
Andin terlihat duduk di sebuah cafe yang saat ini tengah viral di berbagai sosmed. Ekor matanya tak lepas memandangi cangkir berisi hot latte macchiato yang ada di hadapannya itu. Tak ada lagi asap yang mengebul di atasnya, menjadi tanda bahwa minuman itu sudah cukup lama di abaikan oleh pemiliknya.
Meskipun suasana cafe pada siang itu sangat ramai oleh para pengunjung, sungguh Andin tak sedikitpun terusik dengan keadaan sekitarnya.
Sudah lebih dari sebulan ia tak pernah lagi bertegur sapa dengan Reza. Bahkan bila bertemu muka, salah satu dari mereka selalu menghindar. Andin pun bingung dengan hubungan ini.
Tak lama, ia tersentak ketika melihat sebuah tangan kekar mengangkat cangkir itu. Ia mendongak, ada pria yang ia temui beberapa waktu lalu tengah asyik menyesap minumannya dengan santai.
"Angga!"
Pria bernama Angga itu hanya terkekeh. Setelah meletakkan cangkir ke tempat semula, ia lantas mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada tepat di seberang Andin.
"Kasihan minumannya, dari tadi lirik-lirik aku terus minta diteguk."
Andin hanya mendelik sebal.
"Asik bener melamunnya. Ngelamunin apa, sih? Pacar?" tanya Angga sembari menarik tissue kemudian menyapukannya di area bibirnya untuk membersihkan jejak-jejak minuman di sana.
"Dih, sembarangan." Andin menarik diri dan menyandarkan tubuhnya. "Siapa juga yang ngelamun."
"Jangan mengelak! Kakiku hampir kram berdiri di sampingmu, menunggumu sadar akan kehadiranku."
Kedua mata Andin membola penuh sesaat setelah mendengar penuturan pria bertubuh atletis di depannya itu.
"Ngapain kamu ke sini?" Andin mengalihkan topik.
"Berenang!" Andin membisu, menatap tajam ke arah Angga hingga membuat pria itu kembali tergelak. "Makan lah. Memangnya kesini mau apa lagi. Dasar aneh."
Angga melambaikan tangannya, memanggil wanita berkerudung biru dengan seragam khas cafe tersebut.
"Kamu mau makan apa?" Angga sibuk membolak-balik buku menu yang ada di tangannya. Kemudian menoleh ke arah pelayan dan menunjuk sebuah menu yang tertera di sana.
"Nggak ah. Aku mau minum aja." Pun Andin melirik juga ke arah pelayan. "Mbak, saya pesan es thai tea saja."
"Baik, Mbak?" Pelayan itu mengangguk kemudian mencatat pesanan Andin. "Itu saja?" tanyanya memastikan.
Nyaris saja Andin hendak menjawab sang pelayan, namun tertahan ketika Angga sudah lebih dulu berkata, "samakan saja pesanan dia dengan pesanan saya."
"Aku tidak lapar, Angga," bantah Andin cepat.
"Walau tidak lapar, kamu harus makan. Lihat tubuhmu itu. Kurus, tidak seperti pertama kali aku bertemu denganmu di pesta."
Andin menegakkan tubuhnya sembari menunjuk dirinya. "Dari dulu tubuhku memang begini."
Mereka terus saja berdebat hingga membuat pelayan itu sedikit kesal.
__ADS_1
"Bagaimana, Mas? Jadi pesanannya?" sela pelayan tersebut.
"Iya." Tegas Angga berkata hingga membuat Andin menghela napas dan kembali menyandarkan tubuhnya.
Melihat Angga yang seperti ini, ia menjadi teringat pada seseorang. Ah, sungguh Andin merindukan sosok itu. Sosok yang sangat perhatian. Yah, walaupun sosok itu terkadang usil. Namun, sosok itulah yang selalu menemani hari-hari beratnya.
Apa yang terjadi padamu, Reza. Kenapa kita menjadi saling mangacuhkan seperti ini.
"Nah, 'kan! Melamun lagi." Suara Angga disertai gebrakan di meja terasa meledak ditelinga Andin.
"Apa, sih!"
Seorang pelayan kembali datang dengan membawa nampan berisi pesanan dan mulai meletakkannya di atas meja mereka.
"Ayo kita makan dulu. Biar kuat melamunnya."
Angga tergelak dengan ucapannya sendiri sementara Andin hanya mendengkus. Sebelum akhirnya mereka menikmati menu makan siangnya.
