Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Zona Patah Hati


__ADS_3

"Jam berapa kliennya akan datang, Sal?" Reza mulai gelisah. Klien yang ditunggunya semenjak beberapa puluh menit yang lalu, tak kunjung hadir di hadapannya. Ia bukan tipe pria yang suka dengan keterlambatan. Baginya waktu begitu berharga.


"Saya sudah mencoba menghubunginya lagi, Pak. Namun tak ada satu pun panggilan saya yang tersambung," sahut Faisal. "Mungkin beliau terjebak macet, Pak."


"Baiklah, kita akan menunggu beberapa menit lagi. Bila tak kunjung datang. Kita atur ulang saja pertemuan ini."


Faisal mengangguk. Tak berselang lama, seorang pria bertubuh tinggi muncul dari balik pintu yang dibuka oleh pelayan cafe. Sesaat kemudian perhatian Reza teralihkan pada pria yang tak kalah tinggi namun atletis dari balik punggung pria pertama yang memasukkan tubuhnya ke dalam ruang VIP tersebut. Wajah pria itu penuh dengan memar dan ada sebuah kassa, menempel erat di pelipisnya.


"Maaf, atas keterlambatan saya, Pak ...." Pria itu menghentikan kalimatnya ketika melihat wajah yang sangat familiar di ingatannya. "Fahreza Al Husein?"


Reza mengerutkan dahinya sejenak sebelum akhirnya kerutan itu memudar seiring dengan terbitnya senyum di bibirnya.


"Mahija Taradipa?"


Dua pria yang saling menyebutkan nama lengkap disertai dengan jari telunjuk yang mengarah pada lawan bicaranya itu kompak terkejut. Keduanya pun langsung berpelukan khas laki-laki dewasa.


Sementara Faisal dan sekretaris pria itu hanya diam memperhatikan para bosnya itu bernostalgia. Mereka tak menyangka keduanya saling mengenal.


"Ayo ayo kita duduk." Reza kembali mendaratkan tubuhnya diikuti oleh tiga pria lainnya. "Katakan padaku. Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu bisa memar seperti itu? Aku hampir saja tak mengenalimu.”


"Ini?" Tara reflek menunjuk wajahnya. "Sebelum kemari, aku dituduh pencopet oleh wanita tua gila. Dan karena teriakannya itu, berhasil mengundang warga untuk memukuliku."


"Hah?"


"Lupakan. Oh iya, aku tak menyangka, kamu adalah klien yang akan kutemui hari ini. Kupikir, Pak Adrian tapi ternyata kamu."


Reza tersenyum. "Beliau sedang ada perjalanan dinas. Jadi aku dipercaya untuk menggantikannya. Dan jujur aku pun sama halnya sepertimu, terkejut."


“Oke kita langsung saja karena kamu sudah terlalu lama menungguku.” Tara tersenyum segan kemudian menoleh ke arah Novan, sang sekretaris. "Van, tolong serahkan proposalnya."


Reza mengambil berkas yang diberikan oleh Novan Sejenak pria itu membuka dan mempelajari isi berkas tersebut.


"Good. Aku suka dengan produk yang kamu tawarkan. Aku yakin pak Adrian pun akan sama denganku." Reza memuji rekan bisnis sekaligus teman lamanya itu. Di usianya yang masih muda, Tara sudah mampu mengembangkan perusahaan dibidang industri yang cukup besar di Jakarta.


"Terimakasih, atas pujiannya. Syukurlah kalau kamu suka dengan produk-produk yang kutawarkan. Berarti, kita bisa lanjutkan kerjasama ini, kan?" ujar Tara penuh harap. Bagaimana tidak, banyak pengusaha yang berbondong-bondong untuk menjalin kerja sama dengan Dinata Group. Tak terkecuali Layora Corp.


"Tentu. Kami akan menghubungimu kembali untuk penandatanganan kontrak kerjasamanya," jawab Reza tersenyum yakin pada kliennya itu.


Pembahasan mereka berlanjut ke arah topik lain mulai dari mengenang masa lalu hingga trend bisnis apa yang sedang berkembang saat ini, membuat Reza tertarik untuk membuka usaha sendiri.


Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya membubarkan diri karena harus kembali ke kantor masing-masing.


"Kenapa Pak?" tanya Faisal heran saat melihat Reza menghentikan langkahnya menuju pintu keluar cafe.

