
Tak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar. Reza mengajak Andin untuk pindah dari sana. Salah satu meja yang berjejer rapi di depan food truk menjadi tempat tujuan mereka saat ini untuk menikmati sarapan.
Seorang pria tambun menggunakan kaos dengan logo khas menu dagangannya, datang menghampiri meja mereka.
"Mang, bubur ayamnya dua porsi. Satunya nggak pake kacang, daun seledri, sama cakwe. Satunya lengkap." Reza menarik pandangannya pada wanita yang duduk tepat di seberangnya. Jelas sekali dari raut wajah wanita itu tampak terkejut mendengar pesanan Reza. Bukan pada menunya melainkan pada kebiasaannya yang tak menyukai beberapa hal tersebut. "Kamu mau minum apa, Sayang?"
"Ehm ... ini saja." Andin menarik salah satu susunan air mineral yang selalu disediakan oleh pedagang di atas meja.
Reza mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya pada pria yang berdiri disampingnya. "Mang, saya pesan teh tawar panasnya satu."
"Baik Mas. Mohon ditunggu sebentar, ya?"
"Kamu masih ingat kebiasaanku?" tanya Andin sesaat setelah pedagang tersebut meninggalkan meja mereka.
Reza mengulas senyum sembari menarik beberapa lembar tisu kemudian mengusap bulir-bulir bening di kening dan pelipis wanita yang kini telah resmi menjadi kekasihnya. "Meski jarak dan waktu telah memisahkan kita. Namun hal itu tak membuatku melupakan detail tentangmu."
Hati Andin tiba-tiba menghangat. Wajahnya merona. Sungguh kali ini Andin benar-benar yakin dan percaya bahwa ia tak salah menjatuhkan hati pada Reza.
"Aku sudah pernah bilang, bukan? Hubungan kita akan jauh lebih unggul dari pasangan lain. Karena kita sudah saling mengerti dan memahami satu sama lain. Tahu bagaimana baik buruknya sifat masing-masing," imbuhnya lagi.
"Maafkan aku. Maaf karena terlambat menyadari perasaan ini."
"Sayang!" Reza menarik tangan Andin dan menggenggamnya. "Berhentilah menyalahkan diri. Ini terjadi karena memang keadaannya yang belum memungkinkan kita untuk saling bersama. Lagipula, apa kamu tidak melihatku yang sekarang? Andai waktu tidak memisahkan kita. Mungkin saat ini aku bukan Fahreza Al Hussein, pemilik dari RezAgro Farm. Walau tidak sebesar Dinata Group, tapi aku sudah merasa pantas dan percaya diri untuk bisa berada di sampingmu."
Andin hanya tersenyum sembari menikmati buncahan rasa haru dan juga bangga yang menyatu dalam dadanya. Sampai akhirnya pedagang kembali menghampiri mereka dengan membawa dua menu sarapan lalu menyimpannya di atas meja.
"Sayang!" panggil Reza lagi.
"Hem," sahut Andin di sela-sela kunyahannya.
"Ehm ... setelah ini, ikut aku pulang ya? Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu di sana."
Kening Andin berkerut. Dengan cepat ia menelan sisa-sisa makanan yang mengumpul di mulutnya kemudian fokus pada Reza. "Apa itu?" tanyanya.
“Ada deh.” Reza mengerlingkan matanya. “Kalau aku beri tahu sekarang bukan surprise namanya.”
“Tapi aku sudah kadung janji pada Gita untuk pergi bersamanya,” kata Andin yang memang tidak menyangka dengan kedatangan Reza yang begitu mendadak dan ingin membawanya serta untuk pulang ke Sukaraya.
“Batalkan saja,” anjur Reza enteng. “Kamu, ‘kan bisa menggantinya dengan hari lain. Toh kalian juga bisa bertemu setiap hari. Sementara denganku? Belum tentu.”
Hampir saja Andin melupakan statusnya yang kini telah resmi menjadi kekasih dari pria tersebut. Wajar baginya bila Reza berkata seperti itu. Ia di Bandung sementara Reza di Sukabumi tepatnya di Desa Sukaraya. Itu artinya, mereka akan menjadi pejuang LDR (*Long Distance Rel*ationship) untuk waktu yang belum ditentukan.
