
Rumah sederhana berlantai dua yang sempat ditinggalkan oleh penghuninya beberapa tahun lalu, kini tampak begitu berisik. Karpet sudah tergelar di ruang tamu, menggantikan sofa dan beberapa perabot yang ada di sana. Helaian-helaian kain kilap dipadukan dengan bunga segar yang dijadikan backdrop juga sudah terpasang apik menutupi dinding putih rumah tersebut. Namun pria yang sebentar lagi akan melepas masa lajang itu masih terlihat duduk di tepian ranjang sambil menatap sebuah poto wanita di dalam dompetnya.
Sesekali ia tersenyum. Ada rasa tak percaya dalam dirinya, bahwa wanita yang ada di poto tersebut sebentar lagi akan menjadi istrinya. Menjadi miliknya.
“Ya ampun, Cha. Kenapa belum siap-siap, sih?” Tanpa mengetuk pintu, Hesti melesatkan tubuhnya masuk sembari mengomel. “Tamunya udah pada datang, kamunya masih pakai handuk kayak gitu.”
“Bu, Echa kangen Andin," ujar Reza memelas yang mana hal itu membuat sang ibu mendecakkan lidahnya.
Bagaimana tidak kangen, sejak pertemuan dua keluarga beberapa minggu yang lalu sampai sekarang, tak sekalipun Reza pernah bertemu dengan Andin meskipun berada di kota yang sama. Selain karena menjalani tradisi pingitan. Keduanya pun sepakat untuk tidak saling berkomunikasi melalui telepon selama menjalani ritual tersebut. Sebenarnya berat, sangat berat. Tapi mau tak mau merekapun harus melakukannya.
“Tahan … sisa dua hari lagi.”
“Tapi kenapa rasanya lama sekali?”
“Ya jangan dirasakan. Pasti nggak bakal enak.”
“Ibu!” seru Reza yang semakin memanyunkan bibirnya.
"Sabar, Cha. Cukup kamu jalani dan nikmati prosesnya. Agar semuanya nggak akan terasa lama. Bukan cuma kamu yang seperti ini, Andin juga pasti merasakan hal yang sama."
Reza hanya mendesah dan mengangguk paham.
“Betul apa kata ibumu itu!” sela Ahmad yang tiba-tiba datang. “Kamu harus bersabar. Kalau hari itu tiba. Terserah kamu mau diapakan istrimu itu. Bahkan kamu bebas mengurungnya sepanjang hari di dalam kamar.”
“Hush! Bapak ini ngomong apa, sih? Ngajarin anak yang nggak benar.”
“Lah, salahnya dimana? Itu, 'kan sesuatu yang—.”
“Kenapa Bapak kemari?” potong Hesti cepat.
“Pengajiannya sudah mau dimulai. Kenapa kalian masih ada di sini?”
Hesti menoleh pada Reza. "Ayo cepat pakai bajunya, Cha. Ibu sama Bapak turun duluan.”
"Iya, Bu."
Hesti dan Reza sama-sama beranjak. Reza pergi mendekati lemari pakaiannya. Sedangkan Hesti dan suaminya pergi keluar kamar untuk kembali ke lantai bawah.
__ADS_1
***
Cukup banyak, tamu yang diundang pada malam itu. Mulai dari keluarga besar yang rela bertandang jauh-jauh dari kampung, tetangga dan beberapa orang dari kelompok pengajian ibu-ibu yang Hesti ikuti dulu bahkan para jamaah masjid, turut hadir dalam acara pengajian pra nikah untuk memberikan doa agar diberikan kebaikan serta keberkahan pada pernikahan Reza dan Andin kelak.
Beruntung ketika memutuskan untuk kembali pindah dan menetap dikampung, rumah dari hasil kerja keras Ahmad dan Reza selama tinggal di ibukota itu tidak dijual. Hanya dibiarkan kosong, namun sesekali Rania dan suaminya datang untuk menginap disana bila ada urusan pekerjaan. Hingga mudah bagi mereka mengadakan acara seperti ini di rumah tersebut. Terlebih lagi, perhelatan akbar yang akan di laksanakan dua hari ke depan, juga di Jakarta.
Acara pun di mulai ketika pria mengenakan baju koko berwarna maroon dan celana bahan dilengkapi peci yang menutupi rambut hitamnya itu sudah duduk bergabung dengan para tamu undangan laki-laki. Senyumnya tak menyurut membuat yang melihat bisa meraba betapa bahagianya pria tersebut.
Suasana berubah khidmat ketika doa yang dilafalkan seorang pemuka agama mulai terdengar melalui speaker yang terhubung ke microphone. Reza menundukkan kepala seraya mengucapkan ribuan kata syukur atas sebuah nikmat yang Tuhan berikan padanya. Cukup sudah pencariannya selama ini. Cukup sudah kesakitan yang ia lalui. Karena kini hatinya sudah berhenti di satu wanita yang tepat di saat yang tepat.
