
“Reza?”
Genik mengangguk.
“Reza teman kamu yang OB itu?”
Genik kembali menganggukkan kepalanya sembari berkata, “iya, Bunda. Itu mas Reza teman kuliahku dulu dan juga dia yang pernah me—."
Tiba-tiba Susi menarik tangan Genik dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sofa yang berada di ruang tamu itu sedikit terguncang saat Susi mendudukkan paksa putri satu-satunya itu di sana kemudian disusul olehnya.
“Katakan! Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?"
"Tadi aku tidak sengaja memotong jalannya. Karena kupikir jalanan itu sepi. Dan tidak tahunya, mobil mas Reza hampir saja menabrakku."
"Apa? Menabrakmu? Mana yang luka?" Kedua tangan yang mulai mengeriput itu langsung mencengkeram pundak Genik kemudian memutar ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah ada luka apa tidak di tubuh putrinya tersebut.
"Aku nggak apa, Bunda. Jangan terlalu khawatir begitu," jelasnya kemudian menepis tangan-tangan Susi yang sedari tadi masih setia menempel dikedua pundaknya.
"Oh iya, apa yang terjadi pada Reza? Kenapa dia bisa berpenampilan seperti itu? Apa sekarang seragam OB sudah sekeren itu?" Rasa penasaran Susi seketika membumbung tinggi. Genik yang mendengar beberapa pertanyaan itu hanya menatap ibunya dengan kebingungan.
"Nik! Kenapa kamu diam saja?" Sebuah tepukan pelan di lengannya, menyadarkan Genik dari keterdiamannya. "Ayo jawab pertanyaan Bunda?"
Genik menghela napasnya di udara. Ia sangat hapal sifat ibunya yang tak mungkin menyerah untuk mendapat sebuah jawaban darinya.
"Sekarang mas Reza bukan lagi OB, Bun. Dia bekerja di salah satu perusahaan besar dengan jabatan direktur umum."
"Direktur umum?" Susi membeliakkan matanya sementara satu tangannya menutup kedua belah bibirnya yang sempat terbuka. Ia begitu terkejut mendengar informasi yang baru saja ia dapatkan.
"Be-benarkah?"
"Iya Bunda. Mas Reza sekarang sudah sukses dan menjabat sebagai direktur umum di kantor Dinata Group."
"Dinata Group?"
Suara dari pria paruh baya yang berjalan ke arah ruang tamu, mengalihkan perhatian kedua wanita beda generasi tersebut.
"Ayah duduk sini, deh." Susi menepuk sofa tunggal yang ada di sampingnya, meminta Wahid—suaminya itu untuk duduk di sana. "Ayah masih ingat Reza?" tanyanya kemudian.
"Reza?" Manik mata Wahid mengedar ke sama kemari sembari berusaha mengingat-ingat siapa pemilik nama tersebut. "Ayah lupa. Memangnya siapa dia?"
"Ihh, Ayah! Masa lupa, sih. Itu loh, pria yang dulu sempat Ayah usir. Karena tak sepadan dengan keluarga kita. Saat itu 'kan, dia datang pada kita. Meminta restu untuk menjalin hubungan dengan Genik."
__ADS_1
"Oh ... Pria itu. Lantas, apa hubungannya dia dengan Dinata Group? Itu, 'kan perusahaan besar yang bergerak di bidang pariwisata? Apa dia pindah bekerja sebagai OB di sana?"
"Sekarang dia bukan OB lagi, Ayah. Melainkan seorang direktur umum di sana," sahut Susi. Wajahnya terlihat antusias membicarakan status pekerjaan Reza. Sesuai dengan standar kriteria calon menantu idamannya.
"Oh, baguslah." Hanya anggukan tipis terkesan santai ia berikan sebagai respon atas ucapan istrinya itu. Wahid berdiri hendak kembali ke kamar karena menurutnya pembahasan itu sama sekali tidak penting. Baru saja kakinya ingin melangkah, Susi sudah lebih dulu mencekalnya.
"Ayah mau kemana?"
"Tidur."
"Ayah! Tunggu dulu. Bunda belum selesai bicara."
Wahid melirik Genik, membuat yang dilirik itu hanya menggelengkan kepala tanda tak mengerti apa yang ingin dibicarakan oleh Susi.
"Duduk dulu." Sekali lagi ia memerintahkan Wahid untuk kembali mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Bunda mau bicara apa?"
Susi tidak menjawab pertanyaan suaminya itu. Ia malah menarik pandangannya ke arah Genik.
"Nik! Apa Reza sekarang sudah menikah?"
"Untuk apa bertanya seperti itu, Bun?" sela Wahid.
"Ya kali aja mereka berjodoh, Yah."
"Bunda!" tegur Genik. "Kenapa Bunda bisa berpikir seperti itu? Aku dan mas Reza tidak mungkin bisa seperti dulu."
"Tidak ada yang tidak mungkin, Nik. Semua bisa saja terjadi," sahut Susi.
"Jangan mempermalukan diri sendiri, Bun. Ingat, siapa yang dulu gencar menolaknya saat dia ingin serius berhubungan dengan putri kita. Bahkan Bunda sendiri yang mati-matian memaksa Ayah untuk mengusirnya tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Genik. Apa Bunda mau menjilat ludah sendiri?" Wahid mengingatkan istrinya. Ada rasa sesal yang begitu dalam di hatinya setelah melakukan hal itu. Butuh waktu yang sangat lama baginya untuk bisa melihat Genik kembali ceria sesaat setelah kejadian itu karena patah hati. Dan sekarang wanita itu terlalu malas memiliki hubungan kembali mengingat sifat ibunya yang sangat matrealistis, menganggap kedudukan adalah segalanya.
