
“Baiklah, target bulan ini tercapai dengan sangat memuaskan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, saya berikan bonus sekaligus cuti selama satu minggu. Nikmatilah liburan kalian bersama orang-orang terkasih,” ucap Adrian, disambut sorak sorai kegembiraan dari anak buahnya tak terkecuali Andin dan Reza yang juga berada di ruang rapat tersebut. “Rapat selesai, silakan kembali ke ruangan kalian masing-masing.”
Adrian beranjak dari kursinya untuk kembali ke ruangannya melalui pintu khusus diikuti oleh Rendy, sekretaris setianya.
“Andin.” Reza berlari kecil menghampiri wanita yang sudah lebih dulu memasukkan tubuhnya ke dalam ruangan wakil Presdir dimana ruangan tersebut adalah tempat kerjanya sejak beberapa bulan lalu ketika Adrian menaikkan jabatannya sebagai wakil. Sedangkan dirinya saat ini sudah menjabat sebagai Direktur Umum. Menggantikan posisi Andin.
“Ada apa, Za?” tanya Andin sembari mendaratkan tubuhnya di kursi kerja miliknya. Kedua tangannya mulai sibuk memilah-milah beberapa tumpukan berkas yang akan ia masukkan ke dalam lemari arsip.
Reza menarik salah satu kursi putar yang ada di hadapan Andin sebelum kemudian ia pun duduk di atasnya.
“Aku mau mengajakmu makan siang bersama. Kamu mau makan siang di mana? Di kantin atau mau makan di luar?” tawar Reza, “Tenang ... aku yang traktir.” Menepuk dadanya berkali-kali.
Andin mencebikkan bibirnya. “Hem ... Sombongnya.”
Reza tersenyum. “Bukan sombong, aku hanya tidak ingin makan siang sendirian. Apa kamu mau menemaniku makan siang?”
Andin diam sejenak sembari berpikir.
"Bagaimana? Mau tidak?" Reza mendesak lewat pertanyaannya.
Andin mengangguk. “Baiklah, aku mau. Bagaimana kalau kita makan siang di—.”
Tiba-tiba ponsel yang berada di dalam tas kerjanya mengeluarkan suara, menandakan ada panggilan masuk disana membuat Andin menghentikan kalimatnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk menjangkau benda pipih tersebut. Wanita itu mengembangkan senyum bahagianya melihat nama orang yang selama ini ia rindukan terpampang jelas di layar ponselnya.
“Reza sebentar, aku akan menerima panggilan ini dulu,” ucap Andin yang diangguki oleh Reza.
Andin beranjak dari kursinya untuk menyudutkan diri agar Reza tidak mendengar percakapannya. Ia segera menggeser ikon hijau dan mendengar suara pria di ujung sana.
“Baby, aku minta maaf. Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku untuk mengunjungimu. Akhir-akhir ini aku sibuk menangani beberapa proyek besar yang menguntungkan bagi perusahaanku,” keluhnya.
“Iya tidak apa, Mas. Aku bisa mengerti.”
“Maaf ya,” ucap pria itu dengan suara penuh rasa bersalah, “bila pekerjaanku selesai, aku akan segera datang ke Jakarta untuk menemuimu dan melepaskan rindu ini padamu.”
Aneh, tidak biasanya dia menjauh seperti itu ketika menerima telepon, walaupun itu penting. Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku? batin Reza.
__ADS_1
Reza masih bergeming di posisinya. Ia mencoba menjangkau percakapan Andin dan orang yang berada di seberang sana. Entah kenapa, ia tidak suka melihat wajah Andin yang semringah seperti itu saat menerima telepon tersebut.
Setelah selesai bertukar suara dengan seseorang, Andin melangkahkan kakinya menghampiri Reza. “Ayo, kita makan siang sekarang. Aku juga sudah lapar.”
Reza mengangguk mengiyakan. Kemudian mereka keluar dari gedung perusahaan menuju ke salah satu restoran pilihan Andin. Sesampainya di restoran, keduanya langsung mendudukkan diri di bagian luar restoran yang menghadap ke arah taman bunga. Sembari menunggu menu yang mereka pesan datang, Andin kembali asyik dengan ponselnya. Sedangkan Reza, ia menempelkan sikunya di atas meja dan mengepalkan tangannya untuk menopang dagunya, merasa bosan diabaikan oleh Andin.
“Andin.”
“Hem.”
“Apa ada sesuatu yang menarik di ponselmu, hingga membuatmu mengabaikanku seperti ini?”
Andin yang sedari tadi sibuk menatap layar ponselnya, berganti menatap Reza.