__ADS_1


"Ah ehm ...." Reza menutupi pandangan Faisal dengan tubuhnya. "Maaf sepertinya kamu harus kembali terlebih dahulu. Saya ada urusan mendesak. Kamu tidak keberatan, ‘kan kalau harus kembali ke kantor menggunakan taksi?”


"Sama sekali tidak, Pak,” sahut Faisal, “baiklah, kalau begitu saya duluan, Pak." Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Faisal melanjutkan lagi langkahnya keluar dari cafe. Sementara Reza, usai kepergian sekretarisnya itu. Ia menepikan diri dipojok ruangan dengan netra tak henti memperhatikan sosok wanita yang tengah asyik menenggelamkan diri dengan lamunannya.


Kalau boleh jujur, pun ia sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini. Harusnya ia bisa mengesampingkan ego yang menguasai dan membelenggu logikanya. Bukankah ia sudah cukup dewasa untuk mengatasi masalah ini?


Tanpa diduga Reza bangkit dari duduknya. Ia berpikir, sudah saatnya ia harus memperbaiki hubungannya dengan Andin. Baru dua langkah kakinya menapak, seorang pria yang ia temui waktu di pesta itu sudah lebih dulu mendekat ke meja Andin.


“Pria itu … bukankah dia adalah orang yang dijodohkan dengan Andin?” lirihnya pelan.


Reza kembali mendudukkan dirinya. Terlihat bodoh, namun dengan cara itu ia ingin memastikan sendiri dugaan-dugaannya selama ini bahwa pria itu benar-benar baik dan bisa mencintai Andin seperti ia mencintai wanita itu. Dan bila itu benar, mau tak mau ia harus bisa merelakan Andin bahagia bersama pria pilihan orang tuanya.


Netra Reza membulat penuh. Hatinya sakit bak terhunus ribuan anak panah berapi kala melihat perlakuan Angga yang begitu manis saat mengusapkan tissue di wajah Andin. Apalagi setelah itu, Angga semakin berani menggoda Andin. Mulai dari menarik hidung, mengacak rambut dan bahkan menusuk-nusuk pipi chubby wanita itu dengan jari karena gemas.


Sejenak, pria memejamkan matanya seiring dengan helaan napasnya yang memberat. Terlihat jelas dari tatapannya ia sangat marah, sedih dan kecewa. Karena tak tahan menyaksikan adegan romantis yang terpaut beberapa meter di depannya itu, ia memutuskan untuk pergi dari sana.


***


Reza menyesap kopinya yang beberapa saat lalu disuguhkan oleh Rania. Cairan hitam yang meluncur ke dalam kerongkongannya terasa sama pahitnya dengan kenyataan yang harus ia terima bahwa Andin takkan pernah bisa ia miliki.


“Hayooo … lagi ngapain?”


Hampir tersedak Reza mendengar suara Ahmad yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Pria paruh baya itu terkekeh dan langsung mendudukkan dirinya di samping putranya yang tersekat oleh meja kecil di teras rumah mereka.


"Ngelamunin apa, Cha?"


“Nggak ada, Pak. Cuma ingin menikmati angin malam. Di dalam gerah. Kayaknya mau hujan, deh.” Reza menatap langit sembari memberi alasan agar Ahmad tak curiga kalau ia memang sedang berada di zona patah hati.


“Masa? Tapi yang Bapak perhatikan, akhir-akhir ini kamu banyak melamun. Mikirin apa, sih?”


“Nggak ada, Pak. Seriusan.”


“Bapak pernah muda. Gaya-gaya seperti kamu ini, Bapak hapal sekali. Kamu mikirin Andin, ‘kan?” Ucapan Ahmad terdengar sarkas di telinga hingga membuat Reza susah payah menelan salivanya.


“Kelihatan jelas ya, Pak?”


Sepertinya Reza tidak sadar dengan kalimatnya justru menarik perhatian Ahmad.


“Kan … kan … benar dugaan Bapak. Patah hati nih pasti.”


“Buset! Sejelas itu, Pak?” Reza mencondongkan tubuhnya beberapa derajat mendekat pada bapaknya. Masih tak percaya dengan tebakan pria paruh baya yang semakin terkekeh di sampingnya itu.

__ADS_1


“Banget.”