Tak berselang lama, acara inti pun selesai dilaksanakan. Reza menghampiri adik dan para sepupunya yang duduk lesehan di salah satu sudut ruangan tersebut.
"Kalian nggak makan?" tanyanya ketika melihat tak ada satupun dari mereka ikut mengantri untuk mengambil makanan yang tersaji di atas meja prasmanan.
"Kita gampang, Kak. Tuan rumah ini," jawab salah satu dari mereka.
Reza hanya mengangguk-anggukkan kepala kemudian mengalihkan tatapannya pada Rania yang sedari menatapnya tak berkedip. Seketika dua alis tebal itu berkerut.
"Kenapa?"
Mereka kompak menggeleng.
"Apanya yang beda?" Reza menatap tubuhnya sembari mengusap wajahnya berkali-kali, memastikan sesuatu yang dianggap beda oleh adiknya itu. “Biasa saja.”
"Auranya yang beda." Jawaban Rania disambut gelak tawa orang-orang yang ada di sana.
"Ini pasti karena lawan mainnya yang benar-benar pas," timpal pria gempal bernama Roman.
"Oh jelas! Mainnya di kelas premium." Reza membenarkan kalimat itu dengan gaya sombongnya.
"Semoga kali ini sampai ke pelaminan ya, Kak? Eh, langgeng, deng. Sampai kakek nenek,” ralat Roman cepat.
"Aamiin Ya Allah," sahut Reza seraya mengangkat tangannya kemudian mengusapkannya ke wajah.
"Soalnya kami miris melihat nasibmu, Kak. Pacaran gagal. Nikah juga gagal." Lagi, mereka kembali tergelak. Sementara yang ditertawakan hanya mengeram kesal.
"Sial!"
__ADS_1
Diantara para sepupunya, hanya Reza saja yang belum memiliki pasangan hidup. Padahal bila menelisik dari segi usia dan silsilah keluarga. Pria tersebut merupakan saudara tertua di klan Ahmad maupun Hesti.
Sementara dibagian lain di kota yang sama. Pemilik rumah megah bergaya eropa classic itu pun melakukan hal yang sama demi kelancaran pernikahan putri mereka beberapa jam yang lalu.
Wanita yang masih berbalut kaftan dengan kepala tertutupi kerudung itu terlihat khusyuk mendengarkan beberapa petuah pernikahan dari tetua yang di sana. Termasuk malam keramat yang penuh dengan misteri.
"Apa semengerikan itu?"
Belum apa-apa, Andin sudah bergidik ngeri membayangkan malam itu. Malam penyerahan mahkota pada pria yang berhak atas dirinya.
"Jangan takut. Itu hanya permulaannya saja. Setelahnya, kamu pasti ketagihan." Avry, salah satu kakak sepupunya yang memiliki mulut tanpa filter bila membahas masalah ranjang, terlihat antusias memberi petuahnya. Terlebih ia juga sudah menikah dan memiliki dua orang anak hingga tak sulit baginya untuk membagi ilmu berdasarkan pengalaman pribadinya.
"Hah! Ketagihan?"
"Tergantung lawan mainnya juga, sih! Tapi kalau dilihat-lihat dari postur tubuh Reza yang tinggi proposional meskipun tidak ada otot-otot yang menonjol, Kakak yakin 'barangnya' gede dan bisa memuaskanmu di ranjang."
Wajah Andin memerah disertai detak jantung yang bergemuruh. Lama berteman dan dekat dengan Reza. Tak sekalipun ia pernah berpikir sejauh itu. Benar-benar wanita polos.
"Nggak percaya?" Avry mengedarkan pandangannya hingga terhenti pada sosok yang dicarinya. "Rissa!"
"Kenapa Kakak memanggil kak Rissa?"
"Pembuktian," sahutnya enteng.
"Ada apa, Kak?" tanya Rissa ketika sudah berada tepat di depan Avry dan Andin.
"Sini sini duduk dulu." Avry menggeser tubuhnya, meminta Rissa untuk duduk di tengah-tengah mereka. "Kakak mau tanya. Bagaimana pengalaman malam pertamamu dengan Adrian?" tanyanya tanpa basa basi.
Iris hazel itu membola. Begitu terkejut dengan pertanyaan yang diberikan padanya.
"Dijawab saja, Sa. Adik kita yang satu ini ingin mendengarkannya. Dia begitu khawatir akan seperti apa malam pertamanya kelak." Menurutnya semakin banyak responden. Maka semakin baik untuk meyakinkan adik sepupunya itu.
Rissa mengulum senyum. Baginya ini bukanlah hal tabu lagi untuk menjelaskan secara gamblang masalah itu. Ia melirik Andin yang masih menunggu jawabannya.
"Pokoknya kamu rileks, ikuti saja alurnya. Sakit sudah pasti, tapi setelah itu kamu bakal merem melek dengan desahan-desahan nikmat."
Rissa dan Avry seketika tergelak. Apalagi melihat ekspresi Andin yang masih tampak kebingungan. Beruntung pembahasan absurd itu hanya mereka bertiga yang mendengarnya.
__ADS_1