"Bunda ... Jangan terlalu banyak berharap. Perasaan seseorang mungkin akan terkikis dengan bergulirnya waktu. Tak terkecuali dia," imbuh Genik.
"Apa kamu masih ada perasaan padanya?"
"Maaf Bunda. Aku malas membahasnya lagi." Genik bangkit berdiri. "Aku mau ke kamar dulu."
"Nik ... Genik ... Bunda belum selesai bicara."
Susi berulang kali memanggil Genik namun tak juga menghentikan gerak langkah kaki wanita berhijab tosca itu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Sudahlah, Bun. Tidak usah mencampuri lagi urusan pribadi Genik. Dia sudah dewasa. Biarkan dia memilih mana yang terbaik untuknya kelak," kata Wahid. "Apapun pekerjaan calon suaminya kelak asalkan halal, tidak masalah. Lagi pula tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari keluarga kita. Keadaan kita tidak seperti dulu, Bunda. Ayah ini seorang pengangguran yang hanya mengandalkan nafkah dari hasil jerih payah putri kita yang seorang koki restoran milik orang lain."
Mendengar itu, Susi terdiam seribu bahasa. Entah kenapa kalimat Wahid begitu menusuk ke dalam kalbunya hingga meyadarkannya, betapa piciknya ia selama ini. Membandingkan seseorang hanya melalui statusnya saja. Ia lupa bahwa roda kehidupan itu terus saja berputar.
***
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ... Andin! Wajah kamu kenapa? Kamu habis menangis?" Mira terkejut saat mendapati putrinya yang baru pulang itu terlihat begitu berantakan dengan make up yang sudah tak beraturan menghias di wajahnya.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Andin langsung meraih tangan maminya dan mencium punggung tangan tersebut.
"Andin ... Kamu kenapa?"
"Nggak apa, Mi. Andin cuma capek aja," ujar Andin sembari menjauhi tatapan tajam maminya. Ia berjalan melewati Mira yang masih bergeming di tempatnya.
"Eh ... Sini dulu. Ngomong dulu ada apa?" Mira menarik tangan putrinya agar wanita itu tak dulu pergi dari sana. Dengan gerakan malas Andin memutar tubuhnya menghadap maminya.
"Apa, Mi?"
"Seriusan kamu nggak apa? Kamu nggak lagi berantem, 'kan sama Reza?"
Tubuh Andin menegang seketika mendapat pertanyaan itu. Bagaimana bisa maminya bisa menebak dengan begitu mudahnya? Walau nyatanya tuduhan itu benar, tapi ia enggan untuk mengakuinya. Karena ia tau kalau ia mengakui itu, Mira akan terus menginterogasinya habis-habisan seperti biasa. Sementara ia pun tak tahu apa penyebab Reza menghindar darinya.
“Kalian lagi berantem, ‘kan?”
"Nggak! Siapa yang berantem," elak Andin cepat. "Andin cuma capek, Mi."
Mira tak lantas dibuat percaya begitu saja. Walau sudah tak sebening dulu, ekor matanya masih jelas menangkap raut wajah Andin yang tampak menyembunyikan sesuatu darinya. Tak sekali ia mendapati Andin seperti ini. Reza dan Andin memang bersahabat. Namun ada kalanya kedua manusia itu saling ejek hingga berujung pertengkaran hanya karena hal sepele. Apalagi Mira sangat tau pasti sifat Reza yang usil dan tak pernah mau mengalah sedikitpun pada Andin.
"Ya, sudah. Sebaiknya kamu bersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, turun. Kita makan malam bersama."
"Andin nggak lapar, Mi. Andin mau langsung istirahat saja, capek banget, nih,” keluh Andin seraya memelaskan wajahnya. Sementara satu tangannya memijat tengkuknya yang terasa pegal seakan-akan telah memikul sesuatu yang berat di sana.
“Baiklah baiklah. Selamat istirahat.”
Setelah mencium pipi Mira, Andin segera beranjak naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sesampainya disana, wanita itu langsung menghempaskan kasar tubuhnya di atas tempat tidur tanpa ada sedikitpun niat untuk membersikan diri terlebih dahulu. Heels dari salah satu brand ternama berwarna cream dengan tinggi 7 cm itu masih terlihat melekat dikedua telapak kaki jenjangnya.
Andin menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Pikirannya mengembara ke beberapa puluh menit yang lalu saat ia masih berada di basemen bersama Reza. Wanita itu kembali memaksa otaknya untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Berkali-kali ia mengusap kasar wajahnya hingga beberapa helai rambut hitamnya ikut terbawa oleh ujung jemarinya.
"Baiklah Reza, kamu yang duluan menabuh genderang perang di antara kita. Aku akan ikuti pemainanmu. Aku mau lihat sampai di mana kamu bisa bertahan dengan sikapmu yang seperti itu. Mulai sekarang, aku tidak akan peduli lagi padamu. Dasar pria brengsek!" Andin meledakkan emosi yang sedari tadi tertahan di dadanya. Andai saja kamar tersebut tak kedap suara, mungkin kedua orang tuanya itu akan terganggu dengan teriakannya.
__ADS_1