
Mendapat penolakan untuk yang kesekian kalinya. Dengan terpaksa, Reza menyerah dan memutuskan untuk mempercepat hari pernikahannya dengan Farah. Terlihat kejam memang, karena menjadikan wanita itu sebagai alat pelarian dari cintanya. Akan tetapi, hanya itu cara satu-satunya ia bisa menghapus jejak-jejak Andin dari hati dan pikirannya.
Bahkan Hesti dan Ahmad sempat terkejut dengan keputusan putranya yang begitu tergesa. Hingga membuat sepasang paruh baya itu buru-buru meninggalkan Jogja dan beralih ke desa. Namun terlepas dari itu semua, pun mereka sangat bahagia. Akhirnya, hari yang dinantikan akan tiba. Hari dimana sang putra makhota akan segera melepas masa lajang.
Menikahlah dengan Farah. Belajarlah untuk mencintainya seperti kamu mencintaiku.
Cinta akan tumbuh dengan seiring waktu yang berjalan. Apalagi semua itu dibingkai oleh ikatan suci pernikahan. Dan aku percaya, pilihan orang tua pastilah yang terbaik.
Lupakan aku. Berikan cinta itu untuk Farah. Karena dia yang paling berhak mendapatkannya.
Masih teringat jelas beberapa kalimat yang dilontarkan Andin tempo hari. Membuat Reza semakin yakin dengan keputusannya itu. Kini, sofa ruang tamu di rumah Farah menjadi bertambah penghuninya saat Reza dan keluarganya ikut mendaratkan tubuh di sana.
“Oh … jadi kedatangan Akang sekeluarga ini, bermaksud ingin mempercepat pernikahan putra-putri kita?” tanya Ridwan.
“Iya Wan. Nggak tahu ini, tiba-tiba saja Echa nelpon jauh-jauh ke Jogja minta kami pulang secepatnya untuk membicarakan hal ini pada keluargamu,” jawab Ahmad. “Kebelet kali!” Ahmad tergelak sembari pundak pria yang mendecakkan lidahnya pelan.
"Kalau kami sebagai orang tua, setuju-setuju saja. Bukankah lebih cepat lebih baik? Dari pada menimbulkan fitnah. Ya nggak, Bu?" tanya Ridwan pada istrinya.
"Iya," sahut Halimah kemudian melirik putrinya yang sedari tertunduk dengan kedua tangan saling meremas seperti sedang menahan amarah dan juga sedih. “Bagaimana Nak, apa kamu setuju? Kami tidak akan memutuskan secara sepihak karena ini menyangkut kamu.”
Farah mengangkat dagunya kemudian melemparkan padangan pada Reza yang tengah menatapnya datar. Tak ada aura kebahagiaan wajahnya. Dari sana, Farah dapat menebak ini hanya sebuah bentuk keterpaksaan dari pria tersebut.
Bagaimana tidak mudah? Wanita itu sudah mengetahui semuanya. Berawal dari sebuah poto yang terselip di dompet Reza sampai pada akhirnya Farah mendengar sendiri kalimat cinta yang diucapkan pria itu untuk Andin saat mereka masih berada di klinik.
"Bisa kita bicara berdua sebentar, A'? Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Reza mengernyit sebelum akhirnya berkata, "bisa."
"Tunggulah sebentar di belakang, A'. Aku akan pergi ke kamarku dulu untuk mengambil sesuatu."
__ADS_1
"Kenapa nggak disini aja sih, Rah?" Halimah begitu penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan putrinya itu pada Reza.
"Maaf Bu. Biarkan Farah bicara berdua dulu dengan A' Reza." Farah mencoba memberi pengertian pada sang bunda. "Bila urusan kami sudah selesai. Kami akan kembali ke sini."
"Biarkan sajalah Bu. Ibu ini seperti tidak pernah muda saja," sergah Ridwan tersenyum dan lekas mendapat lirikan sinis dari istrinya itu.
Setelah mendapat persetujuan dari tetua disana, Farah dan Reza beranjak dari duduknya. Farah pergi ke kamarnya, setelah mengambil sesuatu di sana barulah ia menyusul Reza yang sudah mendudukkan diri di sebuah bangku panjang dengan tubuh menghadap ke beberapa jejeran sayuran yang ditanam dengan media hidroponik.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Rah?" Tanpa basa basi, Reza langsung membuka suara sesaat setelah Farah duduk di sampingnya.
"Ini?" Farah menunjukkan sebuah poto wanita yang berada di tangannya.
