Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Pria Idaman


__ADS_3

Andin memejamkan matanya sembari merasakan ada sesuatu yang tak nyaman dalam dirinya. Keringat dingin mulai mengucur bersamaan dengan irama jantungnya yang berdetak tak beraturan. Berkali-kali ia menarik napas lalu mengeluarkannya secara perlahan, berusaha menetralkan rasa sesak di sana.


"Masuk!" titahnya ketika mendengar suara ketukan seseorang dari balik pintu ruangannya.


Gita—sekretaris yang baru dipekerjakan Andin sesaat setelah ia memimpin Foody Industries, salah satu perusahaan dibawah naungan Dinata Group yang bergerak di bidang pangan itu mengangsurkan tubuhnya masuk ke dalam ruangan.


“Bu Andin,” pekiknya. Wajahnya berubah panik. Ia meletakkan iPad yang berada di tangannya di atas meja kemudian mendekat ke arah bosnya itu. “Anda kenapa, Bu?”


“Saya tidak apa-apa, jangan khawatir.” Andin menegakkan tubuhnya sementara tangannya mengulur untuk meraih gelas yang berisi cairan bening di sisi kiri mejanya. Belum sempat tangan itu menyentuh, Gita sudah lebih dulu menyambar dan meyerahkan padanya.


“Terima kasih,” ucap Andin setelah menegak isinya hingga tandas. “Ada apa kamu kemari?"


“Apa saya harus panggilkan dokter, Bu?” Gita balik bertanya.


Andin menggeleng . “Tidak perlu. Saya tidak apa-apa."


"Tapi wajah Anda pucat sekali. Bagaimana kalau ada yang serius pada—."


Andin mengangkat tangannya, mengisyaratkan Gita untuk menyudahi kalimatnya. "Ada apa kamu kemari?" ulangnya lagi.


Gita menghela napas. Ia menarik langkahnya mengitari meja lalu duduk di kursi bersebrangan dengan Andin.


"Saya sudah menemukan perkebunan yang cocok sebagai pemasok buah ke pabrik kita, Bu. Perkebunan ini memiliki buah melon dengan varietas terbaiknya," jelas Gita. Kemudian ia mulai menggerakkan jemarinya di atas layar iPad dan terhenti kala manik matanya menangkap sesuatu di dalam sana. "Ini Bu. Saya rasa ide Anda untuk mengembangkan buah melon menjadi jus kemasan akan terealisasi."


"Benarkah? Dimana lokasi perkebunan itu?" Andin menarik iPad dari tangan Gita kemudian memperhatikan beberapa aktivitas para pekerja sedang memanen buah yang dihasilkan dari perkebunan itu secara saksama.


"Ada di daerah Sukabumi. Tepatnya di Desa Sukaraya, Bu."


Gerakan jari Andin terhenti kala mendengar kalimat yang baru saja Gita katakan. Untuk sesaat, ia menarik pandangannya tepat di manik mata lawan bicaranya itu.


"Su-sukabumi?" Suara Andin terdengar terbata. "Perkebunan itu ada di Sukabumi?"


Gita mengangguk kaku. "Iya Bu. Daerah pedesaan. Waktu tempuh dari Sukabumi sekitar setengah jam. Berarti dari Bandung ke Sukaraya memakan waktu kurang lebih dua jam setengah dengan kecepatan normal."


Andin terdiam, tampak berpikir. Sebenarnya tak masalah baginya mau sejauh apa jarak yang harus ditempuh bila itu sangat menguntungkan bagi perusahaan, ia takkan mundur. Hanya saja, mendengar nama Sukabumi. Mengingatkannya pada sosok yang selama ini ia rindu dan ia ... cinta.


Sudah lebih dari tiga tahun sejak kepergian sosok itu, ia merasa hidupnya hambar. Tidak seperti saat pria dengan segala polah tingkahnya yang selalu bisa membuat hari-harinya penuh warna.

__ADS_1


Bila ditanya, sudahkah ia mencari keberadaan sosok itu? Jawabannya, sudah. Bahkan wanita itu memohon dengan sangat pada Adrian dan orang tuanya agar dapat dipindahtugaskan ke perusahaan yang di Bandung sembari memantau perkembangan orang-orang kepercayaannya dalam proses pencarian. Mulanya, penolakan sempat dilayangkan atas keputusannya yang terdengar konyol itu. Apa daya, kekerasan hati serta kuatnya tekad, membuat mereka pun pasrah akan keputusan tersebut.


Karena tak kunjung menemukan titik terang, beberapa bulan yang lalu pencarian itu sengaja ia dihentikan. Padahal bila dilihat dari administrasi pemerintahan. Kabupaten Sukabumi hanya terdiri atas 47 kecamatan, meliputi 364 desa dan 3 kelurahan. Kabupaten itu sangatlah kecil bila dibandingkan dengan kota besar lainnya. Sepertinya, nasib baik belum berpihak padanya. Pria itu benar-benar menutup akses layaknya debu yang tertiup angin di udara. Sirna tanpa jejak.


Namun satu hal yang pasti. Sampai detik ini, tak pernah sekalipun Andin berhenti berharap bahwa suatu hari takdir akan mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang lebih baik.


