendahului Andin.


"Reza! Tunggu!" Andin berusaha menyetarakan langkah kakinya. "Kenapa kamu ninggalin aku?"


"Kamu kenapa, sih?" tanya Andin.


Masih tak ada jawaban.


"Reza! Jawab aku. Kamu kenapa?"


"Dasar nggak peka!" Reza memalingkan wajahnya ke mana saja asal bukan wanita yang terlihat bingung dengan perubahan sikapnya.


"Peka apa? Salahku dimana?"


"Kamu tadi mesra banget sama Denis," cicit Reza.


"Hah?" Semakin bingung Andin mendengar alasan Reza yang menurutnya sangat tak masuk akal. "Mesra? Dimana letak mesranya? Kamu, 'kan lihat sendiri aku dan dia biasa saja."


Reza mendecakkan lidahnya. "Kamu memanggil Denis dengan sebutan 'Mas'. Sementara denganku? Kamu hanya memanggilku dengan nama. Apa itu namanya kalau bukan mesra?"

__ADS_1


Andin mengulum senyum. Rupanya pria di sampingnya ini sedang cemburu hanya karena perkara panggilan. "Iya deh maaf. Aku ngaku salah." Ia mencoba mengalah. "Memangnya kamu mau dipanggil apa?"


"Terserah saja asal jangan namaku. Itu terdengar tidak sopan." Nada suaranya masih terdengar kesal.


Sejenak Andin terdiam tampak berpikir. "Sayang, Kekasihku, Cintaku, Hubbie, Lovi, Honey, Bee?" Ia mengabsen nama-nama panggilan yang menurutnya imut dan mesra.


"Panggil aku Mamas!" cetus Reza.


"Eaaakkkk ...." Seketika Andin merasa ingin muntah mendengarnya. "Menggelikan, apaan tuh Mamas? Mamas madu?"


"Itu nanas, Sayang!" bantah Reza. "Nanas madu."


"Aku nggak mau!"


"Ehmm ... Aa'?"


Rambut hitam panjang yang tergerai indah itu ikut bergoyang kala Andin menggelengkan kepalanya. "Nggak, itu panggilan Farah padamu. Aku mau yang lain. Pokoknya hanya aku yang boleh memanggilmu dengan sebutan itu."


"Iya tapi apa?"


"Bee," putus Andin kemudian.


"Okelah, itu juga tidak buruk." Reza tersenyum penuh kemenangan. "Coba tes."


"Astagfirullah!"


"Tes dulu, Yank. Cocok nggak sama aku?"


Andin mengeram kesal. Bila saja ia tak sadar ada di tempat umum. Mungkin saat ini ia sudah menggaruk wajah Reza yang tampak menyebalkan baginya.


"Yank!" sentak Reza. "Ya sudah aku marah." Ia memalingkan wajah menatap ke depan dengan tangan terlipat di dada.


"Ya sudah marah saja. Bukan aku ini yang repot." Andin menyampirkan tali tas ke pundaknya kemudian berdiri namun dengan cepat Reza mencekal tangannya hingga membuat wanita itu kembali terduduk.


"Sayang sayang. Ya sudah, nggak usah. Aku tahu kamu mungkin masih malu atau canggung. Aku bisa menunggu, kok," ucap Reza melemah. Tangannya tergerak meraih beberapa sulur rambut Andin dan menyelipkannya di belakang daun telinga. "Ayo kita kesana. Keburu sore, aku nggak mau kelelahan. Karena besok kita akan menempuh perjalanan yang cukup jauh."

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Andin saat melihat pergerakan Reza yang hendak bangkit. Sesaat kemudian, ia beringsut sembari menempelkan kedua tangannya membentuk sebuah lorong di telinga Reza lalu berbisik. "l love you more, Bee."


__ADS_2