Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Aku Akan Mendapatkanmu


__ADS_3

Boby berjalan ke sebuah ruangan diikuti Sam di belakangnya, menghampiri pria yang tengah duduk memunggungi mereka. Terlihat di kedua jari pria tersebut terselip sebatang rokok yang sudah tersisa setengah.


"Permisi, Tuan," ucap Boby.


"Hem." Pria itu hanya berdehem. Setelahnya, ia mengembuskan gumpalan asap rokok ke udara.


"Kami sudah membawa wanita itu, Tuan."


"Apa ada yang mengikuti kalian sampai kemari?" tanyanya dengan nada terkesan datar.


"Tidak ada, Tuan. Bahkan pria yang bersamanya, jatuh di pinggir jalan saat seseorang mendorongnya untuk menghindari motor saya yang akan menabraknya," sahut Sam yang berdiri di samping Boby.


"Tapi, Tuan ...." Boby menghentikan kalimatnya, ragu untuk meneruskan.


Pria yang sedari tadi membelakanginya, memutar kursinya menghadap Boby dan Sam yang tertunduk, "tapi apa?"


Boby dan Sam sejenak saling melempar pandangan, sebelum kemudian Boby menjawab,


"Wanita itu pingsan, Tuan. Dia sempat histeris saat melihat teman prianya jatuh. Demi menghindari perhatian warga, saya terpaksa memukulnya," jelas Boby, "maaf, Tuan," lanjutnya lagi.


Pria itu menekan ujung rokoknya ke dalam asbak berbahan keramik sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan menghampiri anak buahnya yang masih bergeming di posisinya.


"Setidaknya dia tidak mati, itu sudah cukup bagiku. Dimana dia sekarang?" tanyanya kemudian.


"Dia ada di kamar utama, Tuan."


Mendengar jawaban Boby, pria itu tersenyum puas. "Bagus, aku akan menemuinya sekarang." Menepuk-nepuk pundak kedua anak buahnya itu secara bergantian.


Boby mengangguk, ia menggeser tubuhnya memberi jalan pada bosnya, "silakan, Tuan."


Pria itu melangkah pergi keluar dari ruangan itu. Belum kakinya menjejak di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya tanpa membalik badannya


"Pastikan tidak ada seorangpun yang akan mengangguku!" titahnya tegas.


"Baik, Tuan. Silakan nikmati malam Anda bersamanya."


Kemudian ia melanjutkan lagi langkahnya keluar dari ruangan dan masuk kamar utama.

__ADS_1


***


Decitan suara pintu yang terbuka berhasil mengalihkan perhatian dari wanita yang baru saja terjaga. Ia memicingkan matanya mencoba menelisik siapa yang masuk ke kamar tersebut. Sesaat kemudian ia pun terbelalak.


"Ditmar!" pekik Andin. Ia bangun dari tidurnya sambil memegangi tengkuknya yang terasa sakit.


"Hai, kau sudah sadar tenyata. Apa kabar?" sapa Ditmar ketika sampai di depan Andin. "Senang berjumpa denganmu lagi."


"Jadi kau yang memerintahkan mereka untuk menculikku?" Andin bertanya dengan nada sarkasmenya.


Ditmar membungkukkan sedikit tubuhnya sembari melipat tangannya di dada dan menatap Andin dengan tatapan mengintimidasi, "aku tidak akan senekat ini, bila sejak awal kau mau mengikuti permainanku," bisiknya lirih.


Andin berdecih. "Dasar pria brengsek! Aku tidak menyangka kau bisa selicik ini!"


Mendengar hal itu, Ditmar tertawa keras hingga menggema di segala penjuru kamar.


"Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Bisnis is bisnis. Dunia bisnis itu kejam, Andin."


"Kau memang tidak waras, Ditmar! Apa kau pikir dengan menculikku akan mengubah keputusanku? Hah? Kau salah besar!"


Ditmar acuh dengan ucapan Andin, ia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang yang mana membuat Andin menarik dirinya menjauh hingga ke tepi lainnya untuk kewaspadaan.


Pria itu mengulurkan tangannya hendak mengelus wajah Andin, namun dengan cepat Andin menepisnya.


"Jauhkan tanganmu dariku! Aku tak sudi disentuh oleh tangan kotormu itu!" teriak Andin penuh emosi.


"Apa kau ingin membuat pita suaramu putus? Apa kau lupa saat ini kau ada dimana? Kau berada di rumahku, rumah yang dulu selalu menjadi tempat kita melepas rindu saat aku datang ke kota ini," jelas Ditmar membuat Andin terkejut.