"Bagaimana Bu?" tanya Gita, membelah keheningan yang menyelimuti keduanya. "Apa Ibu tertarik untuk bekerja sama dengan perkebunan itu?"


Sembari menghela napas panjang. Andin kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kamu atur saja pertemuannya. Pastikan pemiliknya mau bekerja sama dengan kita."


Binar kebahagiaan seketika tampak di wajah Gita. Ia meraih iPadnya dan mulai menggeser gambar demi gambar yang ada di sana. Senyum yang menyiratkan sesuatu, mengalihkan perhatian Andin.


"Kenapa kamu sangat antusias sekali?"


"Saya hanya senang, Bu,” sahutnya tanpa sedikitpun menyurutkan senyum.


"Senang?"


Gita mengangguk. "Iya Bu. Akhirnya kita bisa bekerja sama dengan perkebunan itu."


"Katakan! Ada apa?"


"Ehm ... Ehm ... Se-sepertinya saya sudah menemukan lelaki idaman saya, Bu."


"Hah?"


Gita menutup wajahnya berusaha menyembunyikan rona merah karena malu. "Ibu mau melihatnya?" Menyodorkan iPad namun dengan cepat dicegah oleh Andin.


"Tidak tidak. Itu tidak perlu. Saya bukan tipe wanita yang ingin tahu dengan urusan pribadi orang lain. Kamu nikmati sajalah sendiri. Puaskan matamu untuk memandangnya. Kalau perlu sampai matamu itu nyaris keluar dari rongganya."


"Ah Ibu. Pengertian sekali Anda."


Gita melanjutkan lagi aktivitasnya dengan memandangi wajah rupawan dari lelaki idamannya. Sementara Andin hanya memutar bola matanya malas.


"Pria inilah pemilik perkebunan itu, Bu," jelas Gita.


Andin mencondongkan tubuhnya. Menautkan jemarinya dengan siku yang menumpu di atas meja. "Oh ... Jadi itu alasanmu merekomendasikan perkebunannya pada perusahaan kita?" Nada suara Andin terdengar sarkas. Membuat Gita semakin gelagapan.

__ADS_1


"Bu-bukan Bu. Bukan itu alasan saya," sahut wanita berkacamata itu dengan terbata. "Saya berani merekomendasikan pada Anda, karena perkebunan itu memang layak untuk bekerja sama dengan kita. Serius, saya tidak mengada-ngada."


Andin mengulum senyum. "Ya ya ... saya percaya."


"Tapi ...." Gita ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi apa?"


"Saya ragu apakah bisa saya menaklukan hatinya. Sementara dia, sepertinya tak mudah untuk berinteraksi dengan wanita." Wajah Gita berubah sendu. Desahan napas terdengar jelas di ruangan itu.


"Kenapa kamu bisa membuat kesimpulan seperti itu?"


"Ya karena ... selama beberapa hari saya dan tim melakukan survey di sana. Tak pernah sekalipun saya memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pemiliknya. Selalu saja asistennya yang mendampingi saya kesana kemari."


"Mungkin saat itu, dia memiliki urusan yang sangat mendesak. Bisa jadi karena hal itu dia meminta asistennya untuk menemanimu."


Gita mengangguk-anggukkan kepalanya. Membenarkan asumsi itu. "Iya juga, sih. Lagi pula, asistennya juga seorang wanita. Mungkin menurutnya lebih mudah bila harus bertanya-tanya lebih spesifik lagi."


"Nah, itu tahu," sahut Andin. "Saya tidak terlalu paham bila berurusan dengan hati. Namun ada sedikit saran yang bisa saya berikan padamu. Bersikaplah biasa layaknya wanita terhormat di hadapannya. Jangan sampai dia tak nyaman dengan keberadaan kita di sekitarnya."


"Siap, Bu." Gita memberi hormat layaknya bawahan pada komandannya. Sepersekian detik kemudian ia menurunkan tangannya ketika teringat sesuatu. "Eh, kenapa saya jadi curhat begini, ya? Duh ... maaf ya, Bu. Mulut saya kalau sudah ngomongin cowok kadang susah direm." Memukul mulutnya sendiri yang mana hal itu membuat Andin terkekeh.


"Sudahlah, sebaiknya kamu kembali ke mejamu. Persiapkan dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk kerja sama tersebut."


"Baik Bu." Andin mengiringi tubuh sekretarisnya itu sampai lenyap dari balik pintu ruangannya.


***


Mohon Maaf bila novel ini terkesan lambat.


Pekerjaan di dunia nyata saya benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Untuk pekerjaan saya, sudah saya jelaskan di novel Bang Iyan. Sekali lagi maaf. Bulan Februari hingga Mei benar-benar padat.


Untuk itu saya sangat berterima kasih pada kakak readers yang masih setia menunggu Bang Echa dan Neng Andin Update.


Saya tidak akan menggantung kisah mereka karena saya mempunyai tanggung jawab moril di sini. Berani memulai berani menyelesaikannya. Saya jamin kisahnya tidak akan ada namanya alur tergesa, konflik prematur hingga End hambar.


Salam cinta (Kaina Coryn).

__ADS_1


__ADS_2