“Tidak ada.” Andin ia meletakkan benda pipih itu di atas meja dengan layar menghadap ke bawah.
“Bila tidak ada. Mengapa kamu senyum-senyum sendiri sambil terus memandangi ponselmu? Lalu, siapa yang meneleponmu tadi ketika kita masih berada di ruanganmu?” Pertanyaan Reza terdengar posesif di telinga Andin. Membuat wanita itu mengerutkan dahinya.
“Reza, ada apa denganmu? Sejak kapan kamu mengurusi urusan pribadiku?” Ada nada tidak suka dari pertanyaan yang terlontar dari mulut Andin. Ia merasa Reza sudah terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadinya.
Tak lama kemudian, seorang wanita muda berseragam khas pelayan restoran, datang mendekat sambil membawa nampan berisi dua porsi menu santap siang pesanan keduanya.
“Silakan, Mas, Mbak,” ucap sang pelayan ramah, sesaat setelah menyajikan makanan tersebut di atas meja. “Selamat menikmati.”
“Terima kasih, Mbak,” sahut Andin dan Reza secara bersamaan.
Pun mereka makan dalam keheningan. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu beradu di atas piring. Sesekali Reza melirik pada Andin yang fokus menyantap makanannya.
“Andin,” panggil Reza setelah menghabiskan menu makan siangnya.
“Ada apa lagi?” sahut Andin malas. Ia kembali menarik pandangannya menatap Reza dengan terpaksa.
“Kemana kamu akan menghabiskan masa cutimu?” tanya Reza.
“Aku akan pergi ke suatu tempat,” jawab Andin singkat.
__ADS_1
“Ke mana?” tanyanya lagi. Reza memicingkan matanya.
“Rahasia.”
“Kenapa kamu sekarang main rahasia-rahasiaan padaku? Bukankah kita selama ini selalu jujur satu sama lain."
"Tidak semua hal yang menyangkut urusan pribadiku, kamu harus mengetahuinya. Kamu hanya teman bagiku. Ingat, hanya teman tidak lebih. Dan kamu harus tahu di mana batasanmu, Reza,” tegas wanita itu dengan nada penuh penekanan, mengingatkan status mereka. Walau tidak sedikit penghuni kantor Dinata Group yang beranggapan keduanya memiliki hubungan spesial, namun nyatanya tidak. Mereka hanya teman belaka.
Bagai tertusuk sembilu, hati Reza sakit mendengarnya. Mungkin Andin akan selalu menganggapnya teman, namun tidak bagi Reza. Meskipun sampai saat ini Reza belum juga berani mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Andin, tapi dengan sikap dan perhatian kecil yang ia berikan selama ini, sudah membuktikan bahwa ia sangat mencintai Andin.
“Iya, iya. Tidak usah kamu perjelas. Aku tahu kita hanya berteman,” ucap Reza dengan suara yang sedikit bergetar. Terlihat jelas raut kesedihan di wajahnya yang tampan.
Reza melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Ayo kita kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” imbuhnya mengalihkan topik lalu pria itu bangkit berdiri.
“Eh, kamu duluan saja. Biar aku naik taksi. Aku harus pergi ke suatu tempat.” Andin mengaitkan tali tasnya di pundaknya.
Seketika Reza menghentikan langkahnya yang hendak menuju meja kasir. Pria itu memalingkan wajahnya menghadap Andin.
“Kalau begitu, aku akan menemanimu," cetus Reza
“Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri,” tolak Andin tanpa mengalihkan pandangannya menatap ponselnya, rupanya ia sedang membuka sebuah aplikasi untuk memesan taksi online melalui benda pipih tersebut.
“Jangan membantahku. Bukankah aku ini temanmu. Sudah sepantasnya, seorang teman membantu temannya, bukan?”
“Tadi kamu bilang, pekerjaanmu masih banyak.” Masih berusaha menolak.
“Itu bisa menunggu. Batalkan orderanmu sekarang juga!" tegas Reza, menunjuk ponsel yang digenggam Andin.
Andin mendesah pasrah. “Baiklah.”
“Kamu tunggu di mobil. Aku akan membayar ini dulu.” Reza merogoh saku celana bahannya untuk mengeluarkan kunci kontak lalu memberikan benda itu pada Andin. Sementara ia pergi ke meja kasir.
Setelah selesai dengan urusannya, Reza menyusul Andin yang sudah lebih dulu mendudukkan dirinya di mobil. Kemudian ia pun melajukan kendaraannya menuju tempat yang di maksud Andin.
“Kamu mau beli apa?” tanya Reza saat keduanya sudah menjejakkan kaki di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.
__ADS_1
“Kamu akan mengetahuinya nanti.”