
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Andin duduk sembari menyandarkan punggungnya di kursi. Sorot mata sendunya, tak lepas menatap kosong ke arah luar kaca jendela mobil yang dikemudikan oleh Gita. Rupanya, kehadiran Reza yang begitu tiba-tiba di hadapannya beberapa jam lalu, memberi kesan tak menyenangkan bagi dirinya.
"Aku mencintaimu, Andin. Sungguh sangat mencintaimu."
Andin memejamkan mata, hingga setitik cairan bening kembali jatuh di permukaan kulit pipi kala kalimat itu kembali memenuhi ingatannya. Bagaimana bisa Reza segila itu mengatakan bahwa ia mencintainya sementara pria itu akan segera menikah? Bahagia? Tentu saja tidak. Wanita itu justru merasa khawatir mengenai hal itu. Bisa ia bayangkan berapa banyak hati yang akan terluka bila ia menyambut rasa yang telah lama bersarang di hatinya.
Andin mengusap air matanya kemudian menoleh pada Gita yang tengah fokus mengendarai mobil. "Ta, tolong putar arah dan antarkan saya pulang."
"Ada apa, Bu? Apa Ibu baik-baik saja?" Gita mengernyit heran. Pasalnya waktu masih menunjukkan pukul dua lebih sedikit. Tak biasanya Andin pulang terlalu dini seperti ini. Terlebih dengan adanya proyek yang baru saja mereka tangani.
"Saya merasa tidak enak badan."
"Apa perlu kita ke dokter, Bu?"
"Tidak perlu berlebihan seperti itu. Dibawa istirahat saja sudah cukup. Dan untuk masalah pekerjaan, saya serahkan padamu untuk menghandlenya."
Tanpa bertanya lagi, Gita mengangguk setuju. "Baiklah, Bu." Sembari melirik spion yang menggantung di tengah, ia menggeser tuas lampu sein ke arah kanan untuk meminta jalan.
Tak sampai tiga puluh menit, roda mobil salah satu pabrikan Italia itu berhenti tepat di depan bangunan dua lantai bergaya minimalis modern. Ia mengernyit heran ketika pandangannya terisi penuh oleh dua mobil yang berjejer rapi di carport rumahnya. Wanita itu tahu betul siapa pemilik dari kendaraan tersebut.
“Eh, kamu mau kemana?” tanya Andin ketika melihat Gita ikut menyusulnya keluar dari mobil.
“Kan mobilnya—.”
“Kamu bawa saja,” pangkas Andin seraya melambaikan tangannya, mengisyaratkan sekretarisnya itu untuk masuk kembali. “Terlalu lama bagimu kalau harus menunggu taksi pesananmu datang kemari.”
Gita kembali mengangguk. “Baiklah kalau begitu, Bu. Semoga Anda lekas sembuh.”
“Ya, terima kasih.” Andin memandangi sedan merah yang perlahan mulai menjauh meninggalkan rumahnya.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Andin memantulkan diri sejenak di kaca mobil sembari membenarkan penampilannya yang mungkin saja akan menyita perhatian tamu-tamunya bila melihat ada bekas tangisan di sana.
"Onty!" Sebuah suara yang berasal dari belakang berhasil menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh, ada gadis kecil berambut panjang terikat rapi menyerupai ekor kuda tengah berlari ke arahnya.
"Aleysia!" Andin berjongkok seraya merentangkan tangannya menyambut kehadiran keponakannya itu ke dalam pelukan. "Kok ke sini nggak bilang-bilang?" Beberapa ciuman ia daratkan dikedua pipi chubby keponakannya yang kini sudah semakin tinggi dan cantik.
"Kejutan," jawab Aleysia singkat.
__ADS_1
"Kejutan? Kejutan apa?" tanya Andin masih mengerutkan dahinya bingung. "Ini, 'kan bukan long weekend atau hari libur sekolah."
Aleysia tak menjawab, ia hanya mengendikkan bahunya.
"Onty onty!" Seorang lagi memanggilnya, dan kembali mengalihkan perhatian Andin pada pria cilik yang berjalan tergopoh-gopoh sembari merentangkan kedua tangannya meminta gendong diikuti oleh kakak iparnya di belakang. "Amay ndong."
"Ammar! Jangan lari, Sayang!" ujar Rissa memberi peringatan pada putranya itu.
"Hai Ammar ...." Andin mengangkat tubuh pria cilik itu kedalam gendongannya sedangkan tangan kirinya menggandeng Aleysia untuk menuntunnya masuk ke dalam rumah.
“Ammar sama Mamah aja, ya gendongnya. Kasihan Onty, pasti capek habis pulang kerja.” Ammar menyembunyikan kepalanya di ceruk lehar Andin sebagai penolakan atas permintaan sang bunda.
“Nggak apa, Kak,” ujar Andin. “Oh iya, Kak. Ada apa kemari? Kok tumben. Memangnya Aleysia nggak sekolah?”
"Wajah kamu kenapa itu? Seperti habis menangis?" Rissa tak menjawab rentetan pertanyaan yang diberikan padanya, namun justru memberikan pertanyaan balik pada wanita yang terkejut di sampingnya itu.
“Ah … ehm … tidak. Siapa yang menangis?” elak Andin. “Aku hanya lelah. Beberapa hari ini terlalu banyak proyek yang harus aku tangani.”
Rissa hanya mengangguk-anggukkan kepala. Cukup dengan mendengar jawaban terbata dan terkesan gugup, sudah mampu memberikan kesimpulan apa yang ada di dalam pikirannya.