“Mau ya?” Wajah Reza terlihat memelas. “Sekalian ada yang ingin bertemu denganmu.”
“Siapa?” tanya Andin.
“Bapak dan ibu. Mereka sangat merindukanmu.”
Mendengar itu, seketika Andin tak kuasa untuk menolak permintaan dari kekasihnya tersebut.
“Iya, aku mau. Tapi jangan hari ini perginya. Bagaimana kalau besok?”
“Kenapa? Masih niat mau pergi bersama Gita?” Reza melepaskan sendok dari tangannya kemudian bersedekap dengan sedikit memanyunkan bibirnya. Seolah-olah ia sedang merajuk.
“Bukaaaannnnn,” elak Andin saking gemasnya. “Dari sini ke Sukaraya, ‘kan lumayan jauh. Apa kamu tidak lelah bolak-balik? Tunda saja esok hari.”
__ADS_1
Reza terkekeh kecil sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Rupanya ia sudah salah mengertikan kalimat Andin. “Sebenarnya lelah, sih. Tapi kalau sama kamu, lelahku seketika hilang.”
Lagi-lagi Andin berdecak. “Gombal banget! Sudahlah besok saja pulangnya. Bila kamu masih tetap memaksa. Aku tidak akan ikut pulang bersamamu,” ancamnya kemudian.
“Oke oke. Kita tunda sampai besok." Akhirnya Reza mengalah. Namun sebuah ide terlintas di otaknya. "Sayang, bagaimana kalau kita—."
"Apa lagi? Sarapannya dihabiskan dulu. Baru bicara!"
"Mulai deh mode galaknya keluar," gumam Reza pelan namun masih terdengar oleh Andin.
"Apa?"
"Nggak nggak. Ayo lekas habiskan makanannya." Pun keduanya memilih menghabiskan makanan dalam keheningan.
***
"Sayang, aku numpang istirahat sebentar ya di sini." Sofa yang berada di ruang tamu Andin, menjadi perhatiannya kini.
"Nggak mandi dulu. Bawa baju ganti, 'kan?"
"Bawa, tapi nanti sajalah. Masih keringatan." Sembari menarik-narik bajunya yang sedikit lembab oleh keringat.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Mau bersih-bersih," ucap Andin kemudian melangkah ke kamar meninggalkan Reza yang langsung mendaratkan tubuhnya di sofa. Nyaman, sangat nyaman karena tubuhnya sedari tadi memang didera oleh rasa lelah. Benar apa yang dikatakan Andin beberapa saat yang lalu. Bila saja ia tetap memaksakan diri untuk pulang. Entah apa yang akan terjadi. Membayangkannya saja ia sudah bergidik ngeri.
"Bapak mau minum apa?" tanya Jumi yang tiba-tiba hadir di depannya.
"Tidak usah, Mbak. Terima kasih. Nanti kalau saya perlu, saya bisa ambil sendiri."
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi kembali ke dapur."
Seperginya Jumi dari sana, Reza mulai merebahkan tubuhnya hanya sekedar menyempurnakan istirahatnya. Sementara Andin, usai membersihkan diri ia tak lantas menemui Reza di ruang tamu. Melainkan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan beberapa camilan yang akan ia suguhkan pada sang kekasih.
"Bu, sini biar saya saja," cegah Jumi yang melihat majikannya membuka lemari bagian atas yang khusus untuk menyimpan persediaan bahan makanan.
"Mbak lanjut saja masaknya. Gampang ini." Andin melirik panci yang mengeluarkan aroma sedap. "Mbak masak apa?"
"Bistik ayam, tempe mendoan sama acar timun." Jumi mengabsen menu masakannya. "Ibu mau makan?"
"Mbak masak banyak?" Andin balik bertanya.
"Banyak Bu. Entah kenapa hari ini perasaan saya ingin saja masak banyak. Padahal Ibu tadi sudah bilang mau pergi."
"Wah kebeneran. Ini memang menu kesukaannya," ucap Andin menunjuk ruang tamu menggunakan wajahnya. "Saya jadi pergi, Mbak. Bukan dengan Gita melainkan dia. Tapi nanti sore sekaligus menemaninya mencari hotel atau penginapan yang ada di daerah sini."