Deg
Jantung Reza seketika berdetak lebih cepat dari biasanya diiringi dengan netra yang membola sempurna. Begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya. Salah satunya, dari mana Farah bisa mendapatkan poto itu? Bukankah poto itu selalu tersimpan aman di dalam dompetnya?
Ia menarik napas, berusaha menenangkan diri. "Farah, aku bisa menjelaskannya padamu."
"Farah dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku—."
Farah mengangkat tangannya. Mengisyaratkan pria itu untuk menghentikan kalimatnya. Cairan bening mulai berdesakan ingin keluar dari pelupuk matanya.
"Aku ingin sekali mempercayaimu A'. Tapi keadaan begitu memaksaku untuk menyangkalnya." Farah menjeda kalimatnya sembari mengusap air mata yang jatuh tak berkesudahan membasahi pipinya. "Terlebih saat di klinik itu, aku tak sengaja mendengar semua yang kamu bicarakan pada Andin. Termasuk pernyataan cintamu padanya."
Reza semakin terkesiap. Bibirnya terkatup rapat. Ingin menyanggah tapi semua yang dikatakan Farah memang benar adanya.
"Sekarang katakan padaku apa alasanmu untuk mempercepat pernikahan kita? Apa karena kamu gagal mendapatkan Andin lantas membuatmu datang padaku sebagai bentuk dari pelarianmu? Kamu sehat, A'?" cecar Farah. Dada wanita itu terlihat turun naik, menandakan ia sedang menetralkan sesak yang menghimpit disana.
"Kamu salah paham, Farah! Aku datang kemari karena memang ingin menikahimu."
__ADS_1
"Menikahiku untuk apa? Untuk menyenangkan kedua orang tua kita? Atau untuk membuatku menderita seumur hidup karena mencintai orang yang tak pernah mencintaiku?"
Reza kembali terdiam. Kalimat Farah begitu tajam bagai belati yang menghunus tepat mengenai relung hatinya.
"Kenapa kamu sekarang menjelma menjadi pria kejam dan egois, A'? Mana Reza yang kukenal dulu?"
"Maafkan aku, Farah." Reza menunduk. Terlalu malu baginya untuk menatap manik wanita yang berderai air mata itu. "Aku tak bermaksud menyakitimu dengan cara seperti ini. Tapi bisakah kamu memberiku kesempatan agar aku bisa mencoba membuka hatiku untukmu."
"Mencoba?" ulang Farah yang mulai merasa geram. "Aa' pikir pernikahan itu ajang coba-coba. Yang bila beruntung pernikahan itu akan berlanjut. Namun bila tidak, akan terjadi sebaliknya!"
"Kenapa kamu bisa membuat kesimpulan seperti itu, Farah? Kita bahkan belum memulainya."
"Karena di matamu, aku melihat cinta yang begitu kuat. Hingga aku tak yakin bisa memilikinya." Farah menarik pandangannya pada Reza. Membuat dua manik sendu itu bertaut untuk beberapa saat. "Cintamu masih terlalu kuat untuk Andin, A'. Kamu sadar, nggak!" Suara Farah terasa menyambar di telinga Reza. Seketika pria tersebut menjadi panik.
"Rah ... tolong pelankan suaramu. Apa kamu mau menarik perhatian orang tua kita?" Reza menatap pintu yang terbuka lebar, memastikan tidak ada yang mendengar perdebatan mereka sebelum kemudian ia ganti menatap Farah seraya memberanikan diri menggenggam tangan wanita itu. "Farah, tolong dengarkan aku. Aku janji akan belajar mencintaimu dan menjadikanmu satu-satunya milikku."
"Sampai kapan A'. Sampai hati ini semakin terluka?" Farah menghempaskan tangannya dan menatap ke depan. Ingin rasanya ia memukuli Reza saat itu juga. Meluapkan emosi pada pria yang sudah membodohinya. Tapi percuma, tak ada gunanya!
"Kamu—."
"Saranku, lebih baik Aa' perjuangkan cinta yang jelas-jelas nampak dari pada memperjuangkan cinta yang semu. Kejar Andin dan nikahi dia."
"Nggak Rah!" Reza menggeleng cepat. Aku akan tetap pada keputusan awal. Aku akan menikahimu. Lagipula, bagaimana mungkin kamu memintaku untuk memperjuangkan Andin, sementara wanita itu sudah memiliki calon suami dan akan segera menikah!"
"Tapi aku akan tetap menolak keputusanmu. Setuju atau tidak, pernikahan ini harus dibatalkan!"
***
Otor Note:
__ADS_1
Nasibmu Bangggg ... Sono sini di tolak.
Auto bujang lapuk deng 🤪.