Sofa ruang tengah itu berisi penuh oleh anggota keluarganya yang lain, ketika Andin baru saja menapakkan kaki di sana.
"Mami ...."
Rissa mengambil alih putranya agar Andin leluasa memeluk tubuh wanita yang melahirkannya tersebut.
"Andin, bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kamu makan dengan teratur? Apa tidurmu cukup? Bagaimana pekerjaanmu?"
Baik Adrian, Rissa dan juga suaminya itu kompak menggelengkan kepala mendengar Mira mencecar Andin dengan berbagai pertanyaannya. Sorot mata tua itu meneliti penampilan Andin, memastikan tidak ada perubahan dari terakhir kali mereka bertemu dua bulan yang lalu.
"Biarkan Andin bernapas dulu, Mi. Suruh duduk sini. Papi juga kangen," timpal Rudi. Tangannya berulang kali menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
Usai memberikan sapaan serta pelukan pada papi dan kakaknya, Andin mendaratkan tubuhnya di sofa panjang dengan diapit oleh kedua orang tuanya. Walau jarak tempuh Jakarta-Bandung hanya beberapa jam saja, namun tak serta merta keluarga ini dapat berkumpul seperti ini apalagi ditengah padatnya kegiatan dari masing-masing perusahaan yang mereka pimpin.
"Ada apa kok pada rame-rame kemari? Nggak biasanya?" Andin mengulang pertanyaannya yang sempat ia lontarkan pada Rissa beberapa saat yang lalu.
"Selain kangen, kami juga mau merayakan ulang tahunmu disini."
__ADS_1
"Andin sudah tua, Pi. Nggak perlu lagi hal-hal kayak gitu dirayain," protesnya.
"Kalau kamu sudah merasa tua, kapan menikah?" cetus Adrian tiba-tiba.
"Ituuuuu lagi. Nggak ada pertanyaan lain apa, yang enak di jawab?" keluh Andin disertai decakkan lidah karena tak sekali ia mendapat pertanyaan seperti ini.
"Usia kamu sudah tiga puluh tahun, Nak. Sampai kapan kamu akan melajang seperti ini? Sebenarnya apa yang kamu tunggu? Apa kamu mau menunggu sampai salah satu dari Mami dan Papi sudah nggak ada?" Suara Mira terdengar memberat dengan mata mulai berkaca-kaca. Ibu mana yang tidak merasa khawatir melihat putrinya sampai detik ini sama sekali tak memiliki niat untuk membina rumah tangga.
"Mami! Kenapa berbicara seperti itu? Mami dan Papi akan selalu ada buat Andin." Andin membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Rudi dan Mira secara bergantian. Kristal bening yang sudah mulai mengering itu kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Tapi sampai kapan, Nak? Usia manusia tidak ada yang tahu. Sementara kematian itu pasti terjadi."
Suasana di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi melo. Membuat Rissa meminta kedua anaknya pergi ke pojok bermain yang disediakan khusus oleh pemilik rumah agar keponakannya itu nyaman bila berada di sini.
"Apa kamu masih mengharapkan Reza yang sampai saat ini belum juga muncul batang hidungnya?" tanya Rudi yang sudah mengetahui perasaan Andin pada Reza sejak wanita itu memutuskan untuk pindah ke kota ini sambil mencari keberadaan pria tersebut.
Dia ada, Pi. Dia ada. Tapi dia tidak akan pernah menjadi milik Andin.
"Bila dia juga mencintaimu. Tak seharusnya dia pergi meninggalkanmu selama bertahun-tahun seperti ini, Nak. Jadi Papi harap, lupakan dia dan buka hatimu untuk pria lain," imbuh Rudi.
Andin masih terlihat bungkam sementara air matanya mengalir tak berkesudahan. Sesak rasanya menyudahi perasaan ini namun apa boleh buat, mempertahankannya juga tak ada gunanya. Sampai kapan pun, Reza memang bukan untuknya.
"Ehm ... Andin ...." Adrian terlihat ragu, ia melirik Rudi membuat pria paruh baya itu menganggukkan kepala memberi izin untuk meneruskan kalimatnya.
"Iya Bang," sahut Andin. Sambil mengusap air matanya, ia mendongak menatap sang kakak.
"Begini ... salah satu tujuan kami datang kemari selain ingin merayakan ulang tahunmu. Kami juga ingin mengenalkan seorang pria padamu—."
"Aku dijodohkan?" Dengan melebarkan netranya Andin memangkas kalimat Adrian.
"Mengenalkan, Andin. Bukan menjodohkan," ralat Rissa penuh penekanan. "Bila kamu menyukainya, hubungan ini akan berlanjut. Namun bila sebaliknya, kami tidak akan memaksa. Walau besar harapan kami kamu dapat menyukainya dan bisa menggantikan posisi Reza di hatimu."
"Tapi Abang bisa pastikan kalau kamu akan langsung menyukainya walau hanya dalam satu kali pertemuan. Abang sangat mengenalnya. Dia pria baik, sopan dan juga bertanggung jawab."
Andin diam sejenak sembari menatapi satu persatu wajah-wajah penuh harap yang ada di sekitarnya. Menghela napas panjang sebelum kemudian berkata, "baiklah, bila kalian pikir dia sebaik itu. Aku akan mencobanya."
"Oke, malam ini kalian akan bertemu." Adrian menjentikkan jari sembari tersenyum senang karena berhasil meyakinkan adik perempuannya itu.
__ADS_1
"Hah?"