"Kamu tuh, mikirin apa? Pacar kamu selingkuh? Udah gih! Putusin aja. Kamu itu cantik dan terlalu berharga untuk disia-siakan." Angga membelah keheningan yang beberapa saat lalu membungkus keduanya.
Andin meletakkan garpu dan pisau steak di sisi kanan dan kiri piringnya. "Terus saja berasumsi yang tidak-tidak tentangku. Kamu kira aku lagi mikirin seseorang? Buang-buang waktu, tau nggak!" elak Andin geram.
"Itu buktinya."
"Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya lagi," putus Andin. "Sekarang ceritakan tentangmu. Apa sekarang kamu masih hobby gonta-ganti pacar?" Andin kembali melanjutkan makannya.
"Hei, Ciripa! Itu sama saja. Dasar bodoh."
Melihat wajah kesal Andin, Angga semakin bersemangat menjahili wanita itu.
"Aku sudah insyaf. Tidak pernah mempermainkan wanita manapun semenjak ...." Angga tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Raut wajahnya berubah frustrasi. Melihat itu, Andin mengernyitkan dahinya.
"Semenjak apa?"
"Ehm ... Tidak ada. Tapi serius aku sudah tidak seperti dulu."
"Cieee ... Playboy insyaf nih, judulnya?"
"Terserahlah kamu mau menyebutku apa," ucap Angga. "Oh iya, aku tidak percaya. Wanita cantik sepertimu belum memiliki kekasih."
"Mau percaya atau tidak, itu terserah padamu. Tapi yang pasti, aku belum memiliki kekasih." Andin menekankan kalimatnya.
"Lalu, pria yang bersamamu saat di pesta. Siapa namanya? Re ... Re ...." Sembari mengingat sebuah nama.
"Reza," jelas Andin. Entah kenapa saat menyebut nama itu, suasana hatinya langsung berubah melankolis.
__ADS_1
"Ah iya, Reza. Apa dia bukan kekasihmu?"
Andin menggeleng pasti. "Bukan ... dia hanya teman baikku, sahabatku. Sama halnya seperti kamu dan aku."
"Tapi yang kulihat dari tatapannya. Dia tidak menganggapmu seperti kamu menganggapnya."
"Maksudmu?" tanya Andin ambigu. Keningnya seketika mengerut.
"Aku laki-laki. Aku tahu, mana tatapan biasa dan mana yang tidak biasa. Terlihat jelas dari gesture tubuhnya kalau dia itu mencintai kamu. Kamu saja yang tidak sadar?"
Aku sadar, sangat sadar. Dia memang mencintaiku dan bahkan ia pernah melamarku untuk menjadi istrinya. Tapi aku ... entahlah, aku saja tidak pasti dengan hatiku. Rasa percaya diriku hilang sesaat setelah aku gagal membina hubungan. Lagi pula, prinsipku jelas. Tak akan menodai sebuah hubungan persahabatan hanya karena cinta.
"Andin!" panggil Angga seraya menyentuh lembut punggung tangan wanita yang terdiam di depannya itu.
"Ya?"
"Lanjutkan makanmu. Bukankah kamu harus kembali ke kantor?"
Andin melihat jam tangan bermaterial rantai perak yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah."
Acara makan siang itu diselingi oleh canda tawa membuat Andin dan Angga sejenak melupakan sedikit permasalahan yang menganggu pikiran mereka akhir-akhir ini.
"Andin, itu ada saos yang nempel di sudut bibirmu." Tunjuk Angga di area yang terdapat noda. Andin refleks mengangkat tangannya untuk membersihkan noda tersebut.
"Itu agak kirian dikit."
"Sudah?"
"Belum."
"Sudah?"
"Sini aku bersihkan!" Angga menarik beberapa lembar tissue dan mulai mengarahkannya tepat di mana ada noda yang menempel di sudut bibir Andin. "Sudah tua, makannya seperti anak kecil. Belepotan."
Mendengar gerutuan itu, Andin mencubit lengan Angga dengan gemas. Membuat pria itu meringis.
"Jahat banget, sih! Sakit tau."
"Biarin. Biar kapok!"
"Kamu tuh, makin tua makin gemesin, sih?"
Angga semakin berani menggoda Andin. Mulai dari menarik hidung, mengacak rambut dan bahkan menusuk-nusuk pipi chubby wanita itu dengan jari karena gemas.
__ADS_1
Hal itu tak luput dari perhatian seseorang yang duduk di pojok ruangan itu. Terlihat dari tatapannya ia sangat marah, sedih dan kecewa. Berkali-kali ia menarik napas lalu menghembuskannya untuk menetralkan sesak di dadanya.