Reza menarik diri dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari tersenyum kaku. Melihat itu, Ahmad menghentikan tawanya. Wajahnya berubah serius dengan penuh wibawa.


“Sudahlah Nak. Cinta tak bisa dipaksakan. Sekuat apapun kamu berusaha, pada akhirnya hanya kamu pihak yang paling banyak menimbun luka.”


Seketika wajah Reza berubah sendu. Tak dipungkiri kalimat Ahmad memang benar adanya. Ia adalah tokoh utama yang harus tumbang dalam kisah cinta yang belum sempat tersambut.


“Kita harus tahu diri, Nak. Siapa kita dan siapa dia. Terlalu banyak kenikmatan yang diberikan oleh keluarganya pada kita, terutama padamu.” Ahmad memalingkan sejenak wajahnya menatap sebuah SUV besutan Jepang berwarna biru metalik yang terparkir apik di halaman rumah. “Kamu bisa punya mobil mewah itu, pekerjaan dengan posisi strategis, dan dari hasil kerja kerasmu itu pula kamu bisa merenovasi rumah ini.”


“Pak … kenapa Bapak bicara seperti itu? Seolah-olah Bapak dan Ibu tidak ada andil dalam kesuksesan Echa. Semua yang Echa dapatkan ini tidak lepas dari doa kalian.”


Ahmad tersenyum kemudian menatap lekat-lekat putranya. “Lupakan perasaanmu pada Andin, Nak. Bapak tidak ingin kamu terluka lebih dalam. Hargai keputusannya. Seberapapun kamu berusaha memantaskan diri. Sungguh, kamu bukan tandingannya.”


Sekali lagi kalimat Ahmad menyadarkan Reza, betapa kerdilnya ia selama ini. Walau ia sudah berusaha sebaik mungkin, namun semua itu tidak berarti lagi bila keputusan Rudi yang ingin menjodohkan putrinya dengan pria berkelas, tidak dapat diganggu gugat.


“Oh iya, Nak. Ada yang ingin Bapak sampaikan padamu,” kata Ahmad setelah beberapa saat membisu. Kini pandangan Reza terisi penuh oleh wajah sang ayah.


“Ada apa, Pak?”


“Begini … sepertinya Bapak ingin kembali ke Sukabumi dan menghabiskan masa tua Bapak di sana.”


“Kenapa tiba-tiba, Pak?”


“Tidak tiba-tiba, Bapak dan Ibu sudah lama memikirkan ini. Dan tempo hari saat Paman Ridwan kemari, dia memberitahukan Bapak bahwa lahan yang kita miliki di sana ada yang tertarik untuk membelinya.”


Reza diam, masih menunggu kelanjutan dari kalimat Ahmad.


“Bapak pikir dari pada dijual, lebih baik Bapak kelola saja. Mungkin dijadikan kebun atau apalah. Yang penting tidak dijual. Lagipula, semenjak Bapak pensiun menjadi guru honorer, Bapak bingung mau melakukan apa di sini. Kamu bisa lihat sendiri keseharian Bapak. Kalau bukan jadi takmir masjid, ya … ngurusin ayam, ngurusin bunga-bunga ibumu itu.” Ahmad menunjuk bunga krisan, hortensia dan masih banyak lagi jenis bunga yang berjejer rapi di halaman depan rumahnya. Membuat siapa saja yang memandang bisa betah berlama-lama duduk di teras.


Tak lama, Hesti dan Rania datang sembari membawa nampan yang berisi teh dan beberapa camilan untuk menemani obrolan mereka.


“Jadi, hanya Echa dan Nia yang tinggal di Jakarta?” Reza menatap Ahmad dan Hesti secara bergantian.


“Nggak Kak!”


“Maksud kamu?” Reza menautkan alisnya, bingung dengan ucapan Rania.


“Beberapa hari yang lalu, aku sudah bicara pada Bapak dan Ibu. Bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S3 di Jogja,” jelas Rania membuat Reza seketika mengulas senyum. Ada rasa bangga yang menyeruak di dalam dadanya mendengar kabar bahagia itu.


“Kamu nggak apa, ‘kan kalau tinggal sendirian di sini?” tanya Hesti memastikan keraguannya.


Reza diam sejenak sembari berpikir namun tak lama kemudian ia berkata, “mari bersama-sama kita tinggalkan kota ini.”

__ADS_1


“Apa?”


__ADS_2