Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Pertemuan Tak Menyenangkan


__ADS_3

Matahari sudah berdiri tegak di cakrawala. Bias cahayanya menyelusup masuk melalui kaca ribben yang menyekat. Namun hal itu tak membuat pria yang sedari tadi duduk melamun dengan punggung tangan menopang satu pipinya itu beranjak dari sana untuk sekadar mengistirahatkan badan. Sebuah foto yang menjadi wallpaper pada layar laptop, mengunci tatapannya saat ini.


“Cantik, ya?”


“Iya dia cantik.”


“Apa kamu mencintainya?”


“Sangat! Aku sangat mencintainya.”


“Apa dia tahu kamu mencintainya?”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Aku belum tahu bagaimana caranya agar dia tahu kalau aku mencintainya.”


“Ya bilang, doooongggg ....”


Lamunannya pecah, ketika kalimat terakhir terlontar secara bersamaan dan menggelegar di ruangan. Ia memutar kursi ke belakang, ada Adrian yang menyandarkan setengah bagian tubuhnya di lemari arsip sambil bersedekap. Kemudian ia pun melirik seorang pria lagi di samping Adrian, duduk di ujung meja kerja.


“Se-jak kapan kalian disini?” Reza terlihat panik. Buru-buru ia menutup laptopnya secara asal.


Adrian melirik Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Cukuplah mendengar semua ocehan mu.”


“Hah!” Reza terkejut. Wajahnya terlihat pucat pasi.


“Ck ... ck ... jadi selama ini kamu mencintai adikku?”


Reza hanya menggaruk pelipisnya sebagai jawaban atas pertanyaan Adrian. Matanya mengedar ke sembarang arah berusaha menjauh dari tatapan pria yang kini sudah memindahkan tubuhnya ke depan, berseberangan dengannya.


“Kenapa kalian datang kemari?” tanyanya mengalikan topik.


“Heh! Dasar tidak tahu diri. Ini kantorku, terserah aku mau melakukan apa!”


“Bukan begitu! Hanya saja aku merasa beruntung hari ini. Tidak menyangka seorang Presdir mau meluangkan waktunya untuk berkunjung mendatangi anak buahnya.” Reza terkekeh geli sementara Adrian mencebik kesal.


“Kami ingin mengajakmu makan siang bersama di cafe istriku.” Kali ini Rendy angkat suara. “Apa kamu mau ikut?”


"Iya, deh, aku ikut.” Ia bangkit dari duduknya dan ikut mengekori Adrian bersama Rendy di sampingnya menuju basemen.


Sesampainya di basement, Reza celingukan mencari keberadaan sedan putih mutiara milik Andin yang tadi pagi terparkir tak jauh dari mobilnya.


“Kamu mencari adikku?” tanya Adrian yang mengerti dengan tatapan Reza.


“Iya,” balas Reza tanpa mengalihkan perhatiannya menatapi satu persatu jejeran mobil di kanan dan kirinya.


"Dia tidak ada di gedung ini."


"Ke mana dia?"


“Aku menyuruhnya pergi mewakiliku menemui calon klien. Karena kebetulan aku juga ada janji dengan istriku di cafenya Dina," jelas Adrian.

__ADS_1


Reza mendesah pasrah, dengan tak semangat ia melangkah masuk ke dalam mobil Adrian. Selama perjalanan, Reza hanya diam sembari mendengarkan dua orang di depannya sedang membicarakan tingkah laku anak mereka masing-masing.


“Nggak usah manyun gitu. Jelekmu nambah, tuh,” ejek Rendy. Ia menatap pantulan Reza melalui kaca spion yang tergantung di tengah.


Adrian memiringkan tubuhnya sedikit melihat ke belakang. “Apa kamu serius mencintai Andin?”


“Nah loh, diinterogasi calon kakak ipar,” goda Rendy sambil tetap fokus mengendarai mobil.


Reza mengangguk pasti. “Serius.”


Adrian mencoba menelisik ke dalam mata Reza mencari kebohongan disana. Namun nihil, pria yang sedang menatapnya itu terlihat sangat serius dengan ucapannya.


“Sejak kapan kamu jatuh cinta pada Andin?”


“Entahlah, aku tidak tahu pasti. Rasa ini tumbuh begitu saja,” jelas Reza. “Apa kamu keberatan, jika aku mencintai adikmu?”


“Aku tidak bisa mengatur perasaan orang lain.”


“Apa kamu mau membantuku?” tanya Reza. Matanya kini berbinar penuh harap agar Adrian bisa memuluskan niatnya.


“Berusahalah semampumu. Aku pun juga ingin tahu, seberapa besar perjuanganmu mendapatkan cinta adikku.” Adrian kembali ke posisi semula, menghadap ke depan.


“Ya aku tahu itu.”


Perlahan-lahan mobil yang dikendarai Rendy mulai memasuki pelataran parkir cafe yang saat ini terlihat begitu ramai oleh pengunjung. Ketiganya keluar dari mobil dan berjalan masuk menuju sebuah ruangan private.


"Pa ... Pa ...." Aleysia berlari menghampiri Adrian yang juga menghampirinya.


"Sayangnya Papah, jangan lari-lari begitu Nak. Nanti kamu jatuh, Sayang.” Adrian berjongkok untuk menyetarakan tinggi tubuhnya dengan Aleysia.