"Ehm ... pria itu siapa, Bu?" Jumi memberanikan diri bertanya. Pasalnya, ia sudah terlalu penasaran dengan keberadaan Reza sejak pagi tadi. Terlebih, melihat pria itu mengejar majikannya yang sedang melakukan jogging dengan hanya menggunakan sandal jepit sejuta umat.
"Dia itu ... kekasih saya," sahut Andin malu-malu. "Udah ah! Saya mau ke depan dulu." Ia mengangkat nampan yang sudah tersimpan minuman dan camilan di atasnya.
Langkah Andin terhenti kala melihat sosok yang dicintainya sedang tertidur pulas di atas sofa panjang. Ia letakkan nampan di atas meja kemudian mendekat pada sosok itu. Netra cokelat miliknya tak lepas menatap betapa indahnya pahatan Tuhan yang ada di depannya.
Kenapa aku baru sadar kalau kamu sangat tampan?
Jari Andin mulai menelusuri tiap inci wajah Reza. Seakan ingin mengukur kadar ketampanan pria itu. Sesaat kemudian ia terkesiap saat merasakan tangan dan pinggangnya di tarik paksa hingga membuatnya jatuh di atas dada pemilik wajah tersebut.
"Reza!" pekik Andin.
__ADS_1
"Kenapa kamu berani menyentuhku disaat aku tertidur?" tanya Reza dengan mata masih terpejam.
"Reza! Lepas!"
"Reza? Hey, panggil aku dengan sebutan mesra atau aku tidak akan melepaskanmu!"
"Aku tidak mau!" Bukan ia hendak kurang ajar. Hanya saja ia masih terlalu malu menyebut kata 'sayang, Aa' atau apapun yang menyangkut panggilan mesra pada Reza.
"Oke! Kita akan begini saja sepanjang hari." Reza mempererat pelukannya dan tentu saja membuat Andin semakin meronta.
"Lepas dulu!"
"Diam! Kalau tidak ingin membuatnya terbangun."
Andin mengernyit, bingung kemana arah pembicaraan Reza. Terbangun? siapa memangnya yang terbangun? Bukankah pria itu sudah bangun?
Detik berikutnya ia membeliakkan matanya saat merasakan benda asing tiba-tiba mengeras di bawah sana.
"Reza!" teriak Andin sembari memukul dada dan juga punggung pria yang ada di bawahnya.
"Andin Andin. Udah! Ampun!" Reza tak kalah histeris saat rambut miliknya tak luput dari sasaran kekesalan Andin.
"Rasakan ini! Dasar pria mesum! Kurang ajar!"
"Sakit! Aduh! Ampun! Iya iya maaf!"
"Ada apa, Bu?" Tiba-tiba Jumi lari tergopoh-gopoh dari arah dapur saat mendengar pertengkaran itu. "Pak Reza ngapain Ibu Andin?"
Reflek Reza melepaskan kungkungannya. Susah payah ia menelan salivanya saat melihat Jumi mengancung-ancungkan pisau tepat di hadapannya. "Mbak sadar, Mbak. Ini tidak seperti yang Mbak bayangkan. Please Mbak turunkan pisaunya. Bahaya Mbak."
"Mbak Jumi! Hati-hati dengan pisaunya!" timpal Andin.
Jumi melirik pisau yang ada ditangannya. Seketika ia terkejut dan langsung menurunkan benda tajam tersebut. "Maaf Bu, saya lupa." Ia terkekeh kecil "Tadi saya habis motong timun di dapur. Nggak sengaja mendengar teriakan dari sini."
"Oh." Reza mengusap dadanya berkali-kali kemudian merangkul pundak Andin. "Kami hanya bercanda. Ya, 'kan, Sayang?"
Andin tak menjawab. Ia hanya melirik sinis pada pria yang tersenyum nakal padanya.
"Kalau begitu dilanjut lagi saja, Pak, Bu. Saya permisi ke belakang dulu."
"Iya dong. Pasti dilanjut," ujar Reza dan segera mendapat hadiah berupa cubitan gemas di pinggangnya
"Arrghh ... sakit, Yank," keluh Reza sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas. "Kamu nih, sukanya main tangan."
"Biarin!"
"Eh, Sayang. Mumpung aku di sini. Kita main, yuk?"
"Apa?"
***
Apa?
Mikir apa?
__ADS_1
Bulan puasa jangan aneh². 🤣🤣