Wanita itu berdiri dan berjalan mendekat ke arah jendela yang terbuka. Benar saja, rumah ini adalah tempat yang dulu sering ia kunjungi saat masih menjadi kekasih Ditmar. Lalu, dari sana pula ia bisa melihat keadaan sekitar dan ia pun bisa melihat beberapa anak buah Ditmar di bawah yang berjaga di beberapa titik rumah tersebut.


"Kau lihat sendiri, kan. Teriak pun percuma! Tidak akan ada yang mendengarmu karena keberadaan rumah ini jauh dari pemukiman warga," ucap Ditmar yang tiba-tiba sudah berada di belakang Andin dan memeluknya.


"Aku bilang jangan menyentuhku!"


Lagi-lagi Andin menepis tangan Ditmar. Tapi Ditmar tak menyerah, ia mengangkat tubuh Andin dan menghempaskannya ke tengah-tangah tempat tidur.


"Jika aku tidak mendapatkan apa yang menjadi tujuan utamaku, tak masalah. Sebagai gantinya, aku akan mendapatkanmu." Ditmar menyeringai. Perlahan ia merangkak naik ke atas ranjang.

__ADS_1


***


Sementara di sisi lain, seorang pria muda dengan kepala terbalut perban sedang mondar mandir di teras rumah seorang pria paruh baya yang menolongnya tadi. Berkali-kali ia menatap ke arah jalan berharap orang yang ditunggunya akan segera tiba.


Ya, setelah sadar dari pingsannya, Reza langsung menghubungi Adrian dan memberitahukan bahwa adiknya diculik. Adrian yang panik, pun segera menghubungi Rendy dan orang-orang kepercayaannya untuk mencari adiknya tanpa memberitahukan perihal ini pada Rudi dan Mira, khawatir kedua orang tuanya akan syok.


"Tunggu di dalam saja, Nak Reza. Mungkin temanmu terjebak macet di jalan," ucap Usman yang datang dari arah dalam.


"Terima kasih, Pak Haji. Saya tunggu disini saja," sahut Reza seraya duduk di kursi rotan yang ada di teras.


Usman pun melakukan hal yang sama, ia ikut duduk di samping Reza terpisah oleh meja kecil ditengahnya. Ekor matanya menyorot tajam ke arah Reza yang tampak gusar.


"Tenang, Nak. Insya alloh, temanmu akan baik-baik saja disana."


"Ini salah saya, Pak Haji. Jika saja saya tidak meninggalkannya, mungkin hal ini tidak akan terjadi," ujar Reza menyesal. Ia menyurai rambutnya ke belakang dan menyadarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Bukan sepenuhnya salahmu, ini musibah."


Tak lama, sebuah mobil masuk dan berhenti di halaman rumah Usman. Reza yang hafal siapa pemiliknya, segera beranjak menghampiri dua pria yang keluar dari mobil tersebut.


"Kepala kamu kenapa itu?" tanya Rendy yang heran melihat perban melingkar erat di kepala Reza. Ada sedikit bercak darah yang sudah mengering disana.


"Abaikan saja ini," sahut Reza singkat. "Bagaimana, apa kalian sudah mendapatkan dimana posisi Andin sekarang?" tanya Reza tanpa basa-basi pada Adrian dan Rendy.


"Sudah, aku meminta orang-orang ITku untuk melacak gps di ponsel Andin. Dan kini posisinya berada di pinggiran kota, lumayan jauh dari sini," kata Adrian.


"Ayo kita ke sana," cetus Reza dengan tidak sabarnya. "Tapi tunggu sebentar, aku harus pamit dan mengucapkan terima kasih pada beliau." Reza melirik ke arah Usman yang berdiri di teras, sedang memperhatikannya.


Adrian dan Rendy kompak mengangguk. Mereka mengekor dibelakang Reza yang sudah lebih dulu masuk ke teras. Ternyata, istri dan anak Usman pun juga keluar dari dalam rumah. Setelah berbincang singkat, akhirnya mereka pamit permisi.


"Pak, Bu, Mas. Sekali lagi saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan maaf sudah merepotkan Bapak dan keluarga karena musibah yang menimpa saya ini," ucap Reza tak enak.


"Iya, Pak. Terima kasih telah menolong teman kami," tambah Rendy.


"Tidak perlu sungkan, Nak. Sudah kewajiban kita sesama manusia untuk saling tolong menolong." Usman mengalihkan pandangannya pada Adrian. "Bapak hanya bisa mendoakan semoga adik kamu selalu dalam lindungan-Nya."


"Aamiin," sahut mereka bertiga kompak.

__ADS_1


"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak. Sekali lagi terima kasih."


Reza, Adrian dan Rendy bergantian menyalami keluarga kecil tersebut sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi dari sana.


__ADS_2