"Sudah lama, Sayang?" Adrian mengecup puncak kepala Rissa. Ia menarik kursi dan duduk di samping istrinya.


"Aku baru sampai kok, Mas.”


“Dina di mana, Sa?” tanya Rendy yang tak mendapati keberadaan istrinya.


“Dina di ruangannya.” Rissa menunjuk ke lantai atas. “Tadi Sameer rewel, jadi dia membawanya ke sana.”


“Oh, ya sudah. Kalian makan saja duluan. Aku ke atas dulu,” pamit Rendy. Ia pun bergegas pergi menyusul istri dan putranya yang berada di ruangan owner.


Rissa menyenggol lengan Adrian kala melihat Reza sedari tadi hanya diam tanpa suara. Adrian hanya mengendikan bahunya sebagai respon.


“Kamu kenapa, Za?” tanya Rissa. “Tumben kamu kalem, biasanya ngoceh-ngoceh nggak jelas."


“Sakit gigi!”


Bukan Reza yang menjawab melainkan Adrian.


Rissa mengernyit menatap Adrian. “Benaran, Mas?”


“Tidak, Kak. Aku tidak sedang sakit gigi,” bantah Reza.


Hampir tersedak Adrian mendengar Reza menyebut istrinya ‘Kak’. Ia segera menjauhkan bibirnya dari sedotan yang terhubung pada cairan kental berwarna orange di dalam gelas tinggi tersebut.

__ADS_1


“Pelan-pelan, Mas.” Rissa menepuk punggung Adrian.


“Barusan kamu panggil istriku apa? Kak?” Adrian menatap tajam pria yang duduk didepanya.


“Iya, Kakak. Kak Rissa,” sahut Reza masih dengan nada santainya.


“Kamu sadar tidak, usiamu berapa?” tanya Adrian tidak terima dengan panggilan Reza pada Rissa. “Aku dan kamu hanya berbeda bulan saja. Itu artinya kamu lebih tua darinya.” Adrian menunjuk Rissa dengan wajahnya.


“Memangnya kenapa, sih? Kan biar lebih akrab,” ucapnya seraya menampilkan wajah sangat menjengkelkan.


“Kamu—.”


“Sudah sudah sudah.” Rissa melerai perdebatan Reza dan suaminya. “Seharusnya aku tidak bertanya jika membuat kalian bertengkar seperti ini. Kalian sadar tidak? Kita ini ada dimana!”


“Tidak ada yang salah dengan panggilan itu.”


Sebuah suara yang berasal dari ambang pintu, berhasil menyita perhatian semua yang ada di meja. Rendy berdiri sambil menggendong Sameer di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya menggandeng istrinya, Dina. Kemudian mereka berjalan beriringan menghampiri kursi yang kosong dan duduk disana.


“Dari sekarang, kalian harus membiasakan diri dengan panggilan itu. Karena mungkin Reza akan menjadi bagian dari keluarga kalian.”


“Uhuk uhuk uhuk.” Sekarang gantian Rissa yang tersedak salivanya sendiri.


“Maksudnya apa, Bang?” tanya Dina tak mengerti maksud ucapan Rendy.


“Mereka ini.” Rendy menunjuk Adrian dan Reza secara bergantian. “Cepat atau lambat, akan naik status menjadi adik dan kakak ipar.”


“Hah!” Dina dan Rissa sama-sama terkejut.


Sementara di tempat lain, seorang wanita menatap sinis pada pria yang duduk di depannya. Ia tak menyangka, bahwa calon kliennya itu adalah orang yang beberapa waktu lalu menghianatinya. Dalam hati, ia mengutuk Adrian karena telah membawanya ke situasi yang sama sekali tak menyenangkan seperti ini.


“Aku baru tahu kalau kamu adalah salah satu pemilik Dinata Group.”


“Setelah kamu tahu siapa aku. Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya. “Aku tidak menyangka kamu bisa selicik ini. Membuat perusahaan bayangan hanya demi mendapatkan tujuanmu. Jika aku tahu dari awal, mungkin aku tak sudi mewakili Dinata Group bertemu denganmu!”


Ditmar menyeringai sinis mendengarnya. Ia menyadarkan punggungnya di kursi seraya menampilkan wajah angkuhnya.


“Bisnis is bisnis, Andin. Semua bisa terjadi di dalamnya.”


“Aku rasa, pertemuan kita sampai disini saja. Aku tidak ingin melanjutkan kerja sama denganmu!” Andin beranjak dari duduknya.


“Apa kamu akan bersikap tidak profesional, hanya karena masa lalu kita?”


Pertanyaan Ditmar menghentikan langkah Andin. Ia berbalik.


“Apa kamu sedang mengujiku?”


Ditmar berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia berjalan menghampiri Andin.


“Kenapa kamu harus mencampuri urusan pribadi ke dalam pekerjaan?”


“Itu hakku. Itu pilihanku. Kamu tidak berhak mengaturku.” Andin melanjutkan kembali langkahnya.


“Lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu, Sayang.”

__ADS_1


Ditmar masih berdiri, memandangi sedan putih yang berjalan keluar area parkir dengan tatapan dendam. Ya, dia dendam. Karena satu-satunya perusahaan yang mampu menyelamatkannya di ambang kebangkrutan adalah Dinata Group.


__ADS_2